
Oleh: Ali Rois Nur Rohman, S. Ag
Anggota Majelis Tabligh PDM Banyumas
Pendahuluan: Jangan Sampai Kaya Amal, tetapi Bangkrut di Akhirat
Pernahkah kita membayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya rajin beribadah? Ia menjaga salat lima waktu, berpuasa Ramadan, membaca Al-Qur’an, bersedekah, bahkan mungkin telah menunaikan ibadah haji. Di mata manusia, ia tampak sebagai orang yang saleh dan memiliki banyak bekal untuk kehidupan akhirat.
Namun, bagaimana jika pada hari kiamat seluruh pahala yang sangat diharapkannya justru habis untuk membayar kezaliman yang pernah dilakukannya kepada orang lain?
Ia pernah mencaci seseorang. Ia pernah memfitnah tetangganya. Ia pernah mengambil harta yang bukan haknya. Ia pernah menyakiti hati keluarganya, merusak kehormatan orang lain, atau menahan hak seseorang yang seharusnya ditunaikan.
Ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Allah SWT, orang-orang yang pernah dizaliminya datang menuntut keadilan. Pahala amalnya diberikan kepada mereka. Jika pahalanya habis sebelum seluruh tanggungan selesai, dosa orang-orang yang dizaliminya dibebankan kepadanya.
Inilah gambaran kebangkrutan yang sangat mengerikan: kaya amal di mata manusia, tetapi kehilangan bekal keselamatan karena kezaliman terhadap sesama.
Rasulullah saw. telah memperingatkan umatnya tentang keadaan ini melalui sebuah hadis yang sangat penting untuk kita renungkan.
Karena itu, pembahasan tentang orang yang muflis di akhirat bukan sekadar pengetahuan agama. Ini adalah ajakan untuk memeriksa diri, memperbaiki akhlak, menunaikan hak sesama manusia, dan mempersiapkan bekal terbaik sebelum kematian datang menjemput.
Hadis tentang orang yang muflis di akhirat
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bertanya kepada para sahabat tentang siapa orang yang bangkrut atau muflis.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ. فَقَالَ:«إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak mempunyai uang dirham dan tidak mempunyai harta benda.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Namun, ia juga datang dengan membawa dosa karena telah mencaci orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang ini. Maka diberikanlah sebagian pahala kebaikannya kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Jika pahala kebaikannya telah habis sebelum seluruh tanggungannya diselesaikan, dosa-dosa mereka diambil lalu dibebankan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2581)
Hadis ini mengandung peringatan yang sangat mendalam. Rasulullah saw. tidak menggambarkan orang yang sama sekali tidak memiliki amal kebaikan. Sebaliknya, beliau menggambarkan seseorang yang datang membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi juga memiliki banyak tanggungan akibat perbuatannya terhadap sesama manusia.
Dengan kata lain, persoalannya bukan sekadar apakah seseorang telah beribadah, melainkan juga bagaimana ia memperlakukan orang lain selama hidupnya.
Inilah pesan yang perlu kita pegang: jangan hanya sibuk mengumpulkan pahala, tetapi lalai menjaga diri dari perbuatan yang dapat menghilangkan manfaat pahala tersebut.
Penjelasan hadis tentang orang yang muflis
Kata muflis berasal dari bahasa Arab الْمُفْلِسُ, yang berarti orang yang bangkrut atau kehilangan kekayaan. Dalam hadis tersebut, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa kebangkrutan yang paling mengerikan bukanlah kehilangan harta benda, melainkan kehilangan bekal amal ketika menghadap Allah SWT.
Mari kita pahami beberapa pelajaran penting dari hadis tersebut.
Rajin beribadah belum cukup jika masih menzalimi orang lain
Salat, puasa, zakat, dan amal saleh lainnya merupakan ibadah yang sangat penting. Setiap muslim wajib berusaha melaksanakannya dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah saw.
Namun, ibadah harus berjalan seiring dengan akhlak yang baik dan pemenuhan hak sesama manusia.
Bagaimana mungkin seseorang rajin bersujud kepada Allah, tetapi masih merendahkan martabat orang lain? Bagaimana mungkin seseorang rajin bersedekah, tetapi masih menahan upah pekerjanya? Bagaimana mungkin seseorang membaca Al-Qur’an setiap hari, tetapi menggunakan lisannya untuk memfitnah tetangganya?
Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi kita semua.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
Artinya:
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45).
Salat seharusnya mendorong kita menjauhi perbuatan buruk. Ketika seseorang telah salat, ia semestinya semakin sadar bahwa Allah mengawasi setiap perkataan dan tindakannya.
Ayat ini bukan berarti orang yang masih berbuat salah otomatis tidak sah salatnya. Akan tetapi, ayat ini mengingatkan kita untuk terus memperbaiki kualitas salat dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk meninggalkan kemungkaran.
Pahala dapat menjadi sarana penyelesaian hak orang yang dizalimi
Hadis tentang muflis menjelaskan bahwa pada hari kiamat, orang-orang yang pernah dizalimi dapat menuntut haknya. Dalam penyelesaian tersebut, sebagian pahala pelaku kezaliman diberikan kepada orang yang menjadi korban.
Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun mengumpulkan pahala dengan susah payah. Ia bangun untuk salat malam, menahan lapar saat berpuasa, menyisihkan hartanya untuk bersedekah, dan berusaha melakukan berbagai amal saleh.
Namun, ia juga berkali-kali menyakiti orang lain tanpa mau memperbaiki kesalahannya.
Pada hari kiamat, pahala yang diharapkannya menjadi bekal keselamatan justru digunakan untuk menyelesaikan tanggungan akibat kezaliman tersebut. Inilah kerugian yang seharusnya kita takuti.
Jika pahala habis, tanggungan itu menjadi semakin berat
Bagian paling menggetarkan dari hadis tersebut adalah ketika Rasulullah saw. menjelaskan bahwa jika pahala pelaku kezaliman habis sebelum semua tanggungannya diselesaikan, dosa orang-orang yang dizaliminya dapat dibebankan kepadanya. Ini menunjukkan betapa seriusnya persoalan kezaliman terhadap manusia.
Kita tidak boleh merasa aman hanya karena selama ini dikenal sebagai orang yang rajin beribadah. Kita juga harus memperhatikan apakah masih ada hak orang lain yang belum diselesaikan.
Meski demikian, kita tidak boleh memastikan nasib akhir seseorang yang tertentu. Keputusan akhir berada di tangan Allah Yang Mahaadil dan Maha Mengetahui. Hadis ini adalah peringatan agar kita menghindari kezaliman dan segera memperbaiki kesalahan.
Perbedaan kebangkrutan di dunia dan kebangkrutan di akhirat
Kebangkrutan di dunia dan di akhirat sama-sama menggambarkan kerugian. Namun, keduanya mempunyai perbedaan yang sangat mendasar.
Aspek
Kebangkrutan di dunia
Kebangkrutan di akhirat
Yang hilang
Uang, harta, usaha, atau aset
Pahala yang digunakan untuk menyelesaikan tanggungan kezaliman
Penyebab
Kerugian usaha, utang, salah pengelolaan, atau musibah
Kezaliman, pelanggaran hak sesama, dan dosa yang tidak diselesaikan
Kesempatan memperbaiki diri
Masih mungkin selama hidup
Tidak ada kesempatan kembali ke dunia setelah kematian
Bentuk penyelesaian
Bekerja, berusaha, menata keuangan, atau menjalani proses hukum
Pertanggungjawaban di hadapan Allah sesuai keadilan-Nya
Dampak
Dapat mengganggu kehidupan ekonomi
Menyangkut keselamatan dan pertanggungjawaban di akhirat
Kebangkrutan di dunia masih memungkinkan pemulihan
Seseorang yang kehilangan seluruh hartanya belum tentu kehilangan masa depannya. Ia masih dapat bekerja, belajar dari kesalahan, membangun usaha kembali, dan memperbaiki kehidupannya. Bahkan, kebangkrutan ekonomi bukan selalu akibat dosa atau keburukan akhlak. Seseorang dapat mengalami kerugian karena musibah, perubahan keadaan, atau faktor lain di luar kendalinya. Karena itu, kita tidak boleh menghakimi orang yang mengalami kesulitan ekonomi sebagai orang yang gagal dalam kehidupan.
Kebangkrutan di akhirat menyangkut pertanggungjawaban yang sangat serius
Kematian mengakhiri kesempatan manusia untuk melakukan amal baru di dunia. Karena itu, selama masih hidup, kita harus memanfaatkan waktu untuk bertobat dan menyelesaikan hak orang lain.
Allah SWT berfirman:
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ٩٩ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا
Artinya:
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja.” (QS. Al-Mu’minun: 99–100).
Ayat ini menggambarkan penyesalan orang yang telah datang ajalnya dan ingin kembali ke dunia untuk beramal.
Pelajarannya bagi kita adalah jangan menunda-nunda perbaikan diri. Jangan menunggu sakit untuk bertobat, jangan menunggu kehilangan untuk menghargai seseorang dan jangan menunggu kematian untuk menyadari pentingnya menunaikan hak orang lain.
Harta bukan ukuran keberuntungan yang sesungguhnya
Allah SWT berfirman:
وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ٨ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ ٩
Artinya:
“Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka siapa yang berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 8–9).
Keberhasilan hidup tidak cukup diukur dari banyaknya uang, luasnya rumah, tingginya jabatan, atau besarnya pengaruh seseorang. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan dunia.
Keberuntungan yang sesungguhnya adalah ketika kita memperoleh rida Allah, memiliki amal yang diterima-Nya, serta tidak sengaja membebani diri dengan kezaliman terhadap sesama manusia.
Mengapa terjadi kebangkrutan di akhirat?
Kebangkrutan di akhirat sebagaimana digambarkan dalam hadis muflis berkaitan dengan perbuatan dosa dan kezaliman terhadap sesama manusia. Ada beberapa penyebab yang perlu kita waspadai.
Menyakiti orang lain melalui lisan
Lisan merupakan nikmat Allah yang sangat besar. Dengan lisan, kita dapat membaca Al-Qur’an, berzikir, berdakwah, memberikan nasihat, dan menghibur orang yang sedang bersedih.
Namun, lisan yang sama dapat menjadi sumber dosa apabila digunakan untuk menghina, mencaci, memfitnah, mengadu domba, dan menyebarkan keburukan orang lain.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk.” (QS. Al-Hujurat: 11).
Ayat ini sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, sekolah, maupun media sosial.
Terkadang seseorang merasa sedang bercanda, padahal perkataannya mempermalukan orang lain. Terkadang seseorang merasa sedang membela kebenaran, padahal ia menyebarkan tuduhan yang belum terbukti.
Karena itu, sebelum berbicara atau menulis komentar, tanyakan kepada diri sendiri: Apakah perkataan ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah cara saya menyampaikannya adil?
Jangan sampai lisan yang seharusnya menjadi jalan pahala justru menjadi sebab datangnya tuntutan pada hari kiamat.
Mengambil harta dan mengabaikan hak orang lain
Kezaliman tidak hanya terjadi melalui ucapan, tetapi juga melalui harta. Contohnya adalah menipu dalam jual beli, mengurangi timbangan, mengambil uang yang bukan haknya, menahan upah pekerja, atau sengaja tidak membayar utang padahal mampu.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’: 29).
Harta yang diperoleh dengan cara tidak benar mungkin terlihat menambah kekayaan di dunia. Namun, kekayaan itu tidak membenarkan kezaliman terhadap orang lain. Jangan sampai kita merasa untung karena berhasil mengambil hak seseorang, padahal kita sedang menambah tanggungan yang harus dipertanggungjawabkan.
Melakukan kekerasan dan merusak kehormatan orang lain
Memukul, menganiaya, merampas, atau melukai orang lain merupakan bentuk perbuatan yang harus dipertanggungjawabkan. Demikian pula tindakan yang merusak kehormatan seseorang melalui tuduhan palsu atau penyebaran fitnah.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
Artinya:
“Dan janganlah engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim.” (QS. Ibrahim: 42).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa tidak ada kezaliman yang luput dari pengetahuan Allah. Sekalipun seseorang berhasil menghindari hukuman manusia, ia tidak dapat bersembunyi dari pengawasan Allah.
Merasa aman karena rajin beribadah
Inilah bahaya yang perlu diperhatikan. Seseorang bisa saja merasa dirinya sudah cukup baik karena rajin beribadah, sehingga menganggap kesalahan terhadap orang lain sebagai perkara kecil.
Padahal, kesalehan tidak seharusnya membuat seseorang sombong atau meremehkan hak sesama manusia.
Orang yang benar-benar berusaha mendekatkan diri kepada Allah semestinya semakin berhati-hati dalam berbicara, semakin jujur dalam bekerja, semakin amanah dalam memegang kepercayaan, dan semakin mudah mengakui kesalahan.
Jangan sampai kita rajin menghitung amal, tetapi lupa menghitung kesalahan yang harus diperbaiki.
Menunda tobat dan menyepelekan dosa
Ada orang yang menyadari bahwa dirinya telah menyakiti orang lain, tetapi selalu menunda untuk meminta maaf. Ada pula yang mengetahui bahwa ia masih memiliki tanggungan, tetapi tidak segera menyelesaikannya.
Ia berkata, “Nanti saja kalau ada waktu.” Atau, “Nanti kalau sudah tua saya akan bertobat.” Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya tiba.
Allah SWT berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya:
“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31).
Tobat bukan sekadar ucapan istigfar. Tobat juga menuntut perubahan sikap dan kesungguhan untuk meninggalkan dosa. Jika dosa itu menyangkut hak manusia, kita harus berusaha menyelesaikan hak tersebut dengan cara yang benar.
