IbadahTuntunan

Salam Dalam Salat Sampai “Wa Barakatuh” Adakah Hadisnya?

Oleh : Dr. H Ali Trigiyatno, M.Ag (Ketua MT PWM Jateng)

Salam adalah penutup salat yang menjadi rukun menurut mayoritas ulama. Dengan salam, seorang muslim keluar dari salat dan kembali kepada aktivitas dunia. Lafaz salam yang diajarkan Rasulullah ﷺ memiliki makna mendalam, doa keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagi orang-orang di sekitarnya.

Terkait bacaan ada beberapa versi yang perlu diketahui supaya kita tidak mudah menyalahkan yang berbeda.

Pandangan Fuqaha`

Ibnu Qudamah dalam Asy-Syarh al-Kabir menjelaskan :

وجملة ذلك ان الافضل أن يقول السلام عليكم ورحمة الله لما ذكرنا من حديث ابن مسعود، وقد روى وائل بن حجر قال: صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم فكان يسلم عن يمينه ” السلام عليكم ورحمة الله وبركاته – وعن شماله – السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ” رواه أبو داود، فان قال كذلك فحسن، والاول أحسن لكثرة رواته وصحة طرقه، فان قال السلام عليكم حسب فقال القاضي: يجزئه في ظاهر كلام أحمد ونص عليه في صلاة الجنازة وهو مذهب الشافعي لان النبي صلى الله عليه وسلم قال ” وتحليلها التسليم ” وهذا التسليم.)الشرح الكبير لابن قدامة (1/ 591)

Kesimpulannya: yang lebih utama adalah mengucapkan “Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāh”, sebagaimana disebutkan dalam hadis Ibnu Mas‘ud. Dan telah diriwayatkan dari Wā’il bin Hujr, ia berkata: “Aku salat bersama Nabi , maka beliau salam ke arah kanan dengan lafaz: ‘Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh’, dan ke arah kiri dengan lafaz: ‘Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh’.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud).

Maka jika seseorang mengucapkan demikian (dengan tambahan wa barakātuh), itu baik. Namun yang pertama (tanpa tambahan wa barakātuh) lebih utama, karena periwayatnya lebih banyak dan jalurnya lebih sahih. Jika seseorang hanya mengucapkan “Assalāmu ‘alaikum” saja, maka menurut al-Qādhī: itu sudah mencukupi menurut zahir perkataan Imam Ahmad, dan beliau menegaskan hal itu dalam salat jenazah. Hal ini juga merupakan pendapat Imam al-Syafi‘i, karena Nabi ﷺ bersabda: “Dan yang menghalalkan (menyelesaikan) salat adalah salam.” Maka ucapan salam itu sudah dianggap sah.(al-Syarh al-Kabīr karya Ibn Qudāmah (1/591)

Dalam al-Fiqh al-Muyassar (1/268) ditemukan keterangan seperti di bawah ini:

Hukum menambahkan lafaz “wa barakātuh” dalam salam salat:

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang lebih utama adalah tidak menambahkan lafaz “wa barakātuh”, dan ini adalah pendapat yang masyhur dalam mazhab Ahmad (Hanbali), baik pada salam pertama maupun salam kedua. Sebagian ulama lain berpendapat: ditambahkan lafaz “wa barakātuh” pada salam pertama saja, sedangkan salam kedua tidak ditambahkan.

Pendapat yang benar adalah: tidak mengapa menambahkan lafaz “wa barakātuh” pada salam pertama, karena hal itu diriwayatkan dari Nabi ﷺ. Dari Wā’il bin Hujr r.a. ia berkata: “Aku salat bersama Nabi , maka beliau salam ke arah kanan dengan lafaz: ‘Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh’, dan ke arah kiri dengan lafaz: ‘Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāh’.”

Namun, tidak dilakukan secara terus-menerus, melainkan sesekali saja. Sebab Nabi ﷺ sendiri tidak selalu melakukannya, dan karena riwayat yang hanya menyebut “wa rahmatullāh” lebih banyak periwayatnya dan jalurnya lebih sahih dibanding riwayat yang menyebut tambahan “wa barakātuh”.

