Khutbah Jum’at: Memaknai Kemerdekaan Sesuai Islam Dalam Era Kecerdasan Buatan
Mengisi Kemerdekaan Hakiki di Era AI

Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan merupakan jalan menuju kemerdekaan hakiki: merdeka dari kekufuran, kebodohan, kezaliman, hawa nafsu, keserakahan, ketakutan kepada sesama makhluk, serta berbagai bentuk penghambaan selain kepada Allah.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Baginda Muhammad ﷺ, juga keselamatan kepada keluarga beliau, para sahabat, para tabiin, tabiut tabiin, dan para mujahid fī sabīlillāh hingga akhir zaman.
Kemerdekaan sebagai Nikmat dan Rahmat Allah
Pada bulan Agustus, bangsa Indonesia bersukacita memperingati hari kemerdekaan. Bendera Merah Putih dikibarkan, lagu-lagu perjuangan diperdengarkan, dan berbagai kegiatan diselenggarakan untuk mengenang jasa para pahlawan. Semua itu merupakan ungkapan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah Allah anugerahkan kepada bangsa Indonesia.
Para pendiri bangsa menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya hasil perjuangan manusia. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dinyatakan bahwa kemerdekaan itu terjadi “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Pengakuan tersebut mengingatkan kita bahwa perjuangan, pengorbanan, ilmu pengetahuan, persatuan, dan persenjataan hanyalah ikhtiar. Pertolongan dan kemenangan sejatinya berasal dari Allah.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai terbebasnya suatu bangsa dari penjajahan fisik. Seseorang mungkin hidup di negara yang merdeka, tetapi pikirannya masih diperbudak oleh kebodohan. Hatinya diperbudak oleh iri, dengki, kesombongan, dan keinginan mendapatkan pujian. Kehidupannya diperbudak oleh hawa nafsu, utang konsumtif, perjudian, pornografi, gawai, media sosial, serta keinginan untuk terus mengikuti gaya hidup orang lain.
Kemerdekaan Hakiki dalam Tauhid
Islam mengajarkan kemerdekaan yang lebih mendasar, yaitu membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Allah. Allah berfirman:
الٓر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“Alif Lām Rā. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan menuju cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.” QS. Ibrāhīm [14]: 1.
Al-Qur’an membebaskan akal dari kegelapan kebodohan, membebaskan hati dari kemusyrikan, membebaskan masyarakat dari kezaliman, dan membimbing manusia menuju cahaya ilmu, iman, keadilan, serta kemuliaan akhlak.
Inilah kemerdekaan tauhid. Manusia tidak boleh menghambakan dirinya kepada kekayaan, kekuasaan, jabatan, popularitas, teknologi, maupun penilaian orang lain. Tujuan utama kehidupan manusia adalah beribadah kepada Allah. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” QS. aż-Żāriyāt [51]: 56.
Kemerdekaan Manusia di Era Kecerdasan Buatan
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pada masa sekarang, kita memasuki era kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Kecerdasan buatan dapat membantu manusia mengolah data, menerjemahkan bahasa, mendukung pendidikan, membantu penelitian, meningkatkan pelayanan kesehatan, mempercepat pekerjaan, dan memperluas dakwah Islam.
Kecerdasan buatan adalah salah satu hasil ikhtiar akal manusia yang juga merupakan karunia Allah. Teknologi pada dasarnya adalah alat. Nilai manfaat atau kerusakannya bergantung pada tujuan dan cara manusia menggunakannya.
Karena itu, umat Islam tidak seharusnya menolak teknologi hanya karena teknologi tersebut baru. Namun, umat Islam juga tidak boleh menerima setiap perkembangan teknologi tanpa ilmu, sikap kritis, dan pertimbangan akhlak.
Teknologi harus menjadi pelayan manusia dalam melaksanakan kebaikan, bukan menjadi tuan yang mengendalikan kehidupan manusia. Kecerdasan buatan dapat membantu manusia menemukan informasi, tetapi tidak dapat menggantikan iman, hati nurani, tanggung jawab, dan ketakwaan.
Tabayyun dan Kemerdekaan Berpikir
Bahaya terbesar pada era kecerdasan buatan bukan semata-mata ketika mesin menjadi semakin cerdas, tetapi ketika manusia kehilangan kemerdekaan berpikir. Manusia menerima semua jawaban mesin tanpa memeriksa kebenarannya, menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi, dan menyerahkan keputusan moral maupun agama sepenuhnya kepada algoritma.
Allah mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan, lalu kamu menyesali perbuatanmu itu.” QS. al-Ḥujurāt [49]: 6.
