Menjaga Persatuan, Menolak Fitnah, dan Tidak Mewariskan Dendam
Oleh: Muhamad Fikri Aththoriq, S.Pd (Anggota Majelis Tabligh PCM Blimbing Daerah Sukoharjo)

Pada setiap tanggal 30 September, bangsa kita mengenang sebuah peristiwa kelam pada tahun 1965. Kita tidak berkumpul untuk membuka luka lama atau menuding siapa pun. Kita berkumpul untuk bertanya: pelajaran apa yang Allah titipkan lewat peristiwa ini, agar umat dan bangsa tidak jatuh ke lubang yang sama?
Saya ringkas pelajarannya menjadi empat: cek dulu sebelum percaya, jaga persatuan, kokohkan iman, dan berlaku adil tanpa mewariskan dendam.
#1. Tabayyun, Cek Sebelum Percaya
Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita, periksalah dengan teliti, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan, lalu kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan kitab-kitab asbabun nuzul, ayat ini dikaitkan dengan riwayat utusan Nabi ﷺ untuk mengambil zakat dari Bani Mushthaliq. Utusan itu pulang membawa laporan keliru bahwa mereka menolak membayar, hampir saja pasukan dikirim. Pelajarannya: satu kabar yang tidak diperiksa bisa hampir menumpahkan darah suatu kaum. Ulama tafsir menyimpulkan bahwa kabar yang belum jelas tidak boleh dijadikan dasar bertindak.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda,
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar.”
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa orang yang meneruskan semua yang ia dengar hampir pasti ikut menyebarkan kebohongan, sebab tidak semua yang didengar itu benar.
Dulu, hasutan menyebar dari mulut ke mulut. Sekarang menyebar lewat grup WhatsApp dan media sosial. Sebelum menekan tombol forward, tanya tiga hal: siapa sumbernya, apa buktinya, dan apa manfaatnya kalau saya sebarkan.
#2. Persatuan dan Bahaya Adu Domba
Allah berfirman dalam QS. Ali Imran: 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hatimu, maka jadilah kamu karena nikmat-Nya orang-orang yang bersaudara.”
Para mufasir, di antaranya Ibnu Katsir, mengaitkan ayat ini dengan permusuhan panjang suku Aus dan Khazraj di Madinah sebelum Islam, yang kemudian Allah satukan lewat dakwah Nabi ﷺ. Persatuan itu disebut sebagai nikmat, artinya sesuatu yang harus dijaga dan disyukuri, bukan sekadar slogan.
Maka Allah juga firmankan dalam QS.Al-Hujurat: 10
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”
Rasulullah juga bersabda melalui hadis Shahih yang diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari,
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” [Imam Al-Bukhari (no. 481) dan Imam Muslim (no. 2585)]
Dalam hadis shahih lainnya, diriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, menyayangi, dan berbelas kasih adalah seperti satu tubuh. Bila satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” [oleh imam Al-Bukhari (no. 6011) dan imam Muslim (no. 2586)]
Tentang cinta tanah air.
Sering kita dengar ungkapan “hubbul wathan minal iman”. Perlu diketahui, ungkapan itu bukan hadis yang sahih; ulama hadis menilainya tidak memiliki sanad yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun semangat cinta tanah air punya dasar yang kuat, yaitu sabda Nabi ﷺ kepada Makkah saat hendak hijrah, diriwayatkan At-Tirmidzi (no. 3926):
مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ
“Alangkah baiknya engkau sebagai negeri, dan alangkah aku mencintaimu.”
Sehingga kita tetap cinta tanah air dengan dalil yang benar, tanpa perlu memakai dalil yang lemah.
Kish singkat bagaimana Nabi ﷺ mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar di Madinah. Hikmahnya adalah persatuan dibangun dengan aksi nyata, saling membantu, bukan hanya pidato.
#3. Iman kepada Allah sebagai Fondasi Hidup
Dalam Al-Qur’an, QS. Ar-Rum: 30 Allah berfirman,
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Tidak ada anak yang lahir kecuali di atas fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” [Shahih Al-Bukhari (no. 1385) dan Shahih Muslim (no. 2658)]
Para ulama menjelaskan bahwa fitrah di sini adalah kecenderungan asli manusia untuk mengenal dan mengakui Tuhannya. Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar dalam syarahnya membahas hadis ini sebagai dasar bahwa lingkungan dan pendidikan sangat menentukan arah keyakinan seorang anak.
Ideologi yang menolak Tuhan bertentangan dengan fitrah manusia, dan itu sebabnya ia tidak pernah benar-benar tenang di hati. Tantangan hari ini bentuknya lebih halus: hidup seolah-olah Tuhan tidak ada, ukuran sukses hanya harta, agama hanya pajangan. Mari senantiasa memperkuat iman dari rumah. Ajak anak ke masjid, kenalkan Al-Qur’an sejak dini, dan jadilah teladan.
#4. Adil dan Tidak Mewariskan Dendam
Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah: 8,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, saksi yang adil. Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum mendorongmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.”
Ulama tafsir menegaskan bahwa perintah adil ini berlaku bahkan kepada pihak yang kita benci. Kebencian tidak boleh menjadi alasan untuk berbuat zalim. Ini prinsip yang sangat relevan untuk membicarakan sejarah yang menyakitkan.
Di dalam Khutbah Wada’nya Rasulullah mengatakan,
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا
“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari ini, bulan ini, dan negeri ini.” [Shahih Al-Bukhari (no. 67) dan Shahih Muslim (no. 1679)]
Nyawa manusia begitu mulia dalam Islam. Ini yang membuat kita ikut berduka atas setiap nyawa yang hilang dalam tragedi, siapa pun korbannya.
Dalam hadis yang lain dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” [Shahih Al-Bukhari (no. 6114) dan Shahih Muslim (no. 2609)]
Allah sebutkan dalil tentang memaafkan dalam al Qur’an di antaranya,
قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“Dia (Yusuf) berkata, ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.'” [QS. Yusuf: 92]
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah keburukan dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang setia.” [QS. Fushshilat: 34]
Kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam memaafkan saudara-saudaranya yang dulu membuangnya ke sumur, saat beliau sudah berkuasa dan bisa saja membalas. Juga dikisahkan tentang bagaimana sikap memaafkannya Nabi ﷺ terhadap penduduk Makkah saat Fathu Makkah, dengan mengatakan “siapapun yang masuk ke masjidil haram maka dia aman, barang siapa yang masuk ke dalam rumah Abu Sufyan maka dia aman, dst”. sebagaimana dikisahkan dalam kitab-kitab sirah.
Banyak keluarga di negeri kita menyimpan luka dari 1965, dari berbagai sisi. Tugas kita bukan mewariskan dendam kepada anak cucu. Tugas kita menjaga keadilan, tidak menghakimi keturunan siapa pun, dan menyambung silaturahim.
Pada akhirnya, ringkasan tiga pesan praktis berikut yang hendaknya kita selalu renungi dan fahami:
- Crosschek sebelum percaya, pikir sebelum menyebarluaskan.
- Jaga persaudaraan di lingkungan sendiri, mulai dari tetangga dan jamaah masjid.
- Tanamkan iman dan akhlak pada anak-anak, sebab keluarga adalah benteng pertama bangsa ini.
Semoga Allah menjaga negeri kita, mempersatukan hati umat, dan menjauhkan kita dari fitnah dan perpecahan.
Wallahu a’lam bisshowab.