Dalam hal ini Al-Albani memberi catatan :

وقال الألباني: وكان أحيانًا يزيد في التسليمة الأولى: “وبركاته” [رواه أبو داود بسند صحيح]، فالأولى الإتيان بهذه الزيادة أحيانًا؛ لأنَّها لم ترد في أحاديث أُخر، فثبت أنَّ النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- لم يداوم عليها.(توضيح الأحكام من بلوغ المرام (2/ 292)

Al-Albani berkata: “Kadang-kadang Nabi ﷺ menambahkan pada salam pertama lafaz ‘wa barakātuh’ (diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad sahih). Maka yang utama adalah sesekali mengucapkan tambahan ini, karena ia tidak disebutkan dalam hadis-hadis lain. Dengan demikian, terbukti bahwa Nabi ﷺ tidak selalu melakukannya secara terus-menerus.” (Tawdīh al-Ahkām min Bulūgh al-Marām, 2/292)

Pandangan Tarjih Muhammadiyah

Pandangan resmi Muhammadiyah tentang salam dalam salat adalah bahwa lafaz yang dianjurkan menurut Himpunan Putusan Tarjih (HPT) ialah “Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh”, diucapkan ke kanan dan ke kiri sebagai penutup salat. Dengan demikian, Muhammadiyah menekankan kesempurnaan lafaz salam hingga wa barakātuh, bukan sekadar berhenti pada wa rahmatullāh. Namun jika berhenti sampai warahmatullahi juga tidak ada masalah.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud terdapat keterangan Rasulullah SAW salam ke kanan sampai wabarakatuh, namun saat salam ke kiri hanya sampai warahmatullahi.

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ « السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ». وَعَنْ شِمَالِهِ « السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ».سنن أبي داود ـ محقق وبتعليق الألباني (1/ 379)

Dari ‘Alqamah bin Wā’il, dari ayahnya, ia berkata: “Aku pernah salat bersama Nabi ﷺ, maka beliau salam ke arah kanan dengan lafaz: ‘Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh’, dan ke arah kiri dengan lafaz: ‘Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāh’.” (Sunan Abī Dāwūd, ditahqiq dan diberi komentar oleh al-Albānī, 1/379) Riwayat serupa juga terdapat dalam riwayat at-Thabrani 8/463.

Hadis Wāʾil bin Ḥujr tentang salam Nabi ﷺ dengan tambahan “wa barakātuh” di atas adalah ṣaḥīḥ dan dapat diamalkan. Tambahan ini merupakan ziyādah al-thiqah yang memperkaya lafaz salam dalam salat. Perbedaan riwayat menunjukkan keluasan sunnah, bukan kontradiksi.

Selanjutnya Syaikh al-Mubarakfuri menjelaskan :

قال الشيخ المباركفوري: اعلم أنَّ أكثر نسخ أبي داود خالية من زيادة “وبركاته” مع التسليمة الثانية، وإنَّما هي مع التسليمة الأولى فقط، حتى توهم البعض أنَّ الحافظ ابن حجر وهم في نقل هذه الزيادة مع التسليمة الثانية، وإنَّما الواهم هو ذلك البعض؛ فإنَّ هذه الزيادة مع التسمليمتين موجودة في بعض النسخ الصحيحة المعتمد عليها.

Syaikh al-Mubārakfūrī berkata: “Ketahuilah bahwa kebanyakan naskah Sunan Abī Dāwūd tidak memuat tambahan lafaz ‘wa barakātuh’ pada salam kedua, melainkan hanya pada salam pertama saja. Sehingga sebagian orang menyangka bahwa al-Hāfizh Ibn Hajar keliru dalam menukil tambahan ini pada salam kedua. Padahal yang keliru adalah orang yang menyangka demikian, karena sesungguhnya tambahan itu pada kedua salam terdapat dalam sebagian naskah yang sahih dan dijadikan sandaran.”

Menurut al-Mubārakfūrī, riwayat tambahan “wa barakātuh” bukan hanya pada salam pertama, tetapi juga ada pada salam kedua dalam sebagian manuskrip Sunan Abī Dāwūd yang terpercaya. Jadi, Ibn Hajar tidak salah dalam menukilnya.

