
Sering kali kita merasa waktu berlalu tanpa terasa. Minggu berganti minggu, pekerjaan datang silih berganti, sementara hidup di kota menuntut ritme yang cepat dan padat. Aktivitas sehari-hari—pekerjaan, perjalanan, dan interaksi digital—membuat hari-hari terisi penuh, tetapi tidak selalu menghadirkan kepuasan batin. Umur bertambah, namun makna hidup kadang terasa belum sepenuhnya hadir.
Badiuzzaman Said Nursi mengajak kita memahami persoalan ini dengan cara yang lebih mendasar. Menurutnya, manusia tidak hanya hidup melalui tubuh. Tubuh memang menjalani aktivitas harian: bekerja, bergerak, dan beristirahat. Jika hidup hanya berfokus pada aspek ini, waktu akan terasa cepat berlalu dan mudah dilupakan. Namun manusia juga memiliki hati dan jiwa yang memberi kedalaman pada pengalaman hidup.
Hati dan jiwa memungkinkan kita belajar dari masa lalu dan merencanakan masa depan. Keduanya membuat hidup tidak sekadar rangkaian kegiatan, tetapi proses yang memiliki arah. Tantangannya, kesibukan sering membuat perhatian kita terserap sepenuhnya pada urusan luar, sementara sisi batin kurang mendapat ruang. Akibatnya, hidup berjalan, tetapi tidak selalu disadari maknanya.
Dalam pandangan Said Nursi, nilai waktu tidak ditentukan oleh lamanya, melainkan oleh isi dan tujuannya. Waktu yang singkat, jika digunakan untuk hal-hal yang baik dan disadari sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, dapat memiliki nilai yang bertahan lama. Sebaliknya, waktu yang panjang tetapi dijalani tanpa kesadaran dan tujuan yang jelas cenderung kehilangan arti. Dengan demikian, kualitas hidup tidak selalu sejalan dengan banyaknya waktu luang atau padatnya aktivitas.
Pandangan ini memberi pelajaran penting bagi kehidupan sehari-hari. Kesibukan bukanlah masalah selama aktivitas tersebut memiliki niat dan arah yang benar. Pekerjaan, perjalanan, dan tanggung jawab rutin dapat menjadi bagian dari hidup yang bermakna ketika dijalani dengan kesadaran dan etika yang baik. Yang perlu dijaga adalah keterhubungan batin dengan nilai-nilai yang diyakini.
Pada akhirnya, umur tidak hanya diukur dari lamanya seseorang hidup, tetapi dari sejauh mana waktu tersebut diisi dengan kesadaran dan tujuan. Di tengah kehidupan kota yang cepat, menjaga kualitas waktu menjadi hal yang penting. Dengan begitu, hidup tidak hanya berjalan, tetapi juga memiliki makna yang dapat dipertanggungjawabkan.




