Dakwah Bilhal: Menjadikan Islam Terlihat melalui Amal dan Akhlak
Oleh: Drs. KH. Fathurrahman (Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Klaten)

Secara kultural, Muhammadiyah dapat berdakwah sekaligus mengambil peran nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kiai Haji Ahmad Dahlan telah memberikan teladan bahwa dakwah tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang sulit. Kepedulian kepada kaum mustadh’afin, membantu masyarakat yang tidak berpendidikan, serta kesediaan mengorbankan harta benda merupakan bentuk dakwah yang mudah dilihat dan dirasakan.
Inilah dakwah bilhal, yakni dakwah melalui perbuatan nyata, bukan sekadar ucapan. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) menjadi salah satu sarana untuk menghadirkan dakwah tersebut dalam kehidupan masyarakat. Dakwah tidak cukup hanya dengan mengatakan sesuatu yang baik, tetapi juga mengambil peran agar keadaan menjadi lebih baik.
Kiai Ahmad Dahlan memberikan teladan melalui pengamalan Surah Al-Ma’un. Demikian pula prinsip dakwah yang diajarkan Allah SWT:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Kata ud’u berarti ajaklah atau serulah. Umat diajak menuju jalan Allah dan Islam bukan hanya melalui perkataan, tetapi juga melalui keteladanan. Dalam bidang pendidikan, misalnya, dakwah dapat dilakukan melalui bidang dan keahlian masing-masing. Guru menjadi guru yang baik, dosen menjadi dosen yang baik, dan karyawan menjadi karyawan yang baik.
Menjadi bagian dari dakwah berarti tidak hanya menyuruh orang lain berbuat baik, tetapi ikut terlibat di dalamnya. Disiplin, bertanggung jawab, menaati pimpinan, dan memberikan pelayanan terbaik merupakan bagian dari dakwah bilhal. Jika keadaan belum sesuai harapan, maka harus ada kemauan untuk memperbaikinya dengan bergandengan tangan.
Dakwah kemanusiaan juga tidak mengenal batas kelompok. Muhammadiyah melalui lembaga penanggulangan bencana telah terlibat dalam berbagai penanganan bencana, termasuk bantuan kemanusiaan di Palestina. Bantuan tersebut diberikan atas dasar kemanusiaan, tidak harus mempertimbangkan apakah penerimanya Muslim atau Muhammadiyah. Di berbagai tempat, termasuk lingkungan pendidikan, masyarakat yang dilayani juga tidak semuanya beragama Islam.
Semoga amal nyata tersebut dapat menyadarkan masyarakat. Syukur-syukur, melalui keteladanan yang baik, semakin banyak orang mengenal dan menerima Islam. Karena itu, mari menjadi Muslim yang baik, karyawan yang baik, pendidik yang baik, dan anggota masyarakat yang baik.
Allah SWT berfirman:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)
Dalam berlomba melakukan kebaikan, Allah-lah yang menjadi penilai. Kita berbuat baik bukan hanya ketika diawasi manusia. Pengawasan manusia terbatas, sedangkan Allah selalu mengawasi. Al-Qur’an mengingatkan:
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi, yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (amal perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infitar: 10–12)
Semangat fastabiqul khairat setidaknya dapat diwujudkan dalam dua hal. Pertama, terus memperbaiki ibadah mahdhah, seperti salat, puasa, dan sedekah. Allah berfirman:
ولْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini mengajarkan pentingnya melakukan evaluasi diri: apa yang sudah dicapai, apa yang belum, dan apa yang harus diperbaiki untuk merencanakan kehidupan ke depan. Pada akhirnya, setiap amal akan dipertanggungjawabkan. Al-Qur’an menggambarkan orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanan sebagai orang yang mendapatkan keselamatan:
فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا
“Adapun orang yang diberikan catatannya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaq: 7–8)
Kedua, ibadah sosial juga harus baik. Jangan sampai seseorang baik dalam ibadah mahdhah, tetapi hubungan dengan masyarakat tidak baik. Di tempat kerja baik, di masjid baik, tetapi di lingkungan keluarga atau masyarakat justru tidak baik. Dua pilar tersebut—hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal dengan sesama—harus berjalan bersama.
Al-Qur’an memberikan banyak pelajaran tentang hal ini. Firaun menjadi contoh manusia yang tidak selamat, sedangkan istrinya menjadi contoh orang beriman yang mendapatkan tempat mulia. Karena itu, manusia tidak hanya dinilai dari hubungannya dengan Allah, tetapi juga dari kepeduliannya terhadap sesama.
Mari kita merenungkan diri masing-masing. Sudahkah kehadiran kita memberikan manfaat bagi keluarga, lingkungan, tempat kerja, masyarakat, dan kehidupan yang lebih luas?
Pada akhirnya, Islam akan terlihat dari akhlak umat Islam itu sendiri. Jangan sampai muncul keadaan “Islam mahjub bil-muslim”—keindahan Islam justru tertutup oleh perilaku orang Islam yang tidak mencerminkan ajarannya.
Karena itu, mari menjadi Muslim yang semakin baik, terus berlomba dalam kebaikan, dan menghadirkan Islam melalui amal nyata. Muhammadiyah pun dapat menjadi contoh kebaikan apabila setiap warganya mampu menampilkan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga gerakan dakwah ini terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi mercusuar kebaikan di mana pun berada.




