AkhlaqArtikelTuntunan

Menjadi Muslim Kaffah Sepanjang Tahun

Oleh : Ely sukasih, M.A

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

Hadirin jamaah yang dirahmati Allah SWT

Mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan, sehingga pada hari ini kita masih diberi kesempatan untuk duduk di majelis ilmu, majelis dzikir, majelis yang insyaAllah penuh rahmat.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga beliau, sahabat beliau, dan kepada kita semua sebagai umatnya yang setia.

Jamaah yang dimuliakan Allah SWT

Setiap tahun, Ramadhan datang. Setiap tahun, kita berpuasa. Setiap tahun, kita sahur dan berbuka. Namun mari kita bertanya dengan jujur kepada diri kita masing-masing:

Sudahkah kita menjadi muslim yang kaffah ?

Sudahkah kita memaknai islam secara kaffah?

Sudahkah kita memahami dalilnya dan mengimplemtasikanya dalam kehidupan sehari-hari?

Mari kita tela’ah lebih lanjut apa sebenarnya Islam secara kaffah itu ? jika kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, setidaknya kita paham apa yang hendak di lakukan selepas dan ramdhan yang akan kita lakukan selama 1 bulan ini. Semoga memberikan banyak kontribusi kepada diri kita sendiri. Menjadi Muslim Kaffah yang mengenal  Makna, Dalilnya dan Implementasi dalam ilmu amal yang akan kita lakukan sebagi bekal dalam kehidupan menjadi manusi yang kamil ( Sempurna) baik secara lahir dan batin.

Pendahuluan

Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik hubungan dengan Allah SWT (hablum minallah), hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas), maupun hubungan dengan alam. Oleh karena itu, seorang muslim dituntut untuk mengamalkan ajaran Islam secara kaffah (menyeluruh), tidak memilih sebagian ajaran dan meninggalkan sebagian lainnya. Menjadi muslim kaffah merupakan tujuan utama dalam kehidupan seorang mukmin agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Pengertian Muslim Kaffah

Secara bahasa, kaffah berarti keseluruhan atau totalitas. Secara istilah, muslim kaffah adalah orang yang menjalankan ajaran Islam secara utuh dalam seluruh aspek kehidupannya, meliputi akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan syariat, dengan penuh keimanan dan keikhlasan.

Allah SWT berfirman: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ۝٢٠٨

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208). Ayat ini menegaskan bahwa Islam tidak boleh dijalankan secara parsial, melainkan harus diterima dan diamalkan secara menyeluruh.

Konsep gerakan Islam Berkemajuan menjadi spirit persyarikatan Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan dari KH Ahmad Dahlan. Istilah berkemajuan diungkapkan dalam Pesan KH Ahmad Dahlan kepada murid-muridnya “Jadilah Kiai yang berkemajuan dan jangan pernah lelah berkhidmat untuk Muhammadiyah”.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Prof Dr Abdul Mu’ti, Med mengungkapkan bagaimana Karakter Berkemajuan KH Ahmad Dahlan tersebut dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1442 H, Ahad (18/4/2021). Diharapkan karakter KH Ahmad Dahlan menjadi bagian dari karakter warga persyarikatan dan menjadi modal yang sangat penting di masa depan