Perintah melakukan tabayyun semakin penting pada era kecerdasan buatan. Saat ini, gambar, suara, dan video dapat direkayasa seolah-olah nyata. Perkataan seseorang dapat dipalsukan. Informasi yang salah dapat disebarkan dengan sangat cepat. Bahkan, jawaban kecerdasan buatan dapat terlihat meyakinkan meskipun mengandung kekeliruan.
Karena itu, jangan mudah membagikan informasi sebelum memeriksa sumbernya. Jangan menjadikan kecerdasan buatan sebagai satu-satunya rujukan untuk menentukan kebenaran. Terlebih dalam masalah agama, jawaban teknologi harus diperiksa berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, penjelasan ulama yang berkompeten, dan keputusan lembaga keagamaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.” QS. al-Isrā’ [17]: 36.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Kemerdekaan berpikir bukan berarti manusia bebas mengatakan dan melakukan apa saja. Kemerdekaan harus disertai tanggung jawab. Setiap tulisan, gambar, rekaman, dan informasi yang kita hasilkan atau sebarkan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” HR. al-Bukhari dan Muslim.
Hadis ini juga berlaku dalam kehidupan digital. Menulis komentar adalah berbicara. Mengunggah konten adalah berbicara. Membagikan berita adalah berbicara. Memerintahkan kecerdasan buatan untuk menghasilkan kebohongan, fitnah, penghinaan, atau penipuan juga merupakan perbuatan yang harus dipertanggungjawabkan.
Kemerdekaan di era kecerdasan buatan berarti manusia mampu mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan oleh teknologi. Kita menggunakan gawai ketika diperlukan dan mampu meletakkannya ketika waktu salat tiba, ketika Al-Qur’an harus dibaca, ketika keluarga membutuhkan perhatian, dan ketika tubuh memerlukan istirahat.
AI sebagai Alat Bantu Ilmu, Bukan Jalan Pintas
Kemerdekaan juga berarti tidak malas belajar karena merasa semua jawaban dapat diperoleh dari mesin. Teknologi seharusnya memperkuat kemampuan manusia, bukan melemahkan akal dan mematikan kreativitas. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” HR. Muslim, no. 2699.
Mencari ilmu memerlukan kesungguhan, membaca, berdiskusi, meneliti, membandingkan sumber, dan belajar kepada guru. Kecerdasan buatan dapat menjadi alat bantu, tetapi tidak boleh menjadi jalan pintas untuk melakukan kecurangan akademik, menyalin karya orang lain, atau mengaku sebagai pemilik karya yang tidak pernah kita kerjakan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah memperoleh sesuatu yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.” HR. Muslim, no. 2664.
Hadis ini mendorong umat Islam menjadi umat yang kuat dalam iman, ilmu, ekonomi, teknologi, dan akhlak. Kita tidak boleh hanya menjadi pengguna dan konsumen teknologi. Generasi muda Islam harus didorong untuk menjadi peneliti, pendidik, pemrogram, ilmuwan, teknisi, pengusaha, dan pembuat kebijakan yang beriman serta berakhlak.
Lima Langkah Mengisi Kemerdekaan di Era AI
Jamaah rahimakumullah,
Untuk mengisi kemerdekaan pada era kecerdasan buatan, setidaknya ada lima langkah yang perlu kita lakukan.
- Memerdekakan akidah dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah. Jangan sampai kekayaan, jabatan, media sosial, algoritma, maupun kecerdasan buatan lebih kita taati daripada Allah.
- Memerdekakan pikiran dari kebodohan dan informasi palsu. Tingkatkan budaya membaca, meneliti, bertanya kepada ahlinya, dan melakukan tabayyun sebelum menyebarkan berita.
- Memerdekakan diri dari kecanduan digital. Aturlah waktu menggunakan gawai. Jangan sampai waktu salat, membaca Al-Qur’an, belajar, bekerja, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga habis karena media sosial.
- Memerdekakan ekonomi keluarga dari gaya hidup konsumtif, perjudian daring, penipuan digital, dan jerat riba. Gunakan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, usaha, pendidikan, dan kemaslahatan masyarakat.
- Memerdekakan hati dari iri, dengki, kesombongan, dan ketergantungan pada pujian manusia. Jangan mengukur harga diri berdasarkan jumlah pengikut, tanda suka, atau komentar di media sosial. Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh popularitas, tetapi oleh ketakwaannya kepada Allah.
