Hati-Hati dari Sifat Hasad: Penyakit Hati yang Merusak Kebahagiaan dan Persaudaraan
Oleh: Muhammad Thoriq Nur Ikhsan, M.Pd.

Setiap manusia tentu menginginkan kehidupan yang bahagia, tenteram, dan dipenuhi keberkahan. Berbagai usaha dilakukan untuk memperoleh kebahagiaan tersebut, mulai dari bekerja keras, menuntut ilmu, membangun keluarga, hingga meningkatkan kualitas kehidupan. Namun, tidak sedikit manusia yang justru kehilangan ketenangan bukan karena kekurangan sesuatu, melainkan karena tidak mampu menerima kelebihan yang dimiliki orang lain.
Ketika melihat orang lain memperoleh rezeki yang berlimpah, muncul perasaan tidak senang. Ketika menyaksikan teman mendapatkan jabatan, penghargaan, atau keberhasilan, timbul kegelisahan. Bahkan, ketika orang lain mendapatkan kebahagiaan, sebagian orang justru berharap agar kebahagiaan tersebut segera berakhir.
Keadaan demikian merupakan salah satu gejala penyakit hati yang dalam ajaran Islam dikenal dengan istilah hasad, yaitu dengki terhadap kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain.
Hasad merupakan penyakit hati yang berbahaya karena tidak hanya merusak ketenangan batin seseorang, tetapi juga berpotensi menghancurkan hubungan sosial, persaudaraan, bahkan mendorong munculnya berbagai perbuatan tercela.
Islam memberikan perhatian besar terhadap persoalan ini. Al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw. berulang kali mengingatkan umat Islam agar menjaga kebersihan hati, menjauhi kedengkian, serta membiasakan diri bersyukur atas segala karunia Allah Swt.
Memahami Hakikat Hasad dalam Islam
Secara sederhana, hasad adalah perasaan tidak senang terhadap kenikmatan yang diperoleh orang lain, disertai keinginan agar kenikmatan tersebut hilang darinya.
Sifat ini berbeda dengan keinginan untuk memperoleh keberhasilan sebagaimana yang dimiliki orang lain. Seseorang boleh bercita-cita menjadi kaya, berilmu, berprestasi, atau memperoleh kedudukan yang baik. Namun, keinginan tersebut tidak boleh disertai harapan agar orang lain kehilangan kenikmatannya.
Dalam pembahasan akhlak Islam dikenal istilah ghibthah, yaitu keinginan memperoleh kebaikan serupa dengan yang dimiliki orang lain tanpa mengharapkan hilangnya kebaikan tersebut dari pemiliknya.
Perbedaan keduanya terletak pada keadaan hati. Ghibthah dapat mendorong seseorang meningkatkan kualitas dirinya, sedangkan hasad justru menumbuhkan kebencian dan permusuhan.
Allah Swt. mengingatkan manusia tentang bahaya kedengkian melalui firman-Nya:
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS. Al-Falaq [113]: 5).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kedengkian dapat melahirkan kejahatan yang membahayakan orang lain. Ketika dibiarkan berkembang, hasad dapat mendorong seseorang melakukan fitnah, menyebarkan keburukan, merendahkan orang lain, hingga berusaha menghancurkan keberhasilannya.
Karena itu, Rasulullah saw. memberikan peringatan:
لَا تَحَاسَدُوا
“Janganlah kalian saling mendengki.” (HR. Muslim, no. 2564).
Larangan ini merupakan bagian dari tuntunan Rasulullah saw. untuk membangun persaudaraan yang dilandasi kasih sayang, penghormatan, dan kepedulian antarsesama.
Hasad: Penyakit Hati yang Menghancurkan
Bahaya hasad dapat dipahami melalui berbagai kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an.
Salah satunya adalah kisah Iblis yang menolak perintah Allah untuk bersujud sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Adam a.s. Penolakan tersebut dilandasi kesombongan dan perasaan lebih mulia daripada Adam.
Iblis merasa dirinya lebih baik karena diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Kesombongan dan ketidaksediaan menerima kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam menjadi penyebab pembangkangannya.
Kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa hati yang dipenuhi kesombongan dan kedengkian dapat menghalangi seseorang menerima kebenaran.
Demikian pula kisah dua putra Nabi Adam yang disebutkan dalam QS. Al-Ma’idah ayat 27–31. Ketika kurban salah seorang diterima Allah, sedangkan kurban yang lain tidak diterima, muncul permusuhan yang berakhir dengan pembunuhan.
Kisah tersebut memperlihatkan betapa berbahayanya ketika perasaan iri, kemarahan, dan ketidakmampuan menerima keadaan dibiarkan menguasai hati.