  1. Ningrat – merakyat : Kiai Dahlan berada di lingkungan termasuk kalangan ningrat dan priyayi tetapi dekat dengan masyarakat
  2. Puritan – inklusif : Kiai Dahlan bertauhid yang sangat murni tetapi sangat inklusif dalam pergaulan
  3. Kritis – konstuktif : Kiai Dahlan merupakan seorang yang sangat gelisah melihat berbagai persoalan yang ada tapi sekaligus memberikan solusi bagaimana menyelesaikan masalah itu
  4. Priyayi – melayani : Dari silsilah keluarga Kiai Dahlan berada di lingkungan termasuk kalangan ningrat dan priyayi dan Katib Amin, serta diberi gelar Raden Ngabehi
  5. Kaya – bersahaja : Kiai Dahlan merupakan salah satu saudagar yang kaya namun tetap bersahaja
  6. Hartawan – dermawan : Meskipun memiliki cukup harta, beliau memiliki sifat kedermawanan yang sangat tinggi
  7. Alim – tidak ekstrim : Kiai Dahlan ketika menghadapi masalah mengedepankan cara-cara berdialog
  8. Kiai – tidak semuci : Tidak merasa dirinya paling suci dan paling baik
  9. Teguh – tidak angkuh : Kiai Dahlan memiliki sikap yang teguh tetapi tetap hormat kepada siapapun
  10. Elit – tidak elitis : Kiai Dahlan berasal dari golongan elit tapi luas pergaulannya
  11. Guru – tidak mengurui : Kiai Dahlan seorang guru yang senang menerima masukan orang lain
  12. Terbuka – tidak liberal : Beliau memili pemikiran yang terbuka tapi tidak liberal dalam pengamalannya
  13. Taat – tidak radikal : Beliau seseorang yang taat tetapi tidak radikal
  14. Bersahabat – tidak menjilat : Beliau bersahabat dengan siapa pun tetapi tidak memanfaatkan kedekatannya untuk kepentingan pribadi
  15. Berani – rendah hati : Beliau merupakan seorang yang berani tetapi tetap santun dalam bertindak

Adapun ciri-ciri Islam Kaffah menuirut menurut Hasan Al Banna. Seorang muslim sejatinya adalah seseorang yang memiliki banyak aturan yang menyeluruh dan jika diyakini dengan baik akan menjadikan seseorang luar biasa dari segi fisik maupun batin. Dalam membangun dan menumbuhkan kepribadian yang lebih baik, seorang muslim memiliki banyak panduan untuk menerapkan ilmu pengembangan diri (self development). Saat banyak influencer atau pemengaruh memberikan banyak tips dan trik untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari segi fisik dan batin, jauh sebelum itu seorang muslim sudah memiliki banyak panduan untuk mengembangkan diri Ciri-Ciri Muslim Kaffah Kokoh dalam Akidah
Muslim kaffah memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah SWT, malaikat, kitab-kitab, rasul, hari akhir, dan takdir. Dalil: “Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 285).

Urgensi Menjadi Muslim Kaffah

Menjadi muslim kaffah penting agar tidak terjadi ketimpangan antara ibadah ritual dan perilaku sosial. Islam yang dijalankan secara setengah-setengah dapat menimbulkan kerusakan moral dan ketidakadilan. Dengan Islam yang kaffah, kehidupan individu dan masyarakat akan berjalan seimbang, harmonis, dan diridhai Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pengertian Muslim Kaffah

Muslim kaffah adalah individu yang menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara utuh, meliputi:

  1. Salimul Aqidah 10 Kepribadian muslim menurut Hasan Al Banna yang pertama adalah Salimul Aqidah. Salimul Aqidah artinya akidah yang bersih atau lebih detail penjelasannya adalah seorang muslim harus memiliki akidah yang bersih. Kondisi akidah yang bersih inilah yang memperkuat hubungan antara seorang muslim dengan Allah atau Rabbnya. Harapannya dengan bersihnya akidah yang dimiliki menjadikan seorang muslim lebih dekat dengan Allah dan menyerahkan semua urusannya hanya pada Allah dan bukan selainNYA. Seperti dalam Alquran surat Al An’am ayat 162 yang artinya “Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta Alam.
  2. Akidah yang lurus Shahihul Ibadah : Shaihul Ibadah artinya ibadah yang benar sesuai tuntunan Rasulullah. Shahihul Ibadah menjadi hal mendasar setelah keimanan yang bersih. Dalam beribadah, seorang muslim harus menyandarkannya pada apa-apa yang Rasulullah contohkan sebagaimana anjuran Rasulullah dalam hadis riwayat Bukhari yang artinya “Salatlah kamu sebagaimana aku salat.
  3. Matinul Khuluq : Matinul Khuluq artinya akhlak yang kokoh atau mulia. 10 Kepribadian muslim menurut Hasan Al Banna satu ini sering disebut dan berusaha diimplementasikan dalam hidup banyak kalangan. Seorang muslim seharusnya memiliki akhlak yang baik dan kokoh. Kebaikan itu adalah ajaran utama dari islam dan sudah seharusnya seorang muslim memakainya sebagai akhlak sehari-hari. Akhlak yang kokoh akan menghindarkan seorang muslim dari sifat-sifat buruk yang bisa merusak akhlaknya, seperti sombong, riya, hasud, iri, dsb
  4. Konsisten dalam Ibadah Menjalankan ibadah wajib dan sunnah dengan ikhlas dan istiqamah, seperti shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya.

