Artikel

Nasab Nabi Muhammad ﷺ dan Keluarga Terdekat

Seri 3 – Sirah Nabi yang Menggembirakan

Oleh: Daru Nurdianna, M.Pd. (Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jawa Tengah)

Dari kitab “Ar-Raḥīq al-Makhtūm”, ada 3 bagian nasab nabi Muhammad ﷺ:

  1. Nasab yang disepakati oleh pakar biografi dan nasab, dari Muhammad sampai Adnan.
  2. Nasab yang dipeselisihkan kepastiannya dan para ‘Ulama bertawaqquf (menahan diri untuk tidak menetapkan suatu pendapat, keputusan, atau kesimpulan karena bukti yang ada belum cukup kuat)
  3. Bagian yang pasti dari Ibrahim As. sampai Adam As.

Bagian pertama, yang disepakati oleh pakar biografi dan nasab: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib (yang namanya Syaibah) bin Hasyim (yang namanya ‘Amr) bin Abdu Manaf (yang namanya Al-Mughirah) bin Qushay (yang namanya Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (yang berjuluk Quraisy dan menjadi cikal bakal nama kabilah) bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (‘Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Buyut Hasyim dan Adiknya Muththalib

Dalam mengenal lebih dekat dengan keluarga Nabi, beberapa ‘Ulama menuliskan kisahnya mulai dari Amru yang mendapat julukan Hasyim (karena kebiasaannya memberikan remukan roti kepada jamaah haji). Sehingga, keluarga nabi dikenal dengan sebutan Hasyimiyah. Dalam kerangka keluarga di Indonesia, Hasyim masuk sebagai ‘Buyut’ Rasulullah SAW.

Selain itu, ada yang penting untuk dipahami di sini adalah, bahwa Kakek Buyut Hasyim memiliki adik, Bernama Muththalib. Adik Hasyim ini memiliki peran penting dalam kepenerusan urusan Kabah sepeninggal Hasyim dan pencarian anak Hasyim yang ditinggalkannya di Yastrib. Anak Hasyim itu adalah Syaibah yang nanti akan kita kenal sebagai Abdul Muththalib (budaknya Muththalib) karena saat dibawa kembali ke Mekkah, Syaibah diboncengkan di atas unta Muththalib yang terlihat seperti budak.

Kakek Syaibah (Abdul Muththalib)

Syaibah adalah nama asli dari kakek Nabi Muhammad SAW. Nama ini dipilih karena saat lahir memiliki uban (syaiban). Namun, uniknya ketika muda, terkenal dengan nama Abdul Muththalib (budaknya Muththalib). Meski julukannya demikian, ketika dewasa Abdul Muththalib tumbuh sebagai pria dewasa yang berwibawa dan berhasil menjadi penerus Hasyim untuk mengelola rumah tua Kabah. Kisah Abdul Muththalib banyak dikisahkan oleh penutur Sirah karena banyak terjadi peristiwa besar seperti menemukan kembali air Zam-Zam, pengepungan Kabah oleh Raja Abrahah, dan nazar menyembelih anaknya dan jatuh pada Abdullah.

Ayah Abdullah dan Ibu Aminah

Abdullah bin Abdul Muththalib adalah ayah Rasulullah ﷺ sekaligus putra kesayangan Abdul Muththalib. Ia dikenal sebagai seorang pemuda Quraisy yang memiliki akhlak mulia, berparas tampan, dan berasal dari Bani Hasyim, salah satu keluarga paling terpandang di Makkah. Nama Abdullah telah dikenal dalam kisah nazar Abdul Muththalib yang berniat mengorbankan salah seorang putranya apabila dikaruniai sepuluh anak laki-laki. Setelah undian beberapa kali jatuh kepada Abdullah, akhirnya ia ditebus dengan seratus ekor unta, sebuah peristiwa yang semakin mengangkat kedudukan Abdullah di tengah masyarakat Quraisy. Tidak lama kemudian, ia menikah dengan Aminah binti Wahb. Namun, kebersamaan mereka berlangsung singkat. Dalam perjalanan dagang ke Syam, Abdullah singgah di Yatsrib untuk mengunjungi kerabat dari pihak ibunya. Di kota itulah ia jatuh sakit dan wafat dalam usia muda, beberapa bulan sebelum kelahiran putranya, Muhammad ﷺ.

