
Berserah yang Salah Kaprah (Ketika Tawakal Jadi Tameng Kemalasan)
Oleh : Akhmad Syifa Utama,S.E. (Peserta sekolah tabligh PWM Jawa Tengah angkatan ke-3)
Dalam kehidupan, kita sering menjumpai kekeliruan dalam memahami makna tawakal. Bukan karena seseorang sama sekali tidak pernah belajar agama, melainkan karena kurang cermat membedakan antara tawakal dan kemalasan yang dibungkus dengan bahasa religius.
Tidak sedikit orang merasa telah bertawakal sepenuhnya kepada Allah, padahal belum ada ikhtiar yang sungguh-sungguh dilakukan. Ada yang enggan belajar tetapi berharap hasil terbaik. Ada yang malas bekerja tetapi berkata bahwa rezeki telah dijamin. Bahkan ada yang enggan memperbaiki diri sambil beralasan bahwa segala sesuatu telah ditentukan oleh takdir.
Padahal dalam ajaran Islam terdapat wilayah ikhtiar dan wilayah tawakal. Keduanya bukan pilihan yang saling menggantikan, melainkan dua hal yang harus berjalan beriringan. Ikhtiar adalah bentuk ketaatan terhadap sunnatullah, sedangkan tawakal adalah wujud ketundukan hati kepada Allah setelah usaha dilakukan.
Di sinilah pentingnya memahami kedudukan ikhtiar dalam ajaran Islam, sebab sebelum berbicara tentang tawakal, seseorang terlebih dahulu dituntut untuk menjalankan usaha yang menjadi tanggung jawabnya.
Kemalasan yang Dibungkus Nuansa Religi
Ketika seseorang berkata bahwa dirinya bertawakal kepada Allah, maka pernyataan tersebut pada dasarnya adalah sesuatu yang baik. Tidak ada yang salah dengan berserah diri kepada Allah, bahkan itulah salah satu bentuk penghambaan yang agung dalam Islam.
Namun, tawakal yang tidak diawali dengan usaha dan ikhtiar merupakan kekeliruan dalam memahami agama. Sebab ia melupakan bahwa Allah menciptakan dunia dengan sunnatullah yang menghubungkan sebab dan akibat. Manusia diperintahkan untuk bergerak, bekerja, belajar, dan berusaha sebelum menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Karena orang yang lapar tidak akan tiba-tiba menjadi kenyang hanya karena memiliki tawakal yang tinggi. Ia tetap harus mencari makanan, mengolahnya, lalu memakannya. Setelah itu barulah ia menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Ketika kekeliruan berpikir ini menjadi keyakinan yang mengakar, muncullah fenomena yang tidak sehat. Orang yang sebenarnya malas bekerja berlindung di balik istilah tawakal. Orang yang enggan belajar bersembunyi di balik alasan takdir. Akhirnya agama digunakan bukan untuk menggerakkan diri menuju kebaikan, tetapi untuk membenarkan kemalasan yang dipelihara.
Wilayah Ikhtiar yang Sering Terlupa
Di antara sebab munculnya kesalahpahaman tersebut adalah karena banyak orang belum memahami makna ikhtiar secara utuh. Mereka mengira bahwa selama sudah bergerak, maka mereka telah berikhtiar. Padahal tidak semua usaha dapat disebut sebagai ikhtiar.
Ikhtiar bukan sekadar bergerak, melainkan bergerak dengan cara yang paling mendekatkan kepada tujuan yang ingin dicapai. Di dalamnya terdapat unsur pertimbangan, ilmu, perencanaan, dan pemilihan jalan yang tepat.
Misalnya seseorang ingin pergi dari Tegal menuju Jakarta dengan kereta api. Ia telah berusaha membeli tiket dan naik kereta. Akan tetapi ternyata tiket yang dibelinya justru menuju Surabaya. Ia memang telah berusaha, tetapi belum berikhtiar dengan benar. Sebaliknya, ketika ia membeli tiket tujuan Jakarta dan menaiki kereta yang sesuai, maka usaha tersebut telah berjalan seiring dengan ikhtiar.