Dalil: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56) Berakhlak Mulia Akhlak yang baik menjadi cerminan keimanan seorang muslim kaffah, seperti jujur, amanah, sabar, dan kasih sayang. Dalil Hadis: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad) . Mengamalkan Islam dalam Kehidupan Sosial Islam diterapkan dalam hubungan sosial, ekonomi, pendidikan, dan kemasyarakatan dengan prinsip keadilan dan kejujuran.

Dalil: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl: 90). Menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai Pedoman Hidup
Segala keputusan dan sikap hidup didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Dalil: “Jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisa: 59).

  1. Qowwiyul Jism : artinya tubuh yang kuat. Seorang muslim hendaknya menjaga kekuatan tubuhnya agar dapat menjalankan aktivitas dan ibadah harian yang menggunakan fisik. Kepribadian muslim menurut Hasan Al Banna ini jarang dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan seorang muslim. Seringkali seorang muslim hanya bisa memahami bahwa Allah lebih mencintai hambaNYA yang kuat daripada yang lemah, tetapi belum diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itulah Allah menyukai hambaNYA yang kuat daripada yang lemah. Seperti hadis yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa Rasulullah bersabda “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah…”.
  2. Mutsaqqofful Fikri : artinya kecerdasan pikiran atau secara singkat bisa dimaknai sebagai cerdas. Salah satu kepribadian yang ada pada diri seorang muslim adalah cerdas dalam berpikir. Ada banyak hal yang harus dipahami dan diselesaikan ketika menjalani hidup di bumi. Oleh karena itu Allah memerintahkan hambanya untuk menjadi mukmin yang cerdas. Dalam Alquran surat Az Zumar ayat 39 menjelaskan bahwa “Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” Ayat itu adalah salah satu dalil yang menjelaskan tentang keutamaan akal yang dimiliki manusia untuk berpikir dan memikirkan penciptaan alam semesta. 10 Kepribadian muslim menurut Hasan Al Banna ini harus terus diasah dengan banyak berlatih berpikir dan merenungi ciptaan Allah. Banyak kelas pemikiran islam yang bisa diikuti untuk melatih berpikir kritis dalam memandang masalah umat.
  3. Mujahadatul Linafsihi : artinya melawan hawa nafsu. Sebagai seorang muslim, tidak hanya iman dan fisik saja yang harus kuat, tetapi juga harus kuat menahan hawa nafsu. Oleh karena itulah, seorang mukmin harus mampu menundukkan hawa nafsunya yang menyeretnya ke dalam keburukan. Dalam sebuah hadis riwayat Al Hakim Rasulullah bersabda “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam).” Hadis tersebut menunjukkan bahwa hawa nafsu yang dimiliki seorang muslim yang ditundukkan agar ajaran Islam bisa tertunaikan dengan baik (hawa nafsu harus mengikuti apa yang diajarkan Islam).
  4. Harishun Ala Waqtihi secara singkat artinya waktu. Seorang muslim harusnya pandai menjaga waktu, karena bukti seorang muslim cakap mengerjakan beragam hal dilihat dari bagaimana dia mengatur waktunya. Beberapa kali Allah juga bersumpah dalam beberapa surat tentang waktu, seperti wal fajr, wad dhuha, wal ashr, wal laili, dll. Dalma hadis riwayat Al Hakim, Rasulullah bersabda bahwa “Memanfaatkan lima perkata sebelum datang lima perkata: mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, luangmu sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum mati.” Pesan Rasulullah itulah yang menjadi pengingat sekaligus hikmah bahwa seorang muslim harus pandai mengatur waktu dan sifat itu termasuk dalam 10 kepribadian muslim menurut Hasan Al Banna. Hal tersebut juga dikuatkan oleh hadis riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Alah (dalam segala urusan), serta janganlah sekali-kali kamu mengatakan, “seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu.” Tetapi katakanlah, “ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dnegan apa yang dikehendaki.” Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan.
  5. Qadirun ‘alal Kasbi artinya mandiri. Seorang muslim harus mencapai titik kemandiriannya. Ketika kondisi mandiri telah tercapai, maka kontribusinya pada agama maupun dakwah bisa lebih maksimal. 10 Kepribadian muslim menurut Hasan Al Banna satu ini secara tersirat sbeuah hadis riwayat Ibnu Majah dijelaskan “Rasulullah bersabda, “Tidak ada penghasilan yang lebih baik bagi seorang laki-laki daripada bekerja sendiri dengan kedua tangannya.””“ Kondisi mandiri bisa dicapai dengan banyak jalan yang mubah, tetapi harus tetap memperhatikan lingkungan yang sesuai. 10 Kepribadian muslim menurut Hasan Al Banna yang terakhir adalah Naafi’un Ligharihi. Nafi’un Lighairihi artinya bermanfaat bagi sekitarnya. Sudah tugas seorang mukmin untuk berusaha bermanfaat bagi siapa saja yang ada di sekitarnya.. Hal tesbeut ditegaskan oleh sebuah hadis riwayat Ath Thabrani yang memiliki arti “Sebaik-baik manusia adlaah yang paling bermanfata bagi manusia.” Hadis tersebut sangat terkenal sampai dihafalkan banyak orang sebagai dalil atau landasan berbuat baik dan bermanfata bagi sesama. Naafi’un Ligharihi
  6. Kepribadian muslim menurut Hasan Al Banna yang terakhir adalah Naafi’un Ligharihi. Nafi’un Lighairihi artinya bermanfaat bagi sekitarnya. Sudah tugas seorang mukmin untuk berusaha bermanfaat bagi siapa saja yang ada di sekitarnya.. Hal tesbeut ditegaskan oleh sebuah hadis riwayat Ath Thabrani yang memiliki arti “Sebaik-baik manusia adlaah yang paling bermanfata bagi manusia.” Hadis tersebut sangat terkenal sampai dihafalkan banyak orang sebagai dalil atau landasan berbuat baik dan bermanfata bagi sesama.

