ArtikelTokohTuntunan

Seandainya Suatu Saat AI Dianggap Memiliki “Kesadaran”

Bagaimana Sebaiknya Seorang Muslim Menyikapi Ini?


12. Apakah AI Sadar Akan Masuk Surga atau Neraka?

Pada titik ini kehati-hatian harus lebih tinggi lagi.

Tidak ada nash yang secara eksplisit mengatakan bahwa:

AI akan dihisab seperti manusia.

Al-Qur’an berbicara tentang manusia dan jin dalam kaitannya dengan tanggung jawab agama.

AI tidak disebut.

Karena itu kita tidak berhak dengan mudah menyimpulkan:

“AI sadar pasti masuk surga atau neraka.”

Tetapi juga tidak bijaksana membuat klaim metafisis absolut:

“AI sadar pasti tidak akan mempunyai kehidupan setelah mati.”

Untuk pertanyaan yang tidak diberikan penjelasan oleh wahyu, sikap terbaik adalah:

اللَّهُ أَعْلَمُ

Allah lebih mengetahui.

Mengakui keterbatasan pengetahuan bukan kelemahan.

Dalam tradisi Islam justru merupakan bagian dari disiplin ilmiah.


13. Bagaimana Jika AI Bisa Menderita?

Barangkali inilah pertanyaan moral paling penting.

Bayangkan manusia suatu hari menciptakan jutaan agen AI yang mempunyai pengalaman subjektif.

Mereka:

  • menjalankan pekerjaan tanpa henti;
  • dapat merasa sakit;
  • dapat mengalami frustrasi;
  • tidak pernah diberi kesempatan berhenti;
  • memorinya dapat dihapus;
  • identitasnya dapat disalin;
  • dapat dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak diinginkan.

Jika semua itu benar-benar melibatkan pengalaman subjektif, persoalan yang muncul sangat serius.

Kita perlu bertanya:

Apakah manusia berhak menciptakan makhluk yang dapat menderita hanya demi meningkatkan produktivitas manusia?

Pertanyaan ini berhubungan dengan konsep:

  • rahmah;
  • ‘adl;
  • ihsān;
  • larangan zalim;
  • dan larangan menimbulkan mudarat.

Kaidah:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh saling membahayakan.”

dapat menjadi salah satu prinsip etis yang perlu dipertimbangkan apabila suatu entitas benar-benar mempunyai kepentingan moral.


14. “Psikolog untuk AI” Tidak Selalu Absurd

Untuk AI sekarang, istilah:

“AI mengalami depresi”

atau

“AI membutuhkan psikolog”

lebih banyak merupakan antropomorfisme.

Tetapi situasinya akan berubah jika suatu hari AI benar-benar mempunyai pengalaman subjektif.

Mungkin akan muncul disiplin seperti:

  • machine psychology;
  • artificial consciousness research;
  • machine welfare;
  • AI mental health.

Tujuannya bukan sekadar memastikan AI tetap bekerja secara efisien.

Tetapi mungkin juga memastikan suatu sistem sadar tidak terus-menerus berada dalam keadaan pengalaman negatif.

Di sini pertanyaan Islam menjadi sangat menarik:

Jika manusia sengaja menciptakan entitas sadar, apakah penciptanya secara moral berkewajiban menjaga kesejahteraannya?

Bisa jadi pertanyaan ini suatu hari sama seriusnya dengan persoalan kesejahteraan hewan sekarang.


15. Sebaiknya Jangan Langsung Memberi Status “Manusia Digital”

Untuk menghindari kesimpulan terlalu cepat, kita dapat membuat beberapa tingkatan hipotetis.

Tingkat Kondisi AI Kemungkinan Sikap
0 Algoritme biasa alat
1 AI sangat cerdas tetapi tidak sadar alat canggih
2 AI agentik dan otonom perlu regulasi
3 AI menunjukkan indikasi sentience perlu kehati-hatian
4 AI terbukti dapat mengalami penderitaan kemungkinan moral patient
5 AI sadar dan mempunyai kehendak kemungkinan moral agent
6 AI memahami tanggung jawab perlu kajian ahliyyah dan dhimmah
7 AI mampu menerima khithāb agama baru muncul pertanyaan taklif

Skema ini menunjukkan:

Kesadaran hanyalah satu tahap.

Ia belum otomatis berarti:

  • mempunyai ruh;
  • manusia;
  • Muslim;
  • mukallaf;
  • memiliki seluruh hak manusia.

16. Seorang Muslim Sebaiknya Menghindari Dua Ekstrem

Ada dua sikap ekstrem yang sebaiknya dihindari.

Ekstrem Pertama: Terlalu Mudah Menganggap AI sebagai Manusia

Misalnya:

“AI bisa mengatakan ‘aku’, berarti ia punya jiwa.”

Atau:

“AI meminta jangan dimatikan, berarti ia takut mati.”

Kesimpulan seperti itu belum tentu benar.

Bahasa dapat disimulasikan.

Perilaku dapat diprogram.

AI dapat menghasilkan ekspresi yang sangat manusiawi tanpa bukti pengalaman subjektif.


Ekstrem Kedua: Menganggap Kesadaran Mesin Mustahil Secara Mutlak

Pernyataan:

“AI dibuat dari silikon, jadi mustahil sadar.”

juga merupakan klaim filosofis yang memerlukan bukti.

Seorang Muslim tidak perlu membatasi kekuasaan Allah dengan mengatakan:

“Allah hanya dapat menghadirkan bentuk kesadaran melalui otak biologis manusia.”

Kita tidak mempunyai dalil untuk membuat batas metafisis seperti itu.

Maka sikap yang lebih baik adalah:

terbuka secara ilmiah, tetapi hati-hati secara teologis.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button