Kekeliruan memahami ikhtiar inilah yang sering membuat seseorang merasa sudah berusaha, padahal usahanya tidak pernah benar-benar mengarah kepada tujuan yang ingin dicapai.
Ada orang yang berjualan, tetapi memilih tempat yang hampir tidak dilalui calon pembeli. Ada yang berkali-kali melamar pekerjaan, tetapi tidak pernah memperhatikan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan. Ada pula yang ingin berhasil dalam belajar, namun tidak pernah membangun kebiasaan belajar yang baik.
Karena itu, kegagalan tidak selalu lahir dari kurangnya usaha. Terkadang kegagalan muncul karena usaha yang dilakukan tidak pernah diarahkan dengan benar. Bukan semua orang kurang bekerja keras, tetapi sebagian belum menempatkan usahanya pada arah yang tepat.
Ikhtiar Milik Manusia, Hasil Milik Allah
Allah memerintahkan manusia untuk berikhtiar dalam setiap urusan kehidupannya. Sebab yang pertama kali dituntut dari seorang hamba bukanlah hasil, melainkan kesungguhan dalam menjalankan sebab-sebab yang telah Allah sediakan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat mendasar. Bahwa langkah pertama dalam meraih suatu tujuan adalah usaha yang dilakukan dengan ilmu, pertimbangan, dan kesungguhan. Allah tidak memerintahkan manusia untuk memastikan hasil, karena hasil berada dalam kekuasaan-Nya. Namun Allah memerintahkan manusia untuk mengerjakan sebab-sebab yang mengantarkan kepada hasil tersebut.
Karena itu, seseorang tidak bisa berlindung di balik nama tawakal sebelum ia menyelesaikan bagian yang menjadi tanggung jawabnya. Tawakal bukanlah alasan untuk meninggalkan usaha, melainkan sikap hati setelah usaha dilakukan.
Jika disederhanakan, urutan yang benar adalah: usaha, ikhtiar, doa, lalu tawakal.
Usaha menggerakkan badan. Ikhtiar mengarahkan usaha pada jalan yang tepat. Doa menunjukkan kebutuhan seorang hamba kepada Rabb-nya. Adapun tawakal adalah menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah setelah seluruh kemampuan dikerahkan.
Dengan tawakal yang benar, seorang mukmin akan memiliki sikap yang tepat terhadap dua kemungkinan yang terjadi.
Ketika berhasil, ia tidak menjadi sombong dan lupa diri, karena ia menyadari bahwa keberhasilannya terjadi atas pertolongan Allah. Ia bersyukur dan menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan.
Sebaliknya, ketika hasil yang diharapkan belum tercapai, ia tidak mudah berputus asa. Ia bersabar, melakukan evaluasi terhadap usahanya, lalu tetap berbaik sangka kepada Allah. Sebab ia memahami bahwa tidak semua yang diinginkan manusia pasti baik baginya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Di sinilah letak keindahan tawakal. Ia tidak mematikan usaha, tetapi justru menyempurnakannya. Ia tidak melahirkan kemalasan, melainkan ketenangan setelah ikhtiar dilakukan semaksimal mungkin.
Pada akhirnya, tawakal bukanlah langkah pertama yang ditempuh oleh seorang muslim, melainkan tahap akhir setelah ia menunaikan tanggung jawabnya dalam wilayah usaha dan ikhtiar.
Seorang mukmin tidak diperintahkan untuk memastikan hasil, tetapi diperintahkan untuk memaksimalkan sebab. Setelah itu, ia menyerahkan apa yang berada di luar kemampuannya kepada Allah dengan penuh keyakinan dan prasangka baik.
Karena itu, memahami ikhtiar dan tawakal secara benar akan mengantarkan seseorang kepada cara berpikir yang benar, cara bersikap yang benar, dan cara mengambil keputusan yang benar.
Masalahnya bukan pada tawakal, melainkan pada kemalasan yang sering menyamar sebagai tawakal.
Sebab tawakal yang sejati tidak pernah melahirkan sikap pasif. Ia justru melahirkan keberanian untuk berusaha, ketenangan dalam menunggu hasil, serta kerelaan menerima ketentuan Allah setelah seluruh ikhtiar ditunaikan.




