Artikel

Mukjizat Sains: Indahnya Ayat Astronomi Al-Qur’an

Kajian Surat Al-Anbiya (21) ayat 33 dan Yasin (36) ayat 40

Rabu Kliwon, 4 November 2026 24 Jumadilawal 1448 H


Pendahuluan

Al-Qur’an memiliki karakteristik kebahasaan yang sangat khas. Pemilihan satu kata, bentuk morfologis, susunan kalimat, bahkan penggunaan bentuk tunggal atau jamak memiliki fungsi semantis dan retoris yang tidak selalu dapat ditangkap hanya melalui terjemahan.

Salah satu ungkapan Al-Qur’an yang menarik untuk dikaji dari perspektif linguistik adalah:

كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Ungkapan ini terdapat dalam dua ayat Al-Qur’an, yaitu QS. Al-Anbiyā’ [21]: 33 dan QS. Yāsīn [36]: 40.

Menariknya, kedua ayat tersebut berbicara tentang benda-benda langit—malam, siang, matahari dan bulan—tetapi Al-Qur’an tidak menggunakan ungkapan sederhana seperti “semuanya bergerak”. Al-Qur’an memilih struktur:

كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Di dalamnya terdapat beberapa pilihan bahasa yang sangat menarik:

  • كُلٌّ (kullun) — semuanya, masing-masing;
  • فِي (fī) — di/dalam;
  • فَلَكٍ (falak) — orbit/lintasan edar;
  • يَسْبَحُونَ (yasbaḥūna) — mereka berenang/bergerak bebas secara teratur.

Dari sudut pandang linguistik Arab, konstruksi ini mempunyai kekayaan nahwu, sharaf dan semantik yang sangat kuat.

1. QS. Al-Anbiyā’ Ayat 33

Teks Arab

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” QS. Al-Anbiyā’ [21]: 33.

https://kasmui.cloud/tafsir/?surah=21&ayah=33&panel=science

Struktur umum ayat

Ayat tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian besar:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ

kemudian:

كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Bagian pertama berbicara tentang penciptaan, sedangkan bagian kedua menggambarkan keadaan atau gerak benda-benda tersebut.

Dengan demikian terdapat hubungan yang sangat indah:

خَلَقَ ← يَسْبَحُونَ

“menciptakan → bergerak/beredar”

Penciptaan tidak digambarkan sebagai sesuatu yang statis. Setelah menyebut penciptaan, Al-Qur’an langsung menghadirkan gambaran keteraturan gerak kosmik.

2. QS. Yāsīn Ayat 40

Teks Arab

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” QS. Yāsīn [36]: 40.

https://kasmui.cloud/tafsir/?surah=36&ayah=40&panel=science

Ayat ini mempunyai konteks yang sedikit berbeda dari QS. Al-Anbiyā’ 21:33.

Jika QS. Al-Anbiyā’ menampilkan: penciptaan → orbit → gerak, maka QS. Yāsīn menampilkan: matahari → bulan → malam → siang → orbit, sehingga penekanannya adalah pada keteraturan sistem waktu dan gerak benda-benda langit.

3. Analisis Kata كُلٌّ — KULLUN

Kata pertama yang sangat penting adalah:

كُلٌّ

Secara leksikal, كُلّ bermakna “semua”, “seluruh”, atau “setiap”. Namun dalam konteks ayat ini, menerjemahkannya hanya sebagai “semuanya” belum sepenuhnya menangkap nuansa maknanya.

A. Analisis sharaf

كُلّ bukan fi‘il dan bukan pula مشتقّ (kata turunan dari akar kata seperti kebanyakan verba dan nomina derivatif). Ia termasuk isim dan secara fungsi merupakan lafẓ yang menunjukkan keumuman (العموم).

Perubahan harakat akhirnya mengikuti fungsi sintaksisnya dalam kalimat:

  • كُلٌّ = marfū‘
  • كُلَّ = manṣūb
  • كُلِّ = majrūr

4. Mengapa Al-Qur’an Menggunakan كُلٌّ?

Ini merupakan salah satu keindahan penting ayat. Sebelumnya disebut malam, siang, matahari dan bulan. Kemudian Al-Qur’an tidak mengulang satu per satu, tetapi merangkumnya dengan:

كُلٌّ

Dengan satu kata كُلٌّ, seluruh objek yang telah disebut sebelumnya dikumpulkan ke dalam satu konsep universal. Secara retoris, كُلٌّ memberikan efek comprehensiveness — tidak ada satu pun dari objek yang disebut sebelumnya yang dikeluarkan dari hukum yang sedang dijelaskan.

