Wayang Nakula Dalam Dakwah Islamiyah
Oleh: M. Danusiri

Dakwah Islamiyah di Jawa oleh Walisongo, terutama Sunan kalijaga, menggunakan seni pewayangan dengan mengambil kitab suci Hinduisme episode Mahabarata dan Bharata Yudha. Metode ini tidak termasuk liberalisme maupun sinkretisme.Tidak termasuk liberalisme karena tujuan utama metode ini menuju Islam sebagai dinul Qayyim, bukan mencari kemudahan dalam berislam sehingga menghalalkan yang mestinya haram. Tidak termasuk sinkretisme (mencampur-aduk agama) karena tidak membenarkan polieisme (kemusyrikan) dalam keberagamaan Islamiyahnya.
Sunan Kalijaga paham apa yang terkandung dalam kedua episode kitab suci Hinduisme tersebut. Selanjutnya beliau mencari sinergitas (otahk-athik ghathuk) ke dalam Islam. Hasilnya sangat smart bagi masyarakat Jawa yang masih berpikir mistis. Contoh otah-athik gathuk-nya antara lain:
- Kata wayang disimetriskan dengan kata wahyan, wahyu. Artinya, pesan yang terkandung di dalamnya adalah penjelasan bahwa ajaram Islam itu bersumber dari wahyu. Wujudnya berupa Alquran dan as-sunnah Rasulillah al-Maqbulah.
- Kata dalang, orang yang memainkan wayang disinergikan dengan kata bahasa Arab dallan, artinya petunjuk. Dalang adalah orang yang membeberkan petunjuk-petunjuk dari wahyu. Dallan juga diartikan penuntun, artinya dialah yang menuntun orang lain menuju jalan yang benar, yang diridhai Allah. Dalam akronim Jawa, dalang kependekan dari kata ngudal piwulang, yaitu membeberkan pelajaran tentang mana yang baik untuk dilaksanakan dan yang buruk untuk ditinggalkan.
- Astina sebagai suatu unit Kerajaan. Kata ini disinonimkan dengan kata as–syaithan. Jadi Kerajaan itu, baik pejabat maupun rakyatnya merupakan kerajaan syaithaniyah. Jumlah elit Kerajaan tersebut sangat banyak, yaitu 100 orang. Tetapi mereka hancur tak tersisa, sebagaimana digambarkan dalam kisah Baratayudha oleh pandawa lima yang islamisasnya adalah rukun Islam yang lima. Artinya, jika seseorang itu bisa melakukan rukun Islam kelimanya dengan baik dan benar, maka tidak ada kekuatan setan apapun yang mengalahkannya. Itulah semboyan Islam, al-Islâmu ya’lu walaâ yu’la’alaih.
Kalau telah dijelaskan pada edisi sebelumnya bahwa Yudistira disinergikan dengan syahadad, Bima disinergikan dengan shalat, Arjuna disinergikan dengan puasa, maka Nakula disinergikan dengan zakat. Itulah sebabnya, dalam islamisasi tokoh Nakula tidak pernah berperang, melainkan sosok penyantun dan penyayang. Bagaimana tidak penyantun? Ya, dia penyantun. Tiap kesehariannya selalu bersedekah menyantuni umat yang membutuhkan. Padahal dalam kisah asli Hinduisme, Nakula adalah kesatriya yang terampil memainkan lembing dan panah menumpas keaangkaramurkaan.
Nakula adalah anak ke empat dari Pandawa lima. Nama Nakula terdiri atas Na, mengandung arti trisna atau kasih sayang, dan Kula, artinya kawula atau masyarakat pada umumnya. Simbol Zakat/Infaq: menggambarkan bahwa memberi zakat dan sedekah merupakan wujud nyata kasih sayang seorang muslim kepada sesama manusia. Simbol Jari Manis Dipersonifikasikan pada jari manis karena jari tersebut biasa dipakaikan cincin sebagai tanda cinta, bukan hanya kepada pasangan hidup pribadi, melainkan kepada sesama manusia.
Cukup banyak penjelasan Nabi tentang keutamaan sedekah, contohnya antara lain:
- Pahala berlipat 700 kali dari nilai yang disedekahkan:
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ (Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui – QS al-Baqarah: 261).
- Bersedekah didoakan oleh Malaikat
ما مِن يَومٍ يُصْبِحُ العِبادُ فِيهِ، إلَّا مَلَكانِ يَنْزِلانِ، فيَقولُ أحَدُهُما: اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، ويقولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya, lalu salah satunya berdoa;Ya Allah, berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya. Sedangkan yang satunya lagi berdoa; Ya Allah, berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (HR Bukhari: 1351, Muslim: 1678).
- Sedekah dapat memadamkan murka Allah الصَدَقَةُ تُطْفِئُ غَضْبَ الرَبِ وَتَدْفَعُ مِيْتَةَ السُوْءِ (Sesungguhnya sedekah itu memadamkan murka Allah dan menolak mati jelek – HR Turmuzi: 600).
Nama lain Nakula adalah Pinten yang berarti nama dedaunan untuk obat. Artinya profil Nakula selain sebagai representasi ahli sedekah juga menolong orang yang kesulitan, umpama sakit fisik. Jadi Nakula sebagai Tabib dengan memiliki keunggulan. Dia punya cupu (wadah) yang berisi banyu penguripan, artinya resep manjur untuk mengobati penyakit. Jadi, Nakula merupakan profil mubaligh multitalenta. Dia bukan hanya sosok yang fasih berpidato di atas mimbar, melainkan juga cekatan dalam memberi Solusi masalah yang muncul di Tengah-tengah umat. Dia merupakan mubaligh amar ma’ruf nahi munkar baik billisân maupun bilĥâl.




