Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd (Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ وَالْإِحْسَانِ إِلَى الْجِيرَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah pada hari Jumat yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian: marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Takwa yang sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, di mana pun kita berada dan dalam kondisi apa pun kita bernapas. Ketakwaan inilah yang akan menjadi sebaik-baik bekal saat kita kelak berpulang menghadap Sang Pencipta.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Islam adalah agama yang sempurna. Bukan hanya mengatur hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhannya, tetapi juga mengatur hubungan horizontal antarmanusia. Di antara ajaran luhur Islam yang sering kali kita sepelekan adalah adab bertetangga dan menjaga silaturahmi. Dua hal ini merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang rukun, damai, dan saling menyayangi. Siapa yang Paling Tahu Keadaan Kita?**
Dalam Keputusan Tarjih Ke-28 tentang Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah Bab IV Pembinaan Keluarga Sakinah, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah menegaskan:
“Di dalam kehidupan bermasyarakat, kehidupan bertetangga merupakan hal yang amat penting. Tetangga adalah orang yang paling mengetahui hal ihwal keluarga tetangganya. Oleh karenanya dengan tetangga harus senantiasa bantu-membantu dan tenggang rasa. Allah menuntunkan agar berbuat *ihsan* (kebaikan) kepada tetangga.”
Betapa tingginya kedudukan tetangga dalam Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.”(QS an-Nisa’ [4]: 36)
Ayat ini menarik. Setelah Allah memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya dan melarang syirik, langsung disebutkan perintah berbuat baik kepada orang tua, kerabat, dan —berikutnya— kepada tetangga. Ini menunjukkan bahwa *birrul jiran* (berbakti kepada tetangga) menempati posisi yang sangat strategis dalam ajaran Islam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan bersabda:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
“Tidak henti-hentinya Jibril memberikan wasiat kepadaku supaya berbuat baik kepada tetangga, sehingga saya menyangka seolah-olah Jibril akan memasukkan tetangga sebagai ahli waris.” (HR Muttafaq ‘Alaih — al-Bukhari dan Muslim)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Bayangkan, Malaikat Jibril terus-menerus berwasiat tentang tetangga, sampai Rasulullah mengira tetangga akan dijadikan ahli waris. Maka sungguh ironis jika di tengah masyarakat modern ini, kita justru tidak mengenal tetangga di kiri-kanan rumah kita. Pintu pagar dikunci rapat, hati pun ikut terkunci.
Larangan Menyakiti Tetangga
Salah satu prinsip paling fundamental dalam bertetangga adalah larangan menyakiti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (HR al-Bukhari)
Bahkan dalam hadis yang sangat keras, beliau bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.” (HR Muslim)
Sabda ini sangat tegas. Keamanan dan kenyamanan tetangga adalah indikator keimanan. Jika tetangga kita merasa was-was, terganggu, bahkan takut dengan kehadiran kita, maka keimanan kita patut dipertanyakan.
Dalam fatwanya tentang “Pohon Menjulur ke Tetangga” (Fatwa 34 Tahun 2013), Majelis Tarjih bahkan mengajarkan bahwa jika terjadi sengketa dengan tetangga, misalnya dahan pohon yang menjulur ke pekarangan tetangga, maka penyelesaiannya harus dilakukan dengan musyawarah, dialog yang santun, dan tidak boleh merugikan salah satu pihak. Rasulullah sendiri ketika menghadapi sengketa antara Samurah bin Jundub dengan seorang sahabat Anshar, menegaskan: “Engkau adalah orang yang menimbulkan madarat (kesusahan).” Beliau kemudian memerintahkan untuk mencabut pohon kurma yang menjadi sumber gangguan.
Silaturahmi yang Wajib Dijaga
Selain memuliakan tetangga, Islam juga mewajibkan kita untuk menjaga silaturahmi. *Silaturahmi* atau *silaturahim* secara bahasa berarti menyambung tali kasih sayang. Dalam *concept notes* Tarjih, silaturahim didefinisikan sebagai hubungan kekeluargaan atau hubungan baik dengan orang lain yang wajib dijaga.
Kewajiban ini sedemikian kuat, sehingga dalam Fatwa 17 Tahun 2013 tentang “Sumpah dan Kafaratnya”, disebutkan bahwa seseorang yang bersumpah untuk meninggalkan sesuatu yang wajib yaitu bersilaturahim atau menjalin hubungan baik dengan orang lain, maka ia harus membayar kafarat. Artinya, bersumpah untuk tidak bersilaturahim pun tidak sah dan harus ditebus dengan kafarat. Betapa wajibnya menjaga hubungan ini dalam syariat kita.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS at-Taubah [9]: 119)
Dan firman-Nya lagi:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS al-Hujurat [49]: 10)
Prinsip ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan Islam) ini menuntut kita untuk menjaga hubungan baik, saling memaafkan, dan tidak memutuskan tali persaudaraan hanya karena perkara dunia yang sepele.
