Artikel

Kajian Sintaksis, Morfologi, dan Balaghah tentang Fenomena Rotasi Bumi dan Pergantian Siang-Malam

Keajaiban Linguistik Al-Qur'an: Analisis Kata يُكَوِّرُ (Yukawwiru) dalam QS. Az-Zumar [39]: 5 dan Korelasinya dengan Ilmu Falak

Ahad Kliwon, 20 September 2026 9 Rabiulakhir 1448 H

Pendahuluan

Al-Qur’an memiliki karakteristik kebahasaan yang sangat khas dan presisi. Dalam menjelaskan fenomena alam semesta, Al-Qur’an tidak sekadar memberikan informasi, melainkan memilih diksi yang kaya akan makna filosofis, geometris, dan linguistik yang melampaui zamannya.

Selain ungkapan tentang orbit, salah satu ayat Al-Qur’an yang paling menakjubkan dari perspektif linguistik dan astronomi adalah ungkapan mengenai pergantian malam dan siang:

يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ

Ungkapan ini terdapat dalam QS. Az-Zumar [39]: 5.

Menariknya, Al-Qur’an tidak menggunakan kata kerja yang biasa digunakan untuk menutupi atau menggantikan. Al-Qur’an memilih kata kerja khusus yang membentuk struktur:

يُكَوِّرُ

Di dalamnya terdapat beberapa pilihan bahasa yang sangat unik:

  • يُكَوِّرُ (yukawwiru) — Dia melilitkan atau menggulung secara melingkar;
  • اللَّيْلَ (al-layla) — malam;
  • عَلَى (‘alā) — di atas atau ke atas;
  • النَّهَارِ (an-nahāri) — siang.

Dari sudut pandang linguistik Arab dan ilmu falak, konstruksi ini menyimpan makna tentang bentuk bumi dan dinamika rotasinya dengan sangat elegan.

1. QS. Az-Zumar Ayat 5

Teks Arab

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۖ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.” QS. Az-Zumar [39]: 5.

Struktur Umum Ayat

Ayat tersebut merangkai tiga tahapan penciptaan dan pergerakan kosmik:

  1. Penciptaan fundamental: خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
  2. Dinamika rotasi: يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ
  3. Pergerakan orbit: كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى

Peralihan dari penciptaan bumi langsung menuju kata kerja yukawwiru menunjukkan bahwa pergantian siang dan malam adalah akibat langsung dari sifat atau bentuk fisik bumi yang baru saja disebutkan diciptakan.

2. Analisis Kata يُكَوِّرُYukawwiru

Kata kunci yang menjadi mukjizat linguistik dalam ayat ini adalah:

يُكَوِّرُ

Secara leksikal, akar kata ك ـ و ـ ر merujuk pada gerakan menggulung, melilitkan, atau membungkus sesuatu secara melingkar. Masyarakat Arab menggunakan frasa kawwara al-‘imāmah (كَوَّرَ العِمَامَةَ) untuk menggambarkan tindakan seseorang yang melilitkan sorban di atas kepalanya yang berbentuk bulat.

“Pemilihan kata يُكَوِّرُ merupakan sebuah isyarat halus namun sangat kuat mengenai bentuk bumi. Seseorang tidak bisa melilitkan atau menggulung sesuatu secara sferis pada permukaan yang datar. Gerakan ini secara semantik menuntut adanya objek berbentuk bulat atau bola sebagai tempat terjadinya lilitan tersebut.”

3. Analisis Sharaf يُكَوِّرُ

Kata يُكَوِّرُ adalah bentuk fi‘il muḍāri‘ dari kata dasar كَوَّرَ – يُكَوِّرُ – تَكْوِيرًا dengan pola wazan فَعَّلَ – يُفَعِّلُ. Wazan ini mengandung makna at-ta‘diyah dan at-taktsīr.

