Mukmin Dan Munafik Dalam Literasi Al Qur’an
Oleh : Agus Miswanto, MA (Dosen Prodi HES UNIMMA)

« عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالأُتْرُجَّةِ: رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالتَّمْرَةِ: لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ: رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ: لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا مُرٌّ» رواه البخاري و مسلم
Dari Abu Musa al-Asy’ari RA, dari Nabi SAW bersabda: Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah utrujjah: harum baunya dan enak rasanya. Mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma: manis rasanya namun tidak berbau. Munafik yang membaca Al-Qur’an seperti raihan: harum baunya namun pahit rasanya. Dan munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti hanzhalah: pahit rasanya dan tidak berbau. (HR al-Bukhari dan Muslim)
Pendahuluan
Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari ini merupakan salah bentuk hadis dimana Rasulullah ﷺ menggunakan metafora alamiah untuk menggambarkan kualitas spiritual dan intelektual manusia. Hadis ini secara eksplisit memetakan derajat interaksi manusia dengan wahyu melalui perumpamaan empat jenis tumbuhan dan buah-buahan yang memiliki karakteristik sensoris berbeda, yakni utrujjah (jeruk besar), tamrah (kurma), rayhanah (kemangi atau bunga harum), dan hanzhalah (labu pahit). Penggunaan perumpamaan ini bukan sekadar alat retorika sederhana, melainkan sebuah metode pedagogis tingkat tinggi yang menyederhanakan konsep abstrak tentang iman dan nifaq ke dalam kategori yang mudah dipahami melalui panca indera, sekaligus memberikan kerangka evaluasi bagi kualitas literasi umat Islam. Melalui narasi ini, pembaca diajak untuk mengevaluasi posisi mereka dalam spektrum interaksi dengan Al-Qur’an, yang mencakup dimensi batiniah (iman sebagai rasa) dan dimensi lahiriah (tilawah sebagai aroma).
Hadis yang menjadi objek kajian ini bersumber dari Abu Musa Al-Asy’ari, seorang sahabat yang dikenal memiliki suara sangat indah saat melantunkan Al-Qur’an, yang oleh Rasulullah ﷺ disebut sebagai “seruling dari keluarga Daud.” Konteks narator ini memberikan dimensi tambahan pada pemahaman hadis; bahwa literasi Al-Qur’an bukan sekadar masalah teknis, melainkan estetika dan kedalaman rasa. Hadis ini tercatat dalam kompilasi hadis paling otoritatif, yakni Shahih Bukhari (No. 5059/5427) dan Shahih Muslim (No. 797), yang menegaskan validitas dan urgensinya dalam bangunan hukum serta moralitas Islam.
Ontologi Mukmin dan Munafik: Definisi dan Eksistensi
Secara substantif, hadis ini membagi manusia ke dalam empat kuadran berdasarkan dua variabel utama: keberadaan iman di dalam hati dan aktivitas interaksi dengan Al-Qur’an (literasi). Rasulullah ﷺ menggunakan dua indikator sensoris—rasa (tho’mun) dan aroma (riihun)—untuk menjelaskan fenomena ini. Rasa mewakili kualitas internal yang menetap (iman), sedangkan aroma mewakili kualitas eksternal yang dirasakan oleh lingkungan sekitar (tilawah dan syiar). Dan memahami hadis ini memerlukan dekonstruksi makna terhadap entitas mukmin dan munafik. Perbedaan antara keduanya bukan sekadar label identitas, melainkan perbedaan dalam koherensi eksistensial.
Seorang mukmin didefinisikan sebagai individu yang memiliki fondasi iman yang kokoh di dalam hatinya. Iman dalam perspektif ini bukan sekadar pengakuan intelektual, melainkan tasdiq (pembenaran) yang menghunjam, yang kemudian memanifestasikan diri dalam iqrar (ucapan) dan amal (perbuatan). Dalam hadis ini, iman disifati dengan “rasa” karena iman bersifat lebih stabil dan fundamental. Seseorang tetap dianggap mukmin selama ia memiliki “manisnya iman” dalam hatinya, meskipun ia belum memiliki kemampuan literasi Al-Qur’an yang memadai. Mukmin adalah mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan penenang jiwa.
