AkhlaqArtikelTuntunan

Hari Ini Sial? Hati-Hati dengan Ucapan Ini!

Kajian Hadis Qudsy ke-4: Mengoreksi kebiasaan mencela hari, keadaan, dan perjalanan hidup dalam perspektif tauhid.

Ahad Legi, 2 Agustus 2026 19 Safar 1448 H

Ketika kehidupan berjalan tidak sesuai harapan, manusia mudah menjadikan waktu sebagai sasaran kekecewaan. Kegagalan disebut akibat โ€œhari sialโ€, kesulitan ekonomi dituduhkan kepada โ€œzaman yang kejamโ€, dan musibah dianggap datang karena โ€œbulan burukโ€. Ungkapan semacam ini sering dipandang sebagai keluhan biasa. Namun, Hadits Qudsy keempat mengingatkan bahwa cara berbicara tentang masa berkaitan erat dengan tauhid, adab terhadap ketetapan Allah, serta tanggung jawab manusia dalam menghadapi keadaan.

Hadits ini tidak melarang seseorang mengakui bahwa suatu keadaan memang berat, menyedihkan, atau penuh tantangan. Islam tidak menuntut manusia menekan kesedihan dan berpura-pura selalu baik-baik saja. Yang diluruskan ialah kecenderungan memaki waktu seakan-akan waktu mempunyai kehendak, kuasa, dan kemampuan sendiri untuk menciptakan keburukan. Masa hanyalah wadah berlangsungnya peristiwa; Allah-lah yang menciptakan, menguasai, dan mengatur segala kejadian.

Teks Hadits Qudsy Keempat

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู: ยซูŠูŽุณูุจู‘ู ุจูŽู†ููˆ ุขุฏูŽู…ูŽ ุงู„ุฏู‘ูŽู‡ู’ุฑูŽุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุงู„ุฏู‘ูŽู‡ู’ุฑูุŒ ุจููŠูŽุฏููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑูยป. ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุงู„ู’ุจูุฎูŽุงุฑููŠู‘ูุŒ ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ู…ูุณู’ู„ูู…ูŒ.

โ€œDari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Allah berfirman, โ€˜Anak-anak Adam mencela masa, padahal Akulah Pengatur masa. Di tangan-Ku malam dan siang.โ€™โ€ HR. al-Bukhari dan Muslim.

Tema pokok hadits ini adalah larangan mencela masa, peneguhan tauhid rububiyah, pengakuan bahwa malam dan siang berada dalam pengaturan Allah, serta pendidikan lisan agar seorang mukmin tidak mengucapkan kata-kata yang bertentangan dengan adab kepada-Nya.

Pendekatan Linguistik secara Singkat

Struktur bahasa hadits ini singkat, tetapi mempunyai tekanan makna yang kuat. Unsur nahwu dan sharafnya memperlihatkan siapa yang mencela, apa yang menjadi sasaran celaan, dan siapa yang sebenarnya menguasai perjalanan waktu.

Lafaz Analisis Ringkas Petunjuk Makna
ูŠูŽุณูุจู‘ู Fiโ€˜il mudhariโ€˜ marfuโ€˜ dari akar ุณ ุจ ุจ, bermakna mencela, memaki, atau berkata buruk. Bentuk mudhariโ€˜ menunjukkan tindakan yang terjadi atau berulang; kebiasaan mencela masa terus muncul pada manusia.
ุจูŽู†ููˆ ุขุฏูŽู…ูŽ Berfungsi sebagai faโ€˜il. Kata ุจูŽู†ููˆ menjadi mudhaf dan ุขุฏูŽู…ูŽ menjadi mudhaf ilaih. Menunjuk manusia secara umum, bukan kelompok atau generasi tertentu.
ุงู„ุฏู‘ูŽู‡ู’ุฑูŽ Mafโ€˜ul bih manshub; berarti masa, zaman, atau rentang perjalanan waktu. Masa menjadi objek celaan manusia, padahal masa bukan pelaku hakiki suatu kejadian.
ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุงู„ุฏู‘ูŽู‡ู’ุฑู ุฃูŽู†ูŽุง adalah mubtadaโ€™ dan ุงู„ุฏู‘ูŽู‡ู’ุฑู adalah khabar secara struktur lahiriah. Dipahami melalui konteks sebagai โ€œAkulah Pengatur masaโ€, bukan bahwa Allah identik dengan waktu.
ุจููŠูŽุฏููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู ุจููŠูŽุฏููŠ adalah jar-majrur yang didahulukan, sedangkan ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู menunjukkan unsur yang berada dalam kekuasaan Allah. Pendahuluan frasa tersebut memberi penegasan bahwa kendali malam dan siang sepenuhnya milik Allah.

