Khutbah Idul Adha : Air Mata Ibrahim, Keteguhan Ismail, dan Kita Hari Ini
Oleh : Galuh Andi Luxmana

“AIR MATA IBRAHIM, KETEGUHAN ISMAIL, DAN KITA HARI INI”
Oleh : Galuh Andi Luxmana ( Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah)
السلام عليكم و رحمة الله وبركاته
إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِيْرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَ نَبِيَ وَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّي عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينْ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسِانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ : فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ اِلتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
وَقَالَ أَيْضاً, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang mempertemukan kita kembali dengan hari yang agung, hari raya Idul Adha, hari pengorbanan, hari ketaatan, dan hari penuh pelajaran bagi siapa saja yang mau mengambil hikmah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Ushikum wa nafsi bitaqwallah… saya wasiatkan kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah. Karena hanya dengan takwa, hidup kita akan terarah. Tanpa takwa kita akan tersesat walaupun dunia kita terlihat gemerlap.
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Jamaah sholat Idul Adha yang berbahagia … hari ini kita berkumpul dalam pakaian terbaik, dalam suasana penuh kebahagiaan. Namun di balik kebahagiaan ini, ada sebuah kisah besar yang tidak boleh kita lupakan. Kisah yang bukan sekadar cerita, tapi cermin bagi kehidupan kita hari ini. Kisah tentang air mata seorang ayah, dan keteguhan seorang anak.
Mari kita mengingat kembali kepada kisah agung Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putranya Nabi Ismail ‘alaihissalam. Allah berfirman dalam Qur’an surat As-Saffat Ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَآءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya : Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”tentang mimpi Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Ini bukan perintah biasa. Ini ujian yang tidak semua manusia sanggup menjalaninya.
Bayangkan… seorang ayah yang telah lama menunggu kehadiran anak. Bertahun-tahun berdoa, meneteskan air mata, memohon kepada Allah agar diberikan keturunan. Lalu ketika anak itu tumbuh menjadi penyejuk mata, Allah justru memerintahkan untuk mengorbankannya. Di sinilah letak ujian keimanan yang luar biasa.
Namun lihatlah… Nabi Ibrahim tidak membantah. Tidak protes. Tidak berkata “Ya Allah, kenapa aku?” Tapi beliau berkata dengan ketaatan total. Inilah iman. Iman yang tidak bersyarat. Iman yang tidak menawar.
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Jamaah sholat Idul Adha yang berbahagia … kisah ini bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban. Ini tentang menyembelih ego kita. Tentang menyembelih kesombongan kita. Tentang menyembelih kecintaan berlebihan terhadap dunia yang membuat kita lupa kepada Allah.
Sering kali kita berkata beriman, tapi ketika diuji sedikit saja, kita mulai goyah. Diuji dengan harta, kita lupa zakat. Diuji dengan jabatan, kita lupa amanah. Diuji dengan kesenangan, kita lupa bersyukur. Padahal iman sejati adalah seperti Ibrahim—taat dalam segala keadaan.
Dan lihatlah Nabi Ismail… seorang anak muda. Ketika ayahnya menyampaikan perintah Allah, apa jawabannya? “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Subhanallah… ini bukan anak biasa. Ini anak yang dididik dengan iman.
Bayangkan suasana itu… seorang ayah membawa anaknya ke sebuah tempat. Langkah demi langkah terasa berat. Hati seorang ayah pasti hancur. Air mata mungkin mengalir, tapi iman lebih kuat dari perasaan.
Ketika pisau telah diletakkan di leher sang anak… tidak ada perlawanan. Tidak ada tangisan ketakutan. Yang ada hanyalah kepasrahan total kepada Allah. Inilah puncak ketundukan. Inilah bukti cinta kepada Allah yang sesungguhnya.
Dan ketika perintah itu dilaksanakan dengan penuh keikhlasan… Allah menggantinya dengan seekor sembelihan. Allah tidak butuh darah dan dagingnya. Allah hanya ingin melihat… siapa yang benar-benar taat.
Jamaah sholat Idul Adha yang berbahagia … sekarang mari kita lihat diri kita hari ini. Kita tidak diperintahkan menyembelih anak. Kita hanya diminta shalat… masih berat. Kita diminta menutup aurat… masih banyak alasan. Kita diminta jujur… tapi masih sering berbohong.
Kita hidup di zaman di mana manusia lebih takut kehilangan harta daripada kehilangan iman. Lebih sibuk mengejar dunia daripada mempersiapkan akhirat. Handphone kita penuh, tapi hati kita kosong. Media sosial kita aktif, tapi hubungan kita dengan Allah mati. Padahal Baginda Rosulullah Saw bersabda :
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ
“Barangsiapa yang menjadikan dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan selalu ada di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang telah Allah tetapkan baginya.”(HR. Ibnu Majah)
Pertanyaannya… kalau kita hidup di zaman Nabi Ibrahim, apakah kita sanggup seperti beliau? Kalau kita di posisi Nabi Ismail, apakah kita bisa seteguh itu? Atau justru kita akan lari dari ujian?
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Jamaah sholat Idul Adha yang berbahagia… Pelajaran penting yang dapat kita ambil dari kisah Ibrahim dan Islamil:
Pelajaran pertama: ketaatan tanpa syarat. Ketaatan tanpa syarat adalah tanda cinta yang sejati kepada Allah. Jangan kita jadikan keadaan sebagai alasan untuk menunda ibadah. Jangan tunggu hidup lapang baru bersujud, karena justru dalam kesempitan itulah nilai ketaatan diuji. Jangan tunggu hati tenang baru berdzikir, karena dzikir itulah yang menenangkan hati. Betapa sering kita berkata, “Nanti kalau sudah siap…” padahal kematian tidak pernah menunggu kesiapan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلَاقِيْكُمْ ۚ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Artinya:”Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’. (Q.S Jumu’ah:8)
. Maka orang beriman tidak menunda, ia melangkah meski berat, ia taat meski belum sempurna, karena ia tahu bahwa kesempurnaan lahir dari proses ketaatan itu sendiri.
