Khutbah Idul Adha : Tauhid, Qurban, dan Kepedulian Sosial
Oleh: Muhammad Thoriq Nur Ikhsan, M.Pd.

Khutbah Idul Adha 1447 H : Tauhid, Qurban, dan Kepedulian Sosial
Oleh: Muhammad Thoriq Nur Ikhsan, M.Pd. (Sekretaris Majelis Tabligh PDM Banyumas)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, serta kesempatan sehingga pada pagi hari yang penuh keberkahan ini kita dapat berkumpul menunaikan Shalat Idul Adha 1447 Hijriyah.
Hari ini adalah hari yang agung. Hari raya qurban. Hari ketika kaum muslimin di seluruh dunia mengagungkan asma Allah dengan takbir, tahmid, dan tahlil. Hari yang menghidupkan kembali keteladanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Ismail ‘alaihissalam dalam ketaatan dan pengorbanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jamaah rahimakumullah,
Idul Adha dan hari-hari Dzulhijjah bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender Islam. Ini adalah hari-hari yang dimuliakan Allah. Hari-hari yang Allah cintai untuk melihat hamba-hamba-Nya berlomba dalam kebaikan.
Karena itu, jangan sampai hari-hari mulia ini berlalu begitu saja tanpa perubahan dalam diri kita.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ
(رواه البخاري)
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.”
Yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mungkin kita belum sempurna dalam ibadah. Mungkin kita masih memiliki banyak dosa dan kekurangan. Akan tetapi jangan sampai kita kehilangan kesempatan emas ini hanya karena merasa belum pantas menjadi hamba yang baik.
Mulailah dari amal yang sederhana.
Perbanyak dzikir.
Perbanyak istighfar.
Perbanyak tilawah Al-Qur’an.
Perbanyak sedekah dan kepedulian kepada sesama.
Sebab bisa jadi satu amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas pada hari-hari mulia ini menjadi sebab Allah menghapus dosa, mengangkat kesedihan, dan mendatangkan keberkahan dalam hidup kita.
Jamaah rahimakumullah,
Idul Adha adalah madrasah tauhid. Di dalamnya terdapat pelajaran besar tentang keikhlasan, pengorbanan, kepedulian sosial, dan ketaatan total kepada Allah.
Karena itu, tauhid tidak boleh berhenti hanya sebagai pengetahuan di kepala dan ucapan di lisan. Tauhid harus hidup dalam keyakinan, hidup dalam ucapan, dan hidup dalam amal ketaatan.
Sebab iman bukan hanya diketahui, tetapi harus dibuktikan dengan amal.
Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ash-Shaffat ayat 102:
﴿فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Ismail menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Ayat ini menunjukkan kepada kita bagaimana tauhid benar-benar hidup dalam diri Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Tauhid mereka bukan sekadar pengakuan lisan. Tauhid mereka hidup dalam ketaatan. Hidup dalam pengorbanan. Hidup dalam kesabaran. Hidup dalam kepasrahan total kepada Allah.
Padahal yang diminta bukan sesuatu yang ringan. Yang diminta adalah anak yang sangat dicintai. Namun ketika perintah Allah datang, Nabi Ibrahim mendahulukan cinta kepada Allah di atas segala-galanya.
Demikian pula Nabi Ismail. Tidak ada penolakan. Tidak ada kemarahan. Yang keluar justru kalimat penuh iman dan kesabaran:
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
Inilah buah dari tauhid yang benar.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dari kisah ini kita belajar bahwa iman selalu menuntut pengorbanan.
Tidak ada ketakwaan tanpa perjuangan. Tidak ada kemuliaan di sisi Allah tanpa kesediaan menundukkan hawa nafsu dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Karena itu, ibadah qurban bukan sekadar menyembelih hewan. Qurban adalah pendidikan ruhani agar manusia mampu menyembelih sifat egois, tamak, kikir, dan cinta dunia yang berlebihan.
Allah Ta’ala berfirman (QS. Al-Hajj: 37)
﴿لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ﴾
“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
Ayat ini menegaskan bahwa inti qurban bukan pada banyaknya daging atau besarnya hewan, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan hati.
