Khutbah Jum’at : Viral Tanpa Kehilangan Moral: Belajar Etika Digital dari Rasulullah SAW
Oleh : Pujiono Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah

KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman, Islam, dan kesehatan kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena sebaik-baik bekal seorang manusia bukanlah harta, jabatan, popularitas, atau banyaknya pengikut, tetapi ketakwaan dan akhlak yang mulia.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kita hidup di zaman yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Hari ini, seseorang dapat dikenal oleh jutaan manusia hanya dalam hitungan detik. Sebuah tulisan, video, atau komentar yang kita buat dapat tersebar luas tanpa batas.
Dahulu seseorang mencari nama melalui perjuangan bertahun-tahun. Namun hari ini, seseorang bisa menjadi terkenal hanya karena satu unggahan.
Inilah zaman ketika semua orang memiliki panggung.
Namun pertanyaannya:
Apakah ketika kita memiliki panggung, kita juga memiliki akhlak?
Apakah ketika suara kita didengar banyak orang, ucapan kita membawa kebaikan?
Apakah ketika kita ingin menjadi viral, kita masih menjaga kehormatan diri dan orang lain?
Karena sesungguhnya Islam tidak melarang seseorang dikenal. Islam tidak melarang seseorang menjadi terkenal. Tetapi Islam mengajarkan bahwa popularitas harus berada di bawah kendali akhlak.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa seorang muslim harus menjaga perkataannya.
Hari ini, perkataan tidak hanya keluar dari mulut. Perkataan juga keluar dari:
- jari yang mengetik komentar,
- tangan yang membagikan berita,
- akun yang membuat konten,
- dan layar yang menjadi saksi perilaku kita.
Banyak manusia menjaga lisannya ketika berbicara langsung, tetapi lupa menjaga jarinya ketika berada di dunia maya.
Padahal Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan digital hari ini.
Jika sebuah komentar tidak membawa manfaat, lebih baik diam.
Jika sebuah unggahan hanya mempermalukan orang lain, lebih baik ditinggalkan.
Jika sebuah berita belum jelas kebenarannya, jangan ikut menyebarkan.
Karena seorang muslim bukan hanya bertanggung jawab atas apa yang keluar dari mulutnya, tetapi juga atas apa yang keluar dari tangannya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling mulia, tetapi beliau bukan dikenal karena mengejar popularitas.
Beliau dikenal karena akhlaknya.
Sebelum menjadi Rasul, masyarakat Makkah sudah memberikan gelar kepada beliau:
Al-Amin — orang yang terpercaya.
Mengapa?
Bukan karena beliau memiliki banyak pengikut.
Bukan karena beliau pandai mencari perhatian.
Tetapi karena beliau memiliki kejujuran, kasih sayang, dan amanah.
Allah SWT berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Ayat ini menunjukkan bahwa kekuatan terbesar Rasulullah bukan hanya pada kata-katanya, tetapi pada akhlaknya. Semoga kita bisa meneladani
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah.
Di momentum hari ini Maulid Nabi Muhammad SAW ini, mari kita bertanya kepada diri kita: Apakah teknologi membuat kita semakin dekat dengan nilai Islam atau justru menjauh dari akhlak Rasulullah?
Jangan sampai kita menjadi manusia yang terkenal di dunia, tetapi tidak dikenal kebaikannya oleh Allah.
Jangan sampai kita memiliki banyak pengikut, tetapi kehilangan arah dalam hidup.
Jangan sampai kita sibuk membangun citra di depan manusia, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.
Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa manusia yang paling mulia bukanlah yang paling terkenal, tetapi yang paling bermanfaat.
Beliau bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Maka jadikanlah media sosial sebagai jalan kebaikan.
Jadikanlah teknologi sebagai sarana dakwah.
Jadikanlah setiap tulisan sebagai amal.
Jadikanlah setiap konten sebagai sesuatu yang mendekatkan manusia kepada Allah.
Karena dunia digital hanyalah alat. Yang menentukan nilainya adalah hati dan akhlak manusia yang menggunakannya.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua dan doa
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمْ تَسْلِمًا. أَمَّا بَعْدُ:
إِنَّ اللهَ وَمَلآَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِي يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُواْ صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُونَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفُ رَّحِيْمٌ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَاْرحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ




