Khutbah Idul Adha : Siap Berkorban di Sepanjang Hayat
Oleh : Dr. H. Ali Trigiyatno, M.Ag

Khutbah Idul Adha 1447 H : Siap Berkorban di Sepanjang Hayat
Dr. H. Ali Trigiyatno, M.Ag (Ketua Majelis Tabligh PWM Jateng)
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ يَوْمَ الْأَضْحَى عِيدًا وَمَوْسِمًا لِلْخَيْرَاتِ وَالطَّاعَاتِ، وَتَكْفِيْرِ الذُّنُوْبِ وَالرَّفْعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا الْفَوْزَ يَوْمَ الْمَقَامَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَإِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللهِ، الْقَائِلِ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
Jama’ah Salat Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Hari ini kita patut bersyukur dan bergembira, mendapat kesempatan berjumpa dengan hari besar agama kita Idul Adha 1447 H. Lebih-lebih jika setelah saat Idul Adha kita juga mau dan mampu menyembelih hewan kurban, rasa-rasanya kegembiraan itu makin lengkap kita rasakan. Mengingat salah satu resep hidup bahagia adalah di saat kita mampu membahagiakan orang lain.
Terkait ibadah kurban yang Insya Allah sebentar lagi akan kita tunaikan, kata “Qurban” berasal dari bahasa Arab: قُرْبَان yang berakar dari kata قَرُبَ – يَقْرُبُ yang berarti dekat. Jadi secara bahasa, qurban bermakna sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Dalam Al-Qur’an, istilah ini digunakan untuk menunjukkan persembahan atau pengorbanan yang dilakukan hamba agar semakin dekat dengan Allah.
Menurut syariat Islam sendiri, qurban didefinisikan sebagai menyembelih hewan ternak tertentu (unta, sapi, kambing/domba) pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.
Berkurban memang syariatnya setahun sekali, namun spirit berkurban hendaknya kita miliki 24 dalam sehari dan 12 bulan dalam setahun. Sesungguhnya, seorang mukmin mestinya siap untuk berkorban sepanjang hayat selagi ruh masih dikandung badan.
Allahu akbar Allahu Akbar walillahil hamd.
Mari kita renungkan tiga bentuk pengorbanan yang semestinya kita bawa dan wujudkan dalam kehidupan sehari-hari:
- Berani Mengorbankan Hawa Nafsu demi Ketaatan
Jama’ah yang berbahagia, Hawa nafsu adalah salah satu musuh terbesar manusia yang perlu diwaspadai dan dikendalikan. Bukan malah dituruti secara bebas dan dipertuhankan. Allah mengingatkan dalam firman-Nya:
﴿وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى﴾ (النازعات: 40-41
“Adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu, maka surgalah tempat tinggalnya.”
Secara simbolik, berqurban bisa dipahami sebagai sebuah sikap berani menyembelih sifat kebinatangan dalam diri seseorang seperti sifat amarah, keserakahan, dan syahwat yang menjerumuskan dan menyesatkan. Inilah qurban yang paling berat, tetapi paling mulia di sisi Allah.
Belakangan ini kita ikut prihatin sedalam-dalamnya, bagaimana tidak, sebagian sosok yang mestinya menjadi teladan dan juga pelindung anak-anak, karena nafsu sesaat yang tidak terkendali tega merusak masa depan gadis-gadis kecil yang masa depannya masih Panjang dengan diperlakukan tidak senonoh dan jauh dari kata beradab. Celakanya, kejadian ini terkesan bukan semakin berkurang atau berhenti tapi malah terus terjadi dan terjadi.
- Berani Mengorbankan Harta demi Kepentingan Umat
Jama’ah Idul Adha rahimakumullah, harta adalah amanah, bukan tujuan hidup. Maka ia janganlah dinikmati sendiri, tapi fungsikan juga harta itu untuk kegiatan sosial dengan berbagi pada sesama. Hajat kepada harta Adalah kebutuhan Bersama terutama menyangkut makan minum yang memang merupakan kebutuhan mendasar. Rasulullah ﷺ bersabda:
«خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ» رواه الطبراني(
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Dengan harta berlebih di tangan kita, kita bisa memberi manfaat luas kepada sesama di antaranya dengan berkurban. Qurban jelas mengajak kita untuk rela mengeluarkan harta kita terbaik, bukan sisa atau yang tidak berguna. Hewan qurban juga harus sehat, gemuk, dan layak. Demikian pula dalam kehidupan, kita harus berani mengorbankan harta untuk pendidikan, dakwah, dan membantu fakir miskin dan aneka ketaatan lainnya. Itulah bukti cinta kita kepada Allah dan sesama.
- Berani Mengorbankan Waktu dan Tenaga demi Dakwah dan Amal Shalih
Jama’ah yang dirahmati Allah, waktu adalah modal hidup. Allah bersumpah:
﴿وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾ (العصر: 1-3)
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sert saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran” (QS. Al Ashr: 1-3).
Berkurban bukan hanya dengan harta, tetapi juga dengan tenaga dan waktu. Menjadi relawan, mengajar, berdakwah, membantu sesama—semua itu adalah bentuk kurban yang nyata. Jangan sampai waktu kita habis untuk hal sia-sia, sementara umat membutuhkan tenaga kita.
Di satu sisi, sebagai warga persyarikatan, kita mestinya dapat mencontoh dan meniru semangat Pengorbanan KH Ahmad Dahlan. Beliau banyak berkorban demi umat dengan mengorbankan harta benda yang dimilikinya. Guna menopang lembaga Pendidikan yang didirikannya, KH Ahmad Dahlan ikhlas menjual sebagian hartanya untuk mendirikan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Beliau rela hidup sederhana demi memastikan anak-anak bangsa mendapatkan pendidikan modern yang tetap berlandaskan nilai Islam.
Beliau juga rela mengorbankan Sebagian besar waktu dan tenaga untuk dakwah. Hampir seluruh hidupnya dicurahkan untuk mengajar, berdakwah, dan membimbing umat. Beliau berkeliling kampung, mengajarkan tafsir Al-Ma’un, dan menekankan pentingnya amal nyata dalam membantu fakir miskin dan anak yatim.
Pengorbanan lain yang bisa dicatat Adalah beliau bersedia mengorbankan Kenyamanan demi Perjuangan. KH Ahmad Dahlan dahulu sering menghadapi cemoohan, fitnahan, bahkan penentangan dari masyarakat yang belum memahami gagasan pembaruan Islam. Namun beliau tetap sabar, tidak membalas dengan kebencian, melainkan dengan kerja nyata dan keteladanan.
Hadirin jamaah salat Idul Adha rahimakumullah. Demikian sekelumit khutbah Id bertemakan spirit mengajak selalu siap berkurban demi dan untuk kejayaan dan kemulian Islam dan kaum Muslimin. Sekali lagi kami tegaskan, walau syariat kurban setahun sekali, namun spirit rela dan mau berkurban hendaknya kita miliki sepanjang tahun, karena kesuksesan, kejayaan, keberhasilan suatu bangsa mutlak memerlukan pengorbanan yang besar terutama dari para pimpinan, pejabat dan tokoh Masyarakat dan tentunya diikuti oleh Masyarakat luas.
Sebagai penutup mari kita akhir dengan doa.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. آمِيْنَ يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.




