AkhlaqIbadahKhutbahKhutbah Jum'atTuntunan

KHUTBAH JUM’AT: DEKADENSI CINTA RASUL UMAT AKHIR ZAMAN

Ketika Cinta Berhenti pada Pengakuan, tetapi Belum Menjelma dalam Akhlak dan Perilaku

Sabtu Legi, 22 Agustus 2026 9 Rabiulawal 1448 H


KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

DOWNLOAD NASKAH KHUTBAH JUM’AT

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu bagian penting dari iman kita adalah mencintai Rasulullah Muhammad ﷺ.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada baginda Muhammad ﷺ, juga bagi keluarga beliau, para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para ulama serta mujahid fi sabilillah hingga akhir zaman

Tetapi pada hari ini kita perlu melakukan muhasabah yang lebih dalam: sudahkah cinta kepada Rasulullah benar-benar mengubah perilaku kita?

Nama Rasulullah ﷺ kita muliakan. Shalawat kita baca. Sirah beliau kita dengarkan. Kita mengaku sebagai umat Muhammad. Tetapi pertanyaan yang lebih berat adalah: seberapa jauh kejujuran Muhammad hidup dalam perdagangan kita? Seberapa jauh amanah beliau hidup dalam pekerjaan kita? Seberapa jauh kelembutan beliau hadir dalam keluarga kita? Dan seberapa jauh kesantunan beliau terlihat dalam media sosial kita?

Inilah yang dapat kita sebut sebagai dekadensi cinta Rasul: bukan berarti umat tidak mencintai Nabi, melainkan ketika kualitas cinta itu menurun; dari cinta yang seharusnya melahirkan ittibā‘, ketaatan dan akhlak, menjadi cinta yang berhenti pada identitas, simbol, slogan, dan pengakuan lisan.

Cinta Rasul Adalah Bagian dari Iman

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” HR. al-Bukhārī no. 15, hadis sahih.

Jamaah rahimakumullah,

Hadis ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan cinta kepada Rasulullah ﷺ. Tetapi cinta yang dimaksud bukan cinta sentimental yang tidak mempunyai konsekuensi.

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

“Saya mencintai Rasulullah,” dengan: “Saya menjadikan Rasulullah sebagai pedoman hidup.”

Yang pertama mudah diucapkan. Yang kedua membutuhkan perjuangan sepanjang hayat.

1 2Laman berikutnya

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Check Also
Close
Back to top button