Marilah kita bertanya kepada diri masing-masing: sudahkah kita menjadi manusia yang benar-benar merdeka? Ataukah pikiran kita masih diperbudak oleh informasi palsu, hati kita diperbudak oleh pujian manusia, dan waktu kita diperbudak oleh layar gawai?
Semoga kemerdekaan Indonesia tidak berhenti menjadi upacara tahunan, tetapi menjadi dorongan untuk membangun bangsa yang beriman, berilmu, adil, beradab, mandiri, dan mampu menggunakan kecerdasan buatan bagi kemaslahatan seluruh umat manusia.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ، لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kemerdekaan adalah Amanah
Kemerdekaan adalah nikmat sekaligus amanah. Nikmat harus disyukuri, sedangkan amanah harus dipertanggungjawabkan. Mensyukuri kemerdekaan tidak cukup dengan mengibarkan bendera dan mengadakan berbagai perlombaan. Syukur harus diwujudkan dengan menjaga persatuan, menegakkan keadilan, melawan korupsi, mencerdaskan masyarakat, membantu fakir miskin, merawat lingkungan, serta menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kebaikan.
Mendidik Keluarga agar Merdeka dan Beradab secara Digital
Pada era kecerdasan buatan, marilah kita mendidik keluarga agar tidak menjadi korban perkembangan teknologi. Dampingi anak-anak dalam menggunakan internet. Ajarkan kepada mereka bahwa tidak semua yang muncul di layar merupakan kebenaran. Tanamkan kejujuran agar mereka tidak menggunakan kecerdasan buatan untuk menipu atau melakukan kecurangan. Ajarkan adab agar teknologi tidak menjauhkan mereka dari Allah, orang tua, guru, dan kehidupan sosial.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” QS. al-Ḥasyr [59]: 18.
Mari menggunakan kecerdasan buatan dengan prinsip: benar niatnya, halal caranya, bermanfaat hasilnya, jelas tanggung jawabnya, serta tidak menimbulkan kezaliman. Jadikan teknologi sebagai sarana menebarkan ilmu dan kebaikan, bukan sebagai alat menyebarkan fitnah, kebencian, kemaksiatan, dan penipuan.
Semoga Allah menjaga kemerdekaan bangsa Indonesia, memberikan keberkahan kepada negeri ini, dan membimbing kita menjadi manusia yang hanya menghamba kepada-Nya.
Doa
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَلِوَالِدَيْنَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِمَنْ عَلَّمَنَا، وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيمَانًا صَادِقًا، وَعِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَرِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَدُعَاءً مُسْتَجَابًا.
اَللّٰهُمَّ حَرِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الشِّرْكِ وَالنِّفَاقِ، وَحَرِّرْ عُقُولَنَا مِنَ الْجَهْلِ وَالضَّلَالِ، وَحَرِّرْ أَنْفُسَنَا مِنَ الْهَوَى وَالْمَعَاصِي، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَ.
اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنَا لِاسْتِعْمَالِ الْعِلْمِ وَالتِّقْنِيَّةِ فِيمَا يُرْضِيكَ، وَاجْعَلْهُمَا سَبَبًا لِنَفْعِ الْعِبَادِ وَعِمَارَةِ الْبِلَادِ، وَلَا تَجْعَلْهُمَا سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ وَالظُّلْمِ وَالْفَسَادِ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ فِتَنِ الشَّبَكَاتِ وَالْوَسَائِلِ الرَّقْمِيَّةِ، وَارْزُقْهُمُ الْعِلْمَ وَالْحِكْمَةَ وَالْأَخْلَاقَ الْكَرِيمَةَ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَأَدِمْ عَلَيْهَا نِعْمَةَ الْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالِاسْتِقْرَارِ وَالرَّخَاءِ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَوَفِّقْهُمْ لِإِقَامَةِ الْعَدْلِ وَخِدْمَةِ الشَّعْبِ وَحِفْظِ الْوَطَنِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
أَقِمِ الصَّلَاةَ.
DOWNLOAD NASKAH KHUTBAH JUM’AT
Sumber Rujukan
- Al-Qur’an: QS. Ibrāhīm [14]: 1; QS. aż-Żāriyāt [51]: 56; QS. al-Ḥujurāt [49]: 6; QS. al-Isrā’ [17]: 36; QS. al-Ḥasyr [59]: 18; dan QS. an-Naḥl [16]: 90.
- Al-Bukhari dan Muslim, hadis tentang berkata baik atau diam.
- Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, hadis no. 2699 tentang menempuh jalan ilmu.
- Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, hadis no. 2664 tentang mukmin yang kuat dan bersungguh-sungguh pada hal yang bermanfaat.
- Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.




