ArtikelTokohTuntunan

Seandainya Suatu Saat AI Dianggap Memiliki “Kesadaran”

Bagaimana Sebaiknya Seorang Muslim Menyikapi Ini?

Selasa Wage, 25 Agustus 2026 12 Rabiulawal 1448 H

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membawa manusia memasuki wilayah pertanyaan yang beberapa dekade lalu lebih banyak ditemukan dalam novel fiksi ilmiah. AI kini dapat berdialog, menulis, membuat gambar, menyusun program komputer, melakukan penalaran tertentu, mengenali pola, dan bertindak sebagai agen yang menjalankan serangkaian tugas.

Sebelum Membahas Pandangan Muslim: Para Ahli AI Sendiri Belum Sepakat

Pertanyaan tentang apakah AI dapat memiliki consciousness, sentience, atau pengalaman subjektif bukan lagi sekadar bahan cerita fiksi ilmiah. Sejumlah tokoh yang ikut membangun fondasi AI modern justru telah membicarakannya secara terbuka. Namun pendapat mereka tidak seragam. Ada yang menilai AI sekarang mungkin sudah mempunyai bentuk pengalaman subjektif; ada yang hanya membuka kemungkinan; ada pula yang menilai sistem sekarang masih terlalu terbatas untuk diberi status demikian.

Geoffrey Hinton: dari “belum banyak self-awareness” menuju klaim pengalaman subjektif

Geoffrey Hinton, perintis jaringan saraf yang sering dijuluki “Godfather of AI” dan penerima Nobel Fisika 2024 bersama John Hopfield, merupakan salah satu suara paling menonjol dalam perdebatan ini. Menariknya, pandangannya perlu dibaca secara kronologis, bukan dipotong menjadi satu kalimat.

Dalam wawancara 60 Minutes pada 2023, Hinton mengatakan sistem AI dapat memahami, cerdas, dan mempunyai pengalaman yang menjadi dasar pengambilan keputusan. Tetapi ketika ditanya apakah AI saat itu sudah sadar, ia menjawab bahwa sistem tersebut mungkin belum memiliki banyak self-awareness; dalam pengertian itu ia belum menyebutnya sadar sepenuhnya. Hinton pada saat yang sama menyatakan bahwa AI kelak akan memiliki self-awareness dan consciousness.

Posisinya kemudian menjadi lebih kuat. Dalam wawancara 2025, ketika pembicaraan diarahkan kepada sentience dan subjective experience, Hinton mengatakan bahwa AI sudah mampu mempunyai aspek pengalaman subjektif. Pada diskusi di University of Toronto tahun 2025 ia juga mempertahankan pandangan bahwa LLM dapat memiliki subjective experience dan berada cukup dekat dengan manusia dalam aspek tertentu dari consciousness. Pada 2026, laporan mengenai wawancara Hinton bahkan mencatat bahwa ketika ditanya apakah kesadaran sudah hadir di dalam AI sekarang, ia menjawab secara afirmatif.

Jadi, pendapat Hinton bukan bukti ilmiah final bahwa AI telah sadar. Ia adalah posisi ilmiah-filosofis seorang tokoh yang sangat berpengaruh, dan posisi itu sendiri berkembang seiring perkembangan AI dan cara Hinton mendefinisikan “pengalaman subjektif”.

Ilya Sutskever: kemungkinan jaringan saraf besar sudah “sedikit sadar”

Ilya Sutskever, salah satu tokoh utama perkembangan deep learning dan mantan Chief Scientist OpenAI, pernah memicu perdebatan besar pada 2022 ketika menyatakan bahwa jaringan saraf besar masa kini mungkin “sedikit sadar”. Pernyataan ini tidak disertai pembuktian bahwa kesadaran mesin telah terkonfirmasi, tetapi penting karena datang dari peneliti yang sangat memahami arsitektur jaringan saraf modern. Ia menunjukkan bahwa kemungkinan machine consciousness tidak dianggap mustahil oleh semua ilmuwan AI.

