AkhlaqAqidahArtikel
Trending

Ketegasan di Tengah Arus: Menolak Normalisasi Maksiat Bersama Nabi Luth AS

Kisah Teladan para Nabi dan Rasul

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’in ‘alaa umuuriddunya waddiin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin online yang dimuliakan Allah,

Di era digital dan media sosial saat ini, kita menghadapi sebuah fenomena sosial yang cukup mengkhawatirkan, yaitu fenomena “Normalisasi Maksiat”. Sesuatu yang dulunya dianggap tabu, melanggar norma, atau berdosa, perlahan-lahan dipertontonkan secara terbuka. Karena terus-menerus diulang dan disebarkan, hal-hal yang menyimpang itu akhirnya dianggap biasa, dimaklumi, bahkan dianggap sebagai tren kebebasan berekspresi.

Ketika kemaksiatan sudah dianggap wajar oleh mayoritas masyarakat, menyuarakan kebenaran menjadi tugas yang sangat berat. Orang yang berpegang teguh pada syariat sering kali justru dianggap aneh, kuno, atau tidak toleran. Jika kita merasa situasi ini sangat berat, mari kita menengok perjuangan seorang utusan Allah yang pernah berdiri sendirian menghadapi satu kota yang seluruh penduduknya telah menormalisasi penyimpangan terburuk. Beliau adalah Nabi Luth ‘alaihissalam.

Nabi Luth AS adalah keponakan Nabi Ibrahim AS yang berhijrah dan kemudian diutus ke negeri Sadum/sodom. Penduduk negeri Sadum saat itu telah kehilangan kompas moralnya. Mereka tidak sekadar melakukan kejahatan biasa seperti merampok, tetapi mereka menciptakan sebuah penyimpangan fitrah seksual yang belum pernah dilakukan oleh manusia mana pun di muka bumi sebelumnya.

Penyimpangan ini dilakukan secara terang-terangan dan dibanggakan di ruang publik. Dalam situasi di mana seluruh sistem masyarakat telah rusak, Nabi Luth tidak diam atau ikut-ikutan berkompromi dengan alasan “menyesuaikan diri dengan lingkungan“. Beliau berdiri dengan ketegasan luar biasa, mendakwahi mereka agar kembali kepada fitrah yang suci.

Ketegasan dan keberanian Nabi Luth dalam menegur kaumnya ini diabadikan secara jelas oleh Allah SWT dalam QS. Al-A’raf [7] ayat 80-81:

 

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦٓ أَتَأْتُونَ ٱلْفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ ٱلْعَٰلَمِينَ . إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ

 

Yang artinya: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji (fahisyah) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun di dunia ini sebelum kamu? Sungguh, kamu mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwatmu, bukan kepada perempuan. Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.'”

Mari kita petik pesan utama dari ayat yang mulia ini.

Pertama, Al-Qur’an menggunakan istilah musrifun (kaum yang melampaui batas). Allah menciptakan manusia dengan fitrah dan batas-batasnya. Menyukai lawan jenis dan membangun pernikahan yang sah adalah fitrah. Ketika batas itu diterjang, maka tatanan kemanusiaan akan runtuh. Nabi Luth mengajarkan ketegasan berprinsip; bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh suara mayoritas. Meskipun seluruh penduduk negeri Sadum menganggap perbuatan mereka itu wajar, maksiat tetaplah maksiat di hadapan Allah.

Kedua, dakwah Nabi Luth adalah dakwah kasih sayang untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran. Beliau tidak membenci personal kaumnya, namun beliau sangat membenci kemaksiatannya. Ketegasan ini pada akhirnya memisahkan orang-orang yang taat dari azab hujan batu yang membinasakan kota tersebut.

Bagaimana kita menerjemahkan ketegasan Nabi Luth ini dalam keseharian kita di zaman sekarang?

Bagi rekan-rekan pemuda, pelajar, dan mahasiswa; saat ini arus media sosial begitu deras menjejali kita dengan berbagai tren. Mulai dari tren pergaulan bebas, cara berpakaian yang menabrak batas aurat, hingga kampanye-kampanye yang mengaburkan batasan fitrah laki-laki dan perempuan. Terkadang, jika kita menolak ikut-ikutan tren tersebut, kita dijauhi teman atau di-bully.

Ingatlah keteguhan Nabi Luth. Jangan pernah menggadaikan iman dan akal sehat demi sebuah likes, followers, atau agar diterima dalam sebuah lingkaran pertemanan yang salah. Jika sebuah lingkungan pergaulan mewajarkan perbuatan dosa, beranilah berkata “Tidak!.” Jadilah generasi yang memiliki prinsip yang kokoh. Lebih baik kehilangan teman karena mempertahankan ketaatan, daripada kehilangan rahmat Allah karena ikut-ikutan menormalisasi kemaksiatan.

Bagi kita semua di masyarakat, kisah Nabi Luth memberi peringatan keras tentang pentingnya membentengi keluarga. Ujian terberat Nabi Luth bukanlah dari orang luar, melainkan dari istrinya sendiri yang ternyata sepaham dengan orang-orang zalim tersebut. Ini mengingatkan kita bahwa hidayah tidak bisa diwariskan secara otomatis. Kita harus aktif mendidik keluarga kita, mengawasi tontonan anak-anak kita di internet, dan memastikan rumah kita menjadi benteng tauhid yang melindungi mereka dari virus penyimpangan moral di luar sana.

Oleh karena itu, mari kita kuatkan fondasi keimanan kita. Jangan pernah diam jika melihat kemungkaran di depan mata, namun sampaikanlah kebenaran itu dengan cara yang beradab dan mencerahkan. Mari kita jaga kesucian fitrah yang telah Allah anugerahkan kepada kita.

Mari kita tundukkan hati sejenak, memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT.

Ya Allah, Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati. Karuniakanlah kepada kami keteguhan iman sebagaimana yang Engkau karuniakan kepada Nabi Luth ‘alaihissalam. Jauhkanlah kami, anak-anak kami, dan keluarga kami dari segala bentuk penyimpangan fitrah dan kemaksiatan yang membinasakan. Berikanlah kami keberanian untuk menyuarakan kebenaran, dan jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa istiqamah di jalan yang lurus.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.

Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

Nashrun minallahi wa fathun qariib.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Check Also
Close
Back to top button