ArtikelTokohTuntunan

HARI-HARI AKHIR RASULULLAH SAW

Kajian Sirah Nabawi

Senin Legi, 17 Agustus 2026 4 Rabiulawal 1448 H

Hari-hari terakhir Rasulullah ﷺ bukan sekadar kisah tentang berakhirnya kehidupan seorang manusia yang paling mulia. Ia adalah penutup dari perjalanan risalah yang berlangsung sekitar dua puluh tiga tahun: dari turunnya wahyu pertama, dakwah di Makkah, hijrah ke Madinah, pembentukan masyarakat beriman, hingga Haji Wada‘ dan sakit terakhir beliau. Dokumen sumber yang menjadi bahan artikel ini menggambarkan masa tersebut sebagai rangkaian perpisahan yang sarat pesan: cinta kepada umat, kesempurnaan agama, penjagaan salat, kesiapan melanjutkan risalah, dan keteguhan tauhid ketika Rasulullah ﷺ wafat.

Namun kisah-kisah akhir hayat Nabi ﷺ perlu dibaca dengan disiplin ilmiah. Sebagian kalimat dalam video atau transkrip merupakan narasi penghubung, sedangkan sebagian lain benar-benar bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Karena itu, artikel ini memusatkan pembahasan pada bagian-bagian yang memiliki sandaran yang dapat diperiksa, lalu menempatkan narasi sumber sebagai konteks yang membantu kita memahami suasana perpisahan tersebut.

Hari-hari akhir Rasulullah ﷺ memperlihatkan bahwa cinta kepada Nabi tidak berhenti pada rasa haru, tetapi harus berbuah menjadi kesetiaan kepada tauhid, salat, Al-Qur’an, Sunnah, amanah, dan akhlak.

Doa yang Disimpan untuk Umat

Dokumen sumber membuka kisah perpisahan dengan sebuah tema yang sangat kuat: Rasulullah ﷺ menyimpan satu doa mustajabnya untuk syafaat umat pada hari kiamat. Makna ini memiliki dasar yang sahih dalam hadis Abu Hurairah r.a. yang diriwayatkan Imam Muslim.

لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Setiap nabi memiliki doa yang dikabulkan. Setiap nabi telah menyegerakan doanya, sedangkan aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat.” HR. Muslim, no. 199a.

Analisis linguistik singkat: Frasa دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ adalah konstruksi na‘t-man‘ūt yang berarti “sebuah doa yang dikabulkan”. Kata اخْتَبَأْتُ berasal dari akar خ ب أ yang mengandung makna menyimpan atau menaruh sesuatu untuk waktu tertentu. Sementara شَفَاعَةً لِأُمَّتِي menjelaskan tujuan penyimpanan itu: “sebagai syafaat bagi umatku”. Struktur ini menegaskan tindakan sadar, penuh tujuan, dan berorientasi pada umat.

Penjelasan: Hadis ini memberi bingkai yang tepat untuk membaca masa akhir Rasulullah ﷺ. Orientasi beliau bukan semata-mata pada kenyamanan diri, tetapi pada keselamatan umat. Kasih sayang Nabi kepada umat bukan sekadar ungkapan emosional; ia tampak dalam doa, pengajaran, keteladanan, dan perhatian beliau terhadap nasib umat hingga akhir hayat.

Haji Wada‘: Perpisahan yang Belum Disadari Banyak Sahabat

Pada tahun ke-10 Hijriah Rasulullah ﷺ menunaikan haji yang kemudian dikenal sebagai Ḥajjat al-Wadā‘, Haji Perpisahan. Dokumen sumber menggambarkan besarnya rombongan kaum Muslimin dan suasana ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan khutbah di Arafah. Pokok-pokok khutbah tersebut berkisar pada kesucian darah dan harta, larangan riba, amanah, hak perempuan, persaudaraan manusia, serta kewajiban menyampaikan pesan kepada mereka yang tidak hadir.

Pesan itu menunjukkan bahwa risalah Nabi ﷺ tidak hanya membentuk ritual, tetapi juga membangun tatanan moral dan sosial. Kehormatan jiwa manusia tidak boleh dilanggar, harta tidak boleh diambil secara zalim, dan relasi antarmanusia harus diletakkan di bawah prinsip ketakwaan dan keadilan.