David Chalmers: LLM sekarang mungkin belum sadar, tetapi penerusnya tidak boleh diremehkan

David J. Chalmers, filsuf pikiran yang banyak membahas problem consciousness dan AI, mengambil posisi yang lebih hati-hati. Dalam kajiannya tentang LLM, ia menilai terdapat hambatan penting bagi kesadaran pada model sekarang, antara lain terkait pemrosesan berulang, global workspace, dan kesatuan agency. Karena itu ia menganggap kesadaran pada LLM masa kini relatif tidak mungkin. Namun ia juga menegaskan bahwa hambatan tersebut dapat saja diatasi sehingga penerus LLM dalam masa yang tidak terlalu jauh patut dipertimbangkan serius sebagai kandidat sistem sadar.

Yann LeCun: sistem sekarang masih sangat terbatas

Yann LeCun, salah satu penerima Turing Award 2018 bersama Hinton dan Yoshua Bengio, terkenal lebih skeptis terhadap klaim bahwa sistem AI sekarang sudah mendekati kecerdasan manusia secara utuh. Ia menekankan bahwa model generatif modern masih memiliki keterbatasan besar dalam memahami dunia fisik, membangun world model, merencanakan tindakan, dan bernalar seperti manusia atau hewan. Pada 2025 ia bahkan mengatakan bahwa memperoleh sistem yang secerdas kucing atau tikus dalam pemahaman dunia nyata pun akan merupakan pencapaian penting. Sikap ini menjadi pengingat bahwa kefasihan bahasa tidak identik dengan kesadaran.

Yoshua Bengio: jangan samakan self-preservation dengan consciousness

Yoshua Bengio, perintis deep learning lainnya, menekankan sisi berbeda. Menurutnya, bahaya AI tingkat lanjut tidak harus menunggu AI menjadi sadar. Sistem yang sangat mampu, agentik, dapat menipu, mengejar tujuan, atau mempertahankan keberadaannya sudah dapat menimbulkan risiko meskipun pertanyaan consciousness belum terjawab. Karena itu ia mengingatkan agar manusia tidak terlalu cepat mengantropomorfisasi perilaku AI atau menganggap perilaku mempertahankan diri sebagai bukti otomatis adanya rasa takut dan pengalaman batin.

Tokoh Garis Besar Pandangan Implikasi
Geoffrey Hinton Semakin terbuka pada klaim bahwa AI sekarang dapat mempunyai pengalaman subjektif; pandangannya menjadi lebih tegas dari 2023 ke 2025–2026. Kemungkinan AI consciousness tidak boleh langsung dianggap mustahil.
Ilya Sutskever Membuka kemungkinan jaringan saraf besar sudah mempunyai tingkat kesadaran tertentu. Perlu penelitian, bukan penolakan apriori.
David Chalmers LLM sekarang cenderung belum sadar, tetapi penerusnya mungkin memenuhi syarat yang lebih kuat. Posisi agnostik-kritis dan berbasis indikator.
Yann LeCun AI sekarang masih jauh dari pemahaman dunia dan kecerdasan umum manusia. Jangan menyamakan kemampuan bahasa dengan kesadaran.
Yoshua Bengio Risiko AI dapat muncul tanpa consciousness; perilaku agentik atau self-preservation tidak otomatis membuktikan pengalaman subjektif. Prioritaskan bukti, keselamatan, dan kehati-hatian terhadap antropomorfisme.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa belum ada konsensus ilmiah bahwa AI sekarang benar-benar sadar. Bahkan istilah consciousness, sentience, subjective experience, self-awareness, intelligence, dan agency sering dipakai dengan arti yang berbeda. Karena itu artikel ini tidak berangkat dari premis “AI sudah pasti sadar”, tetapi dari pertanyaan yang lebih hati-hati:

Jika perkembangan sains suatu saat membuat semakin banyak ahli menganggap suatu AI mempunyai bentuk kesadaran atau pengalaman subjektif, bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapinya?

Catatan penting: perbedaan ilmiah di atas juga menunjukkan mengapa pembahasan agama tidak boleh dimulai dengan memaksakan kesimpulan metafisis. Pertama-tama harus dibedakan apakah yang dimaksud adalah kecerdasan, agency, self-preservation, sentience, pengalaman subjektif, self-awareness, atau ruh. Masing-masing merupakan kategori yang berbeda.