Namun terdapat nuansa lain yang menarik. كُلٌّ dapat diterjemahkan “masing-masing” bukan sekadar “semuanya”. Karena ayat kemudian menyebut فِي فَلَكٍ (“di dalam suatu falak/orbit”). Sehingga struktur maknanya dapat dipahami sebagai: Setiap dari objek tersebut mempunyai keteraturan edarannya.

Jadi كُلٌّ sekaligus mengandung dimensi kolektif (semuanya berada dalam sistem keteraturan) dan distributif (masing-masing mempunyai lintasan atau gerakannya).

5. I‘rab كُلٌّ

Secara i‘rab, كُلٌّ adalah مبتدأ مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة. Artinya: كُلٌّ adalah mubtada’ yang marfū‘ dan tanda raf‘-nya adalah ḍammah yang tampak.

Kemudian فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ berfungsi sebagai bagian yang menerangkan keadaan atau predikasi terhadap mubtada’. Di sinilah terdapat keindahan struktur kalimat. Al-Qur’an tidak berkata: كُلٌّ يَسْبَحُ فِي فَلَكٍ (“masing-masing berenang dalam suatu orbit”), akan tetapi: كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ.

Susunan فِي فَلَكٍ ditempatkan sebelum verba. Hal ini memberikan perhatian khusus kepada ruang/lintasan tempat gerak berlangsung.

6. Analisis Kata فَلَكٍ — FALAK

Secara bahasa, فَلَك berkaitan dengan makna lintasan, orbit atau jalur edar benda langit. Bentuk plural yang dikenal dalam bahasa Arab adalah أَفْلَاك. Dalam Al-Qur’an, kata فَلَك muncul dalam konstruksi فِي فَلَكٍ (“di dalam suatu falak/orbit”).

I‘rab:

  • فِي = حرف جرّ
  • فَلَكٍ = اسم مجرور بـ”في”

Tanda jarnya: الكسرة الظاهرة. Karena itu, فَلَكٍ menggunakan kasrah tanwin. Secara sintaksis: فِي فَلَكٍ adalah جارّ ومجرور.

7. Keindahan Pemilihan Kata فَلَك

Al-Qur’an sebenarnya dapat menggambarkan gerakan menggunakan berbagai kata Arab yang berkaitan dengan gerak. Namun kata yang dipilih adalah يَسْبَحُونَ dan tempat geraknya فَلَك. Kombinasi ini menghasilkan gambaran yang sangat dinamis.

فَلَك memberikan gambaran tentang jalur atau lintasan, sedangkan يَسْبَحُونَ memberikan gambaran tentang gerakan di dalam lintasan tersebut. Dengan demikian, ayat tidak hanya mengatakan benda langit bergerak, tetapi membentuk gambaran: objek-objek tersebut bergerak secara teratur di dalam suatu lintasan.

8. Analisis Sharaf يَسْبَحُونَ

Kata يَسْبَحُونَ berasal dari akar kata: س ـ ب ـ ح yaitu: سَبَحَ – يَسْبَحُ – سَبْحًا. Makna dasar سَبَحَ antara lain adalah berenang, bergerak dengan bebas, melaju.

Untuk kata dalam ayat يَسْبَحُونَ, bentuknya adalah فعل مضارع (fi‘il muḍāri‘) dengan akar س ب ح dan pola يَفْعَلُونَ.

9. Mengapa يَسْبَحُونَ Bukan يَجْرُونَ?

Bahasa Arab mempunyai kata جَرَى – يَجْرِي yang bermakna “berlari”, “mengalir”, atau “bergerak”. Tetapi Al-Qur’an memilih يَسْبَحُونَ yang secara literal dapat memberikan gambaran “mereka berenang”.

Mengapa? Karena “berenang” memberikan gambaran gerakan yang berlangsung di dalam medium atau ruang, dengan gerak yang tidak identik dengan berlari di permukaan tanah. Secara retoris, kata tersebut menghadirkan tasybīh atau gambaran konseptual: benda-benda langit seakan-akan “berenang” dalam ruang kosmik.

10. Mengapa Bentuknya يَسْبَحُونَ — Jamak Muzakkar?

Objek yang disebut adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Kemudian digunakan يَسْبَحُونَ, bentuk jamak mudzakkar. Mengapa bukan يَسْبَحَانِ atau bentuk lain?

