Rahasia Meraih Kesuksesan dan Kebahagiaan Sejati
Oleh : Masyhuda Darussalam (Alumni Sekolah Tabligh PWM Jateng)

Dalam kehidupan ini tentunya kita berharap mendapati kesuksesan, kebahagiaan dan dua hal dimaksud dapat berkelanjutan di setiap tempat yang kita akan pijak. Bukan hanya di dunia, tapi juga Insya Allah saat di alam kubur, pun demikian saat berkehidupan abadi di akhirat kelak. Untuk itulah kita seringkali berdoa semoga di dunia ini kita mendapatkan kebaikan dalam berkehidupan dan di akhirat pun mendapatkan kebaikan dalam berkehidupan.
.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka.
Demikian seperti diajarkan di dalam Alquran surah al-baqarah ayat 201 itu. Alquran menampilkan satu peta jalan yang mengantarkan setiap hamba pada kehidupan yang sangat ideal. Berada selalu dalam naungan petunjuk Allah SWT yang dengan itu dapat mengantarkan percepatan hamba dimaksud meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Di dalam bahasa Arab sukses dan bahagia disebut dengan Falah (فلاح) jika itu dapat digenggam maka disebut dengan aflah أفْلَحَ . Orang yang dapat menggenggam kesuksesan dan kebahagiaan dinamakan dengan muflih مُفْلِح jamaknya disebut dengan muflihuun (المفلحون). Orang-orang yang berada dalam naungan petunjuk Allah SWT yang dengan itu dia dibimbing untuk dimudahkan beraktivitas dilindungi dari berbagai macam gangguan diberikan petunjuk yang memudahkan mencapai harapan maka setidaknya mereka berada dalam naungan petunjuk dan kebaikan’Ala hudan (عَلَى هُدًى) jika kita gabungkan berada dalam petunjuk perlindungan yang diberikan oleh Allah dan orang-orang ini mampu cepat meraih kesuksesan dan kebahagiaan maka dua bagian ini kalau kita satukan menjadi Ulaika ‘ala hudam mir rabbihim wa ulaika humul muflihun” (أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ) . Kalimat ini tertuang dalam satu ayat yang utuh di dalam Alquran yaitu surah al-baqarah di ayat yang kelima. Sekaligus memberikan Anda kepada kita bahwa ada orang-orang yang sangat mudah beraktifitas memiliki petunjuk yang jelas dan cepat menggapai kesuksesan dan kebahagiaan. Siapa mereka itu? Bagaimana cara mendapatinya? di sinilah kita akan mencoba meringkas itu semua secara singkat dan padat tentunya.
Ulaaika (أُولَئِكَ) mereka itu maka dikembalikan lah mereka itu yang memiliki ciri-ciri pada ayat-ayat yang sebelumnya. Jika tadi ditampilkan capaiannya di ayat 5 maka kita dapatkan di ayat ke-4, ayat ke-3 dan ayat ke-2 yang merangkum seluruh langkah menuju kebahagiaan dan kesuksesan sejati dimaksud ada lima hal yang kelimanya kita bisa sarikan khususnya dari ayat 3 dan 4 terkait dengan jalan cepat menuju kesuksesan dan kebaikan serta kebahagiaan yang sejati.
Pertama Allazina yu’minuuna bil ghaibi (ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ) yaitu orang-orang yang selalu mengupgrade imannya kepada Allah sekalipun Allah belum nampak secara langsung dalam pandangannya. Jadi syarat pertama seseorang ingin mendapatkan kedekatan dengan Allah sehingga ketika terbangun relasi yang dekat ini aksesnya terbuka untuknya. Jika seluruh akses terbuka maka tentu konsekuensinya kesuksesan kebahagiaan mudah sekali didapat dalam kehidupan ini bisa ditafsirkan dengan logika yang sangat sederhana. Kita memiliki akses di manapun dalam keadaan apapun, akses mempercepat harapan dari apa yang ingin kita capai tidak ada yang semisal dengan Allah”Laisa kamitslihi syai’un” (لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ), namun dalam kehidupan duniawi kita saja orang yang punya akses kepemimpinan mudah sekali mendapatkan beragam macam bentuk kemudahan dalam beraktivitas demikian seterusnya. Maka, bagaimana dengan orang yang memiliki akses yang sangat kuat kepada Allah SWT. Maka, dengan akses yang kuat itu pendekatan yang lebih itu Allah pun membuka seluruh jalur-jalur kemudahan dalam berkehidupan baik itu di dunia di alam kuburnya sebelum wafat wajahnya tersenyum saking bahagianya dia mendapatkan satu paparan keindahan yang akan diraih setelah dia wafat itu.Tapi dia memahami itu sebagai janji yang pasti yang akan ia peroleh.
Syarat pertama adalah berusaha untuk terus meningkatkan iman. Tidak sekedar beriman ada Aamanuu (آمَنُوا) telah beriman ada Yu minuuna (يُؤْمِنُونَ) selalu meningkatkan kualitas imannya selalu mengupgrade keadaannya. maka syarat yang kedua sekaligus juga menjawab dari paparan yang pertama Bagaimana cara kita meningkatkan iman kita mengupdate Iman sehingga dengan itu terbangun satu relasi yang kuat dengan Allah SWT. Maka yang kedua Wa yuqiimunas salaata” (وَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ) berupaya menunaikan salat dengan sempurna sesuai kemampuan kita. Ciri orang yang selalu berusaha meningkatkan iman dan membangun kedekatan lebih dengan Allah SWT pembuktian pertamanya dengan berupaya menunaikan salat semaksimal mungkin sebaik mungkin bisa berisi pemaknaan kuantitas ada orang yang mencukupkan shalat fardhu saja yang penting Subuh, Dzuhur, Asar, Maghrib, Isya ditunaikan.tapi orang-orang yang ingin meningkatkan keimanannya kepada Allah membangun hubungan yang lebih dekat, lebih kuat dia coba ikut dengan sunnahnya sebelum subuh ada sunnahnya ia kejar antara subuh dendan Dzuhur ada salat sunnah apa saja dia coba rinci dia coba berusaha menunaikan sesuai kemampuannya. Kemudian sebelum Dzuhur ada sunah apa saja setelah Dzuhur ada sunnah apalagi pun demikian di Asar, di Maghrib, di Isya pun dipertengahan malam sesuai kemampuan. Kemudian dia mengeluarkan tema-tema terkait dengan salat, waktu-waktu terkait dengan salat. Maka dia berusaha menunaikan rakaat bisa dia tingkatkan. Pasti ada perbedaan, orang yang sekedar menunaikan salat fardu dibanding dengan yang menambah meningkatkan dengan sunnah akan terasa perbedaan pada dirinya. dan dengan perbedaan itu terasa konektivitas hubungan yang terbangun antara seorang hamba dengan Allah sang pencipta pasti juga berbeda dan dampaknya akan lain.
Orang-orang yang memiliki konektivitas yang baik dengan Allah melatih pertama kali dengan kuantitas dengan jumlah. Setelah itu akan berpengaruh pada kualitas Yuqiimuuna (يُقِيمُونَ) bukan sekedar menunaikan tapi ia merasakan kekhusukan di dalamnya kenikmatan dalam menunaikan salat. Maka selanjutnya mulai mencoba memahami, Mengapa tangannya mengangkat seperti ini? Kenapa Harus baca Allahu akbar? Apa maknanya Allahu akbar ? Kemudian juga dia berupaya memahami iftitah,berupaya memahami Alfatihah sehingga 3 bagian tubuhnya berfungsi secara maksimal saat menunaikan salat. Tangannya bergerak, lisannya bicara, organ tubuh bagian luar. Kemudian pikirannya menerjemahkan mulai bagian dalam, intinya nanti rasa hati yang merasakan. Ketika lisan yang bicara Allahu Akbar pikiran menerjemahkan Allah Maha Besar hati meresapi. Ya Allah aku berikrar Engkau Yang Maha Besar Engkau yang Maha Agung namun dalam keseharian sering kali aku membawa keagungan keangkuhandan itu menjadi hal yang tidak baik masuk ke iftitah.Sebagai bagian dari komitmen untuk memperbaiki diri menjauhkan dari kekurangan dari kesalahan membangun kesalehan dan kebaikan-kebaikan baru itu dampaknya sudah sangat luar biasa.
