Perempuan Berkelas

Perempuan di zaman sekarang menghadapi berbagai dinamika yang kompleks. Di satu sisi, mereka semakin berdaya dengan peran penting dalam pendidikan, ekonomi, politik, hingga teknologi. Banyak perempuan mampu membuktikan diri sebagai sosok inspiratif dan pemimpin yang visioner. Namun, di sisi lain, derasnya arus modernitas dan digitalisasi sering kali menguji identitas serta martabat perempuan. Tantangan terbesar bukan hanya bagaimana bersaing di ranah publik, tetapi juga bagaimana tetap menjaga akhlak, kehormatan, dan peran mulianya dalam keluarga serta masyarakat. Kemuliaan sejati seorang perempuan tidak sekadar diukur dari pencapaian duniawi atau popularitas di media sosial, melainkan dari akhlaknya, kontribusi positifnya, serta kemampuannya menebarkan kasih sayang dan kebaikan. Inilah yang menjadikan perempuan modern sebagai sosok mulia, anggun dalam perubahan zaman, dan kokoh memegang nilai-nilai yang hakiki.
At-Taubah: 71
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ
“Dan orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar…”
Keteladanan Sayyidah Khadijah r.a.
Sayyidah Khadijah binti Khuwailid r.a. adalah istri pertama Rasulullah ﷺ sekaligus perempuan mulia yang mendapat gelar “Ummul Mukminin” (Ibu orang-orang beriman). Beliau dikenal sebagai sosok yang penuh keteladanan, baik dalam keimanan, akhlak, maupun perannya sebagai istri dan ibu.
- Keimanan yang Kokoh
Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada risalah Nabi Muhammad ﷺ. Tanpa ragu dan penuh keyakinan, beliau menerima kebenaran Islam di saat orang lain masih menolak. Ini menunjukkan keberanian dan keteguhan hati seorang perempuan yang benar-benar percaya kepada kebenaran.
2. Dukungan Penuh kepada Suami
Beliau menjadi penopang utama dakwah Rasulullah ﷺ. Saat Nabi merasa berat menghadapi penolakan kaumnya, Khadijah selalu hadir memberikan ketenangan dan semangat. Bahkan, Rasulullah ﷺ pernah berkata: “Dia beriman kepadaku ketika orang lain mendustakanku, dan dia membenarkanku ketika orang lain mendustaiku.”
3. Kedermawanan dan Kepedulian Sosial
Khadijah adalah saudagar sukses dan kaya raya, tetapi harta yang dimilikinya tidak membuatnya angkuh. Seluruh kekayaannya digunakan untuk mendukung dakwah Islam dan membantu orang-orang miskin. Ini menjadi teladan bahwa harta yang berkah adalah yang digunakan di jalan Allah.
4. Kesetiaan dan Kasih Sayang
Meski memiliki status sosial tinggi, Khadijah tetap rendah hati, penuh kasih sayang, dan sangat setia kepada Nabi ﷺ. Bahkan setelah Khadijah wafat, Rasulullah ﷺ sering mengenang kebaikan dan cintanya. Itu menunjukkan betapa dalam pengaruh keteladanan seorang istri yang mulia.
5. Perempuan Mulia di Sisi Allah
Allah sendiri memuliakan Khadijah dengan mengirim salam melalui Malaikat Jibril. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Jibril menyampaikan salam Allah kepada Khadijah dan memberi kabar gembira bahwa beliau mendapat rumah di surga yang penuh kedamaian.
Dari keteladanan Sayyidah Khadijah r.a. kita belajar bahwa kemuliaan seorang perempuan bukanlah diukur dari harta, kedudukan, atau kecantikan semata, melainkan dari keimanan, pengorbanan, dan kesetiaan yang tulus. Khadijah adalah teladan istri yang mendukung perjuangan suami, teladan muslimah yang dermawan, serta teladan perempuan yang dimuliakan Allah hingga dijanjikan rumah di surga.
Semoga kita semua, khususnya kaum perempuan, mampu meneladani sifat-sifat mulia beliau: iman yang kokoh, kesabaran dalam menghadapi ujian, kedermawanan dalam membantu sesama, dan ketulusan dalam mendukung perjuangan kebaikan. Dengan demikian, kita berharap mendapat kemuliaan di dunia dan balasan surga di akhirat.
Nasrunminallah wa fathunkorib wabasyiril mu’minin
Oleh : siti mufatun (Peserta Sekolah Tabligh PWM Jateng di Banjarnegara)