Dalam bahasa Arab, ketika beberapa unsur yang berbeda dikumpulkan dan dirujuk dengan dhamir atau fi‘il, terdapat aturan dan gaya bahasa tersendiri dalam penggunaan bentuk jamak. Selain itu, bentuk jamak di sini tidak harus dipahami sebagai pernyataan bahwa setiap benda tersebut secara biologis “laki-laki”.

Yang sangat menarik adalah penggunaan bentuk jamak tersebut menghasilkan kesan: sekumpulan entitas yang bergerak dalam suatu sistem. Jadi struktur كُلٌّ … يَسْبَحُونَ menghasilkan hubungan antara satu lafaz yang bersifat distributif dengan verba jamak.

11. I‘rab يَسْبَحُونَ

Secara i‘rab, يَسْبَحُونَ adalah فعل مضارع مرفوع بثبوت النون. Fi‘il muḍāri‘ tersebut marfū‘ karena tidak didahului oleh nāṣib maupun jāzim. Ia termasuk الأفعال الخمسة.

  • يـ = prefiks fi‘il muḍāri‘
  • س ب ح = akar kata
  • ون = penanda bentuk jamak mudzakkar

12. Keindahan Penggunaan Fi‘il Muḍāri‘

Al-Qur’an menggunakan يَسْبَحُونَ bukan bentuk lampau سَبَحُوا. Ini sangat penting secara semantik. سَبَحُوا akan mengarah kepada peristiwa yang telah terjadi, sedangkan يَسْبَحُونَ adalah fi‘il muḍāri‘ yang memberikan nuansa: berlangsung, berulang, terus terjadi, menjadi suatu keadaan yang berkesinambungan.

13. Keunikan Struktur كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Jika diterjemahkan secara sangat literal: “Masing-masing — di dalam suatu orbit — mereka berenang/bergerak.”

  • Pertama: كُلٌّ menetapkan cakupan (semuanya/masing-masing).
  • Kedua: فِي فَلَكٍ menetapkan ruang atau lintasan (di dalam suatu orbit).
  • Ketiga: يَسْبَحُونَ menetapkan aktivitas gerak (bergerak/berenang).

Secara konseptual: SUBJEK → LINTASAN → GERAK atau WHO → WHERE → HOW.

14. Keindahan Antara كُلٌّ dan يَسْبَحُونَ

Pasangan kata كُلٌّ … يَسْبَحُونَ mengandung keindahan semantis. كُلٌّ berarti masing-masing / seluruhnya. Sedangkan يَسْبَحُونَ berarti mereka bergerak/berenang.

Dengan demikian Al-Qur’an memberikan dua perspektif sekaligus: Perspektif individual (setiap objek mempunyai keteraturan tersendiri) dan Perspektif sistemik (semua objek tersebut menjadi bagian dari sistem yang bergerak secara teratur).

15. Mengapa فِي Didahulukan?

Secara balāghah, pendahuluan unsur فِي فَلَكٍ dapat memberikan ikhtishāṣ atau perhatian khusus. Dengan menempatkan فِي فَلَكٍ sebelum verba, perhatian pembaca diarahkan terlebih dahulu kepada lintasan atau ruang edar, menegaskan bahwa mereka bukan sekadar bergerak, tetapi bergerak dalam suatu lintasan tertentu.

16. Keindahan Bunyi: فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Selain makna, terdapat aspek fonetik. Transisi bunyi dari فَلَكٍ kepada يَسْبَحُونَ menghasilkan ritme yang lembut dan mengalir. Kata يَسْبَحُونَ diakhiri dengan bunyi panjang حُو dan نَ, yang selaras dengan makna gerakan yang terus berlangsung.

17. Perbandingan يَسْبَحُونَ dengan يَجْرُونَ

Kata Makna utama Nuansa
يَجْرُونَ mereka berjalan/mengalir gerakan/laju
يَدُورُونَ mereka berputar rotasi/perputaran
يَتَحَرَّكُونَ mereka bergerak gerak secara umum
يَسْبَحُونَ mereka berenang/bergerak gerak kontinu dalam ruang

18. Analisis Nahwu Secara Keseluruhan

Lafaz Jenis I‘rab Fungsi
كُلٌّ isim marfū‘ mubtada’
فِي ḥarf jarr mabnī huruf jar
فَلَكٍ isim majrūr isim majrūr
يَسْبَحُونَ fi‘il muḍāri‘ marfū‘ predikasi verbal

19. Perbedaan Redaksi QS. Al-Anbiyā’ dan QS. Yāsīn

Perbedaannya hanya terlihat kecil, yaitu huruf وَ pada awal konstruksi QS. Yāsīn. Tetapi secara retoris, waw tersebut mempunyai fungsi menghubungkan pernyataan sebelumnya dengan kesimpulan bahwa semuanya bergerak dalam orbit.