Sebaliknya, munafik (nifaq) secara terminologis merujuk pada sikap menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekufuran atau keburukan batin. Kemunafikan digambarkan sebagai penyakit batin yang tidak tersembuhkan, di mana pelakunya sering kali tidak menyadari kebusukan hatinya sendiri. Dalam interaksi dengan Al-Qur’an, seorang munafik mungkin memiliki kemampuan literasi teknis yang luar biasa, namun karena ketiadaan iman, interaksi tersebut tidak membuahkan “rasa” yang manis, melainkan “kepahitan” nifaq yang merusak batinnya.
Tipologi Literasi Mukmin: Kelompok Utrujjah dan Tamrah
Rasulullah ﷺ memberikan apresiasi yang berbeda terhadap mukmin berdasarkan tingkat literasinya, namun tetap menempatkan keduanya dalam golongan orang-orang yang berbahagia (as-su’adaa’) karena kesamaan dalam “rasa” iman yang manis.
Mukmin yang Berliterasi: Simbolisme Buah Utrujjah (Profil Mukmin Prestatif).
Perumpamaan mukmin yang membaca Al-Qur’an dengan buah utrujjah (sejenis jeruk besar/limau) mengandung kedalaman filosofis dan botani yang luar biasa. Para ulama, termasuk Imam Nawawi dan Ibnu Hajar, menjelaskan bahwa utrujjah dipilih karena ia adalah buah yang paling sempurna di masanya; ia memiliki aroma yang harum, rasa yang lezat, warna yang indah, serta tekstur kulit yang memberikan kenyamanan. Dalam perspektif produktivitas spiritual, kelompok ini menggambarkan profil mukmin yang prestatif. Mereka tidak hanya sukses secara personal dalam menjaga iman, tetapi juga memiliki “prestasi” dalam menyebarkan manfaat melalui interaksi aktif dengan Al-Qur’an yang dapat dirasakan oleh lingkungan sekitarnya. “Aroma harum” (riihun) mewakili kualitas literasi Al-Qur’annya yang memberikan manfaat lahiriah bagi orang lain, sedangkan “rasa yang enak” (tho’mun) mewakili keimanannya yang benar. Sebagai mukmin prestatif, seluruh aspek dirinya—lisan, hati, dan perbuatan—memberikan kemaslahatan komprehensif bagi umat manusia, sebagaimana buah utrujjah yang seluruh bagiannya (kulit, daging, hingga biji) memiliki khasiat medis dan manfaat nyata.
Mukmin Non-Literasi: Simbolisme Buah Kurma (Profil Mukmin Non-Prestatif).
Kelompok kedua adalah mukmin yang memiliki iman di dalam hatinya namun tidak rutin atau belum mampu membaca Al-Qur’an. Mereka diibaratkan seperti buah kurma (tamrah). Kurma dikenal sebagai makanan pokok yang sangat bergizi dan memiliki rasa manis yang luar biasa, namun secara fisik ia tidak mengeluarkan aroma harum yang menyebar ke lingkungan sekitarnya. Dari sisi kontribusi eksternal, kelompok ini sering kali dipandang sebagai profil mukmin yang non-prestatif atau kurang produktif dalam syiar keislaman. Walaupun memiliki kualitas internal yang mulia (“rasa manis” iman yang menjamin keselamatan batin), mereka tidak memiliki “capaian” literasi yang bisa dibagikan atau dirasakan manfaatnya secara luas oleh pendengar dan lingkungan sekitarnya. Rasulullah ﷺ tetap memasukkan kelompok ini dalam kategori mukmin untuk menunjukkan bahwa iman adalah syarat mutlak keselamatan, namun ketiadaan “aroma” menandakan keterbatasan manfaat sosial dibandingkan dengan kelompok literat.