Karena itu, orang yang berqurban sejatinya sedang dididik agar tidak diperbudak oleh hartanya sendiri. Ia sedang belajar bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan Allah.
Jamaah rahimakumullah,
Ibadah qurban juga mengajarkan bahwa Islam bukan agama yang hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesama.
Perhatikanlah, daging qurban tidak diperintahkan untuk dinikmati sendiri. Ia dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, kerabat, dan masyarakat yang membutuhkan.
Allah Ta’ala berfirman (QS. Al-Hajj: 28)
﴿فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ﴾
“Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.”
Dalam ayat lain Allah berfirman (QS. Al-Hajj: 36)
﴿فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ﴾
“Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan kepada orang yang merasa cukup dan orang yang meminta.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
كُلُوا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّقُوا (رواه مسلم)
“Makanlah sebagian daging qurban itu, simpanlah, dan sedekahkanlah.”
Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa ibadah qurban memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Islam mengajarkan agar kebahagiaan Idul Adha dirasakan bersama, terutama oleh fakir miskin dan masyarakat yang membutuhkan.
Karena itu, seorang muslim yang benar tauhidnya tidak mungkin hidup hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa peduli keadaan saudaranya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (متفق عليه)
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Hari ini kemiskinan masih menjadi persoalan besar di tengah masyarakat. Masih banyak saudara kita yang hidup dalam kesulitan ekonomi. Ada yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, ada yang terlilit hutang, ada yang kehilangan pekerjaan, bahkan ada generasi muda yang kehilangan arah hidup karena tekanan ekonomi dan lemahnya pendidikan agama.
Sebagian terjerumus dalam judi online. Sebagian lagi terjebak pinjaman daring yang merusak kehidupan keluarga.
Islam mengajarkan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam menghadirkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat, termasuk dalam upaya mengentaskan kemiskinan. Namun kenyataannya, persoalan kemiskinan tidak mudah diselesaikan hanya dengan kebijakan dan program semata. Bahkan ketika pemerintah bersungguh-sungguh pun, persoalan ini tetap membutuhkan dukungan dan kepedulian seluruh masyarakat.
Karena itu Islam menanamkan semangat tolong-menolong, kepedulian sosial, zakat, sedekah, infaq, dan qurban agar umat bersama-sama menghadirkan kemaslahatan.
Allah Ta’ala berfirman (QS. Adz-Dzariyat: 19)
﴿وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ﴾
“Dan pada harta-harta mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa harta bukan sepenuhnya milik pribadi. Di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan.
Karena itu, membantu fakir miskin bukan sekadar anjuran moral, tetapi bagian dari ketaatan kepada Allah dan bukti nyata ketakwaan seorang muslim.
Jamaah rahimakumullah,
Para sahabat Rasulullah memberikan teladan luar biasa dalam kepedulian sosial.
Abu Bakar Ash-Shiddiq menginfakkan hartanya demi perjuangan Islam.
Umar bin Khattab terkenal dengan kepeduliannya terhadap rakyat kecil. Beliau memikul sendiri gandum untuk membantu keluarga miskin pada malam hari.
Utsman bin Affan menggunakan kekayaannya untuk membantu kebutuhan umat.
Mereka memahami bahwa tauhid harus melahirkan amal, dan keimanan harus melahirkan kepedulian.
Jamaah yang berbahagia,
Idul Adha seharusnya melahirkan pribadi muslim yang lebih peduli, lebih dermawan, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Jika kita memiliki kelebihan harta, bantulah yang membutuhkan.
Jika kita memiliki ilmu, ajarkan kepada masyarakat.
Jika kita memiliki tenaga, gunakan untuk menolong sesama.
Jika kita memiliki jabatan, gunakan untuk menghadirkan kemaslahatan dan keadilan.
Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Marilah kita jadikan momentum Idul Adha ini untuk memperkuat ketakwaan, memperbaiki diri, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan kepedulian sosial di tengah kehidupan umat.
Semoga Allah menerima qurban kita, menerima amal ibadah kita, melapangkan rezeki kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
Mari kita juga mendoakan saudara-saudara kita di berbagai negeri yang sedang mengalami penderitaan dan penjajahan. Semoga Allah memberikan pertolongan dan kemenangan kepada mereka.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ
يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ
قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
والسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ



