AkhlaqAqidahArtikel
Trending

Kisah Penuh Misteri Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS

Kisah Teladan para Nabi dan Rasul

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’in ‘alaa umuuriddunya waddiin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin jama’ah online yang semoga dimuliakan Allah Swt,
Di era modern saat ini, kita hidup di tengah tsunami informasi. Dengan kecerdasan buatan, mesin pencari, dan akses internet, sebuah ilmu seolah bisa didapatkan hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini sering kali melahirkan fenomena baru yaitu krisis adab dan keangkuhan intelektual. Seseorang yang baru membaca satu-dua artikel di internet, terkadang sudah merasa paling tahu, meremehkan guru, atau merasa tidak perlu lagi belajar. Kita sering lupa, bahwa esensi menuntut ilmu dalam Islam bukanlah sekadar mengumpulkan data, melainkan tentang adab, kerendahan hati, dan proses spiritual.

Terkait hal ini, Al-Qur’an menyajikan sebuah kisah yang sangat epik, penuh misteri, dan menggugah hati. Kisah tentang perjalanan mencari ilmu yang dilakukan oleh seorang Nabi Ulul Azmi, utusan Allah Swt yang diajak bicara langsung oleh-Nya, yakni Nabi Musa ‘alaihissalam.

Suatu ketika, Nabi Musa pernah ditanya oleh kaumnya, “Siapakah orang yang paling berilmu di muka bumi ini?” Dengan jujur Nabi Musa menjawab, “Aku.” Jawaban ini tidak salah secara logika manusia saat itu, karena beliau adalah Nabi pemegang Taurat. Namun, Allah Swt menegurnya dengan lembut dan memberitahukan bahwa ada seorang hamba Allah Swt di pertemuan dua laut yang memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh Nabi Musa. Hamba tersebut kita kenal dengan sebutan Nabi Khidir ‘alaihissalam.

Alih-alih merasa gengsi karena statusnya sebagai Rasul besar, Nabi Musa justru membawa muridnya menempuh perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan hanya untuk berguru kepada Khidir.

Momen perjumpaan yang sarat akan adab ini diabadikan dengan indah dalam QS. Al-Kahfi [18] ayat 66:

قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Qāla lahū mūsā hal attabi’uka ‘alā an tu’allimani mimmā ‘ullimta rusydā(n).

Yang artinya: “Musa berkata kepadanya (Khidir), ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) dari apa yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?'”

Mari kita gali pesan utama dari ayat yang mulia ini. Pertama, perhatikan luar biasanya kerendahan hati (tawadhu’) Nabi Musa. Beliau meminta izin dengan kalimat yang sangat santun: “Bolehkah aku mengikutimu?” Padahal Nabi Musa adalah nabi besar pembawa syariat. Ini adalah pelajaran adab, bahwa ilmu tidak akan pernah masuk ke dalam wadah hati yang sombong, sebagaimana air tidak akan pernah mengalir ke tempat yang lebih tinggi.

Kedua, perjalanan bersama Nabi Khidir mulai dari melubangi perahu, peristiwa anak kecil, hingga menegakkan tembok yang hampir roboh, mengajarkan kita tentang kesabaran memahami hikmah. Seringkali, apa yang secara logika terlihat merugikan, cacat, atau tidak masuk akal, ternyata menyimpan rahasia perlindungan dan skenario terbaik dari Allah Swt. Ilmu manusia itu sangat terbatas, sedangkan ilmu Allah Swt meliputi segalanya.

Lalu, bagaimana kita membumikan adab Nabi Musa ini dalam keseharian kita?

Bagi rekan-rekan muda, mungkin saat ini ada yang sedang lelah berjuang menyusun riset pengembangan (Research and Development) untuk media pembelajaran, atau sedang jatuh bangun mempersiapkan berkas-berkas seleksi beasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Terkadang, kita menghadapi penolakan, kegagalan eksperimen, atau proses birokrasi yang membuat kita merasa, “Kenapa jalan saya dipersulit?”

Ingatlah pelajaran dari perahu yang dilubangi Nabi Khidir. Kadang Allah Swt “melubangi” rencana kita hari ini, menunda beasiswa kita, atau menggagalkan satu rencana akademik kita, justru untuk menyelamatkan kita dari “raja zalim” atau takdir buruk di masa depan. Bersabarlah dalam berproses mencari ilmu.

Khusus yang berprofesi sebagai pendidik, guru sekolah kejuruan, maupun pembimbing teknis, sehebat apa pun product knowledge atau penguasaan kurikulum yang kita miliki, mari teladani Nabi Musa. Status sosial, gelar kepakaran, ataupun posisi sebagai kepala jurusan tidak boleh membuat kita berhenti belajar dan merasa paling pintar. Teruslah mencari ilmu, rendahkan hati di hadapan kebenaran, dan jadikan ilmu yang kita miliki sebagai jalan petunjuk (rusydan), bukan sekadar kesombongan akademis.

Oleh karena itu, mari kita luruskan kembali niat kita dalam menuntut dan mengamalkan ilmu. Jadilah pembelajar sepanjang hayat yang mengedepankan adab di atas ilmu, yang senantiasa haus akan hikmah, dan yang memiliki kesabaran tak terbatas terhadap ketetapan Allah Swt.

Mari kita akhiri majelis online ini dengan berdoa memohon ilmu yang berkah.
Ya Allah, Yang Maha Mengetahui segala yang nyata dan yang gaib. Karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima. Hiasilah diri kami dengan sifat tawadhu’ sebagaimana Engkau hiasi kekasih-Mu, Nabi Musa. Singkapkanlah bagi kami hikmah di balik setiap takdir-Mu, dan jadikanlah ilmu yang kami pelajari sebagai cahaya yang menerangi jalan kami menuju surga-Mu.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar. Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian.

Nashrun minallahi wa fathun qariib.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button