Artikel

Dua Hadiah Terbesar Allah

Oleh : Didi Eko Ristanto

Rabiul Awal mengingatkan kita pada peristiwa kelahiran Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Dan uniknya, kewafatan beliau juga di bulan Rabiul Awal. Bangsa Arab atau manusia pada umumnya tidak begitu mengenal Rabiul Awal. Tetapi begitu ada peristiwa dan momen lahirnya Baginda Rasulullah ﷺ, serta merta hal itu membuat Rabiul Awal menjadi populer. Karena di dalamnya ada sosok mulia yang lahir dan juga diwafatkan di bulan tersebut.

Betapa nikmatnya rahmat Allah ini, hadiah dari Allah. Karena beliau adalah rahmatan lil’alamin, tidak terkhusus rahmatnya hanya untuk umat Muslim, tetapi juga seluruh alam, manusia, malaikat, alam semesta. Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)

Dan kelak di Padang Mahsyar terasa sekali hadiah Allah tersebut. Saat Allah mengumpulkan seluruh manusia di Padang Mahsyar, tiada satu pun orang, Nabi dan Rasul, yang bisa membujuk Allah dan berani membujuk Allah. Tidak ada yang berani menghadap Allah. Mereka takut pada Tuhannya dan takut tidak diterima syafaatnya karena mengingat kesalahan dan dosanya.

Tetapi ternyata syafaat itu adalah haknya Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Maka beliau pun maju menghadap Allah untuk memberikan syafaat, memohonkan syafaat untuk manusia.

Dalam hadis syafaat yang panjang, manusia mendatangi Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa عليهم السلام. Mereka mengatakan, نَفْسِي نَفْسِي — “diriku, diriku.”

Kemudian manusia datang kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Beliau kemudian bersujud di hadapan Allah. Allah membukakan bagi beliau pujian-pujian yang belum pernah diberikan kepada siapa pun sebelumnya. Kemudian Allah berfirman:

يَا مُحَمَّدُ، ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَسَلْ تُعْطَهْ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah niscaya akan diberi, dan berilah syafaat niscaya syafaatmu diterima.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita beruntung menjadi umatnya, kita beruntung mengenalnya.

Begitu pula surga. Rasulullah ﷺ adalah orang pertama yang mengetuk pintu surga. Beliau bersabda:

أَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ

“Aku adalah orang pertama yang mengetuk pintu surga.” (HR. Muslim)

Sosok yang sempurna akhlaknya, tiada bandingannya, tiada duanya. Allah sendiri memuji akhlak beliau:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)

Silahkan ingat-ingat sosok manusia baik manapun di alam semesta ini, baik Nabi dan Rasul atau orang-orang biasa selain mereka, tetap tidak setara kesempurnaan akhlaknya seperti Baginda Nabi Muhammad ﷺ.

Dan nikmat Allah yang kedua, yang sangat besar, adalah Al-Quran. Al-Quran adalah nikmat Allah yang terbesar, mu’jizat terbesar. Dia rahmat dari Allah.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Dan itu Al-Quran sempurna diamalkan oleh Rasulullah Muhammad ﷺ. Ketika Aisyah رضي الله عنها ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ, beliau menjawab:

]كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak beliau adalah Al-Quran.” (HR. Muslim)

Dua nikmat yang seperti dua sisi mata uang yang saling melekat. Kita membutuhkan Al-Quran untuk panduan hidup kita, ayat-ayatnya, petunjuknya, perintahnya, larangannya, susunan kalimat yang sangat indahnya.

Dan kita membutuhkan sosok yang bisa kita tiru. Bagaimana sih cara mengamalkan Quran? Dan kita lihat sosok itu ada pada Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Maka kita tidak pernah bisa lepas dari dua hal ini, Al-Quran dan Rasulullah ﷺ.

Al-Quran kita baca, kita pahami, kita ambil sari-sari petunjuknya. Sebagaimana kita seorang yang bekerja membutuhkan juklak, membutuhkan SOP, membutuhkan peta arah dan tata cara kerja. Begitulah Al-Quran agar kita menjadi manusia yang bahagia, manusia yang selamat dunia dan akhirat.

Kita harus berpegang pada map hidup kita, yaitu Quran. Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra: 9)

Dan tentunya kita butuh sosok untuk jadi rujukan tentang bagaimana suatu ayat diamalkan, bagaimana surat ini dikerjakan, bagaimana petunjuk ini menjadi panduan. Dan sosok itu sempurna ada pada Baginda Nabi Muhammad ﷺ.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Maka kita tidak pernah bisa lepas dari dua hal ini, Al-Quran dan Rasulullah ﷺ. Al-Quran kita baca, kita pahami, kita ambil sari-sari petunjuknya. Dan Rasulullah ﷺ kita kenal, kita cintai, kita ikuti dan kita teladani.

Maka ya Allah, kami bersyukur pada-Mu atas dua nikmat ini. Mudahkan kami dalam mendekat dengan keduanya, dekat dengan Al-Quran, dekat dengan Rasulullah ﷺ.

Cilacap, 18 Agustus 2026

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button