Dari susunan itu tampak bahwa manusia adalah pelaku celaan, sedangkan masa menjadi objek yang dicela. Hadits kemudian membetulkan arah pandang manusia: masa tidak mengatur dirinya sendiri. Pergantian malam dan siang serta semua peristiwa yang berlangsung di dalamnya berada dalam kekuasaan Allah.

Memahami Ungkapan โ€œAkulah Pengatur Masaโ€

Ungkapan ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุงู„ุฏู‘ูŽู‡ู’ุฑู tidak boleh dipahami bahwa Allah adalah waktu atau menyatu dengan waktu. Waktu merupakan ciptaan, sedangkan Allah adalah Pencipta. Allah tidak dibatasi oleh perjalanan hari, bulan, dan tahun sebagaimana makhluk. Makna yang benar ialah bahwa Allah adalah Pemilik, Penguasa, dan Pengatur masa, serta Penentu peristiwa yang berlangsung di dalamnya.

Lanjutan haditsโ€”ุจููŠูŽุฏููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑูโ€”menjadi kunci penjelas. Malam dan siang berada dalam pengaturan Allah. Manusia hidup dalam waktu, menua bersama berjalannya waktu, mengingat masa lalu, dan menunggu masa depan. Allah tidak dikuasai waktu dan ilmu-Nya meliputi seluruh kejadian. Karena itu, waktu bukan sumber kuasa yang berdiri sendiri, bukan pembawa keberuntungan, dan bukan pencipta kesialan.

Waktu bukan pelaku peristiwa. Waktu adalah ruang berlangsungnya ketetapan Allah dan tempat manusia menunaikan tanggung jawab amalnya.

Syarah Makna Hadits

1. Celaan kepada Masa Dapat Menjadi Kesalahan Akidah

Manusia sering berkata, โ€œZaman sedang burukโ€, โ€œHari ini sialโ€, โ€œWaktu tidak berpihakโ€, atau โ€œTahun ini terkutukโ€. Ucapan semacam itu dapat mengandung masalah apabila waktu diperlakukan sebagai penyebab hakiki yang mendatangkan musibah. Hari tidak menciptakan kecelakaan, bulan tidak menentukan kerugian, dan tahun tidak merancang penderitaan. Ketika seseorang memaki masa dengan maksud memprotes pengaturan kejadian, celaannya pada hakikatnya diarahkan kepada Allah sebagai Pengatur masa.

Tingkat kesalahan suatu ucapan tentu berkaitan dengan maksud dan keyakinan orang yang mengatakannya. Namun, seorang mukmin tetap diperintahkan berhati-hati. Lisan yang dibiarkan mengucapkan kutukan, keputusasaan, dan prasangka buruk dapat membentuk cara berpikir yang menyimpang: manusia merasa menjadi korban waktu, lalu melupakan Allah, sebab-sebab nyata, dan tanggung jawabnya sendiri.

2. Sedih dan Mengeluhkan Kesulitan Bukan Berarti Mencela Masa

Hadits ini tidak melarang kesedihan. Seseorang boleh mengakui bahwa ia lelah, kehilangan, kecewa, atau sedang menghadapi masa sulit. Ia boleh menangis, memohon pertolongan Allah, meminta dukungan orang lain, dan mencari jalan keluar. Yang dilarang ialah mengutuk waktu seakan-akan waktu mempunyai kehendak jahat terhadap dirinya.

Di sinilah perlu dibedakan antara ikhbar dan sabb. Ikhbar berarti menyampaikan keadaan secara objektif, sedangkan sabb berarti mencela atau memaki. Kalimat โ€œTahun ini ekonomi terasa beratโ€ merupakan deskripsi keadaan. Kalimat โ€œTahun terkutuk ini menghancurkan hidup sayaโ€ menjadikan tahun sebagai sasaran kutukan. Kalimat โ€œDi zaman ini banyak fitnahโ€ dapat menjadi laporan sosial yang benar. Akan tetapi, kalimat itu menjadi tidak sehat ketika dipakai untuk berputus asa, menghina ketetapan Allah, atau membenarkan sikap tidak mau berbuat.

3. Adab terhadap Takdir Harus Berjalan Bersama Ikhtiar

Menerima bahwa Allah mengatur masa tidak berarti pasrah tanpa usaha. Ketika ekonomi sulit, seorang mukmin tetap perlu memperbaiki keterampilan, mengatur pengeluaran, mencari peluang halal, dan saling menolong. Ketika masyarakat mengalami kemerosotan akhlak, ia tidak cukup berkata, โ€œMemang zamannya sudah rusakโ€, lalu berhenti mendidik dan berdakwah. Ketika lingkungan tercemar, ia tidak boleh menyalahkan era modern sambil mempertahankan kebiasaan yang merusak.

