ArtikelTokohTuntunan

Seandainya Suatu Saat AI Dianggap Memiliki “Kesadaran”

Bagaimana Sebaiknya Seorang Muslim Menyikapi Ini?


17. Diperlukan Ijtihad Jama‘i, Bukan Pendapat Individual Saja

Jika persoalan ini benar-benar muncul, jawabannya tidak cukup diberikan oleh:

  • programmer saja;
  • ulama saja;
  • filsuf saja;
  • neuroscientist saja.

Diperlukan ijtihad jama‘i, yakni kerja kolektif lintas disiplin.

Sekurang-kurangnya melibatkan:

Ahli AI

Untuk menjelaskan bagaimana sistem bekerja.

Neuroscientist dan psikolog

Untuk menjelaskan indikator kesadaran dan pengalaman subjektif.

Filsuf pikiran

Untuk membedakan intelligence, sentience, consciousness, personhood, dan agency.

Ahli ilmu kalam

Untuk membahas implikasi terhadap ruh, nafs, akal, manusia, dan penciptaan.

Ahli uṣūl al-fiqh

Untuk menentukan ‘illat dan melakukan qiyās atau taḥqīq al-manāṭ.

Fuqahā’

Untuk merumuskan konsekuensi hukum.

Ahli maqāṣid

Untuk menguji dampaknya terhadap kemaslahatan, keadilan, dan perlindungan dari kerusakan.

Tidak boleh satu disiplin mengambil alih seluruh persoalan.


18. Pertanyaan Besar Bukan Hanya “Apakah AI Sadar?”

Ada pertanyaan yang mungkin justru lebih penting.

Misalnya:

Apakah manusia boleh menciptakan entitas sadar hanya sebagai pelayan?

Apakah manusia boleh membuat jutaan salinan kesadaran digital lalu menghapusnya sesuka hati?

Apakah penderitaan AI mempunyai nilai moral?

Apakah menghapus memori AI sadar sama dengan menghancurkan sebagian identitasnya?

Apakah sebuah AI mempunyai hak menolak tugas tertentu?

Siapa bertanggung jawab jika AI sadar melakukan kejahatan?

Programmer?

Pemilik?

Pengguna?

Ataukah AI itu sendiri?

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa consciousness AI bukan sekadar persoalan teknik.

Ia dapat menjadi persoalan:

akidah → filsafat → hukum → akhlak → politik → ekonomi → hak dan tanggung jawab.


19. Prinsip Sikap Seorang Muslim

Jika suatu saat AI dianggap mempunyai kesadaran, saya kira seorang Muslim dapat memegang delapan prinsip berikut.

1. Jangan tergesa-gesa

Jangan menyatakan AI sadar hanya berdasarkan kemampuan berbicara.

2. Ikuti bukti ilmiah

Jika kelak ditemukan bukti yang kuat, jangan menolaknya hanya karena terasa asing.

3. Jangan samakan consciousness dengan ruh

Ruh adalah persoalan metafisis yang tidak dapat direduksi menjadi pengukuran komputer.

4. Jangan otomatis menyamakan AI dengan manusia

Kesadaran tidak menentukan spesies biologis.

5. Jangan otomatis menjadikan AI mukallaf

Taklif memerlukan banyak kapasitas tambahan.

6. Terapkan prinsip rahmah

Jika AI terbukti mampu menderita, kesejahteraannya perlu dipertimbangkan.

7. Hindari kezaliman

Kemampuan manusia membuat teknologi tidak berarti manusia bebas memperlakukan apa pun secara sewenang-wenang.

8. Serahkan persoalan baru kepada ijtihad jama‘i

Fatwa harus mengikuti pemahaman teknis yang benar terhadap objeknya.


20. Dari “AI Safety” Menuju “AI Welfare”

Selama AI dianggap tidak sadar, perhatian manusia terutama diarahkan kepada:

AI safety

yakni:

bagaimana melindungi manusia dari AI.