Jangan tunggu kaya baru bersedekah, karena yang sedikit jika ikhlas lebih bernilai di sisi Allah daripada yang banyak tapi penuh perhitungan. Jangan tunggu tua baru ibadah, karena tidak ada jaminan kita sampai pada usia tua. Hari ini kita sehat, besok bisa saja lemah. Hari ini kita punya waktu, besok bisa saja tidak ada kesempatan. Maka taatlah sekarang, dalam kondisi apa pun—saat lapang maupun sempit, saat senang maupun susah. Karena sejatinya, Allah tidak menilai kapan kita mulai, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita menjalani ketaatan itu hingga akhir hayat.
Pelajaran kedua: pendidikan iman dalam keluarga. Nabi Ismail ‘alaihissalam tidak tiba-tiba menjadi anak yang tegar, patuh, dan siap berkorban. Semua itu adalah hasil dari didikan seorang ayah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang menanamkan tauhid sejak dini. Sejak kecil, Ismail dibesarkan dengan keyakinan bahwa Allah adalah segalanya, bahwa perintah Allah harus didahulukan di atas perasaan, bahkan di atas cinta kepada diri sendiri. Maka ketika ujian besar datang, ia tidak goyah. Keteguhan itu bukan muncul seketika, tetapi dibangun dari proses panjang pendidikan iman dalam keluarga.
Maka wahai para orang tua di zaman ini, mari kita bercermin. Jangan sampai kita lebih sibuk memenuhi kebutuhan dunia anak-anak kita, tetapi lalai menanamkan iman di hati mereka. Kita bangga memberi mereka gadget terbaru, kendaraan terbaik, dan fasilitas lengkap, tetapi lupa mengajarkan mereka siapa Tuhan mereka, bagaimana mencintai Rasul-Nya, dan bagaimana takut kepada hari akhir. Padahal tanpa iman, semua itu tidak akan menjadi penolong bagi mereka. Mari kita mulai dari rumah: ajarkan anak shalat, kenalkan mereka pada Al-Qur’an, dan jadilah teladan dalam ketaatan. Karena anak yang kuat imannya, itulah investasi terbaik dunia dan akhirat.
Pelajaran ketiga: ikhlas dalam berkorban. Kurban bukan soal besar kecilnya hewan yang kita sembelih, bukan pula tentang seberapa banyak daging yang kita bagikan, tetapi tentang seberapa tulus hati kita ketika melakukannya. Banyak orang mampu berkurban dengan harta yang melimpah, tetapi belum tentu hatinya hadir untuk Allah. Jika ada kemudian diantara kita yang seperti itu maka bersegeralah memperbaiki niat kepada Allah. Banyak juga orang yang berkurban dengan sederhana, namun hatinya penuh keikhlasan, penuh cinta kepada Allah, dan penuh harap akan ridha-Nya jelas ini adalah sebuah akhlak yang terpuji. Maka kita sama tahu bahwa sesungguhnya yang sampai kepada Allah bukanlah darah dan dagingnya, tetapi ketakwaan yang bersemayam di dalam dada.
Keikhlasan itulah yang menjadikan amal kecil bernilai besar di sisi Allah, dan sebaliknya, tanpa keikhlasan, amal besar bisa menjadi hampa. Kita tidak boleh berniat berkurban hanya ingin dipuji, untuk dianggap dermawan, atau sekadar mengikuti tradisi karena jelas itu kerugian, dengan seperti itu maka kita telah kehilangan ruh dari ibadah itu sendiri. Namun ketika kita berkurban karena Allah, meski harus menyisihkan dari yang ia cintai, menahan keinginan pribadi, bahkan mungkin dalam keterbatasan, di situlah nilai pengorbanan yang sesungguhnya. Maka mari kita luruskan niat, hadirkan hati, dan jadikan setiap tetes pengorbanan sebagai bukti cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Jamaah sholat Idul Adha yang berbahagia… bayangkan suatu hari nanti kita akan dibaringkan di liang lahat. Tidak ada lagi jabatan. Tidak ada lagi harta. Tidak ada lagi keluarga yang menemani. Yang ada hanyalah amal kita.
Apa yang akan kita jawab ketika Allah bertanya? Apa yang telah kita korbankan untuk agama ini? Apa yang telah kita berikan untuk akhirat kita?
Hari ini… Allah tidak meminta anak kita. Allah hanya meminta sedikit dari harta kita. Tapi mengapa terasa berat? Mengapa kita masih ragu?
Maka… mari kita belajar dari Ibrahim dan Ismail. Jadikan Idul Adha ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tapi momentum perubahan diri. Momentum untuk kembali kepada Allah dengan sepenuh hati.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang taat, yang ikhlas, dan yang siap berkorban di jalan-Nya. Karena itu, marilah kita sama-sama berdoa kepada Allah Swt:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَلَّلهُمَّ اِنَّا نَسْاءَلُكَ سَلَمَتً فِي الدِّيْنِ وَعَافِيَتَ فِي الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ وَبَرَكَهً فِي الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ يآاَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي عِيْدِنَا هَذَا وَاجْعَلْهُ عِيْدًا مُبَارَكًا
اللَّهُمَّ إِنَّنَ ألسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِنَا وَدُنْيَانَا وَأَهْلِنَا وَمَالِنَا
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَسَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَرَءُوْفٌ رَّحِيمُ
رَبَّنَآ أَتِنَآ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَآ عَذَابَ النَّار
والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته




