Artikel

Bukan Kuantitas, Yang Penting Adalah Kualitas Iman

 

Oleh: KH. Wahyudi Sarju Abdurrahim, Lc, MM

Di tengah hiruk pikuk dunia yang kian bising, ada sebuah potret yang telah dilukiskan oleh Rasulullah saw sejak ribuan tahun silam. Sebuah potret yang jika kita cermin hari ini, akan menyisakan rasa sesak di dada. Beliau saw tidak sekadar memprediksi, namun memberikan peringatan keras tentang kondisi psikologis dan sosiologis ummat Islam di masa depan. Mari kita tadaburi sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, dari sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu:

يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا
“Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), sebagaimana orang-orang yang makan memperebutkan hidangan di atas nampan.” (HR. Abu Dawud no. 4297)

Kalimat “تَدَاعَى” (tada’aa) menggambarkan sebuah seruan kolaboratif. Bangsa-bangsa luar tidak hanya menyerang sendirian, mereka saling memanggil, saling berkoordinasi untuk mengepung dan membagi-bagi kekayaan ummat Islam. Kita dipandang bukan sebagai lawan yang setara, melainkan sebagai “قَصْعَة” (qash’ah) — sebuah nampan berisi makanan lezat yang pasif, diam, dan siap disantap.

Dunia melihat tanah kita kaya, sumber daya kita melimpah, dan pasar kita luas. Namun, kita kehilangan kendali atas apa yang kita miliki. Kita diperebutkan di meja-meja diplomasi dan ekonomi global tanpa memiliki suara yang mampu mengubah keadaan. Mendengar hal itu, para sahabat yang terbiasa menang dalam jumlah sedikit bertanya dengan penuh keheranan: “Apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu?” Rasulullah saw menjawab:

بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ
“Bahkan jumlah kalian saat itu banyak, akan tetapi kalian seperti buih di lautan.”

“غُثَاء” (ghutsa’) secara bahasa berarti sampah, ranting kayu, atau buih yang terbawa arus banjir. Inilah metafora yang menyakitkan. Buih itu nampak menumpuk tinggi, putih bersih, dan memenuhi pandangan mata. Namun, buih tidak memiliki akar. Ia tidak memiliki massa (bobot). Ia hanya bergerak ke mana pun air membawanya.

Ketika ummat Islam kehilangan persatuan dan jati diri (identitas), kita menjadi “buih intelektual” yang hanya mengekor tren pemikiran luar, dan “buih ekonomi” yang hanya menjadi konsumen tanpa daya cipta. Kita ada secara statistik, namun tiada secara pengaruh. Mengapa bangsa lain begitu berani mempermainkan ummat yang jumlahnya miliaran ini? Rasulullah saw menjelaskan dua fenomena yang terjadi secara bersamaan:

وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ
“Dan sungguh, Allah akan mencabut rasa segan/takut dari dada musuh-musuh kalian terhadap kalian, dan Allah akan mencampakkan penyakit Al-Wahn ke dalam hati kalian.”

Dahulu, kewibawaan ummat Islam terletak pada integritas dan keteguhan imannya. Namun saat integritas itu luntur, rasa segan itu pun lenyap. Di saat yang sama, hati kita dipenuhi oleh “الْوَهْنَ” (Al-Wahn).

Sahabat bertanya, “Apa itu Al-Wahn?” Beliau ﷺ menjawab:

حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Cinta dunia dan benci kematian.”
Inilah titik terlemah kita. Cinta dunia membuat kita takut kehilangan jabatan, takut hartanya berkurang, dan takut hidup susah. Rasa takut ini membuat kita mudah didikte dan rela menggadaikan prinsip demi kenyamanan sesaat. Kita terlalu mencintai “kehidupan” hingga lupa cara “hidup yang bermartabat”.

Apa yang kami sampaikan, bukanlah untuk membuat kita berputus asa, melainkan sebuah alarm agar kita segera bangun. Menjadi buih adalah pilihan, namun menjadi ombak yang menggerakkan adalah sebuah kewajiban iman. Kita harus mulai memberatkan bobot diri dengan menjaga kualitas diri melalui upaya untuk selalu mempertebal keimanan, menambah ilmu, memperkuat ikatan dengan persaudaraan, dan menyembuhkan penyakit Wahn dengan cara menempatkan dunia di tangan, bukan di dalam hati. Hanya dengan kembali kepada sumber mata air yang jernih—Al-Qur’an dan Sunnah—kita akan berhenti menjadi buih yang hanyut dan mulai menjadi samudra yang memberi kehidupan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button