KhutbahKhutbah Jum'at

Khutbah Jum’at: Nabi Ibrahim dan Jalan Cinta Kepada Allah

Muhamad Fikri Aththori, S.Pd (Anggota Majelis Tabligh PCM Blimbing Daerah Sukoharjo)

📅 Jumat, 23 Mei 2026 | 5 Zulhijah 1447 H

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليمًا كثيرًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Amma ba’du.

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Setelah memanjatkan syukur kepada Allah dan besholawat atas Rasulullah Muhammad ﷺ, mari kita senantiasa meningkatkan iman dan  takwa dengan sebenar-benarnya takwa dengan terus memperbanyak amal sholih, khususnya di 10 hari terbaik ini.

Di antara pelajaran terbesar dari kisah Nabi Ibrahim adalah tentang bagaimana seorang hamba menjadikan Allah sebagai pusat cintanya, pusat takutnya, dan pusat harapannya.

Karena hakikat ibadah bukan sekadar gerakan tubuh, banyaknya amal, atau panjangnya ibadah. Tetapi ibadah adalah amalan hati.

Para ulama menjelaskan bahwa ibadah dibangun di atas tiga perkara mahabbah (cinta kepada Allah), khauf (takut kepada Allah), dan raja’ (harap kepada rahmat Allah).

Dan ketiganya terkumpul dalam kehidupan Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Jamaah sekalian…

Cinta kepada Allah bukan sekadar ucapan di lisan. Tetapi cinta yang membuat seorang hamba taat kepada Allah, rela berkorban, dan mendahulukan Allah di atas segala-galanya.

Karena itu Allah menguji Nabi Ibrahim dengan sesuatu yang paling beliau cintai: putranya, Nabi Ismail عليه السلام.

Allah berfirman,

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Ini bukan sekadar ujian penyembelihan. Tetapi ujian, siapa yang paling dicintai dalam hati?

Dan Nabi Ibrahim memilih Allah. Karena itulah Allah menjadikannya khalilullah, kekasih Allah.

Allah berfirman,

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai khalil.” (QS. An-Nisa’: 125)

Jamaah yang dirahmati Allah…

Namun ibadah tidak cukup hanya dengan cinta. Seorang mukmin juga harus memiliki rasa takut kepada Allah.

Anehnya, hari ini banyak manusia takut kehilangan pekerjaan, kehilangan harta, kehilangan manusia, tetapi sedikit takut kehilangan Allah.

Padahal Nabi Ibrahim yang merupakan imam tauhid saja masih takut terjatuh ke dalam syirik.

Beliau berdoa:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

Lihatlah, Seorang nabi, penghancur berhala, khalilullah, masih takut kepada syirik. Maka para salaf berkata,

وَمَنْ يَأْمَنُ الْبَلَاءَ بَعْدَ إِبْرَاهِيمَ؟

“Siapa yang merasa aman dari ujian setelah Ibrahim?”

Karena semakin seseorang mengenal Allah, semakin takut ia kepada-Nya.

Namun selain cinta dan takut, seorang mukmin juga harus memiliki harapan kepada Allah.

Jangan sampai dosa membuat kita putus asa dari rahmat Allah.

Nabi Ibrahim mengajarkan itu ketika beliau membangun Ka’bah bersama Ismail. Beliau tetap berdoa,

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا

“Ya Rabb kami, terimalah dari kami.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Padahal beliau sedang melakukan amal yang sangat besar.

Tetapi hati orang beriman tidak ujub, tidak merasa suci, dan terus berharap kepada Allah.

Jamaah sekalian,

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata,

القَلْبُ فِي سَيْرِهِ إِلَى اللَّهِ كَالطَّائِرِ، الْمَحَبَّةُ رَأْسُهُ، وَالْخَوْفُ وَالرَّجَاءُ جَنَاحَاهُ

“Hati dalam perjalanan menuju Allah seperti seekor burung. Cinta adalah kepalanya, sedangkan takut dan harap adalah kedua sayapnya.”

Artinya, cinta tanpa takut membuat manusia meremehkan dosa, takut tanpa harap membuat manusia putus asa, dan harapan tanpa amal hanya menjadi angan-angan kosong.

Karena itu jalan Nabi Ibrahim adalah jalan keseimbangan. Mencintai Allah, takut kepada Allah, dan berharap hanya kepada Allah.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Mungkin hari ini kita masih shalat, masih mengaji, masih berdzikir. Tetapi pertanyaannya:

siapa yang paling memenuhi hati kita?

Karena seseorang akan selalu bergerak menuju apa yang paling ia cintai, paling ia takutkan, dan paling ia harapkan.

Maka marilah kita belajar dari Nabi Ibrahim: memurnikan cinta, menjaga tauhid, dan menyerahkan hidup sepenuhnya hanya kepada Allah سبحانه وتعالى.

 

KHUTBAH KEDUA

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ،

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button