Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’in ‘alaa umuuriddunya waddiin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin online yang dimuliakan Allah Swt,
Di era modern yang serba cepat ini, kita sering menjumpai sebuah fenomena sosial yang cukup memprihatinkan: fenomena kerapuhan mental. Kita hidup di zaman di mana keluhan begitu mudah diumbar. Sakit kepala sedikit, kita mengeluh di status WhatsApp. Gagal ujian atau skripsi dicoret dosen, kita merasa dunia runtuh. Gaji terlambat atau bisnis merugi sedikit, kita sering kali tanpa sadar menyalahkan keadaan, bahkan mempertanyakan keadilan takdir Allah Swt.
Rasa putus asa seolah menjadi respons pertama ketika ujian datang. Padahal, jika kita membuka lembaran sejarah Al-Qur’an, ada seorang manusia pilihan yang ujiannya jauh melampaui logika penderitaan manusia biasa. Beliau adalah Nabi Ayyub ‘alaihissalam.
Kisah Nabi Ayyub bukanlah sekadar dongeng, melainkan monumen kesabaran tertinggi dalam sejarah manusia. Awalnya, Nabi Ayyub adalah sosok yang sangat kaya raya; peternakannya luas, hartanya berlimpah, istrinya setia, dan anak-anaknya banyak serta sehat. Ia hidup dalam puncak kenikmatan duniawi.
Namun, Allah hendak menjadikan Nabi Ayyub sebagai simbol ketabahan hingga akhir zaman. Ujian pun datang bertubi-tubi, bukan mencicil, melainkan menyapu bersih segalanya. Pertama, seluruh hartanya hancur dan peternakannya binasa. Beliau jatuh miskin seketika. Kedua, rumahnya rubuh dan menimpa seluruh anak-anaknya hingga wafat. Kehilangan satu anak saja bisa membuat orang tua gila karena sedih, apalagi seluruh anak. Ketiga, Allah Swt menguji fisiknya dengan penyakit kulit yang sangat parah bertahun-tahun lamanya, hingga orang-orang menjauhinya karena takut tertular.
Harta habis, anak wafat, fisik hancur. Jika itu terjadi pada manusia biasa di zaman sekarang, mungkin ia sudah berputus asa dari rahmat Allah. Namun, apa yang dilakukan Nabi Ayyub?
Di puncak penderitaannya, Nabi Ayyub memanjatkan sebuah doa yang sangat menggetarkan ‘Arsy. Doa ini diabadikan secara indah oleh Allah SWT dalam QS. Al-Anbiya [21] ayat 83:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
Wa ayyūba iż nādā rabbahū annī massaniyad-ḍurru wa anta arḥamur-rāḥimīn.
Yang artinya: “Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Maha Penyayang dari semua yang penyayang.'”
Mari kita bedah keindahan dan pesan utama dari ayat ini.
Pertama, perhatikan adab kesabaran Nabi Ayyub. Dalam doanya, beliau tidak memprotes, “Ya Allah, aku ini Nabi-Mu, aku rajin ibadah, kenapa aku yang Kau beri penyakit?” Beliau juga tidak mendikte Allah dengan berkata, “Ya Allah, sembuhkan aku sekarang juga!”
Beliau hanya mengadu dengan sangat halus: “Ya Tuhanku, sungguh aku ditimpa penyakit…” lalu beliau menutupnya dengan pujian luar biasa kepada Allah: “…padahal Engkau Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”
Pesan praktis dari ayat ini adalah tentang husnuzhan (prasangka baik) kepada Allah Swt. Kesabaran sejati bukanlah menahan tangis belaka, melainkan kemampuan menjaga hati agar tidak suuzhan (berprasangka buruk) kepada skenario Allah Swt, sebesar apa pun ujian yang meremukkan dada kita. Nabi Ayyub mengajarkan bahwa mengeluh kepada Allah Swt itu boleh dan dianjurkan, tetapi mengeluhkan Allah Swt kepada makhluk adalah pantangan terbesar.
Bagaimana kita mengaplikasikan kesabaran level tinggi ini dalam keseharian kita?
Bagi teman-teman pelajar dan mahasiswa; mungkin hari ini ujian kalian adalah sulitnya memahami pelajaran, skripsi yang tak kunjung di-ACC, gagal lolos ke universitas impian, atau kondisi ekonomi keluarga yang membuat kalian harus kuliah sambil bekerja keras. Jangan pernah berkata, “Tuhan tidak adil.” Jadikan kesulitan itu sebagai kawah candradimuka. Berdoalah dengan adab Nabi Ayyub; akui kelemahan kita, lalu puji kebesaran rahmat Allah.
Bagi Bapak/Ibu dan kita semua di masyarakat; mungkin ada di antara kita yang saat ini sedang diuji dengan penyakit yang tak kunjung sembuh, bisnis yang bangkrut dan menyisakan utang, atau diuji dengan kehilangan orang-orang tercinta (suami, istri, atau anak). Rasanya sesak dan berat, itu manusiawi. Menangis itu boleh, Rasulullah SAW pun menangis saat putranya Ibrahim wafat. Namun, jangan biarkan lisan kita meratapi takdir. Lihatlah Nabi Ayyub, harta dan anaknya diambil, fisiknya sakit parah, tapi hatinya tetap tertaut pada gelar Allah Yang Maha Penyayang. Beliau yakin, Allah Swt yang memberi, Allah Swt yang mengambil, dan Allah Swt pula yang berkuasa menggantinya dengan yang jauh lebih baik.
Oleh karena itu, jamaah online sekalian, mari kita bangun ketahanan mental dan spiritual kita. Mari kita ubah cara kita merespons masalah. Kurangi mengeluh di media sosial, perbanyak mengadu di atas sajadah. Mari kita yakini bahwa setiap penyakit, setiap kehilangan, dan setiap kesedihan yang dihadapi dengan sabar, adalah cara Allah Swt menggugurkan dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita di surga kelak.
Mari kita tundukkan kepala, memohon kepada Dzat Yang Maha Penyayang.
Ya Allah, Yang Maha Mendengar setiap rintihan hamba-Nya. Karuniakanlah kepada kami kelapangan dada dan kesabaran tanpa batas sebagaimana yang Engkau anugerahkan kepada Nabi Ayyub. Ya Allah, jika saat ini di antara kami ada yang sedang sakit, angkatlah penyakitnya. Jika ada yang sedang kesulitan rezeki, lapangkanlah jalan keluarnya. Jika ada yang sedang bersedih karena kehilangan, gantilah kesedihannya dengan ridha dan ketenangan batin. Jadikanlah kami hamba yang selalu berprasangka baik pada setiap ketetapan-Mu.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.
Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Nashrun minallahi wa fathun qariib.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)





