KhutbahKhutbah Idul Adha

Khutbah Idul Adha : Leher Tunduk, Darah Mengalir, Memaknai Ketakwaan di Balik Daging Qurban

Oleh : Abdul Azis, S.Hum., M.Pd.

📅 Ahad, 25 Mei 2026 | 7 Zulhijah 1447 H

Khutbah Idul Adha 1447 H : Leher Tunduk, Darah Mengalir, Memaknai Ketakwaan di Balik Daging Qurban

Oleh : Abdul Azis, S.Hum., M.Pd. (Anggota MTDK Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kajen)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Allahu Akbar kabiiraa, wal-hamdulillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa ashilaa.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا أَفْضَلُ الْمُرْسَلِيْنَ، اللّهُمَّ فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ذِي الْقَلْبِ الْحَلِيْمِ وَآلِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الْمَمْدُوْحِيْنَ وَمَنْ تَبِعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَبَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَنَجَا الْمُطِيْعُوْنَ

فَقَالَ الله تَعَالىٰ :يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Hadirin jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Di pagi hari yang agung ini, alam semesta bersaksi. Pepohonan dan hewan-hewan turut menundukkan diri, berzikir melantunkan Laa ilaaha illallaah. Turut menyertai syahdunya alam, kalimat takbir, tahlil, dan tahmid terus menggema tanpa henti, menyapa setiap penjuru bumi. Jutaan umat Islam yang tengah menunaikan ibadah haji sedang bersimbah peluh di Tanah Suci, sementara kita di sini berkumpul, bersujud, dan bersiap menyembelih hewan kurban sebagai wujud ketaatan.

Mengawali khutbah ini, khatib mengajak diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memantapkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa yang menjadi satu-satunya bekal yang akan kita bawa saat menghadap Sang Pencipta kelak.

Jamaah rahimakumullah,

Hari ini adalah Yaumun Nahr (Hari Penyembelihan). Sesaat lagi, kita akan menyaksikan pemandangan yang menggetarkan: hewan-hewan kurban direbahkan, lehernya ditundukkan, dan darahnya dialirkan. Bau daging panggang akan segera tercium dari rumah-rumah kita.

Namun, mari kita sejenak merenung dengan jujur. Apakah Idul Adha ini semata-mata tentang pesta daging tahunan? Apakah Allah Azza wa Jalla Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Menguasai Semesta membutuhkan timbunan daging sapi atau tetesan darah kambing yang kita sembelih?

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat tegas dalam firman-Nya di Surah Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ ٣٧

“Daging-daging unta (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37).

Para ulama ahli tafsir menjelaskan ayat ini dengan menyingkap sejarah turunnya. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahdalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim mencatat riwayat dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Pada zaman Jahiliah, orang-orang musyrik memiliki tradisi menyembelih hewan untuk berhala-berhala mereka. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, bahwa Ibnu Juraij berkata: “Dahulu, penduduk Jahiliyyah melumurkan daging dan darah kurban ke Baitullah, serta meletakkan dagingnya di sekitar Ka’bah, dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menerima darah dan daging itu”. Lalu para Sahabat Rasulullah ﷺ berkata: “Kami lebih berhak untuk melumurkannya.”

Ketika Islam datang, sebagian kaum muslimin sempat berpikir untuk melakukan hal yang sama (mengoleskan darah kurban) sebagai bentuk pendekatan diri. Maka turunlah ayat ini untuk membantah keras tradisi tersebut. Allah menegaskan: Yang naik dan sampai kepada-Ku bukanlah fisik daging yang kalian potong, dan bukan pula darah yang mengalir ke tanah, melainkan niat yang ikhlas dan ketakwaan di dalam hati kalian. Sebagaimana yang tercantum di dalam hadits shahih:

( إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ . )

“Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk (tubuh) dan tidak juga harta kalian. Akan tetapi, Dia memandang kepada hati dan amal kalian.”

Hadirin yang berbahagia,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan besarnya pahala kurban jika didasari ketakwaan. Dalam hadis riwayat Imam At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏”‏ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya kurban yang lebih dicintai Allah melebihi dari mengalirkan darah (menyembelih hewan kurban). Sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan itu akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darahnya akan sampai kepada (keridhaan) Allah sebelum darah itu jatuh ke tanah, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.” (HR. At-Tirmidzi No. 1493, ia berkata: Hasan).

Coba kita resapi kalimat “darahnya sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah”. Ini adalah kiasan tingkat tinggi tentang kecepatan sampainya pahala niat dan keikhlasan. Sebelum hewan itu benar-benar mati, keikhlasan hati sang pekurban telah dicatat di Lauhul Mahfuzh.

Maka, esensi kurban sesungguhnya adalah syariat untuk menyembelih ego. Ketika kita melihat leher hewan itu ditundukkan lalu pisau yang tajam memutus urat nadinya, niatkan dalam hati kita bahwa pada saat yang sama, kita sedang menundukkan kesombongan kita, memotong sifat rakus kita, menyembelih sifat iri dengki kita, dan membuang jauh-jauh sifat kebinatangan yang bersarang di dalam dada kita.

Percuma kita menyembelih sapi terbesar dan termahal, jika di saat yang sama kita masih memutuskan tali silaturahmi, memakan harta riba, memakan hak anak yatim, atau mendzalimi sesama manusia. Jika ketakwaan itu tidak ada, maka kurban kita tidak lebih dari sekadar aktivitas memotong daging di rumah pemotongan hewan. Tidak ada nilainya di sisi Allah.

Semoga di hari raya kurban ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amalan kita, menyucikan niat kita, dan menjadikan setiap helai bulu hewan kurban kita sebagai timbangan kebaikan kelak di hari kiamat.

Baarakallaahu lii wa lakum fil-qur’aanil-‘azhiim, wa nafa’anii wa iyyakum bimaa fiihi minal-aayaati wa dzikril-hakiim. Aquulu qawlii haadzaa, wastaghfirullaaha lii wa lakum, fas-taghfiruuhu innahu huwal-ghafuurur-rahiim.

KHUTBAH KEDUA

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

Hadirin jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Di ujung khutbah ini, mari kita hiasi hari raya kita dengan berbagi kebahagiaan. Daging kurban yang dibagikan adalah simbol ukhuwah (persaudaraan) dan kepedulian sosial. Mari pastikan tetangga-tetangga kita, terutama mereka yang fakir dan miskin, ikut merasakan hidangan yang lezat di hari raya ini.

Marilah kita tundukkan hati kita, melepaskan segala keangkuhan, dan memohon ampunan serta rahmat dari Allah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.  اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ اَللّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَينَا وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانَا صغارا

Ya Allah, Wahai Dzat yang menerima kurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Terimalah amal ibadah kurban kami pada hari ini. Jadikanlah kurban kami sebagai bukti ketakwaan kami, penebus dosa-dosa kami, dan pembersih jiwa kami.

Ya Allah, hancurkanlah kesombongan yang ada di dalam dada kami. Sembelihlah sifat-sifat buruk yang bersemayam dalam diri kami. Tundukkanlah hati kami agar senantiasa patuh pada syariat-Mu, sebagaimana tunduknya hewan-hewan kurban di bawah kehendak-Mu.

Ya Rabb, berikanlah keselamatan dan kemabruran bagi saudara-saudara kami yang saat ini tengah menunaikan ibadah haji di Baitullah. Mudahkanlah urusan mereka, dan anugerahkanlah pula kesempatan kepada kami untuk dapat berkunjung ke rumah-Mu yang mulia.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ, وَتُبْ عَلَينَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button