
Belajar Ikhlas di Muhammadiyah
Oleh : Didi Eko Ristanto
Jika seseorang ingin belajar ilmu, belajar beramal, sekaligus belajar ikhlas, maka Muhammadiyah adalah salah satu tempat yang layak dipilih.
Di Muhammadiyah, yang biasanya dibesarkan bukanlah nama orangnya, melainkan amalnya. Sering kali seseorang bekerja bertahun-tahun, mengurus sekolah, masjid, rumah sakit, panti asuhan, atau berbagai kegiatan dakwah, tetapi namanya tidak banyak dikenal. Bahkan terkadang seolah-olah sengaja disembunyikan. Yang ditonjolkan bukan siapa pelakunya, melainkan dakwah Islam yang diperjuangkan melalui Muhammadiyah. Inilah salah satu pelajaran besar tentang keikhlasan.
Manusia pada dasarnya senang dipuji, senang disebut, senang dihargai. Namun di Muhammadiyah, seseorang sering kali harus rela bekerja tanpa sorotan. Amal berjalan, organisasi berkembang, manfaat dirasakan masyarakat, tetapi pelakunya tetap berada di belakang layar.
Muhammadiyah adalah organisasi yang besar. Amal usahanya tersebar di berbagai daerah. Memiliki sekolah, universitas, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai lembaga yang nilainya sangat besar. Jika dilihat dari aset dan jaringannya, ia tampak megah seperti sebuah kerajaan.
Tetapi yang menarik, tidak ada raja di dalamnya.
Tidak ada sosok yang harus dipuja-puja. Tidak ada figur yang perkataannya tidak boleh dikoreksi. Sistem yang dibangun sejak awal justru berusaha mencegah lahirnya budaya kultus individu. Jabatan datang dan pergi. Pemimpin berganti. Yang tetap dijaga adalah persyarikatan dan cita-cita dakwahnya.
Siapa pun yang berusaha menjadi “raja” biasanya akan kesulitan bertahan, karena budaya organisasi ini tidak memberi ruang bagi sikap-sikap feodal. Yang dihormati adalah amanahnya, bukan orangnya. Yang dijaga adalah sistemnya, bukan kebesaran individunya.
Menjadi kiai atau ustaz di Muhammadiyah pun memiliki nuansa yang berbeda. Seorang ustaz dihormati karena ilmunya, tetapi tidak didewakan. Ia tetap manusia yang bisa salah. Ia bisa dikritik, bisa dikoreksi, dan bisa diajak berdiskusi.
Hubungan antara ustaz dan jamaah sering kali lebih mirip hubungan sahabat dalam menuntut ilmu daripada hubungan antara raja dan rakyatnya.
Tradisi ini mengingatkan kita kepada kehidupan para sahabat Rasulullah ﷺ. Setelah Rasulullah wafat, para khalifah tidak hidup dalam suasana pengkultusan. Mereka tetap terbuka terhadap nasihat dan kritik.
Khalifah Umar bin Khattab pernah dikoreksi di hadapan banyak orang oleh seorang wanita mengenai persoalan mahar. Umar tidak marah. Beliau justru menerima kebenaran tersebut dan mengakui kekeliruannya.
Begitulah suasana yang diwariskan generasi awal Islam. Yang diagungkan adalah kebenaran, bukan pribadi. Yang dicari adalah ridha Allah, bukan popularitas.
Karena itu, Muhammadiyah menjadi tempat yang baik untuk belajar ikhlas. Kita belajar bahwa tidak semua amal harus diketahui orang. Tidak semua kerja keras harus mendapat pengakuan. Tidak semua jasa harus disebutkan siapa nama di baliknya.
Kita juga belajar zuhud dalam bentuk yang lebih modern. Bukan sekadar meninggalkan harta, tetapi meninggalkan ambisi untuk selalu tampil di depan, selalu dipuji, dan selalu menjadi pusat perhatian.
Di Muhammadiyah, seseorang bisa menghabiskan umur puluhan tahun mengabdi tanpa pernah menjadi tokoh terkenal. Namun dari tangannya lahir sekolah, masjid, rumah sakit, dan generasi-generasi yang mendapat manfaat. Dan mungkin justru di situlah letak kemuliaannya.
Sebab pada akhirnya, yang akan kita bawa menghadap Allah bukanlah popularitas kita, bukan jabatan kita, dan bukan banyaknya orang yang mengenal nama kita. Yang akan kita bawa adalah amal yang ikhlas.
Di Muhammadiyah, kita diajarkan bahwa yang harus besar adalah Islam. Yang harus besar adalah dakwah. Yang harus besar adalah manfaat.
Sedangkan diri kita, biarlah menjadi kecil.
Karena ketika manusia berusaha mengecilkan dirinya demi membesarkan agama Allah, justru di sisi Allah itulah ia menjadi besar.
Bukankah biji yang bisa tumbuh sehat menjadi pohon yang kuat adalah biji yang ditimbun dalam tanah? Adapun biji yang di atas lemari kaca tidak jadi apa-apa.
Cilacap, 05 Juni 2026