Itu dia ulasan dari 10 Kepribadian muslim menurut Hasan Al Banna. Sepuluh karakter tersebut adalah pembeda seorang muslim dengan kaum lainnya yang harus diusahakan oleh kaum muslimin supaya syiar Islam tersebar secara alami, karena pribadi muslim yang telah terbentuk. Itu dia ulasan dari 10 Kepribadian muslim menurut Hasan Al Banna. Sepuluh karakter tersebut adalah pembeda seorang muslim dengan kaum lainnya yang harus diusahakan oleh kaum muslimin supaya syiar Islam tersebar secara alami, karena pribadi muslim yang telah terbentuk. Dapat Muamalah yang sesuai syariat Seorang muslim kaffah tidak memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat, antara ibadah ritual dan perilaku sosial.

Penutup

Menjadi muslim kaffah adalah kewajiban setiap orang beriman. Hal ini menuntut kesungguhan dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh, baik dalam aspek keimanan, ibadah, akhlak, maupun kehidupan sosial. Dengan menjadi muslim kaffah, seorang mukmin akan meraih ketenangan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat.Wassalamula’ikum wr.wb. Wa’llaohu ‘alam Wissowab.

Oleh : Ely Sukasih , MA Bekerja di kantor Kementrian Agama kabupaten Banjarnegara Sebagai Pengawas Madrasah MA/MTs masih aktif di PDA MTK sebagai sekretaris Majelis Tabligh. Petambakan Rt 02/01 Kec. Madukara, Jawa Tengah, Alumni Mahasiswi Sekolah Tabligh PWA Jawa Tengah di Banjarnegara)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button