Bagaimana menghindari kebangkrutan amal di akhirat?
Setelah memahami bahaya menjadi orang yang muflis, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mempersiapkan diri agar terhindar dari kebangkrutan amal di akhirat.
Berikut langkah-langkah yang dapat kita mulai dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga hubungan dengan Allah dan sesama manusia
Islam mengajarkan bahwa kehidupan seorang muslim harus dibangun di atas ketaatan kepada Allah sekaligus akhlak yang baik terhadap manusia.
Jangan hanya memperbaiki ibadah ritual, tetapi abaikan perilaku sehari-hari. Jagalah salat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya. Pada saat yang sama, hormati orang tua, sayangi keluarga, jujurlah dalam bekerja, dan jangan merugikan tetangga.
Allah SWT berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ
Artinya:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh.” (QS. An-Nisa’: 36).
Ayat ini mengajarkan bahwa ketakwaan tidak berhenti di tempat ibadah. Ketakwaan harus tampak dalam cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita.
Segera bertobat dan memperbaiki kesalahan
Setiap manusia memiliki kekurangan. Karena itu, jangan berputus asa ketika menyadari kesalahan yang pernah dilakukan.
Allah SWT berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53).
Ayat ini memberikan harapan yang besar bagi orang yang ingin kembali kepada Allah. Namun, harapan tersebut harus disertai tobat yang sungguh-sungguh, bukan dijadikan alasan untuk terus melakukan dosa.
Jika pernah menyakiti seseorang, mintalah maaf dengan tulus. Jika mengambil hak orang lain, kembalikanlah. Jika pernah menyebarkan fitnah, lakukan perbaikan terhadap kerusakan yang ditimbulkannya sejauh yang mampu dilakukan dengan cara yang tepat.
Jangan menunggu orang lain memaafkan kita terlebih dahulu untuk mulai menyesali kesalahan. Mulailah dengan mengakui bahwa perbuatan tersebut memang salah.
Menjaga lisan, tulisan, dan perilaku di media sosial
Di zaman sekarang, satu unggahan dapat tersebar kepada ribuan orang dalam hitungan detik. Karena itu, menjaga lisan juga berarti menjaga jari-jari kita ketika menggunakan telepon genggam.
Jangan mudah membagikan berita yang belum jelas kebenarannya. Jangan menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan hiburan. Jangan menulis komentar yang menghina hanya karena berbeda pendapat.
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan prinsip sederhana tetapi sangat penting: jika perkataan tidak membawa kebaikan, menahan diri sering kali lebih selamat.
Menunaikan utang, amanah, dan hak orang lain
Buatlah kebiasaan untuk mencatat utang, menepati janji, mengembalikan barang pinjaman, serta menunaikan kewajiban kepada keluarga, pekerja, dan pihak lain.
Jika belum mampu membayar utang, jangan menghilang atau berpura-pura lupa. Sampaikan keadaan dengan jujur dan usahakan kesepakatan pembayaran yang adil.
Jika memiliki tanggungan yang belum terselesaikan, jangan menunggu sampai masalah itu menjadi semakin berat.
Ingatlah bahwa menunaikan hak manusia bukan sekadar persoalan sopan santun. Ia juga merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan agama.
Meminta maaf dan membiasakan diri memaafkan
Meminta maaf bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, kesediaan mengakui kesalahan merupakan tanda kedewasaan dan keberanian moral.
Jika pernah berkata kasar kepada pasangan, mintalah maaf. Jika pernah mempermalukan anak, akui kesalahan dan perbaikilah cara mendidik. Jika pernah merusak hubungan dengan saudara atau tetangga, bukalah jalan untuk berdamai.
Allah SWT berfirman:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
Artinya:
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22).
Memaafkan memang tidak selalu mudah, terutama ketika luka yang ditimbulkan sangat dalam. Namun, kita dapat berusaha melepaskan dendam sambil tetap menjaga keselamatan diri dan menempuh penyelesaian yang adil.
Memperbanyak amal saleh dengan ikhlas dan konsisten
Selain menghindari kezaliman, kita harus terus memperbanyak amal saleh. Jangan sampai rasa takut terhadap kebangkrutan akhirat membuat kita putus asa atau berhenti beribadah.
Justru, rasa takut tersebut seharusnya mendorong kita semakin dekat kepada Allah.
Perbanyaklah salat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, membantu orang yang kesulitan, menyambung silaturahmi, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Allah SWT berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ٧ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ٨
Artinya:
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak boleh diremehkan, demikian pula keburukan sekecil apa pun tidak boleh sengaja dianggap sepele.