  • كَوَّرَ = Dia telah melilitkan
  • يُكَوِّرُ = Dia sedang atau terus-menerus melilitkan

Penggunaan wazan taf‘īl menunjukkan bahwa proses pergantian siang dan malam terjadi secara bertahap, perlahan-lahan, dan berkesinambungan tanpa putus.

4. Mengapa Al-Qur’an Menggunakan عَلَى (‘Alā)?

Perhatikan preposisi ḥarf jarr yang digunakan:

عَلَى النَّهَارِ / عَلَى اللَّيْلِ

Al-Qur’an menggunakan kata عَلَى (di atas) alih-alih فِي (di dalam) atau بِـ (dengan). Penggunaan عَلَى memberikan visualisasi tiga dimensi: malam datang menutupi bagian atas dari area siang yang sedang terpapar cahaya, begitu pula sebaliknya.

5. Keindahan Struktur Retoris (Al-Muqābalah)

Ayat ini menggunakan gaya bahasa muqābalah yang sangat halus:

  1. يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ (melilitkan malam ke atas siang)
  2. وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ (dan melilitkan siang ke atas malam)

Penempatan kata kerja يُكَوِّرُ yang diulang dua kali menunjukkan bahwa kedua proses ini aktif secara bersamaan di bumi. Saat di satu belahan bumi malam melilit siang, di belahan bumi lainnya siang sedang melilit malam.

6. Mengapa Bukan يُغْشِي (Yughshī) atau يُولِجُ (Yūliju)?

Kata di Al-Qur’an Makna Dasar Kesan Fisika/Kosmologis
يُغْشِي (Al-A‘raf 7:54) Menyelimuti/menutupi Hilangnya cahaya oleh kegelapan.
يُولِجُ (Luqman 31:29) Memasukkan Transisi durasi waktu antar musim.
يُكَوِّرُ (Az-Zumar 39:5) Melilitkan/memutar Dinamika rotasi benda yang sferis (bulat).

7. Analisis Nahwu Secara Keseluruhan

Lafaz Jenis I‘rab Fungsi
يُكَوِّرُ fi‘il muḍāri‘ marfū‘ Predikat verbal (fā‘il mustatir)
اللَّيْلَ isim manṣūb maf‘ūl bih (objek)
عَلَى ḥarf jarr mabnī Kata depan
النَّهَارِ isim majrūr Isim majrur

8. Keserasian Antara Bentuk dan Makna Kosmologis

Satu kata يُكَوِّرُ diucapkan dalam waktu singkat, namun merangkum hukum fisika kosmik yang presisi:

  • Bentuk Bumi: Harus berbentuk bola agar sesuatu dapat dililitkan di atas permukaannya.
  • Gerak Rotasi: Proses melilitkan menyiratkan pergerakan berputar pada porosnya, yang menjadi penyebab pergantian siang dan malam.
  • Simultanitas: Malam melilit siang bersamaan dengan siang melilit malam mengindikasikan fenomena yang terjadi serentak di dua belahan bumi yang berlawanan.

“Di sinilah letak kemukjizatan linguistik Al-Qur’an. Pada abad ke-7, Al-Qur’an menyampaikan pesan melalui diksi yang dapat dipahami masyarakat kala itu, sekaligus menyembunyikan presisi ilmiah mengenai sferisitas bumi yang baru terbukti secara astronomis berabad-abad kemudian.”

Sintesis Kebahasaan dan Falak

Redaksi يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ dalam Surat Az-Zumar [39]: 5 membuktikan presisi diksi Al-Qur’an dalam menerangkan fenomena alam.

Ditinjau dari berbagai dimensi keilmuan, ayat ini menyajikan keterpaduan makna:

  • Secara Linguistik: Menampilkan gambaran pembungkusan melingkar pada objek sferis.
  • Secara Retoris: Memanfaatkan struktur simetris untuk menjelaskan fenomena yang terjadi serentak.
  • Secara Astronomis: Memberikan isyarat fenomena rotasi bumi.

Sumber Rujukan

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button