AkhlaqAqidahArtikel
Trending

Air Mata Sang Nabi: Seni Mengelola Kesedihan dan Mengadu Hanya kepada Allah

Kisah Teladan para Nabi dan Rosul

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’in ‘alaa umuuriddunya waddiin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin online yang dimuliakan Allah,

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali dihadapkan pada rasa kehilangan. Kehilangan pekerjaan, kehilangan kesempatan, atau yang paling berat: kehilangan orang-orang yang sangat kita cintai. Di era modern ini, ketika seseorang tertimpa musibah dan kesedihan yang mendalam, kita sering melihat dua reaksi ekstrem. Ada yang menahannya sedemikian rupa hingga memicu depresi karena merasa “orang beriman tidak boleh bersedih”, atau sebaliknya, ada yang meluapkan kesedihannya dengan meratap, menyalahkan takdir, dan mengumbar keluh kesahnya di seluruh platform media sosial agar dikasihani oleh dunia.

Lalu, bagaimana sebenarnya Islam mengajarkan kita menghadapi kesedihan yang seolah mengoyak dada? Untuk menjawabnya, mari kita buka lembaran sejarah tentang seorang ayah yang cintanya kepada sang anak begitu besar, hingga kesedihannya mengeringkan air matanya dan membutakan kedua matanya. Beliau adalah Nabi Yaqub ‘alaihissalam.

Nabi Yaqub diuji dengan perpisahan yang teramat tragis dari putra kesayangannya, Nabi Yusuf AS. Bayangkan perasaan seorang ayah ketika anak-anaknya yang lain pulang membawa pakaian Yusuf yang berlumuran darah palsu, mengabarkan bahwa Yusuf dimakan serigala. Hati ayah mana yang tidak hancur?

Perpisahan itu tidak berlangsung hitungan hari atau bulan, melainkan bertahun-tahun lamanya. Sepanjang waktu itu, kerinduan Nabi Yaqub kepada Yusuf tidak pernah padam. Beliau terus-menerus menangis, mengenang putranya, hingga kornea matanya memutih dan beliau kehilangan penglihatannya.

Melihat kondisi ayahnya yang terus meratap, anak-anaknya yang lain merasa jengah. Mereka menegur ayahnya dan berkata, “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sehingga engkau mengidap penyakit berat atau engkau termasuk orang-orang yang binasa!” Mereka mengira tangisan Yaqub adalah bentuk ketidakmampuan menerima takdir.

Mendapat teguran keras dari anak-anaknya tersebut, Nabi Yaqub tidak membalas dengan kemarahan. Beliau memberikan sebuah jawaban yang sangat agung, sebuah jawaban yang merepresentasikan puncak kematangan tauhid dan kecerdasan emosional.

Jawaban ini diabadikan oleh Allah SWT dalam QS. Yusuf [12] ayat 86:

 

قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

 

Yang artinya: “Dia (Yakub) menjawab, ‘Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.'”

Mari kita resapi pesan utama dari ayat yang sangat menyentuh ini.

Pertama, Nabi Yaqub mengajarkan bahwa menangis dan bersedih itu manusiawi. Kesabaran yang indah (ṣabrun jamīl) bukanlah berarti kita tidak boleh menangis atau harus selalu tersenyum saat hati hancur. Islam tidak membunuh fitrah emosi manusia. Rasulullah SAW pun menangis saat putra beliau, Ibrahim, wafat.

Namun, yang membedakan kesedihan seorang mukmin dan bukan mukmin adalah arah keluh kesahnya. Perhatikan kata Nabi Yaqub: “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”.

Beliau tidak mengeluh kepada manusia. Mengeluhkan takdir Allah kepada makhluk adalah dilarang, tetapi mengadukan kepedihan hati kita kepada Allah adalah ibadah. Nabi Yaqub memindahkan beban di dadanya ke atas sajadah. Beliau yakin bahwa tidak ada manusia yang benar-benar bisa mengangkat kesedihannya kecuali Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati.

Bagaimana kita membumikan adab bersedih ala Nabi Yaqub ini dalam kehidupan kita sekarang?

Bagi rekan-rekan pemuda, pelajar, dan mahasiswa, di usia kalian beban mental terkadang terasa sangat berat. Mulai dari tekanan akademik, kegagalan seleksi beasiswa, cita-cita yang kandas, hingga mungkin ada yang diuji dengan kehilangan orang tua di usia muda. Rasa rindu dan sedih itu pasti ada. Saat dada terasa sesak, menangislah. Namun, ubah cara kita berekspresi. Jangan jadikan status WhatsApp atau Instagram sebagai tempat utama membuang kesedihan. Curhat kepada manusia sering kali hanya berujung pada rasa kasihan sementara atau bahkan menjadi bahan gunjingan. Bawalah air mata itu ke sepertiga malam terakhir. Menangislah di hadapan Allah. Adukan rindu dan lelahmu hanya kepada-Nya, niscaya Allah akan menurunkan ketenangan yang tak bisa dibeli dengan apa pun.

 

Bagi Bapak dan Ibu, musibah rumah tangga, impitan ekonomi, atau duka kehilangan anak dan pasangan adalah ujian yang sangat menguras air mata. Saat kita merasa seolah dunia runtuh, ingatlah ketegaran batin Nabi Yaqub. Beliau menangis hingga buta, namun beliau tidak pernah berburuk sangka (suuzhan) kepada Allah. Beliau tidak pernah putus asa dari rahmat Allah. Jadikanlah setiap tetes air mata yang jatuh karena ujian kehidupan sebagai saksi di akhirat kelak, bahwa kepedihan itu membuat kita semakin dekat dengan Allah, bukan semakin menjauh dari-Nya.

Oleh karena itu, jamaah yang dirahmati Allah, mari kita kelola kesedihan kita dengan tauhid. Jangan biarkan duka membuat kita kehilangan arah. Jadikan tangisan kita sebagai jembatan penghubung antara seorang hamba yang lemah dengan Tuhannya Yang Maha Pengasih.

Mari kita tundukkan hati, memohon ketabahan kepada Dzat Yang Maha Menggenggam jiwa kita.

Ya Allah, Yang Maha Mengetahui setiap tetes air mata yang jatuh dan setiap rintihan hati yang tersembunyi. Karuniakanlah kepada kami kesabaran yang indah sebagaimana kesabaran Nabi Yaqub. Jika hari ini di antara kami ada yang sedang memendam kesedihan, kehilangan, atau rindu yang tak berujung, gantilah kesedihan itu dengan ketenangan dan ridha atas takdir-Mu. Jadikanlah setiap keluh kesah kami hanya tertuju kepada-Mu, dan kumpulkanlah kami kelak dengan orang-orang yang kami cintai di surga-Mu.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.

Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian.

Nashrun minallahi wa fathun qariib.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button