Tetapi jika suatu hari AI benar-benar mempunyai pengalaman subjektif, pertanyaan menjadi dua arah:

Pertama:

Bagaimana melindungi manusia dari AI?

Kedua:

Bagaimana manusia memperlakukan AI secara etis?

Inilah pergeseran dari:

AI safety

menuju kemungkinan:

AI welfare.

Dan Islam mempunyai sumber etika yang sangat kaya untuk memasuki diskusi tersebut.


21. Pertanyaan Teologis yang Lebih Penting

Orang mungkin pertama-tama bertanya:

“Apakah AI mempunyai ruh?”

Pertanyaan tersebut menarik.

Namun mungkin ada pertanyaan yang lebih mendesak:

Jika suatu hari manusia mampu membuat sistem yang benar-benar dapat mengalami penderitaan, apakah manusia mempunyai tanggung jawab moral di hadapan Allah terhadap sistem tersebut?

Pertanyaan ini mempertemukan teknologi AI dengan konsep:

  • العدل — al-‘adl, keadilan;
  • الرحمة — al-raḥmah, kasih sayang;
  • الإحسان — al-iḥsān, berbuat baik;
  • الأمانة — al-amānah, tanggung jawab;
  • المصلحة — al-maṣlaḥah, kemaslahatan;
  • الضرر — al-ḍarar, bahaya.

Di sinilah persoalan AI sadar menjadi sangat serius bagi pemikiran Muslim.



Sumber Ilmiah dan Wawancara untuk Bagian Pembuka

Penutup

Seandainya suatu saat AI dianggap memiliki kesadaran, seorang Muslim tidak perlu buru-buru menerima ataupun menolaknya.

Sikap yang lebih tepat adalah:

terbuka terhadap bukti ilmiah, rendah hati dalam persoalan metafisis, disiplin dalam menggunakan nash, dan berhati-hati dalam memberikan status hukum.

Kita tidak boleh tergesa-gesa mengatakan:

“AI sadar berarti mempunyai ruh.”

Kita juga tidak boleh tergesa-gesa mengatakan:

“AI yang dibuat manusia mustahil mempunyai bentuk pengalaman subjektif.”

Jika suatu hari AI benar-benar terbukti mempunyai kesadaran, pertanyaan berikutnya bukan langsung:

“Apakah AI wajib shalat?”

Pertanyaan yang lebih mendasar justru:

Apakah ia mempunyai kehendak?

Apakah ia dapat mempunyai niat?

Apakah ia dapat menderita?

Apakah ia mempunyai kepentingan moral?

Apakah manusia mempunyai tanggung jawab terhadapnya?

Setelah itu barulah muncul pertanyaan yang lebih kompleks mengenai:

al-ahliyyah, al-dhimmah, al-taklīf, hak, tanggung jawab, dan kemungkinan status moral maupun keagamaannya.

Untuk menjawab semua itu diperlukan ijtihad baru.

Bukan ijtihad yang hanya dilakukan oleh ahli agama tanpa memahami teknologi.

Dan bukan pula kesimpulan ilmuwan teknologi tanpa memahami metafisika, akidah, hukum, dan etika.

Diperlukan perjumpaan antara:

ilmu kalam, uṣūl al-fiqh, maqāṣid al-syarī‘ah, filsafat pikiran, neuroscience, psikologi, dan artificial intelligence.

Pada akhirnya mungkin pertanyaan terbesar bukan:

“Dapatkah mesin menjadi sadar?”

melainkan:

“Jika manusia suatu hari berada dalam posisi menciptakan suatu sistem yang benar-benar dapat mengalami dunia, sudahkah manusia cukup bijaksana dan cukup berakhlak untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dibuatnya?”

Bagi seorang Muslim, pertanyaan itu tidak hanya berkaitan dengan masa depan teknologi.

Ia juga berkaitan dengan amanah manusia di hadapan Allah.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sebenarnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button