KHUTBAH JUM’AT: DEKADENSI CINTA RASUL UMAT AKHIR ZAMAN
Ketika Cinta Berhenti pada Pengakuan, tetapi Belum Menjelma dalam Akhlak dan Perilaku

Al-Qur’an Menguji Klaim Cinta dengan Ittibā‘
Allah berfirman dalam QS. Āli ‘Imrān ayat 31:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” QS. Āli ‘Imrān [3]:31.
Perhatikan kalimat:
فَاتَّبِعُونِي
“Maka ikutilah aku.” Inilah ukuran cinta: ittibā‘.
Cinta tidak berhenti pada perasaan. Cinta harus menggerakkan kaki untuk mengikuti, menggerakkan tangan untuk berbuat baik, mengendalikan lisan dari keburukan, dan mengarahkan kehidupan kepada Sunnah Rasulullah ﷺ.
Karena itu:
Mahabbah tanpa ittibā‘ mudah menjadi slogan. Mahabbah yang melahirkan ittibā‘ akan berubah menjadi akhlak.
Rasulullah Bukan Hanya Dipuji, tetapi Diteladani
Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيرًا
“Sungguh, pada diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” QS. al-Aḥzāb [33]:21.
Kata kuncinya adalah uswatun ḥasanah, teladan yang baik.
Maka mencintai Rasulullah berarti menjadikan beliau teladan dalam kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, kehidupan keluarga, perdagangan, kepemimpinan, menyelesaikan perselisihan, dan memperlakukan manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya termasuk orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” HR. al-Bukhārī no. 6029, hadis sahih.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Di sinilah kita perlu bercermin.
- Kejujuran diuji ketika kita berdagang.
- Amanah diuji ketika kita memegang jabatan.
- Kesabaran diuji ketika pendapat kita ditolak.
- Keadilan diuji ketika menghadapi orang yang tidak kita sukai.
- Kesantunan diuji ketika kita marah.
Dan cinta Rasul diuji justru ketika kita mempunyai kesempatan untuk berbuat sebaliknya.
Jangan sampai shalawat semakin banyak, tetapi cacian juga semakin banyak. Jangan sampai kajian semakin banyak, tetapi kesombongan semakin kuat. Jangan sampai simbol keislaman semakin terlihat, tetapi amanah semakin melemah. Jangan sampai nama Rasulullah ﷺ memenuhi lisan kita, tetapi akhlaknya semakin jauh dari kehidupan kita.
Taat kepada Rasul Adalah Taat kepada Allah
Allah menegaskan:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّٰهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau sebagai pemelihara mereka.” QS. an-Nisā’ [4]:80.
Jadi cinta Rasul memiliki rangkaian yang tidak boleh diputus:
mengenal beliau → mencintai beliau → mengikuti beliau → menaati beliau → meneladani akhlaknya → menghadirkan kebaikan bagi manusia.
Kalau rantai itu berhenti pada pengakuan cinta, maka cinta belum menghasilkan buah sebagaimana seharusnya.
Mengapa Cinta Rasul Dapat Mengalami Kemerosotan?
Jamaah rahimakumullah,
Pertama, lemahnya pengenalan terhadap sirah Nabi. Kita mengenal nama beliau, tetapi tidak cukup mengenal cara beliau menghadapi keluarga, tetangga, orang miskin, lawan, perbedaan, kekuasaan dan harta.
Kedua, agama kadang berhenti pada ritual tanpa internalisasi nilai. Padahal shalat seharusnya mendidik kedisiplinan dan mencegah kemungkaran. Puasa mendidik pengendalian diri. Zakat mendidik kepedulian. Shalawat menumbuhkan kecintaan dan kerinduan untuk meneladani Rasulullah ﷺ.
Ketiga, dunia digital telah memperbesar godaan pencitraan. Kita mudah menunjukkan kesalehan kepada orang lain, tetapi kadang lupa memperbaiki kesalehan ketika tidak ada seorang pun melihat kita.
Keempat, idola dan budaya populer terkadang lebih kuat membentuk perilaku daripada sirah Rasulullah ﷺ.
Kelima, fanatisme kelompok dapat membuat seseorang membela kelompoknya, tokohnya, organisasinya atau kepentingannya, sekalipun harus mengorbankan keadilan dan akhlak.
Padahal ukuran benar dan salah seorang mukmin bukanlah: “Apakah ini dilakukan kelompok saya?” Tetapi: “Apakah ini sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya?”
Menjadi “Asing” karena Mempertahankan Akhlak
Rasulullah ﷺ bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka berbahagialah orang-orang yang dianggap asing.” HR. Muslim no. 145, hadis sahih.
Hadis ini tidak mengajarkan kita menjauh dari masyarakat. Ia menguatkan kita agar tetap istiqamah ketika nilai Islam terasa asing.
- Ketika kebohongan dianggap biasa, jadilah orang asing yang tetap jujur.
- Ketika penghinaan dianggap hiburan, jadilah orang asing yang menjaga lisan.
- Ketika harta menjadi ukuran kemuliaan, jadilah orang asing yang menjaga kehormatan dengan ketakwaan.
- Ketika popularitas menjadi tujuan, jadilah orang asing yang ikhlas bekerja walaupun tidak dipuji manusia.
- Ketika permusuhan memenuhi media sosial, jadilah orang asing yang membawa keteduhan.
Jalan Memulihkan Cinta Rasul
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat kita mulai.
Pertama, ubah cinta menjadi ittibā‘. Setiap kali kita mengaku mencintai Nabi, tanyakan: Sunnah dan akhlak apa yang akan saya hidupkan hari ini?
Kedua, pelajari sirah Rasulullah secara utuh. Bukan hanya kelahiran dan peperangan beliau, tetapi juga kehidupan keluarga, perdagangan, pendidikan, kepemimpinan, diplomasi, kasih sayang dan penyelesaian konflik.
