AkhlaqAqidahArtikel
Trending

Mengambil Ibrah dari Pemilik Dua Kebun Anggur

Kisah Orang-Orang Shaleh & Inspiratif

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’in ‘alaa umuuriddunya waddiin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin online yang dimuliakan Allah,

Di era media sosial saat ini, kita hidup di tengah budaya yang sangat mengagungkan pencapaian materi. Kita sering melihat fenomena flexing atau pamer harta dan prestasi. Mulai dari memamerkan saldo rekening, kendaraan mewah, gaya hidup liburan mahal, hingga memamerkan kehebatan intelektual dan gelar akademik.

Mengejar kesuksesan tentu tidak dilarang dalam Islam. Namun, fenomena pamer ini sering kali bermuara pada satu penyakit hati yang sangat berbahaya: kesombongan. Merasa diri lebih hebat, lebih kaya, lebih pintar, dan akhirnya memandang rendah orang lain yang tidak seberuntung kita. Penyakit merasa “lebih” ini sebenarnya adalah penyakit klasik yang usianya setua sejarah manusia. Al-Qur’an merekam sebuah kisah peringatan yang sangat indah dan menohok tentang hal ini di dalam Surah Al-Kahfi.

Kisah tersebut adalah perbandingan antara dua orang laki-laki. Salah satunya diuji dengan kekayaan yang melimpah ruah. Allah mengaruniakannya dua kebun anggur yang sangat luas, dikelilingi pohon-pohon kurma, di tengah-tengahnya ditumbuhi ladang gandum yang subur, dan dialiri oleh sungai yang airnya jernih. Kebun itu tidak pernah gagal panen.

Fasilitas duniawi yang sempurna ini ternyata membuai sang pemilik. Alih-alih bersyukur, ia justru terjangkit penyakit keakuan (ego). Suatu hari, saat sedang berdialog dengan sahabatnya yang kebetulan miskin namun beriman, sang pemilik kebun ini melontarkan kalimat yang merendahkan. Ia mengukur nilai seorang manusia semata-mata dari materi dan kekuasaan yang dimilikinya.

Kalimat penuh kesombongan dari pemilik kebun ini diabadikan oleh Allah SWT dalam QS. Al-Kahfi [18] ayat 34:

 

وَكَانَ لَهُۥ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَٰحِبِهِۦ وَهُوَ يُحَاوِرُهُۥٓ أَنَا۠ أَكْثَرُ مِنكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

 

Yang artinya: “Dan dia memiliki kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika dia bercakap-cakap dengannya, ‘Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.'”

Mari kita bedah pesan utama dari ayat ini.

Penyakit kesombongan bermula dari ilusi kepemilikan. Kata “Ana” (Aku) yang diucapkan oleh pemilik kebun menunjukkan bahwa ia lupa siapa yang menumbuhkan anggur itu, siapa yang mengalirkan air sungai, dan siapa yang memberinya usia. Ia merasa semua itu murni hasil jerih payahnya sendiri.

Akibat dari kesombongan ini, di ayat-ayat berikutnya dikisahkan bahwa ia merasa kebunnya tidak akan pernah binasa. Ia bahkan meragukan datangnya hari kiamat. Dan Allah pun membuktikan kekuasaan-Nya. Dalam semalam, Allah mengirimkan badai dan petir yang menghancurkan seluruh kebun anggur itu hingga rata dengan tanah. Sang pemilik kebun yang tadinya sombong, esok paginya hanya bisa membolak-balikkan telapak tangannya dalam keadaan menyesal dan kehilangan segalanya.

Pesan praktisnya: Harta, kepintaran, dan jabatan adalah titipan yang bisa diambil kembali oleh Pemilik Aslinya dalam hitungan detik. Mengukur kemuliaan seseorang dari apa yang ia pakai dan ia miliki adalah bentuk kebutaan mata hati.

Bagaimana kita menjadikan kisah ini sebagai cermin dalam kehidupan kita sehari-hari?

Bagi rekan-rekan pelajar, pemuda, dan mahasiswa; “kebun anggur” kalian saat ini mungkin berupa kecerdasan, nilai IPK yang cumlaude, diterima di kampus favorit, atau memiliki fasilitas dan gawai (gadget) yang mahal pemberian orang tua. Jangan biarkan titipan itu membuat lisan kalian berucap seperti pemilik kebun, “Aku lebih pintar darimu, masa depanku lebih cerah darimu.” Jangan merendahkan teman yang mungkin lambat dalam belajar atau tidak mampu membeli barang-barang branded. Ingatlah, kecerdasan itu karunia Allah. Jika Allah menghendaki sebuah musibah kecil saja di saraf otak kita, maka seluruh hafalan dan kepintaran itu akan lenyap seketika.

Bagi Bapak/Ibu dan jamaah pada umumnya; “kebun anggur” kita mungkin berupa bisnis yang sedang meroket, karir yang sedang di puncak, atau keluarga yang terpandang di masyarakat. Saat kita melihat tetangga atau kerabat yang sedang kesulitan ekonomi atau usahanya bangkrut, jangan sampai hati kita berbisik merendahkan mereka. Kesuksesan yang kita raih bukanlah alasan untuk membusungkan dada, melainkan amanah untuk memperbanyak sujud.

Setiap kali kita memasukki “kebun” kita—baik itu melihat saldo tabungan, melihat anak-anak yang berprestasi, atau melihat rumah yang megah—biasakanlah lisan ini mengucapkan Masya Allah, laa quwwata illaa billah (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Inilah penangkal dari penyakit kesombongan.

Oleh karena itu, jamaah yang dirahmati Allah, mari kita bersihkan hati kita dari sisa-sisa kesombongan. Jangan biarkan ilusi duniawi menipu kita. Mari kita gunakan setiap nikmat yang Allah titipkan sebagai jalan untuk merangkul sesama, bukan untuk membangun tembok kesombongan yang memisahkan kita.

Mari kita tundukkan hati sejenak, memohon ampunan dan perlindungan dari Allah SWT.

Ya Allah, Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Ampunilah segala dosa dan kesombongan yang pernah terbersit di dalam hati kami. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan titipan nikmat, harta, dan ilmu yang Engkau berikan sebagai bumerang yang menghancurkan kami. Karuniakanlah kepada kami hati yang senantiasa bersyukur, lisan yang selalu mengingat-Mu, dan ketawadhuan yang mengangkat derajat kami di sisi-Mu. Lindungilah ‘kebun-kebun’ kehidupan kami dari kebinasaan akibat kelalaian kami sendiri.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.

Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

 

Nashrun minallahi wa fathun qariib.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button