Kata Hikmah Luqman Al Hakim Dalam Mendidik Anak

Luqman Al Hakim adalah seorang yang diberikan hikmah oleh Allah, seperti disebutkan dalam firman-Nya,
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: ‘Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”. (QS. Luqman :12)
Hikmah tersebut meliputi ilmu, agama, kejujuran dan kebenaran dalam ucapan, dan kata-kata bijak.
Siapa Luqman Al Hakim ?
Mujahid berkata, “Luqman adalah seorang budak kulit hitam dari Habasyah, kedua bibirnya tebal dan kedua telapak kakinya lebar. Suatu Ketika ia duduk di majelis dan berceramah di hadapan orang-orang. Tiba-tiba datang seorang laki-laki menemuinya dan bertanya kepadanya, “Tidakkah engkau tadinya seorang penggembala kambing di tempat ini dan itu?” Luqman menjawab, “Ya, benar.” Laki-laki tersebut kembali bertanya, “ Lantas apa yang membuatmu bisa mencapai kedudukan terhormat seperti yang aku lihat sekarang?” Luqman menjelaskan. “Jujur dalam perkataan dan diam dalam urusan yang tidak perlu.”
Karena kata-kata hikmah yang penuh dengan kebijaksanaan itulah beliau di jukuli Al Hakim
Apa Saja Kata hikmah Luqman Al Hakim dalam mendidik putranya, semua tertuang dalam Al Qur’an sebagai berikut :
JANGAN MENYEKUTUKAN ALLAH
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ ۟
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman:13)
Dalam tafsir Ibnu Katsir berkata, “Luqman berpesan kepada anaknya, anak yang ia sayangi dan yang berhak mendapat pemberian terbaik dan paling utama dari pengetahuannya . Dalam nasehat pertama, Luqman berpesan agar anaknya menyembah Allah semata, dan tidak menyekutukan_nya dengan sesuatu apapun, seraya memberikan peringatan, “, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.”
TIADA AMAL YANG TERSEMBUNYI DARI ALLAH
يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
“(Luqman berkata), ”Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.” (QS. Luqman :16)
Dalam penjelasan tersebut Ibnu Katsir mengatakan bahwa meskipun amal sekecil dzarrah (atom) itu dibentengi dan ditutupi, berada dalam batu besar, atau hilang dan lenyap di kolong angit dan bumi, Allah pasti membalasnya. Demikian ini karena tiada sesuatupu yang tersembunyi dari pandangan Allah, ). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.”
Luqman memberi nasehat kepada putranya untuk tidak meremehkan amal baikan walapun kecil karena pasti Allah melihat dan akan membalas kebaikannya, begitu juga jangan meremehkan amal buruk, walaupun amal buruk kecil dan tersembunyi pasti Allah melihat dan juga akan membalasnya.
- MENDIRIKAN SHALAT, AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR, DAN SABAR
يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٧
“Hai anakku, laksanakanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman:17)
Dalam tafsir, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perintah “dirikanlah shalat” artinya dengan mendirikan sesuai aturan-aturanya, dengan segenap fardhu-fardunya dan tepat waktu. Perintah “suruhlah mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar” artinya perintahkankah untuk mengerjakan kebajikan dan laranglah dari yang mungkar sesuai kemampuan dan usaha keras yang dimilki. Sementara perintah ”bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu” artinya adalah sesungguhnya orang yang memerintahkan kebajikan dan mencegah yang mungkar pasti akan berhadapan dengan orang yang memberikan penentangan, maka luqman berpesan untuk tetap bersabar menghadapi hal yang demikian.
- JANGAN SOMBONG, JANGAN ANGKUH
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri”. (QS. Luqman :18)
Ibnu Katsir mengatakan , “janganlah engkau bersikap sombong dengan meremehkan hamba-hamba Allah dan jangan memalingkan muka ketika mereka berbicara denganmu.”
Al Qurthubi mengatakan . “yang dimaksud berjalan dengan langkah yang angkuh dan sombong tanpa ada keperluan karena merupakan sikap orang yang sombong dan besar diri.
- SEDERHANA DALAM BERJALAN DAN MERENDAHKAN SUARA
وَاقْصِدْ فِى مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۗ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
“Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”. (QS. Luqman :19)
Al Qurthubi mengatakan bahwa setelah Luqman memperingatkan waspada terhadap akhlak yang tercela, dia lalu menggambarkan kepada anaknya akhlak mulia yang harus dikenalkannya, maka luqman mengatakan “Dan sederhanakanlah dalam berjalan”
“Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”. Al qurthubi menjelaskan bahwa makna ayat di atas adalah “kurangilah dari suaramu yang keras itu”, artinya janganlah kamu memaksakan diri berbicara dengan suara yang keras, kecuali dalam situasi yang diperlukan, karena suara yang keras yang melebihi kebutuhan adalah sikap yang mengganggu. Makna yang dimaksud dari keseluruhan adalah berlaku tawadhu’lah (rendah hati).
Berikut adalah penjabaran hikmah nasihat Luqman kepada anaknya:
- Menauhidkan Allah dan menjauhi syirik:
Luqman menasihati anaknya untuk tidak menyekutukan Allah, karena syirik adalah dosa terbesar yang akan merusak segalanya.
- Berbakti kepada orang tua:
Mengingat pengorbanan orang tua dalam mengandung dan membesarkan, Luqman menyuruh anaknya berbuat baik dan patuh kepada orang tua, kecuali jika mereka memaksa untuk berbuat maksiat.
- Mendirikan shalat:
Menekankan pentingnya shalat sebagai bentuk ibadah kepada Allah dan menegakkan agama.
- Beramar maruf dan nahi munkar:
Mengajak dan menyuruh berbuat kebaikan serta mencegah kemungkaran, merupakan bagian dari mendidik diri dan masyarakat.
- Bersabar:
Mendorong untuk bersikap sabar saat menghadapi musibah, karena di setiap kesulitan pasti ada hikmah tersembunyi yang mungkin baru disadari di kemudian hari.
- Tidak bersikap sombong:
Mengajarkan sikap tawadhu (rendah hati) dan tidak merasa lebih baik dari orang lain, serta tidak memandang hina orang lain.
- Bersyukur atas nikmat Allah:
Mengajarkan agar selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan, dan meyakini bahwa takdir yang diberikan adalah yang terbaik.
- Menyederhanakan cara berjalan dan merendahkan suara:
Mengajarkan kesederhanaan dalam bersikap dan bertutur kata, menunjukkan sifat rendah hati.
- Mencari rezeki yang halal:
Menasihati anaknya agar tidak bermalas-malasan dan berusaha mencari rezeki yang halal, karena kemalasan dapat melemahkan agama, akal, dan kehormatan diri.
- Menyadari pengawasan Allah:
Mendidik agar selalu sadar bahwa Allah mengetahui setiap perbuatan dan akan membalasnya.
Demikian semoga bermanfaat. Aamiin.
Oleh : Khoiruman, S.IP (Mahasiswa Sekolah Tabligh PWM Jateng di Banjarnegara)