Jadi bila itu kita latih akses terbuka setelah kita mendapatkan akses itu bagaimana membangun sifat yang ketiga Wa mimma razaqnahum yunfiqoon” (وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ) adalah orang-orang yang mampu berbagi kebaikan dirinya dengan meningkatkan kemuliaan sosialnya. Jadi ada amalan sosial, setelah baik secara individu, secara pribadi dia bagi kebaikan itu secara komunal secara sosial. Jadi, satu meningkatkan keimanan, dua melatih dengan menunaikan salat terkoneksi dengan Allah dan pancarkan kebaikan personal itu dalam komunitas sosial, berbagi dengan ilmunya dan dia punya ilmu berbagi dengan materi. Jika yang memiliki kelebihan materinya berbagi dengan sifat-sifat baik minimal dengan senyuman. Maka nilai-nilai itu akan mempercepat kebaikan-kebaikan yang mampu dia raih. Kebahagiaan bisa diraih ketika berbagi sifat-sifat kebaikan dengan orang lain. Walaupun dengan senyuman yang membahagiakan orang “Tabassumuka fii wajhi akhiika shodaqoh” (تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ) senyummu yang membahagiakan saudaramu itu bagian dari sedekah..Itulah sifat sosial yang baik, kemudian kita ada dengan materi, ada dengan pengetahuan. Maka, orang-orang yang menerima pembagian-pembagian nilai kebaikan itu dengan aspek nilai kesalehan sosial tadi tanpa disadari membuka jaringan membuka perlindungan yang telah Allah buat sistemnya bermacam macam secara alami sunnatullah dengan macamnya, sunnah yang diletakkan sebagai hukum berkehidupan yang sifatnya universal.
Kemudian yang keempat tentu untuk melakukan itu semua meningkatkan iman, menunaikan salat dengan baik, mengoptimalkan sifat sosial itu semua pasti memerlukan panduan, tidak bisa kerjakan sendiri.Maka kembali kepada panduan berkehidupan dan turunlah yang keempat:(Walladzîna yu’minûna bimâ unzila ilaika wa mâ unzila ming qablik)
وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَۚ َۗ
Orang-orang ini berupaya menjadikan Alquran sebagai pedoman berkehidupan. Allah menyampaikan dengan sangat terang, sangat jelas, bahwa Alquran ketika diturunkan fungsinya bukan sekedar untuk dibaca tapi kurikulum kehidupan yang mengantarkan seluruh keadaan hidup kita menuju kebahagiaan dan kesuksesan sejati. Maka kurang lebih 6236 ayat, 114 surat, 30 juz itu isinya adalah kurikulum kehidupan. Kita keluarkan tema-tema kehidupan dari ayat-ayat yang sangat indah, yang terang dan jelas petunjuknya secara tematik. Tema tentang pokok kehidupan dan fungsi tubuh kita, bagaimana mata harus melihat, telinga mesti mendengar, lisan berbicara sampai ke ujung kaki. Bagaimana panduan dalam menjalani aktivitas hidup sebagai seorang misalnya profesional yang pebisnis yang di birokrasi, yang di diplomasi, ada yang mengajar, ada yang berdagang dan sebagainya.
Dikeluarkan ayatnya lalu dilihat detailnya pada petunjuk kehidupan Nabi dan belajar. Orang-orang terdahulu ketika menjalankan petunjuk di eranya seperti apa hasilnya. Di sempurnakan di era Nabi Muhammad SAW diwariskan kurikulumnya sampai sekarang Al-qur’annya tidak berubah dan orang-orang yang menjalani hidup setiap generasi didapatkan pencapaian tertinggi yang membangun peradaban.Sebaliknya ketika itu dijauhi apalagi ditinggalkan naudzubillah maka yang muncul ketertinggalan kemudian kejatuhan terjerembab. Bisa dilihat perjalanan sejarah semakin warisan itu digunakan semakin cepat mendapatkan satu kemajuan kecerahan dan kebaikan. Dan ketika jatuh peradaban itu, riset menunjukkan kejatuhan itu diakibatkan oleh terlenanya pada dunia yang dirasakan dan mulai menjauh dari kurikulum kehidupan yang telah digariskan pada Al Qur’an.