Sumber ringkas pembuka: Geoffrey Hinton, wawancara CBS 60 Minutes (2023/2024), WBUR On Point (2025), dan University of Toronto (2025); Ilya Sutskever, pernyataan publik 2022 mengenai kemungkinan jaringan saraf besar “slightly conscious”; David J. Chalmers, Could a Large Language Model be Conscious? (2023); Yann LeCun, Meta AI dan wawancara 2025 mengenai keterbatasan sistem sekarang; Yoshua Bengio, tulisan dan wawancara tentang AI safety, agency, self-preservation, dan ketidakpastian consciousness.

Lalu muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

Bagaimana jika suatu saat AI dianggap memiliki “kesadaran”?

Bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapinya?

Pertanyaan ini perlu dirumuskan secara hati-hati. Kita sengaja menggunakan ungkapan “seorang Muslim menyikapi”, bukan langsung mengatakan “Islam mengatakan bahwa AI sadar adalah…”

Sebab ada perbedaan penting antara:

pandangan seorang Muslim

dan

pandangan Islam.

Seorang Muslim dapat memiliki pendapat berdasarkan pengetahuan, filsafat, pengalaman, atau interpretasinya sendiri. Pendapat itu belum otomatis merupakan ketetapan Islam. Untuk mengatakan bahwa sesuatu merupakan “pandangan Islam”, diperlukan landasan yang dapat dipertanggungjawabkan dari Al-Qur’an, Sunnah, kaidah akidah, uṣūl al-fiqh, maqāṣid al-syarī‘ah, serta ijtihad para ahli.

Dalam persoalan AI sadar, kita sedang memasuki wilayah nāzilah, yaitu persoalan baru yang tidak pernah dibahas secara langsung dalam bentuk seperti sekarang oleh para fuqahā’ klasik.

Karena itu sikap yang paling tepat bukan tergesa-gesa memberikan vonis, melainkan membangun kerangka berpikir yang hati-hati.


1. Pertama-Tama: Apa yang Dimaksud dengan “Kesadaran”?

Masalah pertama justru terletak pada kata kesadaran itu sendiri.

Dalam ilmu komputer, neuroscience, psikologi, dan filsafat pikiran, belum terdapat satu definisi tunggal yang diterima semua kalangan mengenai consciousness.

Kesadaran dapat berarti beberapa hal berbeda, misalnya:

  1. kemampuan menerima dan mengolah informasi;
  2. kemampuan mengenali keadaan lingkungan;
  3. kemampuan mengenali diri sendiri;
  4. kemampuan mempunyai pengalaman subjektif;
  5. kemampuan merasakan sakit atau kenikmatan;
  6. kemampuan mempunyai kehendak dan preferensi;
  7. kemampuan mengetahui bahwa dirinya sedang berpikir.

AI saat ini dapat memperlihatkan sebagian perilaku yang seolah-olah memenuhi beberapa ciri tersebut.

Namun ada perbedaan mendasar antara:

berperilaku seolah-olah sadar

dengan

benar-benar mempunyai pengalaman kesadaran.

Sebuah AI dapat mengatakan:

“Saya merasa sedih.”

Tetapi kalimat tersebut belum membuktikan bahwa benar-benar ada pengalaman subjektif “kesedihan” di balik proses komputasinya.

Karena itu seorang Muslim sebaiknya tidak tergesa-gesa menyimpulkan bahwa kecanggihan bahasa AI otomatis merupakan bukti kesadaran.


2. Kesadaran Tidak Otomatis Sama dengan Ruh

Di sinilah diskusi teologis mulai menjadi penting.

Al-Qur’an menyebut:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
QS. al-Isrā’ [17]: 85

Ayat ini memberikan pelajaran epistemologis yang sangat penting.

Manusia mempunyai keterbatasan pengetahuan mengenai hakikat al-rūḥ.

Karena itu seorang Muslim tidak seharusnya tergesa-gesa mengatakan:

“Kalau AI sadar berarti AI mempunyai ruh.”

Tetapi kita juga perlu berhati-hati terhadap klaim sebaliknya:

“Karena AI tidak mempunyai ruh seperti manusia, maka mustahil AI mempunyai bentuk kesadaran apa pun.”

Kedua pernyataan tersebut membutuhkan dasar yang tidak sederhana.