Khutbah Perpisahan dapat dibaca sebagai ringkasan etika kenabian: tauhid melahirkan tanggung jawab; ibadah melahirkan amanah; dan ketakwaan harus tampak dalam cara memperlakukan manusia.

“Hari Ini Telah Aku Sempurnakan Agamamu”

Di antara ayat yang paling erat dikaitkan dengan Haji Wada‘ adalah bagian dari QS. Al-Mā’idah [5]: 3. Dalam riwayat sahih, Umar bin al-Khattab r.a. menjelaskan bahwa ayat ini turun ketika Rasulullah ﷺ sedang berada di Arafah pada hari Jumat.

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” QS. Al-Mā’idah [5]: 3.

Analisis linguistik singkat: Kata أَكْمَلْتُ berasal dari akar ك م ل dan menunjukkan penyempurnaan sampai pada keadaan lengkap. Kata أَتْمَمْتُ dari akar ت م م memberi nuansa “menuntaskan” atau “mencukupkan sampai sempurna”. Adapun رَضِيتُ berasal dari ر ض ي, bermakna meridai atau memilih dengan penerimaan. Tiga verba lampau tersebut tersusun berurutan: penyempurnaan agama, penyempurnaan nikmat, kemudian keridaan Allah terhadap Islam sebagai dīn.

Penjelasan: Ayat ini bukan sekadar pengumuman kemenangan sejarah. Ia menegaskan kematangan risalah. Karena agama telah disempurnakan, tugas umat sesudah Nabi ﷺ bukan menciptakan agama baru, melainkan memahami, mengamalkan, menjaga, dan meneruskan ajaran yang telah beliau sampaikan. Kesempurnaan agama menuntut kesungguhan umat dalam menghidupkan ajaran, bukan sekadar mengagumi sejarahnya.

Tanda-Tanda Perpisahan Semakin Jelas

Setelah Haji Wada‘, Rasulullah ﷺ kembali ke Madinah. Dokumen sumber menuturkan bahwa pada tahun terakhir, Jibril a.s. melakukan mu‘āraḍah atau pengulangan bacaan Al-Qur’an bersama Nabi ﷺ dua kali. Makna ini memiliki dasar kuat dalam hadis tentang dialog rahasia Rasulullah ﷺ dengan putrinya, Fatimah r.a.

إِنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يُعَارِضُنِي الْقُرْآنَ كُلَّ سَنَةٍ مَرَّةً، وَإِنَّهُ عَارَضَنِي الْعَامَ مَرَّتَيْنِ، وَلَا أُرَاهُ إِلَّا حَضَرَ أَجَلِي

“Sesungguhnya Jibril biasa mengulang Al-Qur’an bersamaku setiap tahun sekali, dan pada tahun ini ia mengulangnya bersamaku dua kali. Aku tidak melihat hal itu kecuali sebagai tanda bahwa ajalku telah dekat.” HR. al-Bukhari, no. 3623–3624.

Analisis linguistik singkat: Verba يُعَارِضُنِي berasal dari bentuk ketiga عَارَضَ yang mengandung makna saling memperhadapkan atau saling mencocokkan bacaan. Frasa حَضَرَ أَجَلِي berarti “ajalku telah hadir/dekat”, dengan أَجَل menunjuk batas waktu yang telah ditetapkan. Redaksi ini menunjukkan kesadaran Nabi ﷺ bahwa pengulangan Al-Qur’an dua kali memiliki makna khusus pada tahun tersebut.

Penjelasan: Rasulullah ﷺ menyampaikan kepada Fatimah r.a. bahwa ajal beliau telah dekat. Dalam riwayat yang sama, Fatimah menangis ketika mendengar kabar pertama, lalu tersenyum setelah mendapat kabar penghibur dari ayahnya. Dokumen sumber menempatkan peristiwa ini sebagai salah satu momen paling menyentuh dalam hari-hari terakhir beliau.

Kerinduan kepada “Saudara-Saudara” yang Datang Kemudian

Dokumen sumber juga menampilkan kisah Rasulullah ﷺ yang menyebut orang-orang beriman setelah generasi sahabat sebagai “saudara-saudara kami”. Riwayat ini terdapat dalam hadis sahih Muslim tentang kunjungan Nabi ﷺ ke pemakaman.

وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا … أَنْتُمْ أَصْحَابِي، وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ

“Aku berharap kita dapat melihat saudara-saudara kita.” Para sahabat bertanya, “Bukankah kami saudara-saudaramu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kalian adalah para sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita adalah mereka yang belum datang kemudian.” HR. Muslim.

Analisis linguistik singkat: Kata وَدِدْتُ berasal dari akar و د د, yang bermakna mencintai, menyukai, atau sangat menginginkan. Kata إِخْوَانَنَا menunjukkan persaudaraan yang dibangun oleh iman, sedangkan أَصْحَابِي menunjukkan kedudukan khusus orang-orang yang hidup bersama dan menemani Nabi ﷺ secara langsung.

Penjelasan: Riwayat ini memberi harapan besar kepada umat sesudah generasi sahabat. Namun kedekatan itu tidak otomatis diraih dengan klaim cinta semata. Dalam kelanjutan hadis, Nabi ﷺ menjelaskan ciri umatnya pada telaga melalui bekas wudu. Artinya, kerinduan kepada Nabi harus dijawab dengan iman dan amal. Mencintai Rasulullah ﷺ berarti berusaha hidup dalam jejak ibadah dan akhlak yang beliau ajarkan.

Sakit Terakhir dan Abu Bakar Memimpin Salat

Ketika sakit Rasulullah ﷺ semakin berat dan beliau tidak lagi mampu memimpin salat sebagaimana biasa, beliau memerintahkan agar Abu Bakar r.a. mengimami kaum Muslimin. ‘Aisyah r.a. sempat menyampaikan bahwa ayahnya adalah seorang yang sangat lembut hati dan mudah menangis ketika membaca Al-Qur’an, tetapi Nabi ﷺ tetap mengulangi perintahnya.

مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

“Perintahkan Abu Bakar agar memimpin salat untuk orang-orang.” HR. al-Bukhari, no. 678.

Analisis linguistik singkat: Kata مُرُوا adalah fi‘l amr jamak dari أَمَرَ, “perintahkanlah”. Frasa فَلْيُصَلِّ menggunakan lām al-amr yang mengandung makna instruksi, “maka hendaklah ia salat/memimpin salat”. Sedangkan بِالنَّاسِ menunjukkan fungsi Abu Bakar sebagai imam bagi jamaah.

Penjelasan: Dalam konteks sakit terakhir, perintah ini menunjukkan perhatian Nabi ﷺ yang sangat kuat terhadap kesinambungan ibadah jamaah. Meski kondisi beliau memburuk, salat tidak boleh berhenti. Para sahabat tidak dibiarkan tanpa imam. Di sinilah kita melihat bahwa salah satu hal yang beliau jaga pada saat tubuhnya melemah adalah keteraturan hubungan umat dengan Allah.

Ketika Rasulullah ﷺ tidak lagi mampu berdiri memimpin jamaah, beliau memastikan salat tetap ditegakkan. Ini menunjukkan kedudukan salat yang tidak boleh dipinggirkan bahkan dalam keadaan paling sulit.

Pesan Terakhir: “Salat, Salat”

Transkrip sumber menekankan bahwa Rasulullah ﷺ terus mengingatkan tentang salat. Untuk bagian ini terdapat riwayat dari ‘Ali bin Abi Thalib r.a. dalam Sunan Abi Dawud dengan redaksi yang tegas.

الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Jagalah salat, jagalah salat; dan bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan orang-orang yang berada dalam tanggungan/kekuasaan kalian.” HR. Abu Dawud, no. 5156; dinilai sahih oleh al-Albani pada rujukan tersebut.

Analisis linguistik singkat: Kata الصَّلَاةَ diulang dua kali dalam bentuk mansub. Dalam retorika Arab, pengulangan seperti ini berfungsi sebagai penekanan yang sangat kuat, seolah-olah bermakna “perhatikan benar-benar salat!”. Kata اتَّقُوا adalah perintah jamak dari اِتَّقَى, bermakna “bertakwalah/berhati-hatilah karena Allah”. Frasa فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ menunjuk kepada orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab dan struktur sosial pada masa itu, sehingga pesan moralnya adalah larangan menzalimi pihak yang lemah atau berada di bawah kekuasaan seseorang.

Penjelasan: Dua hal disandingkan: hubungan dengan Allah melalui salat dan tanggung jawab terhadap manusia yang berada dalam posisi rentan. Ini sangat penting. Kesalehan dalam Islam bukan hanya ritual vertikal, tetapi juga amanah sosial. Salat yang benar seharusnya melahirkan ketakwaan yang tampak dalam cara seseorang memperlakukan orang lain.

Detik-Detik Terakhir: Memilih ar-Rafīq al-A‘lā

Salah satu riwayat paling kuat dan paling mengharukan tentang detik-detik akhir Rasulullah ﷺ berasal dari ‘Aisyah r.a. Beliau berada di dekat Nabi ketika ajal datang. ‘Aisyah memahami bahwa para nabi diberi pilihan pada akhir hayatnya, dan ia mendengar Rasulullah ﷺ memilih apa yang ada di sisi Allah.

اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى

“Ya Allah, bersama ar-Rafīq al-A‘lā (Sahabat/Kawan Yang Mahatinggi).” HR. al-Bukhari.

Analisis linguistik singkat: Kata الرَّفِيقَ berasal dari akar ر ف ق, yang berkaitan dengan kedekatan, kebersamaan, dan kelembutan. Bentuk الْأَعْلَى adalah isim tafḍīl yang berarti “yang paling tinggi/tertinggi”. Dalam konteks hadis, ungkapan ini menunjuk kepada kebersamaan mulia di sisi Allah bersama golongan tertinggi yang diridai-Nya.

Penjelasan: Ucapan ini menjadi penutup yang sangat agung. Setelah seluruh tugas kerasulan dijalankan, Rasulullah ﷺ memilih perjumpaan dengan Allah dan ar-Rafīq al-A‘lā. Riwayat al-Bukhari menyebut ungkapan ini sebagai ucapan terakhir beliau. Ia mengajarkan bahwa ujung perjalanan seorang mukmin bukan kehampaan, tetapi kembali kepada Allah.

Akhir hayat Rasulullah ﷺ mempertemukan dua orientasi sekaligus: tanggung jawab kepada umat dan kerinduan kepada Allah.

Abu Bakar Menegakkan Tauhid di Tengah Duka

Wafatnya Rasulullah ﷺ mengguncang para sahabat. Dokumen sumber menggambarkan bagaimana Umar bin al-Khattab r.a. pada awalnya sangat sulit menerima kenyataan tersebut. Abu Bakar r.a. kemudian datang, melihat Rasulullah ﷺ, lalu menghadapi masyarakat yang diliputi duka. Pada momen itulah ia mengembalikan seluruh umat kepada fondasi paling mendasar: Allah tetap hidup, sedangkan Rasul adalah utusan-Nya.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” QS. Āli ‘Imrān [3]: 144.

Analisis linguistik singkat: Struktur وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ memakai pola pembatasan mā … illā, yang bermakna “Muhammad tidak lain kecuali seorang rasul”. Kata خَلَتْ berarti “telah berlalu”, sedangkan انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ secara harfiah menggambarkan “berbalik di atas tumit”, sebuah idiom kuat untuk kemunduran atau kembali meninggalkan jalan yang telah ditempuh. Penutup الشَّاكِرِينَ menempatkan keteguhan setelah kehilangan sebagai bentuk syukur kepada Allah.

Penjelasan: Ayat yang dibacakan Abu Bakar r.a. menggeser pusat perhatian dari sosok manusia menuju Allah. Mencintai Rasulullah ﷺ tidak berarti menempatkan beliau sebagai objek ibadah. Justru ajaran terbesar beliau adalah tauhid. Rasulullah ﷺ wafat, tetapi Allah tidak wafat; Rasul telah menyampaikan risalah, dan umat wajib tetap berdiri di atas risalah itu.

Warisan yang Tidak Boleh Berhenti

Dokumen sumber menutup narasinya dengan ajakan agar umat tidak berhenti pada kesedihan. Setelah Nabi ﷺ wafat, para sahabat memikul tanggung jawab besar untuk melanjutkan kehidupan umat, menjaga agama, dan meneruskan dakwah. Pesan yang dapat kita ambil bukanlah romantisasi kesedihan, melainkan transformasi cinta menjadi amal.

