Artikel

Ketika Dakwah Bukan Sekedar Pilihan

Refleksi Tentang Tanggung Jawab Umat Sebagai Agen Amar Maโ€™ruf Nahi Mungkar

๐Ÿ“… Selasa, 05 Mei 2026 | 18 Zulkaidah 1447 H

Oleh: Akhmad Syifa Utama,S.E. (Peserta sekolah tabligh PWM Jawa Tengah angkatan ke-3)

Banyak dari kita merasa tidak punya urusan dengan dakwah. Seolah-olah itu hanya tugas ustadz, hanya untuk mereka yang pernah mondok, atau orang-orang yang berdiri di atas mimbar.

Padahal, dakwah tidak sesempit itu. Ia bukan sekadar tausiyah atau ceramah di atas mimbar, melainkan tanggung jawab yang melekat pada setiap individu Muslim.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa dakwah bukan lagi sekadar pilihan, tetapi sebuah kewajiban yang harus diemban oleh kita semua, siapa pun kita, apa pun peran kita, dan di mana pun kita berada.

Gagasan ini mengemuka dalam sebuah kegiatan Sekolah Tabligh yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Ibnu Sholeh, M.A., M.P.I., pada hari Ahad, 3 Mei 2026, di Aula RSI PKU Singkil.

Dalam kesempatan tersebut ditegaskan bahwa semangat dakwah harus tertanam dalam diri setiap Muslim, agar selalu siap menjadi bagian dari gerakan amar maโ€™ruf nahi mungkar.

Disampaikan bahwa ada 16 poin motivasi dakwah bagi para peserta Sekolah Tabligh. Salah satunya adalah bahwa dakwah merupakan ibadah yang pahalanya terus mengalir.

Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:

ู…ูŽู†ู’ ุฏูŽู„ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฎูŽูŠู’ุฑู ููŽู„ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ุฃูŽุฌู’ุฑู ููŽุงุนูู„ูู‡ู
(ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…)

โ€œBarang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.โ€

Hadis ini memberi pemahaman yang sangat dalam. Bahwa dalam dakwah, seseorang tidak harus selalu menjadi pelaku utama suatu amal. Cukup dengan mengajak, mengarahkan, atau bahkan sekadar mengingatkan, ia sudah mendapatkan bagian pahala.

Di sinilah letak keistimewaan dakwah. Pahalanya tidak berhenti pada satu perbuatan, tetapi bisa terus mengalir selama kebaikan itu diamalkan oleh orang lain.

Bayangkan, satu nasihat sederhana yang kita sampaikan, lalu diamalkan oleh seseorang, kemudian diteruskan kepada orang lain. Maka pahala itu akan terus berjalan, bahkan ketika kita mungkin sudah tidak mengingatnya lagi.

Pada akhirnya kita memahami. Dakwah bukan tentang siapa yang paling mampu, tetapi siapa yang mau bergerak. Jika satu kebaikan saja bisa mengalirkan pahala tanpa henti, maka diam bukan lagi pilihan. Karena pada akhirnya, dakwah adalah tanggung jawab yang tidak bisa kita hindari.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button