Bentuk-Bentuk Memuliakan Tetangga
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ
“Wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak kuah, maka perbanyaklah airnya, dan berikanlah sebagiannya kepada tetanggamu.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain, Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
لَا يَمْنَعْ جَارٌ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَهُ فِي جِدَارِهِ
“Janganlah seseorang melarang tetangganya untuk menyandarkan kayunya di dinding rumahnya.” (HR al-Bukhari)
Dari dua hadis ini, setidaknya ada tiga adab bertetangga yang bisa kita praktikkan:
- Saling memberi, sekecil apa pun. Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi. Air kuah yang diperbanyak saja sudah menjadi sedekah untuk tetangga.
- Saling memudahkan dan tidak mempersulit. Memberi kelonggaran untuk kebutuhan ringan tetangga adalah ajaran Nabi.
- Tenggang rasa — dalam istilah Keputusan Tarjih Ke-28 disebut *tenggang rasa*, yaitu kemampuan merasakan apa yang dirasakan tetangga. Jika ia senang, kita turut bergembira. Jika ia susah, kita membantu.
Dalam Fatwa 05 Tahun 2018 tentang Mendahulukan Membayar Utang ataukah Sumbangan, Majelis Tarjih juga menegaskan bahwa sikap bermasyarakat seorang muslim harus menunjukkan keteladanan, memuliakan tetangga, bermurah hati, menjenguk ketika sakit, dan mengasihi mereka sebagaimana mengasihi keluarga dan diri sendiri.
Akhlak Mulia: Ihsan sebagai Landasan
Konsep ihsan berbuat baik dengan penuh kesadaran bahwa Allah melihat, menjadi landasan utama dalam adab bermasyarakat. Dalam concept notes Tarjih, ihsan disebut sebagai perilaku baik yang diperintahkan kepada tetangga dan sesama.
Ihsan bukan sekadar tidak menyakiti, tetapi berbuat lebih. Seperti yang diajarkan dalam salah satu tuntunan Tarjih, membudayakan kalimah tayyibah (ucapan yang baik), membiasakan salam ketika masuk dan keluar rumah, serta menjenguk tetangga yang sakit adalah bagian dari akhlak mulia yang harus dibiasakan dalam keluarga muslim.
Akhirnya, marilah kita renungkan: masyarakat yang ideal adalah qaryah thayyibah, negeri yang baik dan diridai Allah. Itu dimulai dari rumah kita masing-masing. Dari cara kita menyapa tetangga. Dari cara kita berbagi makanan. Dari cara kita menahan diri untuk tidak mengganggu. Dan dari kesediaan kita untuk memaafkan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Mari buka kembali pintu silaturahmi yang mungkin telah lama tertutup. Mari ulurkan tangan kepada tetangga yang belum kita sapa. Karena di situlah keimanan kita diuji, dan di situlah keberkahan hidup bermasyarakat akan kita rasakan.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَافِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Telah kita renungkan bersama betapa agungnya ajaran Islam tentang memuliakan tetangga dan menjaga silaturahmi. Kini mari kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita mempraktikkannya?
Mari kita mulai dari hal-hal kecil:
- Biasakan mengucapkan salam ketika bertemu tetangga, meski hanya melewati depan rumahnya.
- Jika memasak, ingatlah tetangga di sekitar kita. Tak perlu mewah, yang sederhana pun jika diberikan dengan ikhlas akan menjadi amal jariyah.
- Jika tetangga sakit, jenguklah. Jika tetangga mendapat musibah, hiburlah. Jika tetangga sedang berbahagia, ucapkan selamat.
- Jaga lisan dan perbuatan agar tidak mengganggu tetangga, baik dengan suara bising, sampah, maupun pandangan yang tidak baik.
- Jika terjadi perselisihan, selesaikan dengan musyawarah dan santun, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dalam menyelesaikan sengketa Samurah bin Jundub.
Dalam Keputusan Tarjih Ke-28 disebutkan bahwa di antara pembinaan dalam keluarga sakinah adalah membiasakan silaturahim dengan tetangga, keluarga, dan sanak kerabat, terutama ketika ada musibah atau dalam keadaan gembira.
Oleh karena itu, jadikanlah rumah kita sebagai pusat kebaikan bagi lingkungan sekitar. Jadikanlah kehadiran kita sebagai rahmat bagi tetangga, bukan sebagai beban. Karena Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
أَقِمِ الصَّلَاة