Kemudian yang kelima, yang terakhir adalah wa bil-âkhirati hum yûqinûn mereka yakin dengan kehidupan akhirat sehingga menjadikan akhirat sebagai project yang terpenting dari semua berbagai macam perjalanan hidup. Tentunya akhirat adalah ujung kehidupan kita setiap kita berpindah satu tempat kita akan menyiapkan bekal, yang ingin liburan ke kota lain saja kita menyiapkan bekal, ingin liburan ke negara lain tujuannya saat tiba di tempat itu kita mendapatkan kehidupan yang memberikan kenyamanan. Pertanyaan akhirnya adalah ditempat kita berkehidupan dan tidak ada tempat lagi untuk kita tuju tidak ada perpindahan abadi ada di situ, bekal apa yang sudah kita siapkan. Maka orang cerdas adalah orang yang berupaya mencari bekal terbaik disetiap tempat yang akan dia tinggali sekalipun hanya transit. dan di antara yang tercerdas itu, dia mengumpulkan bekal paripurna untuk tempat abadinya. Dari tempat itulah dia akan hidup selamanya, dan tidak akan berpindah kembali.
5 hal diatas jika dihadirkan dalam kehidupan kita maka menghadirkan ayat yang kelima dalam surat Al Baqarah tersebut : “Ulaika ala hudam mir rabbihim wa ulaika humul muflihun” (اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ) mereka itu yang mampu meningkatkan keimanannya kepada Allah dengan berupaya melatih itu melalui pelaksanaan salat yang baik lalu mengoptimalkan nilai nilai itu dalam konteks kehidupan sosial, menjadikan Al Quran sebagai panduan hidup. Terlihat pada praktek di zaman zaman dulu dengan di praktekan dengan nilai nilai kekinian sesuai dengan eranya lalu menjadikan akhirat sebagai proyek terbaiknya. Itulah Ulaika ala hudam mir rabbihim ,orang-orang yang akan selalu berada dalam petunjuk Allah sehingga memudahkan dia meraih kebahagiaan kesuksesan berada dalam perlindungan. wa ulaika humul muflihun, dan pastilah orang orang itu akan selalu merasakan kebahagiaan dan kesuksesan yang sejati. 5 hal tersebut ketika dikerjakan dengan raihan tadi hanya akan mampu dilakukan oleh orang-orang yang disebut dalam Alquran sebagai orang yang bertakwa .Zalikal kitabu yang artinya isi al qur’an itu yang sangat indah yang jauh dari gambaran kita yang punya keagungan yang tinggi.lā raiba fīh, tidak pernah ada keraguan di dalamnya. Kita harus yakin jangan pernah meragukan satu ayatpun bahkan satu huruf di dalam Al Qur’an . Maka jika itu bisa kita yakini dengan optimal keyakinan itu harus membuat kita mampu untuk menggali pemahaman dalam Al Qur’an dan megoptimalkannya. Maka jadilah dia petunjuk. Siapa yang bisa melakukan itu? hudal lil-muttaqīn N semua kurikulum kebaikan dan petunjuk itu hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang bertakwa. Maka ketika Khatib Jumat mengatakan “ Mari kita tingkatkan takwa” jika dalam pengajian dibuka dengan peningkatan takwa sejatinya takwa itu mengantarkan kita kepada kebahagiaan dan kesuksesan yang sejati. Siapapun yang mampu meningkatkan takwa, maka dia berpeluang mendapatkan beragam solusi dari berbagai persoalan kehidupan yang dihadapi bahkan rizki pun boleh jadi akan mengalir kepadanya dari sisi yang tidak dia duga. Jadi, tingkatkanlah ketaqwaan kalian kepada Allah maka kalian akan cenderung mendapati kesuksesan dan kebahagiaan yang sejati. Tingkatkanlah ketaqwaan kalian kepada Allah dan Allah akan berkenan mengajarkan kepada kalian pengetahuan pengetahuan yang baru. Taqwa ada pada pengetahuan, taqwa ada pada kebahagiaan, taqwa adalah solusi berkehidupan. Pertanyaanya, siapa diantara kita yang mengaku sebagai insan yang beriman? Terlebih yang membaca artikel ini yang berupaya memotivasi dirinya untuk meningkatkan taqwanya kepada Allah dan mendapati janji Allah sebagai sesuatu yang pasti untuk diraih.




