AqidahArtikelBuletin
Trending

Bintang yang Tenggelam dan Pencarian Jati Diri: Belajar Kritis dari Bapak Para Nabi

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Jama’ah online yang semoga di rahmati oleh Allah,
Pernahkah kita merasa kecewa saat tokoh atau influencer idola kita tiba-tiba tersandung kasus, berbuat salah, atau kariernya meredup? Kita terlanjur memujanya, namun ternyata ia mengecewakan.

Ribuan tahun yang lalu, seorang pemuda cerdas bernama Ibrahim juga mengalami “kekecewaan” serupa, namun dalam skala yang jauh lebih besar. Ia hidup di tengah masyarakat yang memuja patung batu. Namun, akal sehatnya berontak. Bagaimana mungkin batu yang dipahat manusia sendiri bisa menjadi Tuhan penguasa alam semesta?

Maka, Ibrahim muda memulai pencariannya. Di malam yang gelap, ia menatap langit dan melihat sebuah bintang yang bersinar sangat terang. Ia bergumam, “Inikah Tuhanku?” Namun saat fajar menyingsing, bintang itu lenyap cahayanya. Ibrahim pun berkata, “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

Ia kemudian melihat bulan yang lebih besar, lalu matahari yang sinarnya menyilaukan bumi. Semuanya ia kira Tuhan. Namun, ketika sore tiba, matahari pun tenggelam. Dari situlah, akal dan hatinya sampai pada sebuah kesimpulan besar yang merevolusi sejarah umat manusia.

Puncak dari pencarian jati diri dan Tuhan yang dilakukan oleh pemuda Ibrahim ini diabadikan dengan sangat indah oleh Allah SWT dalam QS. Al-An’am ayat 79:

إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Innī wajjahtu wajhiya lillażī faṭaras-samāwāti wal-arḍa ḥanīfaw wa mā anā minal-musyrikīn.

Yang artinya: “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (diriku) kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti agama yang benar), dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”

Ayat ini bukan sekadar kalimat biasa. Ini adalah deklamasi kemerdekaan seorang manusia! Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa iman itu tidak boleh sekadar ikut-ikutan tren, tradisi orang tua, atau kata mayoritas. Iman harus dicari, dipikirkan, dan diuji dengan akal sehat. Ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini—harta, jabatan, idola, popularitas—pada akhirnya akan “tenggelam” dan hancur, maka satu-satunya Dzat yang pantas kita sembah hanyalah Sang Pencipta alam semesta itu sendiri.

Bagaimana kita membumikan kisah luar biasa ini di zaman now?

Bagi teman-teman mahasiswa dan anak muda, belajarlah menjadi kritis seperti Nabi Ibrahim. Di era media sosial ini, jangan mudah membebek pada trending topic atau tokoh yang viral. Tokoh manusia bisa berbuat salah, harta bisa hilang, popularitas akan redup—semua itu adalah “bintang dan matahari yang tenggelam”. Jangan gantungkan harapan dan kebahagiaanmu pada hal-hal yang fana. Gantungkanlah eksistensimu hanya kepada Yang Maha Hidup dan tidak pernah mati.

Bagi kita masyarakat, mari kita rawat keindahan budaya kita seperti gotong royong dan silaturahmi. Namun, jika ada tradisi yang mengarah pada kesyirikan atau ketergantungan pada benda mati dan makhluk ghaib, mari kita saring dengan ketauhidan ala Nabi Ibrahim. Kita luruskan niat (hanif) bahwa segala ibadah dan rasa takut kita murni hanya disandarkan kepada Allah.

Mari kita bawa pulang semangat Bapak Para Nabi ini. Gunakan akal untuk menuntut ilmu, dan gunakan hati untuk tunduk sepenuhnya kepada Allah. Jangan biarkan diri kita terjebak memper-Tuhan-kan dunia yang pasti akan lenyap ini.

Mari kita tundukkan hati sejenak, memohon kekuatan dari Allah SWT.
Ya Allah, Yang Maha Cahaya. Terangkanlah akal dan hati kami agar mampu membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Karuniakanlah kepada kami keberanian seorang Ibrahim yang tak gentar mencari kebenaran, dan jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang murni bertauhid, jauh dari segala kesyirikan yang tampak maupun yang tersembunyi.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar. Kurang lebihnya saya mohon maaf.

Nashrun minallahi wa fathun qariib. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Check Also
Close
Back to top button