20. Dari Perspektif Semantik: الحركة المنظمة

Jika dianalisis secara semantis, kata يَسْبَحُونَ menghadirkan konsep حَرَكَةٌ مُنَظَّمَةٌ (“gerakan yang teratur”). Sementara فَلَك memberikan konsep مَسَارٌ (“lintasan/jalur”). Maka struktur فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ dapat dipahami sebagai bergerak secara kontinu dalam suatu lintasan.

21. Dimensi Balāghah: إيجاز

Karakteristik kuat konstruksi ini adalah الإيجاز, yaitu kemampuan menyampaikan makna yang luas dengan lafaz yang sangat sedikit. Hanya empat kata, tetapi menyimpan informasi semantis yang sangat padat.

22. Keindahan Kontras: كُلٌّ tetapi يَسْبَحُونَ

كُلٌّ berbentuk mufrad secara lafaz (menghadirkan konsep “setiap satu”), sedangkan يَسْبَحُونَ berbentuk jamak (menghadirkan konsep “mereka semua”). Jadi terdapat pergerakan perspektif: individual → collective, yang sangat sesuai dengan gambaran sistem kosmik yang saling berhubungan.

23. Pelajaran Linguistik dari Kata كُلٌّ

كُلّ memiliki fungsi penting dalam membangun konsep umūm (keumuman). Ia memperluas cakupan pernyataan kepada seluruh unsur yang telah disebut tanpa perlu mengulangi banyak subjek secara terpisah.

24. Pelajaran Linguistik dari Kata يَسْبَحُونَ

Akar س ب ح menghasilkan medan makna yang berkaitan dengan gerakan atau berenang. Penggunaan bentuk muḍāri‘ memberikan kesan keberlangsungan gerak kosmik tersebut.

25. Keserasian Antara Nahwu dan Makna

  • مَنْ؟ (Siapa?) → كُلٌّ (masing-masing)
  • أَيْنَ؟ (Di mana?) → فِي فَلَكٍ (dalam orbit)
  • مَاذَا يَفْعَلُونَ؟ (Apa yang dilakukan?) → يَسْبَحُونَ (bergerak/berenang)

26. Keserasian Antara Sharaf dan Makna

Sharaf memperlihatkan bagaimana bentuk kata mendukung makna. Satu bentuk morfologis يَسْبَحُونَ mengandung informasi mengenai waktu/aspek verbal, jumlah, persona, dan status i‘rab sekaligus.

27. Sebuah Catatan Penting tentang “Mukjizat Sains”

Ayat ini sering dikaitkan dengan astronomi modern. Analisis linguistik harus tetap membedakan antara makna bahasa ayat dan interpretasi ilmiah modern. Pendekatan yang paling kuat adalah: linguistik terlebih dahulu, tafsir berikutnya, kemudian refleksi ilmiah.

Kesimpulan

Dua ayat QS. Al-Anbiyā’ [21]: 33 dan QS. Yāsīn [36]: 40 memiliki ungkapan yang sama: كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ. Ungkapan tersebut sangat singkat, tetapi secara linguistik sangat kaya.

Keindahan ayat bukan hanya pada apa yang dikatakannya, tetapi juga bagaimana Al-Qur’an memilih kata, bentuk kata, urutan kata, dan struktur i‘rab untuk menyampaikan makna tersebut. Ungkapan ini dapat dibaca pada sekurang-kurangnya tiga lapisan:

  • لغةً — secara linguistik,
  • بلاغةً — secara retoris, dan
  • تدبّرًا — sebagai bahan perenungan terhadap keteraturan ciptaan Allah.

Pada pertemuan ketiga lapisan inilah salah satu keindahan bahasa Al-Qur’an menjadi sangat jelas: lafaznya singkat, strukturnya presisi, tetapi medan maknanya luas.

Sumber Rujukan

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/. --- HP: 0818294312, Email: kasmui@mail.unnes.ac.id

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button