Khutbah Jum’at : PINTU RIZKI, TAKWA DAN TAWAKAL
Rezeki tidak datang dengan sendirinya, rezeki harus dijemput dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh dan kerja yang halal. Setelah itu, iringilah setiap usaha dengan doa dan tawakal kepada Allah

Oleh : Daru Nurdianna, M.Pd. *Peserta Sekolah Tabligh Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِا للّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا, وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّي عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَا بِهِ أَجْمَعِيْنْ, وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْـدُ… يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
Ma‘āsyiral-muslimīn raḥimakumullāh…,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah . Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian agar selalu bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan diwujudkan dengan senantiasa memperhatikan perkara yang halal dan haram, melaksanakan segala perintah-Nya, serta menjauhi seluruh larangan-Nya, sebagaimana yang telah Allah perintahkan dalam firman-Nya.
Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta seluruh umat Islam yang senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah hingga akhir zaman. Semoga kita termasuk di antara mereka yang kelak mendapatkan syafaat beliau di Yaumul Hisab. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
Ayyuhal-ikhwah al-mu’minūn…,
Allah telah menjanjikan bahwa setiap makhluk di muka bumi ini pasti mendapatkan rizki. Tidak hanya manusia, hewan pun Allah jamin rizkinya. Hal ini dijelaskan pada (QS. Hud [11] : 6),
۞ وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ.
Artinya, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (al-Lauḥ al-Maḥfūẓ).”
Namun, perlu kita pahami, bahwa rezeki tidak datang dengan sendirinya. Rezeki harus dijemput dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh dan kerja yang halal. Setelah itu, iringilah setiap usaha dengan doa dan tawakal kepada Allah .
Ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, yaitu niat. Dalam Islam, nilai sebuah amal bergantung pada niatnya. Karena itu, niatkanlah setiap pekerjaan sebagai ibadah kepada Allah . Dengan niat yang benar, pekerjaan yang semula bernilai dunia dapat menjadi ladang pahala di sisi-Nya.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ (HR. Al-Bukhari dan Muslim):
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.”
Jamaah Shalat Jumat raḥimakumullāh,
Dalam menjalani hidup ini, pasti setiap orang menginginkan rizki dan pernah mengalami masalah rizki. Bagaimana mendapatkan rizki yang baik? Allah dan Rasulnya telah mengajarkan pada kita bahwa, dengan istighfar dan tobat, insyaa Allah, Allah akan membukakan pintu rizki-Nya kepada kita semuanya.
Ibnu Abbas berkata tentang tafsir ayat “membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu.” Kata Ibnu Abbas, “Jika kalian mau bertobat kepada Allah dan menaati-Nya, maka Alllah akan memperbanyak rezeki, menurunkan hujan dari langit karena ia (langit) diberkahi dan menumbuhkan tanaman-tanaman karena bumi diberkahi.”
Dan dari penjelasan tersebut, anak itu disebut juga rizki. Maka, jangan lupa bahwa yang dimaksud dengan rizki itu bukanlah materi, atau uang saja. Namun, rizki bisa berbentuk hal lain seperti teman yang baik, teman yang shalih, kesehatan, kepintaran, keberuntungan, perasaan tentram, keberkahan, pahala atau balasan surga dan lain sebagainya.
Walau istighfar dapat menjadi pintu rizki, namun, tetap harus difahami bahwa niat utama ketika bertaubat adalah untuk mendapatkan ampunan, serta mendapatkan Rahmat Allah ,
Dan berniat untuk beribadah Allah , untuk menjaga keikhlasan kita. Selain istighfar dan taubat, yang termasuk ke dalam kunci rezeki juga adalah Takwa:
Allah berfirman dalam surat (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3),
…وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗ…
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.
…“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah.
Sangat jelas dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan kita untuk bertakwa. Lalu, apakah yang dimaksud dengan takwa? Secara bahasa, kata takwa berasal dari kata waqaa yaqii wiqaayatan, yang berarti menjaga, memelihara, atau melindungi. Maksudnya adalah menjaga diri dari segala sesuatu yang membahayakan, baik di dunia maupun di akhirat.
Para ulama menjelaskan bahwa makna takwa bukan sekadar rasa takut, tetapi juga kesungguhan dalam melindungi diri dari murka Allah . Sahabat Abdullah bin Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā menafsirkan takwa sebagai rasa takut berbuat syirik kepada Allah serta senantiasa menaati-Nya.