Dalam kehidupan sehari-hari, hasad mungkin tidak selalu berakhir dengan tindakan ekstrem. Akan tetapi, dampaknya tetap dapat dirasakan.
Seseorang yang memiliki sifat dengki akan sulit menikmati keberhasilannya sendiri. Ia terus membandingkan kehidupan pribadinya dengan kehidupan orang lain. Ketika orang lain memperoleh sesuatu yang lebih baik, kebahagiaannya seolah berkurang.
Pada akhirnya, hasad menjadikan hati sempit, pikiran gelisah, dan kehidupan terasa penuh persaingan yang melelahkan.
Terdapat pula riwayat yang mengingatkan bahwa hasad dapat menghabiskan kebaikan sebagaimana api menghabiskan kayu bakar (HR. Abu Dawud, no. 4903). Meskipun riwayat ini dinilai lemah oleh sebagian ahli hadis, pesan kewaspadaan terhadap hasad memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih.
Mensyukuri Nikmat Allah sebagai Benteng dari Hasad
Salah satu cara paling mendasar untuk menghindari hasad adalah membiasakan diri bersyukur atas segala karunia Allah.
Setiap manusia memperoleh nikmat yang berbeda-beda. Ada yang diberi kelapangan rezeki, kesehatan, kecerdasan, kedudukan, keluarga yang harmonis, atau berbagai kemudahan lainnya.
Perbedaan tersebut merupakan bagian dari ketentuan Allah yang mengandung hikmah.
Allah Swt. berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗ وَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 32).
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ayat tersebut mengarahkan manusia agar tidak berangan-angan secara tercela terhadap kelebihan yang diberikan kepada orang lain. Sebaliknya, manusia diperintahkan memohon karunia kepada Allah.
Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan modern, terutama ketika perkembangan teknologi informasi membuat manusia semakin mudah menyaksikan keberhasilan orang lain.
Melalui media sosial, seseorang dapat melihat kemewahan, prestasi, jabatan, dan berbagai pencapaian yang ditampilkan setiap hari.
Apabila tidak disertai rasa syukur, keadaan tersebut dapat menumbuhkan kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan.
Padahal, tidak semua yang terlihat mencerminkan keadaan kehidupan seseorang secara utuh. Setiap manusia mempunyai perjuangan, kesulitan, dan ujian yang mungkin tidak diketahui orang lain.
Oleh karena itu, daripada menghabiskan waktu memikirkan kelebihan orang lain, lebih baik seseorang mensyukuri nikmat yang telah dimilikinya sekaligus terus berusaha memperbaiki kualitas kehidupannya.
Syukur membuat seseorang mampu menikmati nikmat yang dimiliki, sedangkan hasad membuat seseorang menderita karena nikmat yang dimiliki orang lain.
Menumbuhkan Qana’ah dalam Kehidupan
Selain bersyukur, Islam mengajarkan pentingnya sifat qana’ah, yaitu merasa cukup dan menerima dengan lapang hati rezeki yang Allah berikan, tanpa meninggalkan kewajiban berusaha.
Qana’ah bukan berarti tidak memiliki cita-cita atau berhenti meningkatkan kesejahteraan. Seseorang tetap diperbolehkan bekerja keras dan mengembangkan kemampuannya. Namun, keinginannya terhadap dunia tidak boleh menguasai hati hingga melupakan rasa syukur.
Allah Swt. berfirman:
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr [89]: 20).
Kecenderungan manusia untuk terus menginginkan tambahan harta juga dijelaskan Rasulullah saw.:
لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ
“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah.” (HR. Al-Bukhari, no. 6439; Muslim, no. 1048).
Hadis ini menggambarkan bahwa keinginan manusia terhadap harta dapat terus bertambah apabila tidak dikendalikan.
Orang yang tidak memiliki qana’ah akan selalu merasa kurang, sekalipun sebenarnya telah memperoleh banyak kenikmatan.
Sebaliknya, orang yang memiliki qana’ah akan mampu menikmati kehidupannya dengan lebih tenang. Ia tetap bekerja dan berusaha, tetapi tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai ukuran tunggal kebahagiaannya.
Rasulullah saw. juga mengingatkan bahwa seseorang yang memperoleh keamanan, kesehatan, dan kecukupan makanan pada hari itu seakan-akan telah memperoleh kenikmatan dunia yang sangat besar (HR. At-Tirmidzi, no. 2346).
Hadis tersebut mengajak manusia menyadari bahwa banyak nikmat sederhana yang sering kali terabaikan.
Kesehatan tubuh, ketenteraman keluarga, kesempatan beribadah, serta kecukupan kebutuhan sehari-hari merupakan karunia besar yang patut disyukuri.