Setidaknya ada beberapa pelajaran yang sangat konkret dari hari-hari akhir Rasulullah ﷺ:

  1. Jaga tauhid. Jangan sampai cinta kepada manusia, siapa pun dia, menggeser penghambaan yang hanya kepada Allah.
  2. Jaga salat. Di antara pesan yang terus ditekankan pada masa sakit terakhir adalah kesinambungan salat.
  3. Jaga Al-Qur’an dan Sunnah. Risalah telah disampaikan; tugas umat adalah mempelajari, memahami, dan mengamalkannya.
  4. Jaga amanah dan hak manusia. Khutbah Perpisahan menegaskan kesucian darah, harta, kehormatan, serta kewajiban berlaku adil.
  5. Jaga mereka yang lemah. Pesan “bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan mereka yang berada dalam tanggungan kalian” mengingatkan bahwa kekuasaan selalu disertai pertanggungjawaban.
  6. Ubah cinta kepada Nabi menjadi ittibā‘. Kerinduan kepada Rasulullah ﷺ harus tampak pada ibadah, akhlak, kejujuran, kasih sayang, dan kesungguhan mengikuti petunjuk beliau.

Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya menangis ketika membaca kisah wafat beliau. Cinta yang lebih berat adalah menjaga salat sebagaimana beliau wasiatkan, menjaga tauhid sebagaimana beliau ajarkan, dan menjaga manusia dari kezaliman sebagaimana beliau tuntunkan.

Penutup

Hari-hari terakhir Rasulullah ﷺ memperlihatkan konsistensi seluruh kehidupan beliau. Sejak awal kenabian hingga detik terakhir, arah hidup beliau tetap sama: menghambakan diri kepada Allah dan membimbing umat menuju-Nya. Di Arafah beliau menegaskan amanah dan kemuliaan manusia. Dalam sakit beliau memastikan salat jamaah tetap tegak. Kepada Fatimah beliau menyampaikan kesiapan menghadapi ajal. Kepada umat sesudah para sahabat beliau meninggalkan harapan sebagai “saudara-saudara” yang akan dikenali. Dan di ujung kehidupan, beliau memilih ar-Rafīq al-A‘lā.

Maka pertanyaan terpenting bagi kita bukan hanya “bagaimana Rasulullah ﷺ wafat?”, tetapi “apa yang harus tetap hidup dalam diri kita setelah membaca kisah wafat beliau?” Jawabannya adalah iman yang bersih, salat yang dijaga, Al-Qur’an yang dibaca dan dipahami, Sunnah yang diikuti, amanah yang ditunaikan, serta kasih sayang yang diwujudkan dalam akhlak.

Semoga Allah meneguhkan kita di atas tauhid, menghidupkan kecintaan yang benar kepada Rasulullah ﷺ, memberi kemampuan untuk mengikuti Sunnah beliau, dan mengumpulkan kita kelak bersama para nabi, orang-orang benar, para syuhada, dan orang-orang saleh. Āmīn. Wallāhu a‘lam.

Sumber Rujukan

  • Dokumen transkrip pengguna: The Prophet’s Farewell to the World! His Final Words to You! | Final Episode – O Messenger, sumber video YouTube.
  • Al-Qur’an, QS. Al-Mā’idah [5]: 3, Quran.com.
  • Al-Qur’an, QS. Āli ‘Imrān [3]: 144, Quran.com.
  • Ṣaḥīḥ Muslim no. 199a, hadis doa syafaat untuk umat, Sunnah.com.
  • Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no. 3623–3624, hadis Fatimah dan pengulangan Al-Qur’an oleh Jibril pada tahun terakhir, Sunnah.com.
  • Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no. 678, perintah agar Abu Bakar memimpin salat, Sunnah.com.
  • Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no. 6348 dan 4463, riwayat ar-Rafīq al-A‘lā, Sunnah.com.
  • Sunan Abī Dāwūd no. 5156, pesan “salat, salat”, Sunnah.com.
  • Riwayat Muslim tentang kerinduan Nabi ﷺ kepada “saudara-saudara” yang datang kemudian, ditampilkan pada Riyāḍ al-Ṣāliḥīn no. 1029.

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button