Patologi Nifaq dalam Interaksi dengan Al-Qur’an
Hadis Abu Musa Al-Asy’ari memberikan peringatan keras mengenai fenomena kemunafikan yang bersentuhan dengan Al-Qur’an. Ini adalah kondisi patologis di mana literasi digunakan sebagai topeng untuk menyembunyikan kebusukan batin.
Munafik yang Membaca Al-Qur’an: Perumpamaan Rayhanah
Munafik kategori ini diibaratkan seperti tumbuhan rayhanah (sejenis bunga yang harum tetapi beracun). Tanaman ini memiliki aroma yang sangat menyenangkan bagi orang yang menciumnya, namun memiliki rasa yang sangat pahit. Aroma harum ini melambangkan kemampuan lisan sang munafik dalam melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka mungkin memiliki suara yang indah, hafalan yang banyak, atau retorika yang memukau sehingga tampak seperti orang saleh di mata manusia. Namun, “rasa pahit” menunjukkan bahwa di dalam hati mereka tidak ada iman sedikit pun, melainkan kekufuran, kebencian, atau setidaknya ketidaktulusan terhadap kebenaran. Al-Qur’an bagi mereka hanya sampai di tenggorokan, tidak meresap ke dalam hati, sehingga tidak memberikan manisnya iman pada jiwa mereka.
Munafik Non-Literasi: Perumpamaan Hanzhalah
Profil terburuk digambarkan melalui buah hanzhalah (labu pahit/pare hutan). Buah ini tidak memiliki aroma sama sekali dan memiliki rasa yang sangat pahit serta tidak enak. Hanzhalah merepresentasikan ketiadaan manfaat total baik secara lahir maupun batin. Ketiadaan aroma menunjukkan ia tidak memberikan kontribusi kebaikan apa pun kepada masyarakat, sementara rasa pahitnya mencerminkan kekufuran murni dan potensi bahaya yang ia timbulkan bagi tatanan sosial. Ini adalah gambaran manusia yang hatinya kosong dari iman dan lisannya kering dari zikir, yang tersisa hanyalah kepahitan eksistensi yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Bahaya dan Keburukan Sifat Munafik dalam Kehidupan Sosial
Kemunafikan bukan sekadar masalah pribadi dengan Tuhan, melainkan ancaman bagi stabilitas sosial dan integritas umat. Al-Qur’an, melalui Surat Al-Ma’un, membongkar empat sikap utama kaum munafik yang merusak tatanan kemanusiaan: Pertama, Ketiadaan Empati Sosial: Bersikap kasar terhadap anak yatim dan tidak peduli terhadap penderitaan kaum miskin, bahkan menghalangi orang lain untuk membantu. Kedua, Lalai dalam Kewajiban: Mengerjakan ibadah (seperti shalat) hanya sebagai rutinitas formalitas tanpa kesungguhan hati. Ketiga, Riya (Pencitraan): Menjadikan ibadah sebagai ajang pamer untuk mendapatkan pujian manusia, bukan sebagai sarana pengabdian kepada Tuhan. Keempat, Kekikiran yang Ekstrem: Enggan berbagi bahkan dalam hal-hal kecil yang bermanfaat bagi sesama (al-ma’un).
Secara lebih luas, munafik diibaratkan sebagai virus yang dapat menyebar dan merusak kehidupan manusia melalui dusta, pengkhianatan amanah, adu domba, dan kesaksian palsu. Bahaya terbesar adalah munafik yang pandai bertutur kata, karena mereka mampu memanipulasi narasi agama untuk menyesatkan orang banyak. Karena kebusukan ini, Allah SWT menempatkan mereka di lapisan terbawah neraka, posisi yang lebih buruk daripada orang kafir yang beroposisi secara terbuka.