Ketiga, hubungkan ibadah dengan akhlak. Setelah shalat, tanyakan: apakah saya semakin jujur? Setelah puasa: apakah saya semakin mampu mengendalikan diri? Setelah membaca Al-Qur’an: apakah lisan saya semakin terjaga?
Keempat, lakukan muhasabah digital. Sebelum mengirim atau membagikan sesuatu, tanyakan: apakah benar? Apakah bermanfaat? Apakah adil? Apakah menyakiti? Apakah mengandung fitnah?
Kelima, jadikan keluarga sebagai sekolah cinta Rasul. Jangan hanya menceritakan kelembutan Nabi kepada anak-anak; tunjukkan kelembutan itu dalam rumah kita.
Jamaah rahimakumullah,
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Jika cinta Rasul bertambah tetapi kebohongan tidak berkurang, ada yang harus diperbaiki. Jika shalawat bertambah tetapi penghinaan kepada sesama juga bertambah, ada yang harus dievaluasi. Jika ilmu bertambah tetapi kesombongan bertambah, ada sesuatu yang belum terinternalisasi.
Sebaliknya, cinta Rasul mulai berbuah ketika kita semakin jujur, amanah, lembut, bertanggung jawab, pemaaf, adil, dermawan dan berhati-hati menjaga hak orang lain.
Puncak cinta Rasul bukan hanya ketika nama Muhammad ﷺ memenuhi lisan kita, tetapi ketika Sunnah dan akhlaknya memenuhi kehidupan kita.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
JEDA DUDUK DI ANTARA DUA KHUTBAH
Khatib duduk sejenak di antara dua khutbah.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللّٰهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Marilah kita membawa pulang satu pesan utama:
Cinta Rasul harus turun dari lisan menuju kehidupan.
Shalawat tetap kita perbanyak. Sirah tetap kita pelajari. Nama Rasulullah ﷺ tetap kita muliakan. Tetapi semuanya harus menghasilkan ittibā‘, ketaatan, kejujuran, amanah, kasih sayang dan kemuliaan akhlak.
Jangan hanya bertanya, “Seberapa sering saya bershalawat?”
Tambahkan pertanyaan: “Seberapa banyak akhlak Rasulullah telah hidup dalam diri saya?”
Mari mulai dari yang paling dekat: jujur dalam pekerjaan, amanah dalam jabatan, lembut terhadap keluarga, adil kepada siapa pun, menjaga lisan, menepati janji, serta menggunakan media sosial untuk kebaikan.
Semoga Allah menjadikan kita umat Muhammad ﷺ bukan hanya pada nama dan pengakuan, tetapi pada akhlak dan amal.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ اتِّبَاعِهِ، وَحُسْنَ التَّأَسِّي بِهِ، وَالثَّبَاتَ عَلَى سُنَّتِهِ.
اَللّٰهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ، وَطَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالْبُهْتَانِ، وَقُلُوبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ وَالرِّيَاءِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ مَحَبَّتَنَا لِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَحَبَّةً تُثْمِرُ الطَّاعَةَ وَحُسْنَ الِاتِّبَاعِ، وَاجْعَلْ صَلَاتَنَا وَسَلَامَنَا عَلَيْهِ تَذْكِيرًا لَنَا بِالِاقْتِدَاءِ بِهِ وَالتَّأَسِّي بِأَخْلَاقِهِ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِلْمَنَا مُورِثًا لِلتَّوَاضُعِ، وَعِبَادَتَنَا مُثْمِرَةً لِحُسْنِ الْأَخْلَاقِ، وَإِيمَانَنَا سَبَبًا لِنَفْعِ عِبَادِكَ وَالْإِحْسَانِ إِلَيْهِمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَهْلَنَا وَأُسَرَنَا، وَاحْفَظْ أَوْلَادَنَا وَذُرِّيَّتِنَا وَأَجْيَالَنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا مَهْدًا لِلْإِيمَانِ وَالْعِلْمِ وَالْمَحَبَّةِ وَالرَّحْمَةِ، وَاغْرِسْ فِي قُلُوبِنَا وَقُلُوبِ أَهْلِنَا مَحَبَّةَ رَسُولِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ اتِّبَاعِهِ وَحُسْنَ الِاقْتِدَاءِ بِهِ.
اَللّٰهُمَّ أَنْعِمْ عَلَى بِلَادِنَا وَوَطَنِنَا بِالْأَمْنِ وَالسَّلَامِ وَالْعَدْلِ وَالرَّخَاءِ وَالْبَرَكَةِ. اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا وَقَادَتَنَا لِلْأَمَانَةِ وَالْعَدْلِ وَالْحَقِّ وَالْخَيْرِ، وَاهْدِهِمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ مُجْتَمَعَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْبَغْضَاءِ وَالْفُرْقَةِ وَالْكَذِبِ وَالظُّلْمِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاجْمَعْنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى وَالْخَيْرِ وَالتَّقْوَى.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
DAFTAR SUMBER DALIL
- QS. Āli ‘Imrān [3]:31 — cinta kepada Allah dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah ﷺ.
- QS. al-Aḥzāb [33]:21 — Rasulullah ﷺ sebagai uswatun ḥasanah.
- QS. an-Nisā’ [4]:80 — ketaatan kepada Rasul merupakan ketaatan kepada Allah.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no. 15, dari Anas bin Mālik — mencintai Rasulullah ﷺ merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman. Sahih.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no. 6029, dari ‘Abdullāh bin ‘Amr — manusia terbaik adalah mereka yang terbaik akhlaknya. Sahih.
- Ṣaḥīḥ Muslim no. 145, dari Abū Hurairah — Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing. Sahih.




