Artikel
Trending

Mengasah Keterampilan (Skill) sebagai Wujud Syukur Atas Potensi dari Allah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillahilladzi wahaba lanal ‘aqla wal quwwah, wa faddhalana ‘ala katsirim mimman khalaqa tafdhila. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin jamaah online rahimakumullah,

Kita hidup di era yang bergerak sangat cepat. Hari ini, kita sering mendengar kekhawatiran tentang sulitnya mencari pekerjaan, ketatnya persaingan, hingga ancaman teknologi kecerdasan buatan (AI) yang konon akan menggantikan peran manusia. Namun ironisnya, di tengah tantangan yang begitu besar, masih banyak di antara kita, khususnya generasi muda, yang menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya hanya untuk scroll media sosial, bermain game, atau melakukan hal-hal yang kurang produktif. Kita sering kali mengeluhkan keadaan, namun lupa untuk meningkatkan kualitas diri.

Padahal, setiap manusia telah dibekali oleh Allah SWT dengan modal yang sangat luar biasa sejak lahir. Modal itu adalah potensi akal, pendengaran, dan penglihatan.

Dalam pandangan Islam, memiliki keahlian atau keterampilan (skill) bukan hanya urusan duniawi untuk mencari uang. Lebih dari itu, mengasah keterampilan adalah bentuk ibadah dan wujud nyata dari rasa syukur kita kepada Allah.

Mari kita renungkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Mulk ayat 23:

 

قُلْ هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۖ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

 

“Katakanlah: ‘Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal)’. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (QS. Al-Mulk: 23)

Ayat ini menegaskan bahwa perangkat utama untuk belajar dan menguasai skill—yaitu telinga untuk mendengar informasi, mata untuk melihat dan membaca, serta hati/akal untuk menganalisis, telah diberikan secara gratis oleh Allah. Namun, di akhir ayat, Allah memberikan teguran halus yang menohok: “Qalilan ma tasykurun” (amat sedikit dari kamu yang bersyukur).

Para ulama menjelaskan bahwa syukur itu memiliki tiga tingkatan: meyakini di dalam hati, memuji dengan lisan (mengucapkan Alhamdulillah), dan membuktikannya dengan perbuatan anggota badan (syukur bil arkan).

Bagaimana cara kita bersyukur dengan anggota badan atas karunia akal dan fisik yang sehat ini? Jawabannya adalah dengan menggunakannya secara maksimal. Mengasah skill, melatih bakat, dan menjadi profesional di bidang kita masing-masing adalah bentuk nyata syukur bil arkan. Jika Allah memberikan Anda otak yang cerdas namun Anda membiarkannya tumpul karena malas belajar, hakikatnya Anda sedang kufur (mengingkari) nikmat Allah.

Pesan utama dari tema ini sangat praktis. Umat Islam harus menjadi umat yang berkemajuan, umat yang tangguh dan memiliki daya saing. Rasulullah SAW sangat mencintai umatnya yang mandiri dan profesional.

Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari; bagi rekan-rekan pemuda dan pelajar, waktu muda adalah masa keemasan. Jangan biarkan waktu luang berlalu begitu saja. Asahlah skill kalian. Belajarlah bahasa asing, kuasai desain grafis, pelajari coding dan teknologi, asah kemampuan public speaking, atau pelajari ilmu-ilmu wirausaha. Jadikan diri kalian ahli di satu bidang, sehingga kelak keahlian itu bisa memberi manfaat bagi umat dan mendatangkan rezeki yang halal.

Mengasah skill tidak mengenal batas usia. Seorang pedagang bisa belajar cara berjualan online agar usahanya berkembang. Seorang pendidik bisa belajar metode mengajar yang baru. Seorang pekerja bangunan atau teknisi bisa memperhalus dan merapikan hasil kerjanya. Apapun profesi kita, lakukanlah dengan itqan (profesional dan sungguh-sungguh), karena karya yang baik adalah bentuk syukur kita kepada Sang Pencipta.

Jangan sampai kita menjadi umat yang tertinggal karena kita malas membaca, malas berlatih, dan malas mencoba hal baru. Potensi sudah Allah berikan, kini tinggal kemauan kita untuk mengasahnya.

Mari kita tutup dengan berdoa, memohon agar Allah membimbing kita menjadi pribadi yang produktif dan pandai bersyukur:

Ya Allah, kami bersyukur atas segala nikmat akal, kesehatan, dan panca indra yang Engkau titipkan. Lindungilah kami dari sifat malas, lemah, dan menyia-nyiakan waktu. Bimbinglah kami untuk senantiasa mengasah potensi diri kami, agar menjadi keterampilan yang bermanfaat bagi agama, keluarga, dan bangsa. Jadikanlah setiap keringat yang kami teteskan dalam belajar dan bekerja sebagai amal ibadah di sisi-Mu.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.

Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button