Senyuman yang tulus, bantuan kepada tetangga, kejujuran dalam bekerja, dan kesediaan meminta maaf dapat menjadi bagian dari ikhtiar kita menuju kehidupan yang diridai Allah.
Membiasakan muhasabah sebelum tidur
Sediakan waktu beberapa menit setiap malam untuk mengevaluasi diri. Tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah hari ini saya sudah menjaga salat dan kewajiban agama?
Apakah ada orang yang saya sakiti melalui perkataan atau tindakan?
Apakah ada amanah atau hak orang lain yang belum saya tunaikan?
Apakah saya sudah bersyukur dan berbuat baik kepada orang-orang terdekat?
Apa yang harus saya perbaiki esok hari?
Muhasabah bukan berarti terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Muhasabah adalah keberanian untuk melihat kekurangan secara jujur, kemudian memperbaikinya dengan harapan kepada rahmat Allah.
Jangan menunggu akhir tahun untuk mengevaluasi kehidupan. Lakukanlah setiap hari, sebelum kesempatan beramal berakhir.
Renungan: Jika hari ini adalah kesempatan terakhir kita
Ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan dengan sungguh-sungguh. Jika hari ini adalah hari terakhir kita di dunia, apakah kita sudah siap mempertanggungjawabkan seluruh perkataan dan perbuatan kita di hadapan Allah?
Mungkin selama ini kita sibuk mengejar kekayaan, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan keluarga. Mungkin kita rajin menghadiri pengajian, tetapi masih sulit meminta maaf kepada tetangga. Mungkin kita telah banyak bersedekah, tetapi masih ada hak orang lain yang belum kita tunaikan. Mungkin kita terlihat baik di hadapan manusia, tetapi masih menyimpan kebiasaan yang menyakiti orang lain ketika tidak ada yang melihat.
Tidak ada manusia yang sempurna. Namun, jangan jadikan ketidaksempurnaan sebagai alasan untuk terus membiarkan kesalahan. Selama Allah masih memberikan kehidupan, kita masih dapat berusaha memperbaiki diri.
Jika pernah berbuat zalim, akuilah. Jika pernah berbuat salah, bertobatlah. Jika memiliki tanggungan, selesaikanlah semampu kita dengan cara yang benar. Jika pernah menyakiti seseorang, usahakan meminta maaf dan memperbaiki keadaan.
Jangan sampai ketika kita meninggal dunia, orang lain justru mengingat kita sebagai orang yang pernah merampas haknya, melukai hatinya, atau merusak kehormatannya.
Lebih baik hari ini kita merendahkan hati untuk meminta maaf daripada kelak menyesal karena tidak lagi memiliki kesempatan memperbaiki keadaan. Lebih baik hari ini kita mengembalikan hak seseorang daripada kelak harus mempertanggung-jawabkannya di hadapan Allah. Dan lebih baik hari ini kita memperbaiki akhlak daripada merasa cukup dengan ibadah lahiriah, sementara hak sesama manusia masih kita abaikan.
Kesimpulan: Jangan Hanya Mengumpulkan Pahala, Jagalah Pula Hak Sesama
Dari pembahasan tentang orang yang muflis di akhirat, kita dapat mengambil lima pelajaran utama.
Ibadah harus disertai akhlak yang baik. Salat, puasa, zakat, dan amal saleh harus mendorong kita menjadi pribadi yang jujur, amanah, dan tidak menzalimi orang lain.
Hak sesama manusia tidak boleh diremehkan. Ucapan, harta, kehormatan, dan keselamatan orang lain harus dijaga.
Tobat harus diikuti perbaikan nyata. Jika kesalahan menyangkut hak orang lain, kita perlu berusaha menyelesaikannya dengan cara yang benar.
Kesempatan memperbaiki diri adalah nikmat yang harus dimanfaatkan. Jangan menunda tobat dan jangan menganggap kecil dosa yang terus diulang.
Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Teruslah beribadah, memperbaiki akhlak, meminta ampun, dan menunaikan hak sesama manusia.
Pada akhirnya, kita tidak mengetahui bagaimana keadaan kita ketika menghadap Allah kelak. Karena itu, jangan sombong dengan amal yang telah dilakukan dan jangan pula berputus asa karena kesalahan masa lalu. Teruslah beramal saleh, jagalah hubungan dengan Allah, dan perlakukan sesama manusia dengan adil.
Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang muflis pada hari kiamat, melainkan termasuk hamba-hamba yang memperoleh ampunan, rahmat, dan rida Allah SWT.




