Pembelajaran Learning By Doing
Oleh : Ely Sukasih, MA, (Mahasiswa Sekolah Tabligh PWMJateng Di Banjarnegara

Belajar bagi kehidupan manusia menjadi bagian yang sangat penting, karena manusia diciptakan sebagai pengelola dunia (khalifah fil ardi) . وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”
Secara bertahap mereka mengalami fase pembelajarn yang di dasarkan pada pengalaman.sebagi ilustrasi terdekat adalah bayi manusia yang dilahirkan, jika tidak mendapatkan bantuan dari manusia dewasa yang , tidak belajar, niscaya binasalah ia.
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِي
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang terbaik.”
Ia tidak mampu mengembangkan naluri /intrinsik dan potensi-potensi yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya tanpa pengaruh dari luar. Manusia tidak dapat berkembang secara optimal tanpa adanya pengaruh dan dukungan dari lingkungan sekitarnya. Naluri dan potensi yang ada dalam diri setiap individu memerlukan stimulasi dan bimbingan yang tepat untuk dapat berkembang secara maksimal. Pengaruh lingkungan sangat penting dalam membentuk potensi dan naluri manusia. Dukungan dan stimulasi dari luar dapat membantu mengembangkan potensi intrinsik individu. Lingkungan yang kondusif dapat memfasilitasi perkembangan naluri dan potensi manusia. Dalam proses perkembangan manusia, pengaruh dari luar sangatlah penting. Mulai dari keluarga, pendidikan, hingga lingkungan sosial, semua berperan dalam membentuk potensi dan naluri individu. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan kondusif bagi perkembangan manusia.”
Beberapa pendapat tentang penegrtian belajar banyak di sebutkan, diantaranya, Hilgard dan Bower dalam bukunya Theories of Learning yang dikutip oleh Ngalim Purwanto dalam psikologi belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu yang di sebabkan oleh pengalaman berulang-ulang dalam situasi tertentu yang di sebabkan oleh pengalaman yang berulang -ulang dalam situasi tersebut, dimana perubahan tingkah laku tidak dapat di jelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan, kematangan , atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya pengaruh obat atau kelelahan dan sebaginaya.
Lebih lanjut Piaget berpendapat seperti yang di sadur Dimyati dan Mudjiono bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan intraksi terus menerus dengan lingkungan yang selalau mengalami perubahan, sehingga fungsi intelek seamakin berkembang, pengetahuan di bangun atasa dasar tiga bentuk, yaitu pengetahuan fisik , pengetahuan logika -matematik, dan pengetahuan sosial.
Sedangkan prosesnya di dasarkan tiga fase, yaitu fase eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. fase eksplorasi mengarahkan siswa memepelajari gejala dengan bimbingan , fase pengenalan konsep untuk meneliti gejala lain yang lebih lanjut.
Urain tersebut merupakan proses internal yang kompleks dan melibatkan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.kompleksitas belajar dapat di pandang dari dua subyek , yaitu dari siswa dan guru. Siswa secara langsung mengalami proses mental menghadapi bahan belajar berupa; keadaan alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia dan bahan yang telah terhimpun dalam literatur. Proses belajar diamati secara tidak langusng , yaitu proses internal siswa tidak diamati langusng , tetapi dapat di pahami guru.
Pola pengajaran guru berkaitan erat dengan pilihan metode, jika bahan pelajaran di sajikan secara menarik besar kemungkinan motivasi belajar siswa akan meningkat. Keterkaitan dengan pembelajaran sesaui pendapat Morgan dalam bukunya Introduction to Psichology mengemukan “ Belajar adalah setiap perubahan yang realtif dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan.
Dengan demikian belajar merupakan proses yang tidak bertujuan mengembangkan secara spontan segala potensi bawaan, melainkan bertujuan merangsang proses perkembnagan yang berlangsung melalui suatu urutan tahap yang tetap, dengan cara menyajikan berbagai masalah dan konflik riil yang dapat diatasi atau di selesaikan oleh anak secara aktif : by doing it”.
Peran pengalaman dalam pembelajaran yang bersifat dogmatis (tradisional ) yang hanya mewariskan segala pengetahuan terhadap generasi baru tanpa disadarkan pada pengujian terhadap prinsip-prinsip fundemntalnya. Dewey memberikan pemikiran bahwa pendidikan harus mempunyai perubahan orentasi, yaitu pendidikan gaya baru yang menekankan kebebasan belajar.
Alasan tersebut berdasarkan pada pandangan terhadap pendidikan gaya lama yang lebih memaksakan pengetahuan dan jauh dari nilai penunjukan bagi pengalaman pribadi. Anggapan terhadap ketidakpastian itu terdapat suatu kerangka acuan yang tetap, yaitu hubungan organis antara pendidikan dan pengalaman pribadi , atau bahwa filsafat baru mengenai pendidikan itu mengikatkan dirinya pada sejenis filsafat empiris dan eksperimental.