Tauhid tidak mematikan analisis sebab-akibat. Tauhid justru menempatkan sebab secara benar: Allah adalah Pengatur hakiki, sedangkan manusia diperintah membaca keadaan, mengambil pelajaran, memperbaiki strategi, dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuatnya. Mencela masa menghasilkan keluhan tanpa arah; muhasabah menghasilkan pengetahuan dan tindakan perbaikan.

Hadits Ini dalam Realitas Masyarakat

1. Kepercayaan terhadap Hari, Tanggal, atau Bulan Sial

Sebagian orang masih menghubungkan keberuntungan dan kesialan dengan hari tertentu. Rencana pernikahan, perjalanan, usaha, atau pekerjaan ditentukan bukan berdasarkan kesiapan dan pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan, melainkan karena takut kepada โ€œhari burukโ€. Hadits ini membebaskan manusia dari takhayul tersebut. Tidak ada hari yang secara mandiri membawa sial. Bila musibah terjadi pada suatu tanggal, tanggal itu bukan pelakunya. Manusia perlu mengkaji sebab, mengambil langkah pencegahan, dan tetap bertawakal kepada Allah.

2. Ungkapan โ€œZaman Sekarang Sudah Rusakโ€

Ungkapan ini dapat benar sebagai diagnosis bahwa suatu masa menghadapi banyak fitnah, krisis moral, atau perubahan sosial yang berat. Namun, ucapan itu menjadi bermasalah ketika berubah menjadi pembenaran untuk menyerah. Orang tua berhenti mendidik karena merasa lingkungan terlalu buruk. Pendidik kehilangan harapan terhadap generasi muda. Masyarakat hanya mengeluh tanpa membangun alternatif yang baik.

Hadits mengubah orientasi tersebut: jangan mengutuk zaman, tetapi hadirkan kebaikan di dalamnya. Setiap zaman memiliki ujian dan peluang. Tugas orang beriman bukan menunggu masa yang sempurna, melainkan menjaga iman, ilmu, akhlak, dan manfaat sosial pada masa yang benar-benar sedang dijalani.

3. Kegagalan Ekonomi, Pendidikan, dan Pekerjaan

Ketika usaha rugi, ujian gagal, atau pekerjaan tidak berkembang, manusia mudah menyalahkan nasib dan waktu. Hadits mengarahkan kepada muhasabah: apakah perencanaan kurang matang, disiplin lemah, strategi tidak sesuai, pengelolaan risiko diabaikan, atau keadaan eksternal memang berubah? Setelah itu, seseorang berdoa, berkonsultasi, belajar, dan menyusun langkah baru. Ia tetap menyadari bahwa hasil berada dalam ketetapan Allah, tetapi ia tidak memakai takdir untuk menutupi kelalaian pribadi.

4. Keluhan dan Kutukan di Media Sosial

Media sosial membuat keluhan tersebar cepat. Kalimat yang lahir dari kemarahan sesaat dapat dibaca, ditiru, dan diperkuat banyak orang. Kutukan terhadap hari, tahun, keadaan, atau nasib akhirnya membentuk budaya pesimis. Hadits ini mendidik literasi lisan sekaligus literasi digital: sebelum menulis, tanyakan apakah kalimat tersebut menjelaskan masalah, mengajak perbaikan, dan menjaga adab; atau sekadar memindahkan kemarahan kepada waktu yang tidak mempunyai kuasa.

5. Menjadikan Zaman sebagai Alasan untuk Membenarkan Dosa

Kalimat โ€œMaklum, sekarang zamannya memang beginiโ€ sering dipakai untuk menormalisasi kecurangan, pergaulan buruk, budaya konsumtif, atau kelalaian ibadah. Hadits ini menolak pengalihan tanggung jawab tersebut. Zaman boleh penuh godaan, tetapi manusia tetap mempunyai kewajiban memilih, menjaga diri, dan memperbaiki lingkungan. Masa bukan pelaku dosa; manusialah yang mengambil keputusan dan akan mempertanggungjawabkannya.

Mengganti Ungkapan yang Keliru dengan Bahasa yang Beradab

Ungkapan yang Perlu Dihindari Masalahnya Alternatif yang Lebih Tepat
โ€œHari ini benar-benar hari sial.โ€ Menisbatkan kesialan kepada hari sebagai pelaku. โ€œHari ini saya mengalami ujian. Semoga Allah memberi jalan keluar dan pelajaran.โ€
โ€œZaman ini terkutuk dan tidak ada harapan.โ€ Mengandung kutukan dan mendorong keputusasaan. โ€œZaman ini penuh tantangan; kita perlu memperkuat iman, ilmu, dan kerja bersama.โ€
โ€œTahun ini menghancurkan hidup saya.โ€ Tahun diposisikan sebagai penyebab mandiri. โ€œTahun ini membawa ujian berat. Saya perlu bersabar, mengevaluasi diri, dan memperbaiki langkah.โ€
โ€œMaklum kalau berbuat begitu; memang zamannya.โ€ Memakai keadaan sebagai alasan untuk melepaskan tanggung jawab. โ€œWalaupun lingkungan penuh godaan, saya tetap wajib menjaga prinsip dan memperbaiki keadaan.โ€
โ€œWaktu tidak pernah berpihak kepada saya.โ€ Menggambarkan waktu seakan mempunyai kehendak. โ€œHasil belum sesuai harapan; saya akan berdoa, belajar, dan mencoba kembali dengan cara yang lebih baik.โ€