Aminah binti Wahb berasal dari Bani Zuhrah, salah satu kabilah Quraisy yang dikenal memiliki kehormatan dan kemuliaan nasab. Ayahnya, Wahb bin Abdu Manaf, merupakan pemuka Bani Zuhrah. Pernikahannya dengan Abdullah mempertemukan dua keluarga terpandang di Makkah yang sama-sama memiliki kedudukan mulia di tengah masyarakat Arab. Setelah ditinggal wafat suaminya, Aminah mengandung dan membesarkan janin Rasulullah ﷺ seorang diri hingga beliau lahir. Kasih sayang seorang ibu menjadi pelipur bagi Nabi pada masa-masa awal kehidupannya, meskipun kebersamaan itu pun tidak berlangsung lama. Ketika Muhammad ﷺ berusia enam tahun, Aminah wafat dalam perjalanan pulang dari Yatsrib di daerah Abwa’ (daerah antara Mekkah dan Madinah) setelah mengunjungi kuburan suaminya Abdullah. sehingga Rasulullah tumbuh sebagai yatim sejak dalam kandungan dan kemudian menjadi piatu pada usia yang masih sangat belia. Perjalanan hidup ini menjadi bagian dari cara Allah mempersiapkan Rasul-Nya agar hanya bergantung kepada pertolongan dan penjagaan-Nya. Setelah itu Nabi kembali kepada kepengasuhan kakeknya Abdul Muththalib yang penuh kasih sayang.

Kepengasuhan Kakek dan Paman Abu Thalib

Setelah usia delapan tahun lebih dua bulan sepuluh hari dari usia Rasulullah ﷺ, kakek Abdul Muththalib meninggal dunia. Kepengasuhan diwasiatkan kepada Abu Thalib, anak sang kakek atau bias akita kenal sebagai paman Nabi. Dalam kepengasuhan dan perlindungan Abu Thalib ini banyak kisah yang akan diceritakan pada tempatnya sendiri. Sebab Rasulullah hidup bersama pamannya tersebut selama lebih dari 40 tahun. Mendapat wasiat dari ayahnya, Abu Thalib menerima amanah tersebut dengan penuh kasih sayang. Ia membesarkan Muhammad ﷺ layaknya anak sendiri, dan bahkan mendahulukan kepentingan Muhammad daripada anak kandungnya sendiri.

Keluarga-Bani-Hasyim
Keluarga-Bani-Hasyim

Penutup Mengenal Nasab dan Keluaga Nabi

Demikianlah, mengenal nasab Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar menghafal nama demi nama dalam sebuah silsilah. Di balik setiap generasi, Allah sedang menyiapkan jalan bagi lahirnya penutup para nabi. Dari keluarga yang mulia, orang tua yang saleh, hingga pelindung yang penuh kasih, semuanya menjadi bagian dari takdir terbaik yang mengantarkan hadirnya rahmat bagi seluruh alam. Semoga setiap langkah kita mengenal sirah Rasulullah ﷺ semakin menumbuhkan cinta kepada beliau, karena sungguh, hati yang mengenal akan lebih mudah mencintai, dan hati yang mencintai akan rindu untuk berkumpul bersama beliau di surga.

Pada bab ini, tidak semua anggota keluarga besar Rasulullah ﷺ diperkenalkan secara rinci. Kita hanya mengenal tokoh-tokoh yang kelak akan sering hadir dalam perjalanan sirah, seperti Abdullah, Aminah, Abdul Muththalib, Abu Thalib, Hamzah, Abu Lahab, dan Al-Abbas. Merekalah orang-orang yang mengiringi fase-fase penting kehidupan Rasulullah ﷺ, baik sebagai orang tua, pelindung, pendamping, maupun pendukung serta penentang dakwah.

Dengan mengenali mereka sejak awal, pembaca akan lebih mudah mengikuti kisah-kisah berikutnya tanpa harus mengingat banyak nama sekaligus. Semoga langkah sederhana ini menjadikan perjalanan mempelajari sirah terasa lebih ringan, menyenangkan, dan semakin menggembirakan.

Daru Nurdianna, M.Pd.

Lahir di Karanganyar-Solo. Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jawa Tengah Angkatan ke-3. Alumnus Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Dosen MKDU AIK di Universitas Muhammadiyah Karanganyar (UMUKA-SOLO).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button