Khutbah Jum’at : Kemerdekaan, Sebuah Nikmat Untuk Disyukuri Atau Dikufur
Oleh : M. Abdurrasyid

Kemerdekaan, sebuah nikmat untuk disyukuri atau dikufur
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته،
الحمد لله ارسل رسوله بالهدي ودين الحق ليظهره علي الدين كله
اشهد ان لا اله الاالله واشهد ان محمدارسول الله
اللهم صل وسلم على محمد واله واصحابه
ايها المسلمون اوصيني واياكم بنقوى الله كما قال الله تعالى يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدً يصلح لكم اعمالكم ويغفر لكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما..
Hadirin jamaah Jumat rakhimakumullah
Di bulan ini, gegap gempita perayaan HUT kemerdekaan RI sudah terasa di mana-mana. Perayaan tersebut mayoritas diisi dengan berbagai lomba dan kegiatan hiburan yang begitu meriah namun lupa akan esensi sejarah dan makna kemerdekaan itu sendiri.Padahal kemerdekaan bangsa ini memiliki jalan yang begitu panjang dan diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa. Tidak sedikit pula bahkan sampai mengorbankan jiwa dan raga.
Hadirin rahimakumullah
Tanpa merasakan perjuangan kemerdekaan sesungguhnya, Kita mungkin saat ini menjadi manusia yang miskin dalam menjiwai perjuangan tersebut. Akibatnya kemerdekaan yang seharusnya menjadi wahana bersyukur malah meyeret Kita dalam kubangan kekufuran.
Hal tersebut merupakan salah satu sisi negatif dari manusia secara umum. Bahkan secara historis Kita bisa belajar dari fakta kaum nabi Musa AS ketika mereka terbebas dari cengkraman kedzaliman Fira’un. Allah SWT kemudian seperti menegaskan kemerdekaan bani Israil dari cengkraman Fir’aun bukannya membuat mereka tambah bersyukur. Justru yang mereka lakukan sebaliknya berupa kemaksiatan yang membuat mereka kufur. Sebagaimana termaktub dalam Q.S. Albaqarah ayat 50-51
وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ. وَاِذْ وٰعَدْنَا مُوْسٰىٓ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَنْتُمْ ظٰلِمُوْنَ.
(Ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkanmu dan menenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedangkan kamu menyaksikan(-nya).
(Ingatlah) ketika Kami menjanjikan (petunjuk Taurat) kepada Musa (melalui munajat selama) empat puluh malam. Kemudian, kamu (Bani Israil) menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan) setelah (kepergian)-nya, dan kamu (menjadi) orang-orang zalim.
Hadirin rahimakumullah,
Potensi kedzaliman dan kekufuran seperti yang dialami bani Israil sangat mungkin terjadi di masyarakat Kita saat ini. Jika pada waktu itu, bani Israil gagal bersyukur dalam kemerdekaannya sehingga secara tragis berakhir mendapat laknat. Tentu saat ini Kita tidak mau hal tersebut menimpa negeri tercinta ini. Oleh karena itu Kita harus menginsyafi bahwa kemerdekaan pada hakikatnya adalah nikmat sekaligus rahmat dari Allah SWT dan wajib disukuri.
Kesyukuran atas kemerdekaan caranya sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW tatkala beliau sudah berhasil hijrah ke Yatsrib. Hal penting yang beliau lakukan setelah terbebas dari belenggu kaum Quraisy adalah membangun peradaban manusia rabbabi secara monumental, yang dikemudian hari ini melahirkan Piagam Madinah. Berdasarkan piagam tersebut, kaum muslimin yang berkuasa di Madinah tidak menganggap rendah minoritas, tidak berbuat semena-mena kepada kaum papa, tidak pula mengintimidasi terhadap para rakyat jelata. Justru sebaliknya keberadaan Rasulullah pascahijrah dengan kemerdekaan berdakwahnya semakin menegaskan eksistensi risalah nubuwah yang diemban yaitu.
انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.
Hadirin rahimakumullah,
Berdasarkan risalah tersebut kita bisa belajar bahwa bila pondasi tauhid sudah tertancap kokoh, langkah Rasulullah membangun peradaban adalah dengan memastikan bahwa moralitas juga utuh ditegakkan.
Bagaimanapun juga, ketika moralitas hanya sebatas wacana atau sekadar formalitas, maka berbagai penyimpangan yang melahirkan kedzaliman akan mudah tumbuh subur di masyarakat. Hal ini tentu kontradiktif dengan semangat perjuangan yang menginginkan kemerdekaan pada masanya. Oleh karena itu, jangan sampai jerih payah para pejuang justru kita sia-siakan.
Mengisi kemerdekaan berarti membangun peradaban yang dilandasi kesyukuran. Hingga akhirnya bisa mendatangkan kenikmatan dan kerahmatan yang lebih banyak di kemudian hari. Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam surat Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ.
(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”
Hadirin rahimakumullah,
Ketika menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Abbas dalam tafsir Qurthubi menggaris bawahi bahwa kesyukuran adalah penyebab bertambahnya anugerah. Di lain pihak, jika merujuk pada tafsir Thabari,kesyukuran dimaknai sebagai ketaatan baik dalam hal perintah maupun larangan. Dengan demikian, kemerdekaan hari ini mari kita gunakan sebaik mungkin untuk mengaktualisasikan ketaatan pada Allah SWT. Sehingga pada akhirnya Kita tetap pantas bila mengharap diberikan tambahan anugerah dalam kehidupan di masa yang akan datang.
بارك الله ,لي ولكم في القران العظبم ونفعني واياكم بما فيه من الايات وذكرالحكيم اقول قولي هذا واستغفروه انه هو الغفور الرحيم
Khutbah kedua
الحمد لله كما امر
اشهد ان لا اله الا الله
واشهد ان محمد رسول الله
اللهم صل على محمد واله وصحبه ومن تبعه الى يوم القيامة
يا ايها الذين امنوا اتقواالله حق تقاته ‘لا تموتن الا وانتم مسلمون
ان الله وملائكته يصلون على النبي يا ايها الذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما
اللهم اغفرللمسلمين والمسلمات والمؤمنين واامؤمنات الاحياءمنهم والاموات
اللهماعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة قنا عذاب النار
سبحان ربك رب العزة عن ما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين
اقم الصلاة