Belajar Melihat Kehidupan dengan Perspektif yang Benar
Salah satu penyebab munculnya hasad adalah kebiasaan membandingkan keadaan diri dengan orang yang memiliki kelebihan duniawi.
Ketika seseorang terus melihat mereka yang lebih kaya, lebih terkenal, atau lebih tinggi kedudukannya, muncul kemungkinan dirinya merasa kurang beruntung.
Rasulullah saw. memberikan tuntunan:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian.” (HR. Muslim, no. 2963).
Pesan hadis ini bukanlah larangan untuk memiliki cita-cita tinggi. Rasulullah saw. justru mengajarkan bagaimana manusia menjaga keseimbangan antara semangat berusaha dan rasa syukur.
Dalam urusan dunia, melihat keadaan mereka yang kurang beruntung dapat membantu seseorang menyadari besarnya nikmat Allah. Sementara dalam urusan kebaikan dan ketakwaan, seseorang dapat menjadikan orang-orang saleh sebagai teladan untuk meningkatkan kualitas dirinya.
Dengan cara pandang tersebut, keberhasilan orang lain tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan dapat menjadi inspirasi untuk terus berkembang.
Membersihkan Hati dan Memelihara Persaudaraan
Hasad tidak cukup diatasi hanya dengan menahan ucapan atau menyembunyikan perasaan tidak senang. Penyakit ini perlu diobati dengan membersihkan hati secara terus-menerus.
Langkah penting yang dapat dilakukan adalah membiasakan diri mendoakan kebaikan bagi orang lain. Ketika melihat saudara memperoleh keberhasilan, ucapkanlah selamat dan doakan agar Allah memberikan keberkahan kepadanya.
Kebiasaan tersebut dapat membantu mengikis kedengkian sekaligus menumbuhkan kasih sayang.
Selain itu, setiap muslim perlu melakukan muhasabah terhadap keadaan hatinya. Apakah dirinya merasa senang ketika orang lain memperoleh kebaikan? Apakah ia mampu menerima keberhasilan teman tanpa merasa tersaingi? Apakah ia dapat menghargai kelebihan orang lain tanpa merendahkan dirinya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting direnungkan karena hasad sering kali muncul secara halus dan tidak disadari.
Al-Qur’an mengajarkan doa yang sangat indah:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr [59]: 10).
Doa tersebut mengajarkan bahwa kebersihan hati merupakan bagian penting dari kesempurnaan hubungan antarsesama muslim.
Persaudaraan yang kokoh tidak mungkin terbangun apabila masing-masing individu menyimpan kebencian dan kedengkian terhadap keberhasilan saudaranya.
Penutup: Kebahagiaan Dimulai dari Hati yang Bersih
Pada akhirnya, hasad merupakan penyakit hati yang harus diwaspadai setiap muslim. Sifat ini dapat muncul pada siapa saja, tanpa memandang kedudukan, pendidikan, kekayaan, maupun tingkat pengetahuan agamanya.
Karena itu, membersihkan hati dari kedengkian merupakan tanggung jawab yang harus dilakukan sepanjang kehidupan.
Seseorang hendaknya menyadari bahwa karunia Allah sangat luas. Keberhasilan orang lain tidak mengurangi bagian rezeki yang telah Allah tetapkan baginya. Demikian pula kebahagiaan orang lain bukanlah alasan bagi dirinya untuk merasa kehilangan kebahagiaan.
Dengan memperbanyak syukur, menumbuhkan qana’ah, mengendalikan keinginan duniawi, serta membiasakan diri mendoakan kebaikan bagi sesama, insyaallah hati akan semakin terpelihara dari sifat hasad.
Jangan sampai kehidupan kita dihabiskan untuk menghitung nikmat orang lain, sementara begitu banyak karunia Allah pada diri sendiri justru terlupakan.
Marilah kita senantiasa memohon kepada Allah agar dikaruniai hati yang bersih, dijauhkan dari kedengkian, dan diberikan kemampuan untuk bergembira atas kebaikan yang diterima sesama.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحَسَدِ وَالْبَغْضَاءِ وَالْكِبْرِ، وَزَيِّنْهَا بِحُبِّ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ
“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kedengkian, kebencian, dan kesombongan. Hiasilah hati kami dengan kecintaan kepada iman dan Islam.”
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Referensi Utama
- Al-Qur’an al-Karim: QS. Al-Falaq [113]: 5; An-Nisa’ [4]: 32; Al-Fajr [89]: 20; dan Al-Hasyr [59]: 10.
- Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari, hadis no. 6439.
- Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim, hadis no. 1048, 2564, dan 2963.
- At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan At-Tirmidzi, hadis no. 2346.
- Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy’ats. Sunan Abi Dawud, hadis no. 4903.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, penafsiran QS. An-Nisa’ ayat 32.




