
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, washalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyai wal mursalin, wa ‘ala alihi wasahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Di era digital saat ini, kita hidup di tengah banjir informasi dan tren yang silih berganti. Sering kali kita melihat betapa mudahnya masyarakat, terutama anak muda, mengikuti tokoh-tokoh populer, pemengaruh (influencer), atau tren viral tanpa memfilter nilai-nilainya. Sesuatu yang terlihat berkilau, mewah, dan pandai bersilat lidah dengan cepat dijadikan “panutan”, meskipun pada hakikatnya menjauhkan diri dari nilai-nilai agama. Fenomena hilangnya pegangan saat figur otoritas tidak ada, serta mudahnya manusia terpesona oleh hal-hal material, sesungguhnya adalah pengulangan dari sebuah tragedi besar di masa lalu.
Mari kita putar kembali waktu ke zaman Nabi Musa ‘Alaihissalam, tepatnya saat beliau meninggalkan kaumnya, Bani Israil, selama 40 hari untuk bermunajat dan menerima wahyu Taurat di Gunung Thur.
Bani Israil baru saja diselamatkan dari kekejaman Fir’aun. Mereka melihat langsung mukjizat laut terbelah. Namun, keimanan mereka masih rapuh. Ketika Nabi Musa pergi sebentar saja, kekosongan ini dimanfaatkan oleh seorang tokoh manipulatif bernama Samiri. Samiri tidak menggunakan pedang untuk menyesatkan Bani Israil; ia menggunakan kelicikan visual dan audio. Ia mengumpulkan perhiasan emas milik kaumnya, lalu meleburnya menjadi sebuah patung anak sapi yang berkilau. Dengan keahliannya, ia membuat patung itu sedemikian rupa sehingga ketika tertiup angin, patung itu bisa mengeluarkan suara lenguhan.
Kesesatan yang mematikan ini direkam dengan jelas oleh Allah SWT dalam Surah Taha ayat 88:
فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهُۥ خُوَارٌ فَقَالُوا۟ هَٰذَآ إِلَٰهُكُمْ وَإِلَٰهُ مُوسَىٰ فَنَسِىَ
Artinya: “Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari leburan perhiasan itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: ‘Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa’.” (QS. Taha: 88)
Bani Israil yang malang itu seketika terpesona. Kilauan emas dan suara aneh dari patung itu cukup untuk meruntuhkan akidah mereka. Mereka meninggalkan ajaran tauhid dan mulai menyembah patung yang sejatinya benda mati, tidak bisa memberi manfaat maupun mudarat.
Pesan utama dari kisah ini sangatlah relevan dan praktis untuk kita terapkan. “Samiri” dan “Anak Sapi Emas” tidak hanya ada di zaman Nabi Musa; mereka terus berevolusi hingga hari ini.
Bagi rekan-rekan pelajar dan kaum muda, “Anak Sapi Emas” di zaman sekarang bisa berwujud gadget, media sosial, game online, atau gaya hidup hedonis yang menyilaukan mata. Berapa banyak dari kita yang rela meninggalkan shalat lima waktu hanya karena terhipnotis oleh “lenguhan” notifikasi handphone atau keseruan tontonan dunia maya? Berapa banyak tokoh ala “Samiri” modern yang dengan narasi palsunya mengajak kita menormalisasi pergaulan bebas, memamerkan aurat, dan menuhankan materi?
Bagi kita semua, khususnya orang tua dan pendidik, kisah ini mengingatkan bahwa pengawasan dan penanaman akidah yang kuat adalah harga mati. Saat kita “pergi” bekerja atau anak-anak kita jauh dari pandangan, apakah tauhid mereka tetap kokoh, atau mereka mudah disesatkan oleh tren lingkungan sekitarnya?
Jangan biarkan kilauan dunia merampas keimanan kita. Apapun yang menghalangi kita dari mengingat Allah, sekecil apapun itu, berpotensi menjadi “berhala” dalam hidup kita. Mari kita perkuat literasi agama kita, bentengi diri dengan tauhid yang murni, dan jangan mudah takjub pada sesuatu yang sekadar viral namun kosong dari nilai Ilahi.
Mari kita tutup artikel ini dengan berdoa, memohon perlindungan dari segala bentuk kemusyrikan dan kesesatan:
Ya Allah, Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Lindungilah kami, keluarga kami, dan generasi muda kami dari tipu daya “Samiri” akhir zaman. Jangan biarkan gemerlapnya dunia menipu mata batin kami. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa berpegang teguh pada tauhid, baik saat di keramaian maupun dalam kesendirian.
Rabbana la tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana wahablana min ladunka rahmah, innaka antal wahhab. Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)