Dari Keluhan Menuju Respons yang Beriman

Hadits ini dapat diterapkan melalui langkah yang sederhana tetapi mendalam:

  1. Hentikan celaan. Jangan memaki hari, bulan, tahun, atau zaman ketika emosi sedang memuncak.
  2. Nyatakan keadaan secara objektif. Sebutkan apa yang sebenarnya terjadi tanpa menjadikan waktu sebagai pelaku.
  3. Hubungkan hati kepada Allah. Berdoalah memohon kemudahan, perlindungan, kesabaran, dan keberkahan.
  4. Lakukan muhasabah. Periksa keputusan, kebiasaan, strategi, dan tanggung jawab yang berada dalam kemampuan manusia.
  5. Ambil sebab perbaikan. Belajar, berkonsultasi, bekerja sama, memperbaiki sistem, dan mencegah kesalahan berulang.
  6. Isi waktu dengan amal. Ubah energi keluhan menjadi ibadah, ilmu, pekerjaan, pelayanan sosial, dan tindakan yang bermanfaat.

Respons semacam ini menjaga keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar. Manusia tidak merasa menjadi penguasa hasil, tetapi juga tidak melarikan diri dari kewajiban berusaha. Ia mengakui pengaturan Allah sekaligus melaksanakan amanah yang diberikan kepadanya.

Waktu adalah Amanah, Bukan Musuh

Pergantian malam dan siang tidak hanya menunjukkan kekuasaan Allah, tetapi juga mengingatkan manusia bahwa umur terus berkurang. Malam dapat diisi dengan istirahat, zikir, membaca Al-Qurโ€™an, dan munajat. Siang dapat diisi dengan bekerja, belajar, mengajar, berdakwah, dan melayani sesama. Orang yang memahami hadits ini tidak menghabiskan waktu untuk memusuhi waktu. Ia menyadari bahwa setiap hari merupakan modal amal yang tidak dapat diulang.

Pendidikan ini penting ditanamkan dalam keluarga. Anak-anak perlu dibiasakan tidak menyebut โ€œhari sialโ€ ketika mengalami kegagalan. Mereka dapat diajak memahami sebab, menerima kenyataan, berdoa, dan mencoba kembali. Dengan demikian, mereka tumbuh dengan tauhid, daya lenting, kemampuan mengevaluasi diri, dan keberanian menghadapi masalah tanpa takhayul.

Jangan mencela hari, tetapi perbaikilah amal pada hari itu. Jangan mengutuk zaman, tetapi jadilah pembawa kebaikan di zaman itu.

Penutup

Hadits Qudsy keempat mengajarkan bahwa masa, malam, siang, hari, bulan, dan tahun bukan pelaku mandiri. Semua berada dalam kekuasaan dan pengaturan Allah. Karena itu, mencela masa dengan maksud menyalahkan pengatur kejadian merupakan adab yang buruk dan dapat mengganggu kemurnian tauhid.

Seorang mukmin boleh bersedih, mengakui kesulitan, dan menjelaskan buruknya suatu keadaan. Akan tetapi, ia tidak memaki waktu, tidak mempercayai hari sial, tidak menjadikan zaman sebagai alasan untuk berbuat salah, dan tidak berhenti pada keluhan. Ia mengganti celaan dengan doa, keputusasaan dengan kesabaran, takhayul dengan tauhid, dan sikap pasif dengan muhasabah serta ikhtiar. Inilah cara beriman dalam menyikapi keadaan: menerima bahwa Allah mengatur masa, lalu mengisi masa dengan amal yang terbaik.

Sumber Rujukan

  • Kasmui. 40 Hadits Qudsy. Hadits Qudsy 4: โ€œLarangan Mencela Masa karena Allah Pengatur Waktuโ€, hlm. 113โ€“123. Semarang: Jaten & Siblings, 2026.

Download “Buku 40 Hadis Qudsy”

  • Al-Bukhari. Shahih al-Bukhari, riwayat Abu Hurairah r.a. tentang larangan mencela masa.
  • Muslim. Shahih Muslim, riwayat Abu Hurairah r.a. tentang larangan mencela masa.

Download gratis semua buku lain di link: https://kasmui.cloud/buku/


 

Kasmui

Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button