Oleh karena itu, inti dari takwa adalah menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan takwa, seorang hamba menjaga dirinya dari azab neraka serta berusaha meraih rahmat dan rida Allah .
…يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ.
…niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (solusi)—
وَّيَرْزُقْهُ…
…Dan memberinya rizki…
…مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ …
…dari arah yang tidak disangka-sangkanya.
Sehingga, secara umum taqwa adalah salah satu pintu rezeki, dan sebaliknya, maksiat adalah salah satu sebab terhalangnya rezeki. Kemudian, ibadah termasuk dari bentuk ketakwaan, maka perbanyak ibadah baik yang berupa ibadah lisan seperti dzikr, membaca Al-Quran, sedekah, dan lain-lain, merupakan bentuk-bentuk pintu rizki juga.
Rasulullah ﷺ bersabda (HR. Hakim) ,
Yang artinya: Tuhanmu berfirman,“Wahai anak Adam! Sempatkanlah beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan rasa cukup dan Aku akan memenuhi tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam! Janganlah menjauh dari-Ku. Jika demikian, Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku akan memenuhi tangan-Mu dengan kesibukan.”
Jamaah Shalat Jumat raḥimakumullāh,
Kemudian kunci Rizki yang lain adalah Tawakkal. Allah berfirman pada (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3), lanjutan dari ayat diatas,
…وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا.
Yang artinya: “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”
Rasulullah ﷺ bersabda
(HR. Tirmidzi, ia mengatakan, “Hadits hasan shahih”) ,
Yang artinya: “Kalau sekiranya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tentu kamu akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, berangkat pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.”
Tawakkal adalah sebuah ketaatan kepada Allah dengan menjalankan sebab. Yaitu, jika ingin kaya, maka bekerjalah. Jika ingin sehat maka olahragalah dan makan makanan yang bergizi dan lain sebagainya. Kemudian tercapai atau tidaknya keinginan atau cita-cita, serahkanlah kepada Allah . Inilah Tawakal.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ .
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِا للّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا, وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ… فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى : { وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى }
Dalam khutbah yang ke-dua ini saya selaku khatib mengingatkan kepada diri saya pribadi dan umumnya kepada para jamaah semuanya. Apapun yang kita dapatkan sekarang, harus kita terima dengan lapang dada. Harus diterima dengan hati yang legowo. Kita yakin bahwa Allah Maha Kaya, Maha Penyayang dan Maha Bijaksana. Allah pasti memberikan rizki ini secara adil.
Maka, marilah kita bersama bersyukur terhadap nikmat Allah. Bersyukur dengan lisan dan amalan. Bersyukur dengan lisan mengucap pujian kepada Allah dengan kalimat hamdalah “Alḥamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin” kemudian diiringi dengan amalan perbuatan positif, perbuatan ibadah, yakni dengan semangat bekerja, bersedekah, dan menyambung silaturahim, mempererat hubungan sosial, berbuat baik kepada keluarga, sanak suadara, teman kerja, tetangga, dan sebagainya.
Selalu merasa cukup dan hindari rasa iri dan dengki terhadap sesama. Ini adalah penyakit hati yang menyengsarakan diri sendiri, yang harus dijauhi. Percayalah, berlapang dadalah, bersyukurlah, karena semua sudah ditetapkan jatah rizkinya masing-masing.
Allah berfirman (QS. Ibrahim [14] : 7),
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ.
Yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“.
Mudah-mudahan Allah menganugerahkan kita keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya dan semata-mata mengharakan perjumpaan dengan-Nya di akhirat kelak. Dan Semoga Allah senantiasa memberikan kita hidayah agar menjadi orang yang bertakwa, senantiasa bertawakal dan istiqomah sampai akhir hayat, menjadi orang-orang yang pandai bersyukur, dan semoga dikumpulkan kembali bersama di Surga-Nya nanti serta dilancarkan rizkinya di dunia dan di akhirat. Allaahumma Aamiin.
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. أَللّٰهُمَّ صَلِّي عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ, كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Bagian doa:
أَللّٰهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. أَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ, وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا, غِلَّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا, وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا, وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً, وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً, وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. .
أَقِمِ الصَّلَاةَ