Pengalaman secara kualitas dapat dibedakan menjadi dua aspek, aspek pertama ialah aspek langsung, yaitu menyenangkan dan tidak menyenangkan . aspek kedua adalah pengaruhnya atas berbagai pengalaman kemudian. Uraian terakhir merupakan prinsip yang melandasi mengapa pendidikan berkaitan dengan pengalaman , dan disisi lain memberikan inspirasi bagi guru untuk menata berbagai jenis pengalaman dengan terus merangsang kegiatannya. Sehingga pendidikan yang di dasarkan atas pengalaman lebih memilih jenis pengalaman sekarang yang berpengaruh secara krestif dsn produktif dalam seluruh pengalaman berikutnya.
Seiring mengalirnya arus pengalaman disebut oleh john Dewey dengan “ eksperince continum” atau kesatuan rangkaian pengalaman, terdapat dua proses, yaitu proses mengetahui dan proses evolusi (terjadi berangsur-angsur). Sedangkan kelanjutan dari pengalaman saling berhubungan , sepanjang waktu tertentu, bermacam ragam aspek pengalaman saling berhubungan, sepanjang waktu pengalaman berlanjut, sebagai rentetan kejadian.
Experience Continuum adalah konsep yang menjelaskan bahwa pengalaman manusia dapat membentuk suatu kontinum atau kesinambungan yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, pengalaman tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan pengalaman lainnya dan membentuk suatu kesatuan yang utuh. Aspek-aspek Experience Continuum
Implikasi Experience Continuum
- Pembelajaran: Experience Continuum dapat membantu memahami proses pembelajaran manusia, di mana pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi pengalaman saat ini dan masa depan.
- Pengembangan Pribadi: Experience Continuum dapat membantu individu memahami bagaimana pengalaman mereka membentuk diri mereka dan bagaimana mereka dapat mengembangkan diri lebih lanjut.
Contoh Experience Continuum
– Pengalaman masa kecil dapat mempengaruhi pengalaman di sekolah, yang kemudian dapat mempengaruhi pengalaman di tempat kerja.
belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu” adalah sebuah pepatah Arab yang mengandung makna pentingnya menuntut ilmu sejak dini, di mana ilmu yang diperoleh di usia muda akan lebih melekat dan sulit dilupakan, sebanding dengan ukiran yang kuat pada batu yang abadi. Pepatah ini menekankan bahwa otak anak-anak lebih mudah menyerap ilmu dibandingkan orang dewasa, di mana proses belajar akan lebih sulit dan mudah hilang.
العلم في الصغر كالنقش على الحجر
Artinya Ilmu di masa kecil bagai ukiran di atas batu”.
Ilmu yang diperoleh di masa kecil akan lebih permanen, sedangkan ilmu di masa dewasa lebih mudah hilang.
Mengapa Penting Belajar di Waktu Kecil
- Kemudahan Menerima Ilmu:
Otak anak-anak memiliki kapasitas penyerapan yang lebih baik dibandingkan orang dewasa yang sudah memiliki banyak pola pikir dan kebiasaan yang terbentuk.
- Melekatnya Ilmu:
Sama seperti ukiran pada batu yang tidak mudah hilang, ilmu yang dipelajari di masa kecil akan lebih mudah melekat dan sulit dilupakan. Perbandingan dengan Belajar di Usia Dewasa
- Belajar di Air:
Belajar di masa dewasa sering dibandingkan dengan “mengukir di atas air”, yang berarti ilmu akan lebih mudah hilang dan terlupakan jika tidak diperkuat dengan konsistensi dan praktik.
- Tantangan Belajar Dewasa:
Meskipun lebih sulit, belajar di usia dewasa tidak mustahil. Namun, prosesnya akan lebih memakan waktu dan membutuhkan kesabaran serta dedikasi yang tinggi.
Pepatah ini secara umum menganjurkan agar menanamkan dan menuntut ilmu sejak dini, karena akan jauh lebih efektif dalam membentuk karakter dan pengetahuan yang bertahan lama, berbeda dengan proses belajar di usia dewasa yang lebih menantang
– Pengalaman sukses dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mempengaruhi pengalaman lainnya.
Dengan memahami Experience Continuum, kita dapat lebih baik memahami bagaimana pengalaman manusia membentuk diri mereka dan bagaimana kita dapat mengembangkan diri lebih lanjut.
- Kesinambungan: Pengalaman manusia memiliki kesinambungan yang erat antara satu dengan yang lain.
- Keterkaitan: Pengalaman manusia terkait dengan pengalaman lainnya dan membentuk suatu kesatuan yang utuh.
- Dinamis: Experience Continuum bersifat dinamis, artinya pengalaman manusia dapat berubah dan berkembang seiring waktu.
Disinilah proses refleksi berlangsung sehingga pengalaman yang kurang berpihak dan kurang menguntungkan bagi peadagogis akan dieleminisr untuk kemudian mencoba menciptakan pengalaman yang sama sekali baru. Keberadaan pengalaman tersebut, semntara modifikasinya mempengaruhi kualitas seluruh pengalaman berikutnya. Prinsip ini meliputi proses pembentukan berbagai sikap emosional dan intelektual, yaitu kepekaan dasar dan segala cara mennaggulangi serta menangagapi semua situasi yang kita jumpai dalam hidup. Waalalhu alam semoga bermanfaat .aamiin




