Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Jamaah online rahimakumullah,
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, mari kita sejenak merenungkan sebuah kisah luar biasa dari salah satu Rasul Ulul Azmi, yakni Nabi Nuh ‘alaihissalam. Jika kita berbicara tentang kesabaran dan keuletan, maka kisah Nabi Nuh adalah puncak keteladanannya. Bayangkan, beliau berdakwah mengajak kaumnya kepada jalan tauhid bukan dalam hitungan hari, bulan, atau puluhan tahun, melainkan sembilan abad lebih! Kisah ini mengajarkan kita tentang arti sejati dari ketabahan dan keyakinan akan pertolongan Allah.
Rentang waktu dakwah beliau yang sangat panjang ini diabadikan oleh Allah SWT dalam QS. Al-‘Ankabut [29]: 14:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِۦ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ ٱلطُّوفَانُ وَهُمْ ظَٰلِمُونَ
Wa laqad arsalnā nūḥan ilā qaumihī fa labiṡa fīhim alfa sanatin illā khamsīna ‘āmā(n), fa akhażahumuṭ-ṭūfānu wa hum ẓālimūn.
Yang artinya: “Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar dalam keadaan mereka sebagai orang-orang yang zalim.”
Pesan pertama dari ayat ini adalah tentang keikhlasan dan orientasi proses. Selama 950 tahun siang dan malam berdakwah, pengikut Nabi Nuh sangatlah sedikit. Namun, beliau tidak pernah mundur atau menyalahkan keadaan. Beliau sadar bahwa tugas manusia hanyalah menyampaikan dan berusaha (ikhtiar), sementara hasil (hidayah) sepenuhnya adalah hak prerogatif/hak istimewa Allah Swt.
Ketika kaumnya semakin ingkar, Allah Swt kemudian memerintahkan Nabi Nuh untuk membangun sebuah bahtera, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Hud [11]: 37:
وَٱصْنَعِ ٱلْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَٰطِبْنِى فِى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ ۚ إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ
Waṣna’il-fulka bi’a’yuninā wa waḥyinā wa lā tukhāṭibnī fil-lażīna ẓalamū, innahum mugraqūn.
Yang artinya: “Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”
Pesan kedua yang bisa kita petik adalah tentang ketaatan mutlak. Nabi Nuh diperintahkan membuat kapal besar di atas daratan yang jauh dari laut. Beliau dicemooh, dihina, dan dianggap gila oleh kaumnya. Namun, Nabi Nuh tetap teguh. Beliau mencontohkan bahwa jika itu adalah perintah Allah swt, akal sehat manusia mungkin belum memahaminya saat ini, namun ketaatan harus dikedepankan karena rencana Allah pasti yang terbaik.
Bapak, Ibu, dan rekan-rekan online sekalian,
Bagaimana kita membumikan kisah ini dalam keseharian kita di masyarakat?
Bagi adik-adik mahasiswa dan pelajar, proses belajar terkadang terasa sangat melelahkan. Kadang ada tugas yang sulit, nilai yang kurang memuaskan, atau godaan kemalasan. Ingatlah kesabaran Nabi Nuh. Jangan mudah putus asa jika baru berjuang beberapa semester. Kesuksesan membutuhkan napas panjang dan ketangguhan.
Bagi kita di lingkungan masyarakat, khususnya di Jawa yang mengedepankan sikap tepa selira (tenggang rasa) dan gotong royong. Saat kita mencoba mengajak pada kebaikan—misalnya mengajak memakmurkan masjid, mendidik anak-anak kita agar shalat tepat waktu, atau menasihati tetangga dengan cara yang baik—kadang kita diabaikan, atau bahkan dikritik. Jangan baper, jangan cepat sakit hati. Jadikan ejekan sebagai penyemangat untuk terus membuat “bahtera” kebaikan kita sendiri.
Oleh karena itu, di zaman yang penuh dengan ujian dan “banjir” fitnah duniawi ini, mari kita bangun bahtera keselamatan kita masing-masing. Bahtera itu adalah ketakwaan, amal shalih, dan keluarga yang berpegang teguh pada syariat Allah. Teruslah berbuat baik, meski orang lain belum menghargainya. Biarlah Allah yang menilai kesabaran kita.
Mari kita akhiri tulisan ini dengan bermunajat kepada Allah Swt.
Ya Allah, Yang Maha Menatap dan Maha Mendengar. Karuniakanlah kepada kami kesabaran seluas kesabaran Nabi-Mu, Nuh ‘alaihissalam. Jadikanlah kami hamba yang istiqamah dalam ketaatan meski berat ujian yang menghadang. Selamatkanlah kami, keluarga kami, dan masyarakat kami dari derasnya banjir fitnah akhir zaman, dan masukkanlah kami ke dalam bahtera keselamatan-Mu.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.
Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan di hati.
Nashrun minallahi wa fathun qariib.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd
(Mejelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)