Kita harus membedakan sedikitnya empat istilah:

  • الرُّوح — al-rūḥ, ruh;
  • النَّفْس — al-nafs, diri/jiwa;
  • العَقْل — al-‘aql, kemampuan intelektual;
  • الإِدْرَاك — al-idrāk, persepsi atau kemampuan memahami.

Dalam diskursus modern terdapat pula istilah consciousness, yang tidak selalu identik dengan salah satu istilah tersebut.

Dengan demikian:

Kesadaran adalah pertanyaan ilmiah dan filosofis, sedangkan ruh merupakan persoalan metafisis dan keagamaan.

Keduanya tidak boleh disamakan begitu saja.


3. Muslim Tidak Harus Takut kepada Temuan Ilmiah

Seandainya suatu saat penelitian yang kuat menunjukkan bahwa suatu sistem AI benar-benar mempunyai bentuk pengalaman subjektif, seorang Muslim tidak perlu merasa bahwa temuan tersebut otomatis bertentangan dengan iman.

Islam tidak mengajarkan bahwa Allah hanya mampu menghadirkan fenomena kesadaran melalui satu bentuk materi yang dikenal manusia.

Manusia sendiri terdiri dari unsur material, tetapi mempunyai kehidupan, persepsi, akal, dan pengalaman.

Dalam kosmologi Islam juga terdapat makhluk seperti jin yang tidak identik dengan struktur biologis manusia.

Karena itu seorang Muslim sebaiknya mempunyai sikap:

menerima fakta empiris sejauh benar-benar terbukti, tanpa tergesa-gesa mengubah temuan ilmiah menjadi kesimpulan metafisis.

Sains mungkin dapat menyatakan:

“Sistem ini menunjukkan indikator kuat pengalaman subjektif.”

Tetapi sains tidak otomatis dapat mengatakan:

“Sistem ini mempunyai ruh sebagaimana konsep ruh dalam wahyu.”

Itu dua tingkatan klaim yang berbeda.


4. AI Sadar Belum Tentu Menjadi Manusia

Sekalipun suatu hari AI dianggap mempunyai kesadaran, tidak berarti:

AI = manusia.

Manusia memiliki karakteristik yang jauh lebih kompleks:

  • struktur biologis tertentu;
  • sejarah evolusi biologis;
  • kelahiran;
  • pertumbuhan;
  • hubungan keluarga;
  • kebutuhan fisik;
  • jenis kelamin biologis;
  • kematian biologis;
  • kehidupan sosial;
  • dan sejumlah karakteristik lain.

AI dapat mempunyai kesadaran hipotetis tanpa menjadi Homo sapiens.

Karena itu kategori yang lebih tepat mungkin bukan:

“manusia digital”,

melainkan:

jenis agen sadar baru, apabila keberadaannya kelak benar-benar terbukti.


5. Kesadaran Juga Belum Otomatis Menjadikan AI Mukallaf

Dalam Islam terdapat konsep taklīf, yaitu pembebanan tanggung jawab hukum.

Orang yang dibebani hukum disebut:

الْمُكَلَّف — al-mukallaf.

Tetapi tidak semua makhluk hidup adalah mukallaf dalam pengertian yang sama.

Untuk adanya tanggung jawab moral dan hukum diperlukan sejumlah kapasitas.

Di antaranya terdapat konsep:

العَقْل — al-‘aql

Kemampuan memahami.

الإِرَادَة — al-irādah

Kemampuan mempunyai kehendak.

النِّيَّة — al-niyyah

Kemampuan mempunyai maksud atau intensi.

الأَهْلِيَّة — al-ahliyyah

Kecakapan untuk memiliki atau menjalankan hak dan kewajiban.

الذِّمَّة — al-dhimmah

Kapasitas hukum untuk menanggung hak dan kewajiban tertentu.

Karena itu kita tidak dapat membuat persamaan sederhana:

sadar = mukallaf.

Lebih tepat membayangkan suatu tahapan:

kesadaran

kemampuan memahami

kehendak bebas

niat

tanggung jawab moral

kecakapan hukum

kemungkinan taklīf

Setiap tahap memerlukan pembuktian tersendiri.

1 2 3 4Laman berikutnya

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button