Memang Ibn al-Ṣalāḥ pernah mengatakan tambahan ini tidak tsabit, namun al-Ḥāfiẓ (Ibn Ḥajar) menanggapi bahwa itu keliru, sebab tambahan tersebut memang ada dalam riwayat Ibn Ḥibbān, Abū Dāwūd, dan Ibn Mājah. Bahkan penulis Subul al-Salām menegaskan setelah meneliti naskah sahih Sunan Ibn Mājah, ia menemukan riwayat tersebut. (ʿAwn al-Maʿbūd Sharḥ Sunan Abī Dāwūd (3/296, hadis no. 846)

Penutup

Abū Iyās Maḥmūd ibn ‘Abd al-Laṭīf ibn Maḥmūd (‘Uwīḍah)  menulis dalam al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Ṣalāh sebagai berikut :

وقد وردت عدة صيغ للتسليم أكثرها روايةً وأصحُّها إسناداً هي [السلام عليكم ورحمة الله] فأرى الأخذ بها والعمل بها وترك ما سواها وذلك لما سبق من أدلة، ووردت صيغة [السلام عليكم ورحمة الله وبركاته] مرة في التسليمة الأولى، ومرة أخرى في التسليمة الثانية، فعن وائل رضي الله عنه قال «صليت مع النبي – صلى الله عليه وسلم – فكان يسلِّم عن يمينه: السلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وعن شماله: السلام عليكم ورحمة الله» رواه أبو داود. فهذا في التسليمة الأولى. وروى عبد الله رضي الله عنه «أن النبي – صلى الله عليه وسلم – كان يسلِّم عن يمينه وعن يساره حتى يُرى بياض خدِّه: السلام عليكم ورحمة الله، السلام عليكم ورحمة الله وبركاته» رواه ابن حِبَّان. فهذا في التسليمة الثانية، إلا أنَّ إسناد هذين الحديثين دون إسناد الأحاديث السابقة من حيث الصحة والقوة.) الجامع لأحكام الصلاة 1-2 الطبعة الأخيرة (2/ 300)

Telah diriwayatkan beberapa bentuk bacaan salam (taslīm) dalam salat. Bentuk yang paling banyak riwayatnya dan paling sahih sanadnya adalah: “Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh” Maka penulis berpendapat untuk berpegang pada bacaan ini, mengamalkannya, dan meninggalkan selainnya, berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya.

Adapun bacaan “Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh wa barakātuh” diriwayatkan sekali pada salam pertama, dan sekali lagi pada salam kedua.

Dari Wā’il r.a. ia berkata: “Aku salat bersama Nabi , beliau salam ke kanan: Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh wa barakātuh, dan ke kiri: Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh.” (HR. Abū Dāwūd). Ini menunjukkan bacaan tersebut pada salam pertama.

Dari ‘Abdullāh r.a. ia berkata: “Bahwa Nabi salam ke kanan dan ke kiri hingga terlihat putih pipinya: Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh, Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh wa barakātuh.” (HR. Ibn Ḥibbān). Ini menunjukkan bacaan tersebut pada salam kedua. Namun, sanad kedua hadis ini lebih lemah dibandingkan sanad hadis-hadis sebelumnya dari segi kesahihan dan kekuatan.

Dengan demikian, membaca salam yang lebih sering dipraktekkan Nabi adalah sampai warahmatullah saja, namun di lain waktu terkadang beliau membaca sampai wabarakatuh. Baik membaca salam sampai warahmatullahi maupun wabarakatuh sama-sama ditunjuki dalil, jadi silakan diamalkan mana yang dipilih tanpa harus mencela yang berbeda. Wallahu a’lam.

Bacaan yang dianjurkan :

‘Uwīḍah, M. ibn ‘A. ibn M. (n.d.). al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Ṣalāh (Vols. 1–2). [Cetakan terakhir]. [Tempat terbit: Penerbit tidak disebutkan secara konsisten dalam berbagai edisi].

Abdurrahman al-Jazairi, Kitab Al-Fqh ’ala Madzahib al-Arba’ah, II (Bairut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 2004).

Al-‘Aẓīm Ābādī, M. ibn A. (1994). ‘Awn al-Ma‘būd Sharḥ Sunan Abī Dāwūd (Vols. 1–14). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

an-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, vol. 11 (Kairo: Dar al-’Alamiyyah, 2018).

as-Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, I (Kairo: Syirkah ad-Dauliyah li ath-Thiba’ah, 2004).

Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Al-Mughni (Bairut: Dar al-Fikr, 1405).

Ibnu Rusyd, Bidayat Al-Mujtahid, VI (Bairut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 2017).

Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, Tanya Jawab Agama jilid 1-8, (Yogyakarta : Suara Muhammadiyah, 2003)

Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al_Islami Wa Adillatuhu, II, vols. 1–8 (Dimasyq: Dar al-Fikr, 1985).

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button