5 Pelajaran Berharga dari Hijrah Nabi ﷺ
Oleh: Dr. M. Nasri Dini (Wakil Ketua Majelis Tabligh PDM Sukoharjo)

Hari ini, mari kita kembali mengambil pelajaran dari salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah. Peristiwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi merupakan perjalanan penuh pengorbanan, perjuangan, dan keteguhan iman. Dari hijrah Rasulullah ﷺ, kita dapat mengambil banyak hikmah yang masih relevan untuk kehidupan kita saat ini, terutama tentang tawakal, ikhtiar, pengorbanan, persaudaraan, dan semangat untuk berubah menjadi lebih baik.
1. Tawakal kepada Allah ﷻ
Saat Nabi ﷺ dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bersembunyi di Gua Tsur, pasukan Quraisy hampir menemukannya. Dikisahkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata,
قُلْتُ لِلنَّبِيِّ ﷺ وَأَنَا فِي الْغَارِ: لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ تَحْتَ قَدَمَيْهِ لَأَبْصَرَنَا. فَقَالَ: «مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا؟»
“Saya berkata kepada Nabi ﷺ ketika saya berada di gua, ‘Sekiranya salah seorang di antara mereka melihat ke bawah kedua kakinya, maka kita akan kelihatan.’ Rasulullah menjawab, ‘Bagaimana menurutmu, wahai Abu Bakar, terhadap dua orang yang ketiganya adalah Allah?’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hidup ini, ada saatnya kita hanya bisa bertawakal. Usaha tetap wajib, tetapi jangan lupakan keyakinan penuh pada pertolongan Allah ﷻ.
2. Ikhtiar Maksimal
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi membutuhkan perencanaan yang matang dan ikhtiar yang maksimal. Nabi ﷺ tidak hanya berdoa dan bertawakal kepada Allah ﷻ, tetapi juga menyusun strategi yang sangat rapi. Beliau memilih unta terbaik untuk perjalanan. Ketika bersembunyi di Gua Tsur, Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha yang dikenal sebagai Dzatun Nithaqain (perempuan yang mempunyai dua ikat pinggang) mengantarkan makanan, Abdullah bin Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menyampaikan informasi dari Makkah, sedangkan Amir bin Fuhairah radhiyallahu ‘anhu menggembalakan kambing untuk menghapus jejak perjalanan. Setelah keadaan aman, Nabi ﷺ menggunakan jasa penunjuk jalan yang terpercaya dan menempuh jalur yang jarang dilalui orang menuju Madinah.
Dari peristiwa ini kita belajar bahwa tawakal tidak berarti meninggalkan usaha. Seorang muslim diperintahkan untuk berikhtiar sebaik mungkin, mempersiapkan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah ﷻ.
3. Hijrah Membutuhkan Pengorbanan
Hijrah itu tidak mudah. Nabi ﷺ dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum meninggalkan rumah, keluarga, kampung halaman, harta, bahkan sahabat-sahabat yang dicintai.
Salah satu contoh pengorbanan dalam hijrah ke Madinah adalah kisah Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu. Ketika berhijrah, beliau meninggalkan harta dan kekayaan yang dimilikinya di Makkah demi mempertahankan keimanan. Sesampainya di Madinah, beliau yang datang dalam keadaan tidak membawa harta dipersaudarakan oleh Rasulullah ﷺ dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ radhiyallahu ‘anhu. Sa’ad menawarkan sebagian hartanya, bahkan salah satu istrinya. Namun, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu memilih untuk menjawab, “Semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu. Akan tetapi, tunjukkanlah kepadaku letak pasar.”
Beliau kemudian berusaha berdagang hingga Allah ﷻ memberikan keberkahan pada usahanya. Kisah ini menunjukkan bahwa hijrah membutuhkan pengorbanan, kemandirian, dan ikhtiar maksimal untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Allah ﷻ berfirman,
وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ۗوَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَۙ
“Orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]: 41)
Untuk berubah menjadi lebih baik, pasti ada pengorbanan. Namun, yakinlah bahwa Allah ﷻ pasti akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat.
4. Persaudaraan dan Solidaritas
Di Madinah, kaum Muhajirin (pendatang dari Makkah) disambut dengan tangan terbuka oleh kaum Ansar (penduduk Madinah). Mereka berbagi rumah, harta, bahkan membantu mencarikan pekerjaan bagi saudara-saudara mereka yang datang berhijrah.
Allah ﷻ berfirman,
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)
Allah ﷻ juga berfirman,
وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ
“Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr [59]: 9)
Inilah yang disebut itsar, yaitu sikap mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Sikap ini merupakan derajat tertinggi dalam prinsip persaudaraan dan kepedulian. Kaum Ansar telah membantu kaum Muhajirin dengan memberikan apa yang mereka miliki, bahkan ketika mereka sendiri membutuhkannya. Hal ini menjadi bukti nyata atas ketulusan cinta dan kuatnya keimanan mereka kepada Allah ﷻ.
5. Hijrah adalah Awal, Bukan Akhir
Hijrah bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Setelah sampai di Madinah, Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak berhenti berjuang, tetapi mulai menata kehidupan baru dengan membangun masjid, memperkuat persaudaraan, menyusun masyarakat yang berlandaskan iman, dan terus berdakwah. Setiap hijrah membutuhkan proses, perjuangan, dan keteguhan agar perubahan yang dilakukan membawa keberkahan dan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
(Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran [3]: 8)
Mulailah Hijrah dari Hal Kecil
Hijrah tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar, tetapi dapat dimulai dari hal yang paling kecil, dari diri sendiri, dan dimulai dari sekarang.
Hijrah tidak harus selalu sesuatu yang besar. Terkadang hijrah itu berupa langkah-langkah sederhana, seperti:
- Salat tepat waktu, padahal sebelumnya sering menunda-nunda.
- Menjaga lisan dan meninggalkan ghibah, padahal sudah menjadi kebiasaan.
- Membaca Al-Qur’an minimal satu halaman setiap hari, meskipun di tengah kesibukan.
- Menahan amarah dan membiasakan diri untuk meminta maaf.
- Mulai bersedekah dan mengurangi kebiasaan menghabiskan harta untuk hal yang kurang bermanfaat.
- Menghadiri majelis ilmu, tidak hanya menghabiskan waktu untuk berkumpul tanpa tujuan.
Intinya, memperbaiki amal saleh dan meninggalkan keburukan adalah langkah-langkah sederhana yang bernilai besar di sisi Allah ﷻ apabila dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah.
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang.” (HR. Bukhari)
Sebagaimana perjalanan hijrah Rasulullah ﷺ yang penuh pengorbanan, setiap perubahan membutuhkan niat yang tulus, kesabaran, dan ikhtiar. Jangan menunggu sempurna untuk berubah, karena hijrah adalah proses panjang menuju kehidupan yang lebih baik dan semakin dekat kepada Allah ﷻ. Wallahul Musta’an.




