KhutbahKhutbah Idul Adha

Khutbah Idul Adha : Teladan Pendidikan Keluarga Nabi Ibrahim

Oleh : Hanif Sidiq Aryanto

📅 Ahad, 25 Mei 2026 | 7 Zulhijah 1447 H

KHUTBAH IEDUL ADHA: TELADAN PENDIDIKAN KELUARGA NABI IBRAHIM

Oleh : Hanif Sidiq Aryanto

( MTT PCM Kemranjen Banyumas )

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

Ma’syiral muslimin rahimakumullah, segala puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala, atas segala limpahan dan karunian-Nya, kita semua dapat berkumpul di tempat yang mulia ini dalam rangka melaksanakan shalat idul adha tahun ini.

Shalawat dan salam, senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wasalam, para keluarga beliau, para sahabat, tabi’ien dan tabi’ut-tabi’ien serta segenap kaum muslimin yang senantiasa tsiqah menegakan sunah-sunah nabi shalallahu alaihi wasalam hingga akhir zaman nanti.

Saudaraku rahimakumullah

Nabi Ibrahim alaihissalam adalah sosok panutan mulia dalam mendidik keluarga, bagaimana keberhasilanya dalam mendidik istri terekam dalam catatan sejarah

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَمَّا أَتَى إِبْرَاهِيمُ بِهَاجَرَ وَابْنِهَا إِسْمَاعِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ، تَرَكَهُمَا عِنْدَ الْبَيْتِ، وَعِنْدَهُ جَرَابٌ فِيهِ تَمْرٌ وَسِقَاءٌ فِيهِ مَاءٌ، ثُمَّ انْطَلَقَ إِبْرَاهِيمُ مُنْصَرِفًا، فَتَبِعَتْهُ هَاجَرُ فَقَالَتْ: يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ؟ فَلَمْ يُجِبْهَا، فَقَالَتْ لَهُ: آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ. فَقَالَتْ: إِذًا لَنْ يُضَيِّعَنَا.

Dari Ibnu ‘Abbās ra. berkata:

Ketika Ibrahim membawa Hajar dan putranya Ismail ‘alaihimassalām, beliau meninggalkan mereka di dekat Baitullah dengan satu kantong berisi kurma dan satu wadah berisi air. Lalu Ibrahim pergi meninggalkan mereka. Hajar pun mengikuti beliau dan berkata:

“Wahai Ibrahim, ke mana engkau pergi dan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan tidak ada apa pun?”

Ibrahim tidak menjawabnya. Maka Hajar bertanya lagi:

“Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”

Beliau menjawab: “Ya.”

Hajar pun berkata: “Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

( Shahih Bukhari dalam kitabul anbiya )

Sauadaraku rahimakumullah

Betapa tabahnya Hajar menerima kenyataan yang sangat pahit, merupakan pancaran cahaya iman dan ketakwaan yang mendalam, tentunya itu adalah hasil didikan yang luar biasa dari sosok suami yang shaleh, melahirkan sosok istri dan ibu yang sukses pula mendidik anaknya menjadi anak yang shalih lagi penyabar, kesuksesan Hajar dalam mendidik anaknya diabadikan dalam Al-Qur’an

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” ( Qs. Ash-Shafat 102 )

Kaum muslimin rahimakumullah

Disaat kita melihat, kebanyakan anak remaja hari ini hanya sibuk dengan HP, bahkan untuk shalat saja sulit, tapi Ismail remaja yang usianya baru sekitar 13 tahun telah memiliki keimanan dan kesabaran yang luar biasa, itulah keberhasilan pendidikan yang dilakukan oleh Hajar.

Saudaraku rahimakumullah

Lantas pendidikan apakah yang dapat melahirkan insan-insan luar biasa tersebut ?,tidak lain adalah pendidikan tauhid.

Ketika tauhid sudah menancap dalam hati maka akan melahirkan ketakwaan dan ketawakalan, menjelma menjadi karakter mulia lagi penyabar, memiliki optimisme dalam hidup dan tidak putus asa karena ia memiliki sandaran yang kokoh yaitu Allah yang maha perkasa.

Pendidikan tauhid sejatinya tidak bisa hanya dengan mempelajari normatifnya saja, akan tetapi ia harus ditanamkan sejak dini, inilah yang sering dilupakan oleh kebanyakan kita. Terlebih di era sekarang di mana anak cucu kita lebih cepat tahu melalui media yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja, namun mereka minim literasi, sehingga sulit memvaliditasi, akhirnya banyak pemahaman, aqidah dan akhlak yang menyimpang akibat salah dalam meneladani.

Kaum muslimin rahimakumullah

Syaikh Wahid Abdussalam Bali dalam kitab At-Thariq ilal- Waladis-shalih  menyampaikan, bahwa mendidik keimanan pada anak adalah melalui pembiasaan dan pendampingan, misalnya ketika bapak duduk bersama anak ketika makan, maka bapak berkata kepada anaknya : wahai anaku apakah kamu tahu siapa yang memberi kita makan ?, maka anak akan menjawab, siapakah wahai bapaku ? maka bapak menjawab, Allah. Dan anak berkata, bagamana caranya ? maka bapaknya menjawab, karena Allah lah yang memberi kita rizqi dan memberi rizqi kepada manusia semuanya maka bukankah Ia Tuhan yang paling berhak dicintai wahai anaku ?

Maka pendidikan tauhid yang kuat adalah melalui pembiasaan, pendampingan dan keteladanan, orang tua harus berusaha menjadi pribadi yang baik sehingga dapat diteladani anak dan cucunya, orang tua juga harus memberikan perhatian yang lebih dalam mendampingi anak-anaknya, jangan biarkan anak bebas berselancar di dunia maya tanpa ada pengawasan yang ketat.

Tanpa pendidikan tauhid, seorang anak tidak akan mampu menegakkan tanggung jawabnya, tidak memiliki sifat amanah, tidak mengenal tujuan hidup, dan tidak sanggup merealisasikan makna kemanusiaan yang utama. Ia tidak akan mampu berbuat mulia dan mencapai tujuan yang luhur. Bahkan, ia akan hidup laksana binatang yang tidak memiliki tujuan selain sekadar memenuhi lapar, menuruti hawa nafsu, serta berpaling kepada syahwat dan kenikmatan dunia. Akhirnya, ia akan bergaul dengan orang-orang yang celaka dan jahat.

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah

Anak adalah asset paling berharga yang kita miliki sekaligus amanat yang diletakan di pundak kita, Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Taḥrīm ayat 6 )

Kelak jika anak kita durhaka kepada Allah ( wal’yadhu billah ) kitalah, orang tua yang akan dimintai pertanggungjawaban, demikian pula jika anak kita menjadi orang yang shalih dan shalihah, kitalah yang akan memetik hasil manisnya, ketika kita dibaringkan dalam gelapnya kubur, tanah menghimpit dan meremukan tulang, dalam kesndirian dan kesunyian, kita hanya bisa berharap kiriman do’a-do’a dan amal shalih anak-anak kita.

Akhirnya marilah kita meminta dengan segala kerendahan diri kita kehadirat Allah yang maha kaya, semoga kita semua dianugerahi anak-anak yang shalih dan shalihah, menjadi penyejuk mata kita, tumpuan di masa tua, dan investasi disaat kita mati.

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ َ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِ مُحَمَّدٍ. كَمَاصَلَّيْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ اَلِ اِبْرَاهِيْمَ. في ِالْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌمَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَاوَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّينِ، وَعَافِيَةً فِي الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِي سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ، وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button