
Tahun Baru : Tambah Umurnya Harus Tambah Cerdasnya
Harjanto, S.Pd.I., M.Pd.
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ
Jamaah yang berbahagia, semoga selalu dirahmati, diberkahi dan di ridhoi oleh Allah Swt.
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah Swt yang telah memberikan nikmatnya kepada kita. Nikmat iman dan islam, 2 nikmat yang tidak semua orang menerimanya. Maka marilah kita jaga sampai pisahnya antara raga dan jiwa (nyawa), sekali iman dan islam sampai akhir hayat tetap iman dan islam, syukur khusnul khotimah.
Nikmat sehat dan sempat (waktu luang), 2 nikmat yang sering terlupakan oleh kebanyakan manusia, sebagaimana sabda Nabi SAW. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (rugi) di dalamnya, yaitu: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no. 6412)
Jamaah yang berbahagia, semoga selalu dirahmati, diberkahi dan di ridhoi oleh Allah Swt.
Pergantian tahun dalam Islam, tahun 1447 H menjadi 1448 H berarti bertambahnya usia setiap manusia, bertambahnya usia manusia sejatinya berkurangnya jatah hidup di dunia walaupun manusia tidak tahu kapan waktu bertemunya pada satu titik yang memisahkan antara raga dan jiwa, tetapi kepastian itu tetap akan terjadi, karena setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian. Firman Allah Swt dalam surat Al Ankabut ayat 57
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”
Jamaah yang berbahagia, semoga selalu dirahmati, diberkahi dan di ridhoi oleh Allah Swt.
Satu pertanyaan yang perlu kita jawab dalam hati kita masing-masing : “Bertambahnya tahun, bertambah pula usia kita, berkurangnya jatah hidup di dunia, Bertambahkah Kecerdasan kita ? atau justru kita semakin bodoh ?
Kalau normal sesuai fitroh/sunatullah tambah umur tambah berkualias, ibarat ilmu padi , semakin tua semakin berisi tetapi kalau padi tidak berkualitas, semakin tua semakin kosong. Ibarat pepatah jawa : “Gaplek Pringkilan, Tambah Tuwek Tambah petakilan”. Semakin tua bukan semakin menunjukan kecerdasannya justru menunjukan kebodohannya.
Makna Cerdas Menurut Nabi Muhammad SAW.
Cerdas dalam Islam bukan kecerdasan IQ yang ditentukan dengan angka berdasarkan tingkat kecerdasan :
- Sangat Rendah (Very Low / Profound)
👉 IQ < 20
- Rendah Berat (Severe)
👉 IQ 20–34
- Rendah Sedang (Moderate)
👉 IQ 35–49
- Rendah Ringan (Mild)
👉 IQ 50–69
- Di Bawah Rata-rata (Borderline)
👉 IQ 70–79
- Rata-rata Bawah (Low Average)
👉 IQ 80–89
- Rata-rata (Average)
👉 IQ 90–109
- Rata-rata Atas (High Average)
👉 IQ 110–119
- Cerdas / Superior
👉 IQ 120–129
- Sangat Cerdas / Genius
👉 IQ ≥ 130
Bukan juga orang yang pandai bicara atau orang yang kaya namun orang yang banyak mengingat kematian dan paling baik dalam menyiapkan bekal untuk kematian.
Sebagaimana Sabda Nabi SAW:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshar mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian. Itulah mereka orang-orang yang paling cerdas.”” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)
Hadits tersebut menjelaskan ketika Rasulullah Saw di tanya tentang orang mukmin yang paling utama maka jawabanya sangat tegas yaitu orang yang paling baik akhlaknya. Menurut Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali:
الأَخْلَاقُ هِيَ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِي النَّفْسِ رَاسِخَةٍ، تَصْدُرُ عَنْهَا الأَفْعَالُ بِسُهُولَةٍ وَيُسْرٍ، مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ.
Akhlak adalah sifat yang tertanam kuat dalam jiwa, yang darinya muncul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu. (pakulinan).
Contoh sederhana tentang akhlak yaitu ada seseorang yang menguap menutup mulut lalu secara spontan membaca astaghfirullah, tetapi ada juga orang yang menguap membaca bunyi hewan. Satu berakhlak baik dan 1 berakhlak tercela atau berbudi pekerti luhur dan tidak luhur.
Ketika ditanya tentang orang mukmin yang cerdas, maka jawab Nabi Sangat tegas yaitu orang yang banyak mengingat kematian dan paling baik dalam menyiapkan bekal untuk kematian.
Jamaah yang berbahagia, semoga selalu dirahmati, diberkahi dan di ridhoi oleh Allah Swt.
Orang yang banyak mengingat kematian itu bukan pesimis, tapi realistis. Mengingat kematian bukan membuat : takut berlebihan, malas hidup, putus asa justru membuat seseorang: tidak menunda taubat, tidak serakah pada dunia, serius dalam amal.
Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata:
ذِكْرُ الْمَوْتِ يُمِيتُ الشَّهَوَاتِ، وَيُحْيِي الْقَلْبَ بِذِكْرِ الْآخِرَةِ
Mengingat mati itu mematikan syahwat dunia dan menghidupkan kesadaran akhirat. (Imam Al-Ghazali, Kitab Ihya Ulumuddin, Jilid 4, Kitab Dzikril Maut wa Ma Ba’dahu.)
Imam Al-Ghazali rahimahullāh berkata:
مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ الْمَوْتِ أُكْرِمَ بِثَلَاثٍ: تَعْجِيلِ التَّوْبَةِ، وَقَنَاعَةِ الْقَلْبِ، وَنَشَاطِ الْعِبَادَةِ
“Barang siapa banyak mengingat kematian, akan dimuliakan dengan tiga hal: cepat bertaubat, hati yang qana‘ah, dan semangat beribadah.” (Imam Al-Ghazali, Kitab Ihya Ulumuddin, Jilid 4, Kitab Dzikril Maut wa Ma Ba’dahu.)
Orang yang cerdas selain memperbanyak kematian juga mempersiapkan bekal untuk menyiapkan kematian. Bekal yang banyak dan baik menjadi penentu kebahagian hidup setelah kematian.
Imam Al-Ghazali rahimahullāh berkata:
وَاعْلَمْ أَنَّ الْمَوْتَ أَمْرٌ لَا بُدَّ مِنْهُ، وَالسَّفَرَ إِلَى الْآخِرَةِ وَاقِعٌ، وَلَا بُدَّ لِلسَّفَرِ مِنْ زَادٍ، وَزَادُهُ التَّقْوَى وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ.
Ketahuilah bahwa kematian adalah suatu perkara yang pasti terjadi, dan perjalanan menuju akhirat adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari. Setiap perjalanan pasti memerlukan bekal, dan bekalnya adalah ketakwaan serta amal saleh. (Imam Al-Ghazali, Kitab Ihya Ulumuddin, Jilid 4, Kitab Dzikril Maut wa Ma Ba’dahu.)
Jamaah yang berbahagia, semoga selalu dirahmati, diberkahi dan di ridhoi oleh Allah Swt.
Marilah kita bermuhasabah / instropeksi diri , Seberapa besar ketaqwaan kita kepada Allah Swt dan seberapa banyak amal sholeh yang sudah kita kerjakan selama hidup di dunia ? sebelum kita di hisab pada hari penghisaban. Sebaagaimana perkataan Umar Bin Khotob :
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْغِدِ أَنْ تُحَاسِبُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ، يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ
“Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah), dan timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang. Karena sesungguhnya akan lebih ringan bagi kalian di hari esok (kiamat) jika kalian menghisab diri kalian hari ini. Dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari pertunjukan yang agung (hari kiamat); pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya).”
Jamaah yang berbahagia, semoga selalu dirahmati, diberkahi dan di ridhoi oleh Allah Swt.
Sebagai kesimpulan dari apa yang kita kaji pada pagi hari yang penuh berkah ini, marilah kita jadikan momentum pergantian tahun dari 1447 H menuju 1448 H ini bukan sekadar pergantian angka di kalender. Sesuai dengan nasihat Baginda Nabi SAW dan para ulama yang telah kita dengar tadi, mari kita buktikan bahwa kita adalah hamba-hamba pilihan yang “cerdas”—yaitu mereka yang tidak tertipu oleh kesehatan dan waktu luang, yang senantiasa menundukkan syahwat dunia dengan mengingat mati, serta yang paling gigih mengumpulkan bekal takwa dan amal saleh sebelum hari persidangan yang agung itu tiba.
Semoga Allah Swt. menghidupkan hati kita, mengaruniakan kita akhlak yang mulia, memberikan kita istikamah dalam bertobat, serta mencatat kita semua sebagai golongan orang-orang yang wafat dalam keadaan husnul khotimah. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ، وَالرِّضَا وَالْعِنَايَةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ




